Sikap Nabi Muhammad ﷺ Ketika Melihat Abu Bakr Radhiyaallahu 'anhu Dicaci
Nabi Tidak Mengancam Menggorok Leher, Hukuman Mati Ataupun Mengerahkan Massa
٩٦٢٤ - حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَجُلًا شَتَمَ أَبَا بَكْرٍ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْجَبُ وَيَتَبَسَّمُ، فَلَمَّا أَكْثَرَ رَدَّ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ، فَغَضِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ، فَلَحِقَهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ كَانَ يَشْتُمُنِي وَأَنْتَ جَالِسٌ، فَلَمَّا رَدَدْتُ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ، غَضِبْتَ وَقُمْتَ، قَالَ: " إِنَّهُ كَانَ مَعَكَ مَلَكٌ يَرُدُّ عَنْكَ، فَلَمَّا رَدَدْتَ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ، وَقَعَ الشَّيْطَانُ، فَلَمْ أَكُنْ لِأَقْعُدَ مَعَ الشَّيْطَانِ "
ثُمَّ قَالَ: " يَا أَبَا بَكْرٍ ثَلَاثٌ كُلُّهُنَّ حَقٌّ: مَا مِنْ عَبْدٍ ظُلِمَ بِمَظْلَمَةٍ فَيُغْضِي عَنْهَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِلَّا أَعَزَّ اللهُ بِهَا نَصْرَهُ، وَمَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً، وَمَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ، يُرِيدُ بِهَا كَثْرَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا قِلَّةً " (كتاب مسند أحمد - حسن لغيره)
Diriwayatkan kepada kami oleh Yahya, dari Ibnu 'Ajlan, dia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh Sa'id bin Abi Sa'id, dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang laki-laki yang mencaci Abu Bakar sementara Nabi ﷺ duduk. Maka Nabi ﷺ merasa ta'jub dan tersenyum. Ketika laki-laki itu terus-menerus mencaci, Abu Bakar membalas sebagian perkataannya. Maka Nabi Muhammad ﷺ marah dan berdiri. Abu Bakar mengikuti beliau dan berkata: "Wahai Rasulullah, dia mencaci aku sementara engkau duduk, lalu ketika aku membalas sebagian perkataannya, engkau marah dan berdiri?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya ada malaikat yang membelamu, ketika kamu membalas sebagian perkataannya, syaithan pun muncul. Aku tidak akan duduk bersama syaithan." Kemudian beliau bersabda: "Wahai Abu Bakar, ada tiga hal yang semuanya benar: (1) Tidaklah seorang hamba dizhalimi dengan kezhaliman, lalu dia memaafkannya karena Allah, kecuali Allah akan menolongnya.(2) Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian untuk menyambung silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya lebih banyak. (3) Dan tidaklah seseorang membuka pintu permintaan (minta-minta) untuk memperbanyak harta, kecuali Allah akan memberinya kekurangan" ¹. (Musnad Al-Imâm Ahmad bin Hanbal, juz 15, h. 390).










