Jumat, 08 Mei 2026

Bersyukur Atas Kematian Ahlul Ahwa' Yang Zhalim Tanpa Harus Mendoakan Kuburukan




Bersyukur Atas Kematian Ahlul Ahwa' Yang Zhalim Tanpa Harus Mendoakan Kuburukan


Bersyukur atas kematiaan tokoh ahlul ahwa' (pengikut hawa nafsu) yang zhalim dan membahayakan umat adalah hal yang pernah dilakukan oleh para salaf. Hal ini dipandang sebagai bentuk syukur atas berkurangnya keburukan di muka bumi, tanpa harus melanggar batas dengan mendoakan keburukan secara personal yang tidak perlu.

1.  Menteladani Salafush Shalih

Dalam sejarah Islam, para Salafush Shalih pernah menunjukkan rasa syukur atas kematian tokoh-tokoh yang menyesatkan atau zhalim. Contohnya:
🔸 Imam Ahmad bin Hanbal merasa lega ketika tokoh-tokoh pemikiran sesat pada masanya wafat, karena hal itu berarti fitnah bagi umat berkurang.
🔸 Sujud Syukur. Sebagian Salaf melakukan sujud syukur bukan karena dendam pribadi, melainkan karena kegembiraan atas kemenangan kebenaran dan rasa aman bagi kaum muslimin dari gangguan tokoh tersebut.

2. Fokus pada Maslahat Umat, Bukan Dendam

Inti dari rasa syukur ini adalah Maslahat Ammah (kepentingan umum). Kita bersyukur karena:
🔸 Berhentinya lisan atau tangan yang menyebarkan kesesatan.
🔸 Terlindunginya orang awam dari pengaruh buruknya.
🔸 Pelajaran bagi yang lain bahwa kezhaliman akan berakhir.

3. Tanpa Harus Mendoakan Keburukan (Tashmīt)

Kita bisa bersyukur dengan cara yang tetap menjaga adab dan hati:
🔸 Mencukupkan diri dengan ucapan syukur: Seperti "Alhamdulillahilladzi ariihul 'ibaada min syarrihi" (Segala puji bagi Allah yang telah mengistirahatkan hamba-hamba-Nya dari keburukannya).
🔸 Menyerahkan urusannya kepada Allah seadil-adilnya hakim. Kita tidak perlu menambah-nambahi doa keburukan yang melampaui batas; cukup dengan wafatnya saja sudah merupakan "hukuman" atau ketetapan dari Allah.
🔸 Fokus pada perbaikan diri: Jadikan momen tersebut untuk berdoa agar Allah menetapkan kita di atas sunnah dan menghindarkan kita dari sifat zalim yang sama.

4. Menjaga Lisan

Meskipun dibolehkan merasa gembira atas kematian pelaku kezhaliman yang besar pengaruhnya, tetaplah menjaga lisan agar tidak jatuh pada ghibah yang tidak bermanfaat atau mencela tanpa dasar ilmu. Tujuannya adalah edukasi agar umat waspada, bukan sekadar pelampiasan emosi. Rasulullah ﷺ melarang mencaci orang mati karena mereka telah menghadapi apa yang mereka kerjakan (hisab).

Singkatnya, bersyukur atas hilangnya gangguan terhadap agama dan keamanan adalah bagian dari kecintaan kepada kebenaran, selama itu dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah dan bukan karena urusan duniawi semata.


Berdoa Untuk Membela Agama Allah dan Doa Orang Yang Dizhalimi Kenapa Lebih Mustajab ?



Berdoa Untuk Membela Agama Allah dan Doa Orang Yang Dizhalimi Kenapa Lebih Mustajab ?




1. Doa Orang yang Dizhalimi (Tanpa Hijab)

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم بعث معاذا إلى اليمن، فقال: اتق دعوة المظلوم، فإنها ليس بينها وبين الله حجاب

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyaallahu 'anhu bahwasanya Nabi Muhammad mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, kemudian Nabi berpesan, " Takutlah kamu akan doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah."(HR. Al-Bukhari).

2. Doa Membela Agama Allah (Janji Pertolongan Allah)

Kemustajaban doa dalam konteks ini berkaitan dengan janji Allah untuk menolong siapa pun yang memperjuangkan agama-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُم

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7).

Ayat ini menjadi dasar bahwa setiap upaya (termasuk doa) untuk membela agama akan dibalas dengan pertolongan langsung dari Allah. Para ulama menjelaskan bahwa doa untuk kepentingan agama adalah doa yang paling dicintai Allah karena menunjukkan ketulusan dan penghambaan total tanpa kepentingan ego pribadi.

Mengapa Lebih Mustajab daripada Berdoa Untuk Kebaikan Diri Sendiri?

Secara ringkas, doa untuk diri sendiri sering kali kurang ikhlash dan bercampur dengan keinginan duniawi, sedangkan doa saat dizhalimi atau membela agama lahir dari keterdesakan hati (idhthirar) dan keikhlasan murni.
Dan yaqinlah tidak ada doa yang sia-sia karena setiap permohonan yang dipanjatkan kepada Allah pasti didengar dan tidak akan menguap begitu saja. Allah menjawab doa melalui tiga cara: dikabulkan langsung, diganti dengan sesuatu yang lebih baik, atau ditunda untuk kebaikan di waktu yang tepat di dunia ataupun Akhirat.


 

Rabu, 06 Mei 2026

Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat


 


Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat



Shalat merupakan tiang agama yang memiliki dimensi spiritual, mental, hingga fisik. Berikut adalah penjelasan mengenai tujuan, hikmah, dan manfaatnya:

1. Tujuan Shalat

Tujuan utama shalat adalah sebagai sarana penghambaan diri kepada Sang Pencipta.
🔸  Mengingat Allah (Dzikrullah)
Sebagaimana firman-Nya,

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙوَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ ۝١٤

".... Tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku" (QS. Thaha: 14).
🔸  Mencegah Perbuatan Keji dan Munkar
Shalat bertujuan menjadi kendali moral agar seseorang menjauhi maksiat (QS. Al-Ankabut: 45).

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ۝٤٥

🔸  Memenuhi Kewajiban
Sebagai rukun Islam kedua, shalat adalah bentuk ketaatan mutlak seorang Muslim.

2. Hikmah Shalat

Hikmah adalah rahasia atau pelajaran mendalam di balik suatu ibadah:
🔸  Pembersih Dosa
Shalat lima waktu diibaratkan seperti mandi lima kali sehari di sungai yang bersih; ia menggugurkan dosa-dosa kecil yang dilakukan di antara waktu shalat.
🔸  Pembeda (Identitas)
Menjadi pembeda yang jelas antara seorang Muslim dengan yang tidak beriman.
🔸  Melatih Kedisiplinan
Shalat yang ditentukan waktunya melatih seseorang untuk menghargai waktu dan hidup teratur.
🔸  Penolong dalam Kesulitan
Menjadi sarana untuk meminta kekuatan saat menghadapi ujian hidup (QS. Al-Baqarah: 45).

3. Manfaat Shalat

Selain nilai ibadah, shalat membawa dampak positif nyata:
🔸  Ketenangan Jiwa (Mental)
Gerakan yang tenang dan bacaan yang khusyuk menurunkan tingkat stres dan memberikan kedamaian batin.
🔸  Kesehatan Fisik
Gerakan shalat (seperti sujud dan ruku') jika dilakukan dengan benar dapat melancarkan peredaran darah, menjaga kelenturan sendi, dan memperbaiki postur tubuh.
🔸  Kebersihan
Kewajiban berwudhu sebelum shalat memastikan seorang Muslim selalu dalam keadaan suci dan bersih secara fisik.
🔸  Kekuatan Karakter
Shalat melatih kejujuran, karena shalat adalah ibadah antara hamba dan Tuhan yang tidak bisa dipalsukan di hadapan Allah.

أهداف، حكم، وفوائد الصلاة

الصلاة هي عماد الدين التي تشمل أبعاداً روحية، وعقلية، وجسدية. وفيما يلي شرح لأهدافها، وحكمها، وفوائدها:

١. أهداف الصلاة
الهدف الرئيسي من الصلاة هو وسيلة للتعبد والخضوع للخالق سبحانه وتعالى.

🔸ذكر الله: كما قال تعالى: "وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي" (سورة طه: ١٤).

🔸النهي عن الفحشاء والمنكر: تهدف الصلاة إلى أن تكون ضابطاً أخلاقياً يمنع المرء من المعاصي (سورة العنكبوت: ٤٥).

🔸أداء الواجب: باعتبارها الركن الثاني من أركان الإسلام، فالصلاة هي شكل من أشكال الطاعة المطلقة للمسلم.

٢. حكم الصلاة
الحكمة هي الأسرار أو الدروس العميقة الكامنة وراء العبادة:

🔸تطهير الذنوب: تُشبّه الصلوات الخمس بالاغتسال خمس مرات في نهر جارٍ؛ فهي تكفر الذنوب الصغيرة التي تقع بين أوقات الصلاة.

🔸التمييز (الهوية): هي العلامة الفارقة بين المسلم وغير المؤمن.

🔸تدريب على الانضباط: الصلاة في أوقاتها المحددة تدرب المرء على احترام الوقت وتنظيم الحياة.

🔸الاستعانة بها في الصعاب: وسيلة لطلب الصبر والقوة عند مواجهة ابتلاءات الحياة (سورة البقرة: ٤٥).

٣. فوائد الصلاة
بالإضافة إلى قيمة العبادة، فإن للصلاة آثاراً إيجابية ملموسة:

🔸طمأنينة النفس (الصحة النفسية): الحركات الهادئة والقراءة بخشوع تقلل من مستويات التوتر وتمنح السلام الداخلي.

🔸الصحة الجسدية: حركات الصلاة (مثل السجود والركوع) إذا أديت بشكل صحيح، يمكن أن تحسن الدورة الدموية، وتحافظ على مرونة المفاصل، وتحسن قوام الجسم.

🔸النظافة: وجوب الوضوء قبل الصلاة يضمن للمسلم البقاء دائماً في حالة طهارة ونظافة جسدية.

🔸قوة الشخصية: الصلاة تنمي الصدق، لأنها عبادة بين العبد وربه لا يمكن تزييفها أمام الله.


Di Antara Sebab Seseorang Sholat Tapi Belum Merasakan Buahnya

Kesenjangan antara "mengerjakan sholat" dan "meraih manfaatnya" (seperti mencegah perbuatan keji dan munkar) sering kali terjadi karena sholat yang dilakukan baru sebatas penggugur kewajiban secara lahiriah, namun belum menyentuh esensi batiniah.

Beberapa alasan mengapa seseorang sholat tapi belum merasakan buahnya adalah:

1. Masalah Kekhusyukan dan Kesadaran (Hadirnya Hati)

Banyak orang melakukan gerakan sholat tetapi pikirannya melayang ke urusan dunia. Para ulama menjelaskan bahwa sholat yang dapat mencegah maksiat adalah sholat yang dilakukan dengan kesempurnaan lahir dan batin. Jika hati tidak "hadir" saat menghadap Allah, maka sholat tersebut kehilangan kekuatannya untuk merubah karakter seseorang.

2. Kurangnya Pilar Utama dalam Sholat

Menurut Abul 'Aliyah, sholat yang benar harus mengandung tiga pilar agar berfungsi maksimal:
🔸  Ikhlas: Memerintahkan seseorang pada kebaikan.
🔸  Khasyah (Rasa Takut): Mencegah seseorang dari kemungkaran.
🔸  Dzikrullah (Ingat Allah): Menjadi pengingat akan perintah dan larangan-Nya.
Jika salah satu pilar ini hilang, sholat tersebut seolah-olah kehilangan "ruhnya".

3. Masalah Thuma'ninah dan Kesempurnaan Rukun

Banyak yang melakukan sholat dengan terburu-buru tanpa thuma'ninah (ketenangan di setiap gerakan). Sholat yang tidak sempurna rukunnya, seperti sujud atau ruku' yang asal-asalan, sering kali tidak membekas pada jiwa pelakunya.

4. Niat yang Belum Tepat

Sebagian orang sholat hanya karena tradisi atau sekadar rutinitas sosial, bukan atas dasar motivasi untuk memperbaiki diri. Tanpa niat yang tulus untuk berubah, sholat tidak akan mampu menjadi perisai dari perbuatan buruk.

5. Tidak Menghayati Makna Bacaan

Sholat adalah media komunikasi antara hamba dan Sang Pencipta. Ketika seseorang tidak memahami atau merenungkan apa yang ia baca (seperti janji ketaatan di Al-Fatihah), maka sholat tersebut tidak akan memberikan "cahaya" petunjuk dalam kehidupan sehari-harinya.

Kesimpulannya, sholat ibarat sebuah obat; jika dosis (cara penggunaan) dan kualitas obatnya (kekhusyukan) tidak tepat, maka penyakit (maksiat) tidak akan sembuh.



Di Antara Manfaat Shalat Secara Sains dan Medis

Shalat secara medis dan sains sering dipandang sebagai kombinasi antara aktivitas fisik ringan yang terstruktur dengan meditasi mendalam. Berikut adalah rincian manfaatnya berdasarkan berbagai sumber kesehatan seperti Halodoc dan Alodokter:

1. Manfaat Berdasarkan Gerakan Fisik

Setiap posisi shalat memiliki dampak fisiologis yang spesifik terhadap tubuh:
🔸  Takbiratul Ihram: Melancarkan aliran darah dan getah bening serta memperkuat otot lengan.
🔸  Rukuk: Posisi punggung yang lurus membantu merelaksasi otot punggung yang tegang, menjaga kelenturan tulang belakang, serta melancarkan aliran darah ke bagian tengah tubuh.
🔸  Sujud: Posisi kepala yang lebih rendah dari jantung mempermudah aliran darah kaya oksigen menuju otak. Secara medis, ini bermanfaat meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan fungsi kognitif.
🔸  Duduk (Tasyahud): Posisi kaki yang terlipat membantu memberikan tekanan pada otot tungkai dan meningkatkan metabolisme di area tersebut, serta memberikan efek pijatan pada organ pencernaan.
🔸  Salam: Gerakan memutar leher secara teratur membantu merelaksasi otot leher dan kepala serta menjaga kekencangan kulit wajah.

2. Manfaat Sistem Saraf dan Jantung (Kardiovaskular)

Shalat membantu menyeimbangkan sistem saraf otonom:
🔸  Relaksasi Parasimpatis: Ibadah yang khusyuk menurunkan kadar hormon stres (kortisol) dan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang bertanggung jawab atas ketenangan batin.
🔸  Kesehatan Jantung: Perubahan posisi yang dinamis berfungsi seperti pompa alami bagi jantung, yang menurut para ahli di FK UII, dapat membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi moderat.

3. Kesehatan Mental dan Saraf

🔸  Efek Meditasi: Fokus saat shalat memicu munculnya gelombang otak alfa yang identik dengan kondisi relaksasi dalam, membantu mengurangi kecemasan dan kelelahan mental.
🔸  Keseimbangan Tubuh: Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang rutin shalat memiliki stabilitas dinamis dan keseimbangan motorik yang lebih baik, sangat bermanfaat terutama bagi lansia untuk mencegah risiko jatuh.

4. Sistem Pencernaan dan Pernapasan

🔸  Detoksifikasi & Pencernaan: Gerakan sujud dan transisi duduk memberikan pijatan lembut pada organ perut yang mendukung kelancaran sistem pencernaan.
🔸  Pengaturan Napas: Ritme bacaan shalat yang dilakukan dengan tenang melatih sistem pernapasan, meningkatkan kapasitas paru-paru, dan sirkulasi oksigen.

Secara keseluruhan, shalat yang dilakukan lima kali sehari bertindak sebagai "investasi kesehatan" jangka panjang yang menjaga kebugaran fisik sekaligus stabilitas emosional. 

Senin, 04 Mei 2026

GELAR TIDAK MENJAMIN KESUCIAN Pesan Terbuka untuk Para Guru ataupun Tokoh Agama


 


GELAR TIDAK MENJAMIN KESUCIAN

Pesan Terbuka untuk Para Guru ataupun Tokoh Agama

Ketahuilah, bahwa gelar keagamaan bukanlah jaminan kesucian hati.

Jika ada seorang Kyai, Ustadz, Pendeta, Pastor, Romo, Uskup, Paus, Pedanda, Pandita, Pinandita, Sulinggih, Bhikkhu, Bhikkhuni, Xue Shi, Wen Shi, hingga Jiao Sheng yang melakukan tindakan cabul dan nista;

Maka ingatlah bahwa gelar-gelar tersebut hanyalah label duniawi. Tanpa akhlak dan pengendalian diri, gelar tersebut hanyalah bungkus kosong yang tidak bernilai di hadapan Sang Pencipta.

"Seorang guru agama yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya adalah seperti lilin yang menerangi jalan orang lain, namun membakar dirinya sendiri dalam api kehinaan."

"Gelar suci adalah amanah untuk menjaga manusia, bukan alat untuk memangsa sesama."

Saksi dari Kitab-Kitab Suci Masing-masing Agama

Islam (QS. As-Saff: 2-3)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٢ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٣

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah..."

Kristen & Katolik (Yakobus 3:1 & Matius 23:27)
"Janganlah banyak orang di antara kamu menjadi guru; sebab kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, luarnya memang bersih, tetapi dalamnya penuh kotoran."

Hindu (Bhagavad Gita 3.21)
"Apa pun yang dilakukan oleh seorang pemimpin, orang lain juga akan mengikutinya. Standar yang ia tetapkan akan diikuti seluruh dunia."

Buddha (Dhammapada I:19)
"Biarpun seseorang banyak membaca Kitab Suci, tetapi tidak berbuat sesuai dengan ajaran, ia sama seperti gembala yang menghitung sapi milik orang lain; ia tidak memperoleh manfaat kehidupan suci."

Khonghucu (Lun Yu XIV:27)
"Seorang budiman (Junzi) merasa malu jika kata-katanya melebihi tindakannya."

Kesimpulan:
Dunia mungkin bisa kau tipu dengan jubahmu, namun kebenaran tidak akan pernah bisa disembunyikan. Kembalilah pada nurani sebelum segalanya terlambat.

Jumat, 01 Mei 2026

Maraknya Kasus Jarimah Seksual Akibat Menyelisihi Manhaj Salafush Shalih





Maraknya Kasus Jarimah Seksual Akibat Menyelisihi Manhaj Salafush Shalih

Di zaman Nabi dan para Salafush Shalih (generasi terbaik umat ini) tidak ada pondhok pengasuhan/pondhok anak kecil tanpa hadhinah yang sah dan juga tidak dikenal konsep "penitipan" anak kecil di institusi tanpa hadhinah (pengasuhan) yang sah, ataupun pondhok wanita (pengumpulan wanita di suatu tempat) tanpa pengawasan mahram. Yang mana itu termasuk perkara bid'ah yang tiada salafnya.

Fenomena maraknya kasus kekerasan seksual di berbagai institusi pendidikan berbasis asrama saat ini memicu pertanyaan besar: Di mana letak kesalahannya? Jika ditarik ke akar permasalahannya, salah satu faktor utamanya adalah pengabaian terhadap prinsip-prinsip pengasuhan dan perlindungan yang telah digariskan oleh Manhaj Salafush Shalih.

1. Pengabaian Hak dan Kewajiban Hadhinah serta Peran Keluarga

Pada masa awal Islam, pendidikan anak-anak kecil berpusat di rumah atau di bawah pengasuhan langsung (Hadhinah) orang tua atau kerabat dekat. Konsep menjauhkan anak dari orang tua untuk "mondok" (seperti sistem asrama modern) tidak dikenal. Anak-anak bisa belajar di masjid atau kuttab (tempat belajar baca tulis), tetapi mereka tetap pulang ke rumah dan berada di bawah pengawasan wali yang sah secara syar'i. Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya hak pengasuhan ini dalam sabdanya:

أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي

"Engkau lebih berhak atas pengasuhannya selama engkau belum menikah (lagi)." (HR. Abu Dawud).
Sistem asrama modern yang memisahkan anak dari orang tuanya di usia yang sangat belia telah menghilangkan fungsi perlindungan fitrah. Ketika fungsi pengasuhan berpindah sepenuhnya ke institusi, anak kehilangan pembela utamanya, sehingga menciptakan ruang gelap yang rentan dimanfaatkan oleh pelaku jarimah seksual.

2. Hilangnya Perlindungan Mahram dan Fitnah Khalwat

Dalam tradisi dan manhaj Salaf, kemuliaan wanita terjaga melalui konsep Mahram dan larangan Khalwat (berdua-duaan). Rasulullah ﷺ memperingatkan dengan tegas:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

"Janganlah salah seorang dari kalian berduaan dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan mahramnya." (HR. Bukhari & Muslim).
Serta sabda beliau:

مَا خَلَا رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ الشَّيْطَانُ ثَالِثَهُمَا

"Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali syaithan menjadi yang ketiganya." (HR. At-Tirmidzi).
Banyak kasus di institusi modern terjadi karena prinsip Saddudz Dzari’ah (menutup pintu kemaksiatan) dilanggar atas nama otoritas pendidikan. Tanpa kehadiran mahram sebagai benteng pelindung, posisi wanita menjadi lemah secara relasi kuasa di hadapan oknum pemegang otoritas.

3. Konsekuensi Pergeseran ke Sistem Institusi Kolektif

Sistem pondok pesantren atau asrama modern sering kali mengadopsi budaya kolektif yang mengabaikan prinsip keamanan syar'i:
🔸 Hilangnya Pengawasan Langsung
Ketika anak dipisahkan dari orang tua, fungsi Hadhinah (pengasuhan dan perlindungan) berpindah ke institusi. Di institusi, pengawasan menjadi birokratis dan terbatas. Jika institusi tersebut tidak memiliki sistem akuntabilitas yang kuat, celah kekerasan muncul.
🔸 Otoritas Tunggal yang Mutlak
Di rumah, anak memiliki ayah/ibu sebagai pelindung. Sedang di asrama, "pelindung" mereka sering kali juga merupakan pemegang otoritas tunggal (guru/pengasuh). Ketimpangan relasi kuasa ini membuat korban tidak berani melapor.
🔸 Pengabaian Safar dan Merantau Tanpa Mahram
Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا مَحْرَمٌ

"Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan perjalanan sehari semalam kecuali bersamanya mahramnya." (HR. Bukhari & Muslim).
Jika perjalanan saja membutuhkan mahram, maka merantau atau tinggal di sebuah tempat (mondok) tanpa jaminan keamanan mahram tentu jauh lebih berisiko terhadap kehormatan wanita.

Kesimpulan

Maraknya jarimah seksual adalah alarm bagi umat untuk kembali ke jalan Salafush Shalih. Keamanan generasi muda hanya terjamin jika kita tidak memutus ikatan anak dari wali sahnya dan tidak mengabaikan peran mahram. Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari).


Jumat, 24 April 2026

Tidak Meminta Upah Di Antara Tanda Para Da'i (Pendakwah) yang Mendapat Petunjuk


 

Tidak Meminta Upah Di Antara Tanda Para Da'i (Pendakwah) yang Mendapat Petunjuk


اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ۝٢١

"Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Yasin : 21)

وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۚ ۝١٠٩

Aku tidak meminta ajr (imbalan) kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalan (upah)ku tidak lain, kecuali dari Rabb semesta alam. (QS. Asy-Syu'ara' : 109)

قُلْ مَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ ۝٨٦

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta ajr (upah/imbalan) sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada. (QS. Shad : 86)

Catatan :
1. Ini terlepas dari membahas hukum menerima upah dari pengajaran Al-Qur'an (sebagai kompensasi waktu/profesi).
2. Para Salaf banyak yang menolak hadiah atau pemberian dari murid ataupun wali murid karena khawatir hatinya terfitnah sehingga tidak bisa bersikap adil.
3. Sikap para Salaf yang menolak hadiah bukan karena mereka merasa cukup saja, tapi sebagai bentuk wara' (kehati-hatian). Mereka sadar bahwa hati manusia itu lemah dan mudah condong kepada orang yang memberi.


Penjelasan Secara Ringkas Terkait Makna Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


 


Penjelasan Secara Ringkas Terkait Makna Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


Menurut Salafush-Shalih bahwa makna istiwa’ adalah Al ‘Uluw wa Al Irtifa’ (tinggi). Berikut kutipan perkataan ulama Salaf yang terdapat dalam Shahih Bukhari mengenai makna istawa. Imam Al-Bukhori berkata di dalam Shahihnya:

باب وكان عرشه على الماء وهو رب العرش العظيم قال أبو العالية استوى إلى السماء ارتفع فسواهن خلقهن وقال مجاهد استوى علا على العرش

“Bab “Dan ‘Arsy-Nya di atas air", "Dan Dia-lah Rabb (Pemilik) 'Arsy yang Agung". Abu Al ‘Aliyah berkata: “استوى إلى السماء adalah irtafa'a/tinggi. Makna فسوهن yakni Khalaqahunna' (Menciptakan mereka) dan Mujahid berkata "Istiwa adalah Tinggi di atas 'Arsy."

🔸 Prinsip Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah Terkait Asma' Wa Shifat
Ini dirangkum dalam perkataan Imam Malik terkait Istiwa :

الاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

"Istiwa itu maklum (diketahui maknanya), kaif (caranya) tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya (kaifiyyah-nya) adalah bid'ah." 
🔸 Makna Jelas (Ma'lum)
Makna istawa yaitu irtifa'/al-'uluw (tinggi), bukan duduk seperti makhluk, bukan pula bermakna menguasai (istila') secara majaz yang sering digunakan kelompok Muktazilah atau Jahmiyah.
🔸 Tinggi Dzat dan Sifat
Allah Maha Tinggi dengan Dzat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya dan Maha Tinggi Sifat-Nya.
🔸 Tanpa Tasybih & Takwil
Para Salaf sepakat bahwa istiwa secara hakiki, sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk. Allah berkalam: ﴾لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ﴿ "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. ...." (QS. Asy-Syura: 11).
Salaf menetapkan sifat istiwa tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana caranya), atau tamsil (menyerupakan dengan makhluk).
🔸 Allah Tidak Membutuhkan 'Arsy
Istiwa Allah tidak berarti Allah membutuhkan 'Arsy atau tempat. Sebaliknya, Arsy dan seluruh makhluklah yang membutuhkan Allah. 

Analogi Langit dan Bumi. Analogi untuk mendekatkan pemahaman bahwa keberadaan sesuatu di atas sesuatu yang lain tidak mengharuskan adanya kebutuhan (seperti langit di atas bumi). Langit tidak menempel dan tidak membutuhkan bumi.

Bersyukur Atas Kematian Ahlul Ahwa' Yang Zhalim Tanpa Harus Mendoakan Kuburukan

Bersyukur Atas Kematian Ahlul Ahwa' Yang Zhalim Tanpa Harus Mendoakan Kuburukan Bersyukur atas kematiaan tokoh ahlul ahwa' (pengik...