Dalil Larangan Taat Kepada Umaro' atau Penguasa Dalam Perkara Maksiat
ุนู ุงุจู ุนู
ุฑ ุฑุถู ุงููู ุนููู
ุง ู
ุฑููุนุงً: «ุนََูู ุงْูู
َุฑْุกِ ุงْูู
ُุณِْูู
ِ ุงูุณَّู
ْุนُ َูุงูุทَّุงุนَุฉُ ِููู
َุง ุฃَุญَุจَّ ََููุฑَِู، ุฅَِّูุง ุฃَْู ُูุคْู
َุฑَ ุจِู
َุนْุตَِูุฉٍ، َูุฅِุฐَุง ุฃُู
ِุฑَ ุจِู
َุนْุตَِูุฉٍ ََููุง ุณَู
ْุนَ ََููุง ุทَุงุนَุฉَ». (ุตุญูุญ - ู
ุชูู ุนููู)
Dari Ibnu Umar radhiyallฤhu 'anhumฤ secara marfลซ', "Wajib bagi seorang muslim untuk mendengarkan dan menaati setiap perkara yang ia sukai dan ia benci, Kecuali jika ia diperintahkan untuk maksiat. Apabila ia diperintahkan untuk maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengarkan dan menaati."
(Hadits shahih - Muttafaq 'alaih)
َูุง ุทَุงุนَุฉَ ِูู
َุฎٍُْููู ِูู ู
َุนْุตَِูุฉِ ุงَِّููู ุนَุฒَّ َูุฌََّู
"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ahmad No. 1095)
Bagaimana jika penguasa atau pemimpin mengakhirkan shalat hingga keluar dari waktunya?
ุตَِّู ุงูุตََّูุงุฉَ َِْูููุชَِูุง، َูุฅِْู ุฃَุฏْุฑَْูุชََูุง ู
َุนَُูู
ْ َูุตَِّู، ََููุง ุชَُْูู ุฅِّูู َูุฏْ ุตََّْููุชُ ََููุง ุฃُุตَِّูู
"Shalatlah pada waktunya. Jika engkau mendapati shalat bersama mereka (pemimpin tersebut), maka shalatlah lagi. Janganlah engkau berkata: 'Aku sudah shalat, maka aku tidak shalat lagi'." ( HR. Muslim No. 648)
Bagaimana Jika Penguasa Tidak Puasa Tepat Pada Waktunya ataupun Berpedoman Ilmu Hisab ?
Berpuasalah pada waktunya. Dalam kitab Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an (Tafsir Al-Qurthubi) dan beberapa kitab syarah Maliki lainnya, disebutkan sikap tegas Imam Malik:
ุฃََّู ู
َุงًِููุง َูุงَู: ุฅِุฐَุง َูุงَู ุฅِู
َุงู
ٌ َูุนْุชَู
ِุฏُ ุนََูู ุงْูุญِุณَุงุจِ، َูู
ْ ُْููุชَุฏَ ุจِِู.
“Sesungguhnya Malik berkata: Jika ada seorang pemimpin (Imam) yang bersandar pada hisab (dalam menetapkan awal bulan), maka ia tidak boleh diikuti.”