Syair Bulan Ramadhan Tujuh Hari Akan Bersiap Hendak Pergi
Ramadhan perlahan bersiap hendak pergi.
Masjid-masjid syahdu dalam doa dan bakti,
Mengejar ampunan sebelum fajar berganti.
Langkah waktu kian cepat tak terbendung,
Meninggalkan rindu yang kini kian membumbung.
Akankah amal kita cukup untuk bernaung?
Di hari esok saat rahmat tak lagi mengepung.
Wahai hati, manfaatkan sisa waktu yang ada,
Sebelum Syawwal tiba menyapa di depan mata.
Semoga perpisahan ini tak membawa hampa,
Hingga di Ramadhan depan kita kembali berjumpa.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Lathaif al-Ma'arif menggambarkan kesedihan hati orang bertakwa tatkala akan berpisah dengan bulan Ramadhon :
كَيْفَ لَا تَجْرِى لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِهِ دُمُوْعٌ وَهُوَ لَا يَدْرِي هَلْ بَقِيَ لَهُ فِي عُمْرِهِ إِلَيْهِ رُجُوْعٌ؟
"Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak menetes saat berpisah dengan Ramadan, padahal ia tidak tahu apakah di sisa umurnya masih ada kesempatan untuk bertemu kembali?"
Jum'at, 24 Ramadhan 1447 H








