Jumat, 24 April 2026

Tidak Meminta Upah Di Antara Tanda Para Da'i (Pendakwah) yang Mendapat Petunjuk


 

Tidak Meminta Upah Di Antara Tanda Para Da'i (Pendakwah) yang Mendapat Petunjuk


اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ۝٢١

"Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Yasin : 21)

وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۚ ۝١٠٩

Aku tidak meminta ajr (imbalan) kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalan (upah)ku tidak lain, kecuali dari Rabb semesta alam. (QS. Asy-Syu'ara' : 109)

قُلْ مَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ ۝٨٦

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta ajr (upah/imbalan) sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada. (QS. Shad : 86)

Catatan :
1. Ini terlepas dari membahas hukum menerima upah dari pengajaran Al-Qur'an (sebagai kompensasi waktu/profesi).
2. Para Salaf banyak yang menolak hadiah atau pemberian dari murid ataupun wali murid karena khawatir hatinya terfitnah sehingga tidak bisa bersikap adil.
3. Sikap para Salaf yang menolak hadiah bukan karena mereka merasa cukup saja, tapi sebagai bentuk wara' (kehati-hatian). Mereka sadar bahwa hati manusia itu lemah dan mudah condong kepada orang yang memberi.


Penjelasan Secara Ringkas Terkait Makna Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


 


Penjelasan Secara Ringkas Terkait Makna Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


Menurut Salafush-Shalih bahwa makna istiwa’ adalah Al ‘Uluw wa Al Irtifa’ (tinggi). Berikut kutipan perkataan ulama Salaf yang terdapat dalam Shahih Bukhari mengenai makna istawa. Imam Al-Bukhori berkata di dalam Shahihnya:

باب وكان عرشه على الماء وهو رب العرش العظيم قال أبو العالية استوى إلى السماء ارتفع فسواهن خلقهن وقال مجاهد استوى علا على العرش

“Bab “Dan ‘Arsy-Nya di atas air", "Dan Dia-lah Rabb (Pemilik) 'Arsy yang Agung". Abu Al ‘Aliyah berkata: “استوى إلى السماء adalah irtafa'a/tinggi. Makna فسوهن yakni Khalaqahunna' (Menciptakan mereka) dan Mujahid berkata "Istiwa adalah Tinggi di atas 'Arsy."

🔸 Prinsip Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah Terkait Asma' Wa Shifat
Ini dirangkum dalam perkataan Imam Malik terkait Istiwa :

الاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

"Istiwa itu maklum (diketahui maknanya), kaif (caranya) tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya (kaifiyyah-nya) adalah bid'ah." 
🔸 Makna Jelas (Ma'lum)
Makna istawa yaitu irtifa'/al-'uluw (tinggi), bukan duduk seperti makhluk, bukan pula bermakna menguasai (istila') secara majaz yang sering digunakan kelompok Muktazilah atau Jahmiyah.
🔸 Tinggi Dzat dan Sifat
Allah Maha Tinggi dengan Dzat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya dan Maha Tinggi Sifat-Nya.
🔸 Tanpa Tasybih & Takwil
Para Salaf sepakat bahwa istiwa secara hakiki, sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk. Allah berkalam: ﴾لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ﴿ "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. ...." (QS. Asy-Syura: 11).
Salaf menetapkan sifat istiwa tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana caranya), atau tamsil (menyerupakan dengan makhluk).
🔸 Allah Tidak Membutuhkan 'Arsy
Istiwa Allah tidak berarti Allah membutuhkan 'Arsy atau tempat. Sebaliknya, Arsy dan seluruh makhluklah yang membutuhkan Allah. 

Analogi Langit dan Bumi. Analogi untuk mendekatkan pemahaman bahwa keberadaan sesuatu di atas sesuatu yang lain tidak mengharuskan adanya kebutuhan (seperti langit di atas bumi). Langit tidak menempel dan tidak membutuhkan bumi.

Selasa, 21 April 2026

Kadar Kecintaanmu Kepada Saudaramu Sebagai Cerminan Kadar Keimananmu


 


Kadar Kecintaanmu Kepada Saudaramu Sebagai Cerminan Kadar Keimananmu


"Seringkali kita mencari ukuran untuk menilai seberapa besar kadar iman kita. Ternyata, jawabannya bukan hanya pada panjangnya shalat malam kita, melainkan pada seberapa tulus kita mencintai dan menginginkan kebaikan bagi orang lain..."

عَنْ أَبِيْ حَمْزَة أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ خَادِمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ » رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah –Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu– pembantu Rasulullah, dari Nabi , beliau bersabda: ”Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

والذي نفسُ مُحَمَّدٍ بيدِهِ لا يُؤْمِنُ أحدُكُم حتى يُحِبَّ لِأَخِيهِ ما يُحِبُّ لنفسِهِ من الخيرِ
خلاصة حكم المحدث : صحيح | الراوي : أنس بن مالك | المحدث : الألباني | المصدر : صحيح النسائي | الصفحة أو الرقم : 5032
| التخريج : أخرجه النسائي (5017) واللفظ له، وأخرجه البخاري (13)، ومسلم (45) مختصراً بلفظ مقارب

"Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang diantara kalian beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri dalam hal kebaikan." (Hadits Shahih. HR. An-Nasa'i)

لا يبلغُ العبدُ حقيقةَ الإيمانِ حتَّى يحبَّ للنَّاسِ ما يحبُّ لنفسِهِ
خلاصة حكم المحدث : صحيح | الراوي : [أنس بن مالك] | المحدث : الهيتمي المكي | المصدر : الزواجر عن اقتراف الكبائر | الصفحة أو الرقم : 1/238 | التخريج : أخرجه ابن حبان (235)، وأبو يعلى (3081)، والضياء المقدسي في ((المختارة)) (2525) واللفظ لهم، وأصل الحديث في البخاري (13)، ومسلم (45).

"Tidaklah seorang hamba akan mencapai hakikat keimanan hingga ia mencintai manusia lainnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (Hadits Shahih).

Senin, 20 April 2026

Hadits Tentang Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


 


Hadits Tentang Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar-Rahman istawa (berada tinggi) di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha : 5)

Rasulullah ﷺ telah menetapkan sifat istawa untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya:

 يا أبا هُرَيْرةَ ، إنَّ اللَّهَ خلقَ السَّمَواتِ والأرضِ وما بينَهُما في ستَّةِ أيَّامٍ ، ثمَّ استَوَى علَى العرشِ يومَ السَّابعِ ، وخلقَ التُّربةَ يومَ السَّبتِ ، والجبالَ يومَ الأحَدِ ، والشَّجرَ يومَ الاثنَينِ ، والشَّرَّ يومَ الثُّلاثاءِ ، والنُّورَ يومَ الأربعاءِ ، والدَّوابَّ يومَ الخَميسِ ، وآدمَ يومَ الجمُعةِ في آخرِ ساعةٍ منَ النَّهارِ بعدَ العصرِ ، خَلقَه مِن أديمِ الأرضِ بأحمرِها وأسودِها ، وطيِّبِها وخبيثِها ، مِن أجلِ ذلِكَ جعلَ اللَّهُ مِن آدمَ الطَّيِّبَ والخبيثَ
خلاصة حكم المحدث : إسناده جيد | الراوي : أبو هريرة | المحدث : الألباني | المصدر : مختصر العلو | الصفحة أو الرقم : 71 | التخريج : أخرجه مسلم (2789) مختصراً بنحوه، والنسائي في ((السنن الكبرى)) (11392) واللفظ له

"Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia istawa (berada tinggi) di atas 'Arsy pada hari ketujuh. Dia menciptakan tanah pada hari Sabtu, gunung-gunung pada hari Minggu, pepohonan pada hari Senin, kejahatan (hal-hal yang tidak disukai/makruh) pada hari Selasa, cahaya pada hari Rabu, hewan-hewan melata pada hari Kamis, dan menciptakan Adam pada hari Jumat di saat terakhir dari waktu siang (setelah Ashar), Dia menciptakannya dari permukaan bumi, yang merahnya, hitamnya, yang baiknya, dan yang buruknya. Karena itulah Allah menjadikan manusia (keturunan Adam) ada yang baik dan ada yang buruk". 

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «لما خلق اللهُ الخَلْقَ كتب في كتاب، فهو عنده فوق العرش: إن رحمتي تَغْلِبُ غضبي». وفي رواية: «غَلَبَتْ غضبي» وفي رواية: «سَبَقَتْ غضبي». (صحيح - متفق عليه)

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu secara marfū', "Ketika Allah menciptakan semua makhluk, maka Dia pun menulis di dalam kitab, dan kitab itu ada di sisi-Nya di atas 'Arasy yang isinya, "Sesungguhnya rahmat-Ku akan mengalahkan murka-Ku." Dalam satu riwayat, "Telah mengalahkan murka-Ku." Dalam riwayat lain, "Telah mendahului kemarahan-Ku."  (Hadits shahih - Muttafaq 'alaih)

Minggu, 19 April 2026

Sains vs Al-Qur'an: Benarkah Saling Bertentangan?


 



Sains vs Al-Qur'an: Benarkah Saling Bertentangan?


Seringkali muncul perdebatan saat sebuah penemuan sains tampak tidak selaras dengan ayat suci. Namun, sebelum menyimpulkan adanya benturan, kita perlu memahami karakteristik dari kedua jalan kebenaran ini:

1. Sains: Kebenaran yang Terus Bergerak (Dinamis)
Sains berpijak pada pengamatan indrawi dan rasio manusia yang terbatas. Karena alat ukur dan teknologi terus berkembang, kesimpulan sains bersifat dinamis. Dalam dunia ilmiah, sebuah teori dianggap "benar" hanya selama belum ada bukti baru yang membantahnya. Contohnya, dulu sains menganggap rahim hanyalah tempat penyimpanan bayi yang sudah "berbentuk kecil sempurna", namun seiring ditemukannya mikroskop, teori ini berubah total.

2. Al-Qur'an: Kebenaran yang Tetap (Absolut)
Bagi keyakinan umat Islam, Al-Qur'an adalah wahyu dari Tuhan yang Maha Mengetahui. Kebenarannya bersifat mutlak. Jika terjadi celah antara teks agama dan fakta sains, hal itu biasanya menunjukkan keterbatasan sains yang belum sampai pada hakikat tersebut, atau keterbatasan manusia dalam menafsirkan ayatnya.

Studi Kasus: Embriologi
Dalam bidang embriologi, Al-Qur'an (QS. Al-Mu’minun: 14) telah menyebutkan tahapan perkembangan janin mulai dari nuthfah, 'alaqah (sesuatu yang melekat), hingga mudghah (segumpal daging).
Dahulu, para ilmuwan belum memiliki alat untuk melihat fase-fase awal ini. Baru setelah teknologi mikroskop canggih ditemukan pada abad ke-20, sains mengonfirmasi bahwa janin memang melalui fase "melekat" pada dinding rahim dan tampak seperti "daging yang dikunyah". Di sini kita melihat bahwa sains memerlukan waktu berabad-abad untuk sampai pada kebenaran yang sudah tertulis dalam wahyu.

Kesimpulan
Konflik yang tampak sebenarnya bukanlah benturan antara Sains dan Al-Qur'an, melainkan antara "Produk Sains" (hasil olah pikir yang bisa salah/belum lengkap) dan "Tafsir Manusia" terhadap ayat (yang juga bisa keliru). Keduanya adalah upaya manusia mencari kebenaran: sains membaca "ayat alam" (Kauniyah), dan tafsir memahami "ayat tertulis" (Qauliyah).

Jumat, 17 April 2026

Makna Kafir dan Siapa Yang Dimaksud Kafir ?


 


Makna Kafir dan Siapa Yang Dimaksud Kafir ?


Kafir berasal dari kata bahasa Arab kafara (كفر) yang berarti menutup atau menyembunyikan. Secara istilah, kafir adalah sebutan bagi orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, atau mengingkari ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad .

Siapa yang Dimaksud Kafir Menurut Syari'at?

🔸 Orang yang Mendustakan Ayat-Ayat Allah
Mereka yang telah menerima peringatan namun tetap menutup hati dan menolak beriman.

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ۝٦

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman." (QS. Al-Baqarah: 6).

🔸 Ahli Kitab (Yahudi & Nasrani) dan Kaum Musyrik Mereka yang tidak mengimani kenabian Muhammad atau menyekutukan Allah.

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ ۝٦

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya..." (QS. Al-Bayyinah: 6).

🔸 Orang yang Zhalim dan Melampaui Batas
Orang yang menolak seruan kebenaran dan melanggar hukum-hukum Allah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خُلَّةٌ وَّلَا شَفَاعَةٌۗ وَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۝٢٥٤

"...Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Baqarah: 254).

🔸 Orang yang Mengingkari Nikmat (Kufur Nikmat) Seseorang yang tidak mau bersyukur atau menutupi kenyataan atas nikmat yang diberikan Allah.

Rabu, 15 April 2026

Menjawab Tuduhan Bahwa Al-Qur'an Mencontek Al-Kitab Tauroh dan Injil


 

Menjawab Tuduhan Bahwa Al-Qur'an Mencontek Al-Kitab Tauroh dan Injil

https://teguhakhirblora.blogspot.com/2026/04/menjawab-tuduhan-bahwa-al-quran.html?m=1


Tuduhan bahwa Al-Qur'an "mencontek" Alkitab adalah isu lama yang sudah dijawab oleh para ulama dan pakar sejarah. Berikut adalah poin-poin bantahan logis dan historis untuk mematahkan tuduhan tersebut:

1. Nabi Muhammad adalah seorang "Ummi"

Secara historis, Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis (Ummi). Beliau tidak mungkin mempelajari manuskrip Alkitab yang pada saat itu belum diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Alkitab bahasa Arab baru ada secara lengkap berabad-abad setelah wafatnya Nabi.

2. Perbedaan Teologi yang Mendasar (Koreksi, Bukan Copy)

Jika Al-Qur'an mencontek, seharusnya ia mengikuti doktrin yang ada. Namun, Al-Qur'an justru mengkoreksi poin-poin paling krusial dalam Alkitab:
🔸 Ketuhanan: Al-Qur'an menolak keras konsep Trinitas dan status "Anak Tuhan" yang ada di Perjanjian Baru.
🔸 Sifat Nabi: Di Alkitab, ada kisah nabi yang dituduh melakukan dosa besar (seperti mabuk atau berzina). Al-Qur'an justru datang untuk membersihkan nama mereka dan menegaskan bahwa semua Nabi adalah manusia pilihan yang terjaga (Ma'sum).

3. Detail Sejarah yang Lebih Akurat

Al-Qur'an memberikan detail yang tidak ada di Alkitab namun kemudian dibuktikan oleh ilmu sejarah/arkeologi modern:
🔸 Gelar Penguasa Mesir: Alkitab menyebut penguasa di zaman Nabi Yusuf sebagai "Firaun". Namun, Al-Qur'an secara akurat menyebutnya "Al-Malik" (Raja). Gelar "Firaun" baru digunakan pada masa Nabi Musa. Secara arkeologis, ini benar karena gelar Firaun belum digunakan pada periode Yusuf (Hiksos).
🔸 Kisah Haman: Nama "Haman" disebut di Al-Qur'an sebagai menteri Firaun. Kritikus dulu menyebut ini salah karena Haman ada di Persia dalam Alkitab. Namun, setelah penemuan batu Rosetta, ditemukan bahwa "Haman" memang nama kepala pekerja bangunan di Mesir kuno.

4. Tantangan Sastra (Al-Tahaddi)

Al-Qur'an turun dengan gaya bahasa (balaghah) yang tidak tertandingi oleh sastra Arab mana pun saat itu. Jika itu hasil contekan, para penyair Arab yang hebat di masa itu pasti akan dengan mudah membuktikannya. Namun, hingga kini tantangan untuk membuat satu surat yang semisal dengannya (QS. Al-Baqarah: 23) tidak pernah terpenuhi.

5. Logika "Sumber yang Sama"

Umat Islam percaya bahwa kemiripan cerita (seperti kisah Nabi Musa, Nuh, Ibrahim) terjadi karena sumbernya sama, yaitu wahyu dari Allah.
Ibarat dua orang saksi yang menceritakan kejadian yang sama; cerita mereka pasti mirip, tapi saksi kedua (Al-Qur'an) datang untuk memberikan kesaksian yang lebih murni dan meluruskan bagian yang sudah berubah di tangan manusia.

Kesimpulannya: Mencontek berarti mengambil kesalahan yang sama. Al-Qur'an justru membuang kesalahan, menambah akurasi sejarah, dan membawa sistem hukum yang jauh lebih lengkap dan orisinal.


Tidak Meminta Upah Di Antara Tanda Para Da'i (Pendakwah) yang Mendapat Petunjuk

  Tidak Meminta Upah Di Antara Tanda Para Da'i (Pendakwah) yang Mendapat Petunjuk اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ م...