Minggu, 15 Maret 2026

Lima Hari Lagi Bulan Ramadhon Akan Pergi Meninggalkan Kita





Lima Hari Lagi Bulan Ramadhon Akan Pergi Meninggalkan Kita


Lima hari lagi engkau 'kan berlalu,
Meninggalkan jiwa yang penuh pilu,
Ramadhan mulia tamu yang syahdu,
Sedih hati mengenang hari berlalu.

Tangan hampa tak banyak beramal,
Malam berlalu tanpa bersujud maksimal,
Kini diri merasa teramat dangkal,
Meninggalkan berkah yang sangat kekal.

Detik berlalu tiada kembali,
Peluang emas tersia berkali,
Tangan menadah, air mata jatuh di pipi,
Takut esok aku tak berjumpa lagi.

Wahai Sang Pemilik Bulan Mulia,
Ampuni hamba yang lalai dan fana,
Izinkan sisa waktu menjadi bermakna,
Sebelum Ramadan benar-benar sirna.

"Ya Allah, jangan biarkan matahari Ramadhan terbenam kecuali Engkau telah mengampuni dosa-dosaku, menerima amal yang sedikit ini, dan menetapkanku sebagai hamba yang Engkau bebaskan dari api neraka."

Jumat, 13 Maret 2026

Syair Bulan Ramadhan Tujuh Hari Akan Bersiap Hendak Pergi


 

Syair Bulan Ramadhan Tujuh Hari Akan Bersiap Hendak Pergi


Tujuh hari tersisa dari bulan yang suci,
Ramadhan perlahan bersiap hendak pergi.
Masjid-masjid syahdu dalam doa dan bakti,
Mengejar ampunan sebelum fajar berganti.

Langkah waktu kian cepat tak terbendung,
Meninggalkan rindu yang kini kian membumbung.
Akankah amal kita cukup untuk bernaung?
Di hari esok saat rahmat tak lagi mengepung.

Wahai hati, manfaatkan sisa waktu yang ada,
Sebelum Syawwal tiba menyapa di depan mata.
Semoga perpisahan ini tak membawa hampa,
Hingga di Ramadhan depan kita kembali berjumpa.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Lathaif al-Ma'arif menggambarkan kesedihan hati orang bertakwa tatkala akan berpisah dengan bulan Ramadhon :

كَيْفَ لَا تَجْرِى لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِهِ دُمُوْعٌ وَهُوَ لَا يَدْرِي هَلْ بَقِيَ لَهُ فِي عُمْرِهِ إِلَيْهِ رُجُوْعٌ؟

"Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak menetes saat berpisah dengan Ramadan, padahal ia tidak tahu apakah di sisa umurnya masih ada kesempatan untuk bertemu kembali?"


Jum'at, 24 Ramadhan 1447 H

Mengapa Konsep Ittihadul Matholi' Lebih Kuat daripada Ikhtilaful Matholi' ?


 


Mengapa Konsep Ittihadul Matholi' Lebih Kuat daripada Ikhtilaful Matholi' ?

Ittihadul Matholi' itu berasal dari kata Ittihad yang berarti "persatuan/kesatuan" dan Matholi' (bentuk jamak dari Mathla') yang berarti "tempat/waktu terbit". Jika di sebuah negeri terlihat hilal, maka itu berlaku untuk seluruh negeri.

1⃣ Dalilnya lebih kuat dan ini pendapat jumhur ulama' Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah (Hanafi, Maliki, dan Hambali). Keabsahan dalil berpegang pada keumuman perintah dalam hadits: «صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ». Kata صُومُوا "berpuasalah kalian" di sini dipahami sebagai umat Islam secara kolektif, bukan per wilayah.
2⃣ Mashlahat Ittihadul Matholi' lebih besar. Menjaga persatuan umat Islam dan menawarkan solusi administratif agar umat Islam memiliki satu kalender yang sinkron di seluruh dunia.
3⃣ Lailatul Qodar hanya terjadi satu malam dan bersifat universal. Jika Lailatul Qodar terjadi pada malam ganjil, maka semua tempat insya Allah juga pada malam ganjil.
4⃣ Ittihadul Matholi’ dianggap lebih logis karena fenomena alam tidak mengenal batas administrasi negara.
5⃣ Hilal walau tidak bisa dirukyat di semua wilayah, tapi secara astronomis waktu ijtimak (konjungsi) dan istiqbal itu terjadi secara serempak. Dan ijtimak secara astronomis indikasi akhir bulan berganti bulan baru. Demikian juga gerhana Matahari dan Bulan terjadi secara serempak di seluruh penjuru bumi.
6⃣ Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14 dan 15) insya Allah bisa disaksikan mayoritas penduduk bumi dan tak bisa dimanipulasi. Terutama tanggal 14 dan 15 bentuk bulan 🌕 Purnama dan umumnya bisa disaksikan di atas langit sejak awal malam hingga akhir malam. Adapun tanggal 16 ketika pertengahan Maghrib Bulan masih dibawah ufuq sehingga langit terlihat gelap.
7⃣ Keadilan Ibadah Puasa Arafah. Puasa Arafah merujuk pada peristiwa wukuf di Arafah. Ittihadul Matholi’ menyinkronkan waktu puasa di seluruh dunia dengan waktu wukuf yang sebenarnya, menghindari situasi di mana suatu wilayah berhari raya saat jamaah haji baru melakukan wukuf.

Dalam perkara khilaf tadhodh semisal ini, kebenaran itu hanya satu dan tidak mungkin sama-sama benar. Otoritas ilmu dan kebenaran itu lebih berhak didahulukan daripada otoritas umaro'/penguasa.

Selasa, 10 Maret 2026

Di Antara Doa Yang Dibaca Ketika Lailatul Qadar


 


Di Antara Doa Yang Dibaca Ketika Lailatul Qadar


سألَتْهُ صلى اللهُ عليهِ وسلَّمَ عائشةُ رضي الله عنها إنْ وافقتُها فبِمَ أدعو ؟ قال قولي اللهمَّ إنك عفوٌ تحبُّ العفوَ فاعفُ عني
الراوي : عائشة أم المؤمنين | المحدث : ابن القيم | المصدر : أعلام الموقعين | الصفحة أو الرقم: 4/249 | خلاصة حكم المحدث : صحيح | التخريج : أخرجه الترمذي (3513)، وابن ماجة (3850)، وأحمد (25384) باختلاف يسير.

"Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Nabi ﷺ, 'Jika aku mendapatinya (Lailatul Qadar), apa yang harus aku ucapkan?' Beliau ﷺ menjawab: 'Ucapkanlah: 

اللهمَّ إنك عفوٌ تحبُّ العفوَ فاعفُ عني

Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku)'". 

🔸 Perawi: Aisyah Ummul Mukminin.
🔸 Derajat: Hadits Sahih (menurut Ibnul Qayyim dalam A'lamul Muwaqqi'in 4/249, juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
🔸 Ini adalah salah satu doa terbaik yang diajarkan Nabi ﷺ untuk dibaca, khususnya pada malam Lailatul Qadar, memohon ampunan dan penghapusan dosa. 


Malam, 21 Ramadhon 1447 H 

Senin, 09 Maret 2026

Penjelasan Menurut Ilmu Astronomis Gerhana Bulan Hanya Terjadi Pada Pertengahan Sinodik Ketika Umur Bulan 14,75 hari ( Tanggal 14 atau 15





Penjelasan Menurut Ilmu Astronomis Gerhana Bulan Hanya Terjadi Pada Pertengahan Sinodik Ketika Umur Bulan 14,75 hari ( Tanggal 14 atau 15 )

Ringkasnya. Menurut ilmu Astronomis, gerhana Bulan itu hanya terjadi pada pertengahan sinodik yaitu ketika umur Bulan sekitar 14,75 hari. Saat fase Bulan Purnama (Full Moon), yaitu ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus (oposisi). Gerhana bisa terjadi tanggal 14 (jika umur Bulan ketika awal bisa dirukyat antara 1-2 hari atau diatas 24 jam). Gerhana Bulan bisa terjadi tanggal 15 (jika umur Bulan awal bisa dirukyat antara 12-24 jam). Karena penanggalan itu hasil pembulatan sehingga istilah "umur Bulan" itu beda dengan tanggal.

Berikut adalah poin kunci yang memperjelas  :
🔸Siklus Sinodik
Rata-rata panjangnya adalah 29,53 hari dengan titik tengahnya (Purnama) sekitar 14,75 hari.
🔸 Oposisi Astronomis
Gerhana hanya terjadi saat fase Bulan Purnama, yaitu ketika Bulan berada di titik oposisi (180° dari Matahari). Secara matematis, ini selalu terjadi di titik tengah siklus sinodik (29,53 hari ÷ 2 = 14,76 hari).
🔸 Definisi "Umur Bulan"
Umur Bulan dihitung sejak momen konjungsi (ijtimak/ijtima') atau sering disebut Fase Bulan Baru (New Moon). Adapun kalender Hijriah dimulai sejak Maghrib (setelah hilal terlihat), sehingga biasanya ada selisih waktu antara detik kelahiran Bulan secara astronomis dengan dimulainya Tanggal 1.
🔸 Penyebab Variasi Tanggal (14 atau 15):
Jika durasi antara konjungsi ke Maghrib (saat penentuan tanggal 1) sudah lama atau hilal terlihat ketika umur Bulan antara 1-2 hari, maka "tabungan" umur Bulan sudah besar, sehingga fase purnama bisa tercapai pada tanggal 14. Tapi sebenarnya pada tanggal 14 tersebut umur Bulan sudah lebih dari 14 hari 12 jam.
Jika durasi antara konjungsi ke Maghrib sangat singkat atau hilal terlihat ketika umur Bulan baru 13-23 jam, maka purnama baru akan tercapai pada tanggal 15. Tapi sebenarnya umur Bulan pada tanggal 15 tersebut belum genap 15 hari (masih kurang beberapa jam), karena tanggal 1 dimulai ketika umur Bulan kurang dari 1 hari atau sekitar 12-23 jam.

Jadi, gerhana Bulan selalu terjadi pada umur astronomis yang sama (~14,75 hari), namun angka tanggalnya bisa berbeda tergantung kapan kita mulai menghitung hari pertama. Perbedaan antara umur astronomis (durasi sejak konjungsi) dan tanggal kalender (pembulatan hari) inilah yang sering membuat masyarakat awam bingung mengapa gerhana tidak selalu jatuh pada tanggal 15.

Kesimpulan Inti:
• Umur Astronomis: Mutlak (diukur dari detik konjungsi).
• Tanggal Kalender: Relatif (diukur dari Maghrib saat hilal teramati/ditetapkan).

Gerhana Bulan selalu terjadi di tengah siklus, namun angka tanggalnya hanyalah masalah "kapan kita mulai menghitung hari pertama" dibandingkan dengan detik kelahiran bulan yang sebenarnya.
 

Rabu, 04 Maret 2026

Tanggal 04-03-2026 Malam Kamis Bulan Diperkirakan Terbit Setelah Pertengahan Maghrib Sehingga Bukan Termasuk Ayyamul Bidh ( Menunjukkan Malam 16 Romadhon 1447 H )


 

Tanggal 04-03-2026 Malam Kamis Bulan Diperkirakan Terbit Setelah Pertengahan Maghrib Sehingga Bukan Termasuk Ayyamul Bidh ( Menunjukkan Malam 16 Romadhon 1447 H )


🔸Tanggal 03-03-2026 Bulan terbit sebelum Maghrib dan terjadi gerhana Bulan malam 15 Ramadhan 1447 H.
🔸 Jarak rata-rata antara Maghrib dan Isya' di Blora sekitar 70 menit (antara 68-73 menit). Pertengahan Maghrib sekitar 35 menit setelah matahari terbenam.
🔸 Jadwal Kemenag biasanya menambahkan waktu pengamanan (ihtiyati) sekitar 2-3 menit untuk memastikan waktu shalat benar-benar telah masuk.
🔸 Jadi malam nanti 04-03-2026 insya Allah Bulan diperkirakan baru akan terbit setelah lewat pertengahan Maghrib, sehingga bukan termasuk Ayyamul Bidh. Karena ketika awal Maghrib posisi Bulan masih dibawah ufuq sehingga langit terlihat gelap.





Alhamdulillah.. tadi malam ba'da sholat Maghrib diriku menyaksikan gerhana Bulan malam 15 Romadhon 1447 H.

Nanti insya Allah bisa dipastikan ketika masuk Maghrib posisi Bulan masih dibawah ufuk sehingga bukan ternasuk ayyamul bidh. Karena ayyamul bidh itu hanya ada 3 hari yaitu keadaan Bulan dimana awal malam sampai akhir malam posisi Bulan di atas ufuk.

Jadi jika ada orang yang meyakini ayyamul bidh itu ketika awal Maghrib Bulan tidak di atas ufuq, maka itu termasuk perkara bid'ah dholalah.



Senin, 02 Maret 2026

Ahlus-Sunnah Bersyukur Atas Kematian Ahlul Ahwa' dan Orang Kafir Yang Zholim


 


Ahlus-Sunnah Bersyukur Atas Kematian Ahlul Ahwa' dan Orang Kafir Yang Zholim

Ahlus-Sunnah gembira jika mendengar kabar kematian orang kafir, orang munafiq ataupun ahlul ahwa' yang zholim dan memusuhi Islam. Dengan kematian orang zholim akan membuat makhluk di bumi terhenti dari kejahatannya.

ففي الصَّحيحَينِ من حَديثِ أبي قَتادَةَ الأنصاريِّ رضِيَ اللهُ عنه، أنَّ النبيَّ قال عن موتِ أمثالِ هؤلاءِ: « والعبد الفاجر يستريح منه العباد والبلاد، والشجر والدواب ». فكيف لا يَفرَحُ المسلمُ بموتِ مَن آذَى العِبادَ وأفْسَدَ في البلاد؟!

"Dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim), dari hadits Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi bersabda mengenai kematian orang-orang semacam itu (orang fajir): 'Adapun hamba yang fajir (jahat), maka manusia, negeri, pohon, dan binatang pun beristirahat dari kejahatannya.' Maka bagaimana mungkin seorang Muslim tidak gembira dengan kematian orang yang menyakiti manusia dan berbuat kerusakan di negeri?!" 

وروى عبد الرزاق عن معمر عن ابن طاووس عن أبيه: (أنه أخبر بموت الحجاج مرارًا فلما تحقق وفاته قال: (فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ).

"Dan Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya (Thawus bin Kaysan): Bahwa ia diberitahu tentang kematian Al-Hajjaj (bin Yusuf) berulang kali. Ketika ia memastikan kematiannya, ia berkata: '"Maka, orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam". (QS. Al-An'am: 45).

قِيلَ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ: الرَّجُلُ يَفْرَحُ بِمَا يَنْزِلُ بِأَصْحَابِ ابْنِ أَبِي دُؤَادَ، عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ إِثْمٌ؟، قَالَ: «وَمَنْ لَا يَفْرَحُ بِهَذَا؟» (كتاب السنة لأبي بكر بن الخلال ٥\١٢١)

"Ditanyakan kepada Abu Abdillah (imam Ahmad bin Hanbal) : 'Seseorang merasa senang dengan musibah yang menimpa pengikut Ibnu Abi Du'ad, apakah ia berdosa karenanya?' Beliau menjawab: 'Dan siapa yang tidak gembira dengan hal itu?'" (Kitab As-Sunnah karya Abu Bakar al-Khallal, 5/121)


Lima Hari Lagi Bulan Ramadhon Akan Pergi Meninggalkan Kita

Lima Hari Lagi Bulan Ramadhon Akan Pergi Meninggalkan Kita Lima hari lagi engkau 'kan berlalu, Meninggalkan jiwa yang penuh pilu, Rama...