Jumat, 01 Mei 2026

Maraknya Kasus Jarimah Seksual Akibat Menyelisihi Manhaj Salafush Shalih





Maraknya Kasus Jarimah Seksual Akibat Menyelisihi Manhaj Salafush Shalih

Di zaman Nabi dan para Salafush Shalih (generasi terbaik umat ini) tidak ada pondhok pengasuhan/pondhok anak kecil tanpa hadhinah yang sah dan juga tidak dikenal konsep "penitipan" anak kecil di institusi tanpa hadhinah (pengasuhan) yang sah, ataupun pondhok wanita (pengumpulan wanita di suatu tempat) tanpa pengawasan mahram. Yang mana itu termasuk perkara bid'ah yang tiada salafnya.

Fenomena maraknya kasus kekerasan seksual di berbagai institusi pendidikan berbasis asrama saat ini memicu pertanyaan besar: Di mana letak kesalahannya? Jika ditarik ke akar permasalahannya, salah satu faktor utamanya adalah pengabaian terhadap prinsip-prinsip pengasuhan dan perlindungan yang telah digariskan oleh Manhaj Salafush Shalih.

1. Pengabaian Hak dan Kewajiban Hadhinah serta Peran Keluarga

Pada masa awal Islam, pendidikan anak-anak kecil berpusat di rumah atau di bawah pengasuhan langsung (Hadhinah) orang tua atau kerabat dekat. Konsep menjauhkan anak dari orang tua untuk "mondok" (seperti sistem asrama modern) tidak dikenal. Anak-anak bisa belajar di masjid atau kuttab (tempat belajar baca tulis), tetapi mereka tetap pulang ke rumah dan berada di bawah pengawasan wali yang sah secara syar'i. Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya hak pengasuhan ini dalam sabdanya:

أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي

"Engkau lebih berhak atas pengasuhannya selama engkau belum menikah (lagi)." (HR. Abu Dawud).
Sistem asrama modern yang memisahkan anak dari orang tuanya di usia yang sangat belia telah menghilangkan fungsi perlindungan fitrah. Ketika fungsi pengasuhan berpindah sepenuhnya ke institusi, anak kehilangan pembela utamanya, sehingga menciptakan ruang gelap yang rentan dimanfaatkan oleh pelaku jarimah seksual.

2. Hilangnya Perlindungan Mahram dan Fitnah Khalwat

Dalam tradisi dan manhaj Salaf, kemuliaan wanita terjaga melalui konsep Mahram dan larangan Khalwat (berdua-duaan). Rasulullah ﷺ memperingatkan dengan tegas:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

"Janganlah salah seorang dari kalian berduaan dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan mahramnya." (HR. Bukhari & Muslim).
Serta sabda beliau:

مَا خَلَا رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ الشَّيْطَانُ ثَالِثَهُمَا

"Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali syaithan menjadi yang ketiganya." (HR. At-Tirmidzi).
Banyak kasus di institusi modern terjadi karena prinsip Saddudz Dzari’ah (menutup pintu kemaksiatan) dilanggar atas nama otoritas pendidikan. Tanpa kehadiran mahram sebagai benteng pelindung, posisi wanita menjadi lemah secara relasi kuasa di hadapan oknum pemegang otoritas.

3. Konsekuensi Pergeseran ke Sistem Institusi Kolektif

Sistem pondok pesantren atau asrama modern sering kali mengadopsi budaya kolektif yang mengabaikan prinsip keamanan syar'i:
🔸 Hilangnya Pengawasan Langsung
Ketika anak dipisahkan dari orang tua, fungsi Hadhinah (pengasuhan dan perlindungan) berpindah ke institusi. Di institusi, pengawasan menjadi birokratis dan terbatas. Jika institusi tersebut tidak memiliki sistem akuntabilitas yang kuat, celah kekerasan muncul.
🔸 Otoritas Tunggal yang Mutlak
Di rumah, anak memiliki ayah/ibu sebagai pelindung. Sedang di asrama, "pelindung" mereka sering kali juga merupakan pemegang otoritas tunggal (guru/pengasuh). Ketimpangan relasi kuasa ini membuat korban tidak berani melapor.
🔸 Pengabaian Safar dan Merantau Tanpa Mahram
Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا مَحْرَمٌ

"Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan perjalanan sehari semalam kecuali bersamanya mahramnya." (HR. Bukhari & Muslim).
Jika perjalanan saja membutuhkan mahram, maka merantau atau tinggal di sebuah tempat (mondok) tanpa jaminan keamanan mahram tentu jauh lebih berisiko terhadap kehormatan wanita.

Kesimpulan

Maraknya jarimah seksual adalah alarm bagi umat untuk kembali ke jalan Salafush Shalih. Keamanan generasi muda hanya terjamin jika kita tidak memutus ikatan anak dari wali sahnya dan tidak mengabaikan peran mahram. Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari).


Jumat, 24 April 2026

Tidak Meminta Upah Di Antara Tanda Para Da'i (Pendakwah) yang Mendapat Petunjuk


 

Tidak Meminta Upah Di Antara Tanda Para Da'i (Pendakwah) yang Mendapat Petunjuk


اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ۝٢١

"Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Yasin : 21)

وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۚ ۝١٠٩

Aku tidak meminta ajr (imbalan) kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalan (upah)ku tidak lain, kecuali dari Rabb semesta alam. (QS. Asy-Syu'ara' : 109)

قُلْ مَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ ۝٨٦

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta ajr (upah/imbalan) sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada. (QS. Shad : 86)

Catatan :
1. Ini terlepas dari membahas hukum menerima upah dari pengajaran Al-Qur'an (sebagai kompensasi waktu/profesi).
2. Para Salaf banyak yang menolak hadiah atau pemberian dari murid ataupun wali murid karena khawatir hatinya terfitnah sehingga tidak bisa bersikap adil.
3. Sikap para Salaf yang menolak hadiah bukan karena mereka merasa cukup saja, tapi sebagai bentuk wara' (kehati-hatian). Mereka sadar bahwa hati manusia itu lemah dan mudah condong kepada orang yang memberi.


Penjelasan Secara Ringkas Terkait Makna Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


 


Penjelasan Secara Ringkas Terkait Makna Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


Menurut Salafush-Shalih bahwa makna istiwa’ adalah Al ‘Uluw wa Al Irtifa’ (tinggi). Berikut kutipan perkataan ulama Salaf yang terdapat dalam Shahih Bukhari mengenai makna istawa. Imam Al-Bukhori berkata di dalam Shahihnya:

باب وكان عرشه على الماء وهو رب العرش العظيم قال أبو العالية استوى إلى السماء ارتفع فسواهن خلقهن وقال مجاهد استوى علا على العرش

“Bab “Dan ‘Arsy-Nya di atas air", "Dan Dia-lah Rabb (Pemilik) 'Arsy yang Agung". Abu Al ‘Aliyah berkata: “استوى إلى السماء adalah irtafa'a/tinggi. Makna فسوهن yakni Khalaqahunna' (Menciptakan mereka) dan Mujahid berkata "Istiwa adalah Tinggi di atas 'Arsy."

🔸 Prinsip Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah Terkait Asma' Wa Shifat
Ini dirangkum dalam perkataan Imam Malik terkait Istiwa :

الاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

"Istiwa itu maklum (diketahui maknanya), kaif (caranya) tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya (kaifiyyah-nya) adalah bid'ah." 
🔸 Makna Jelas (Ma'lum)
Makna istawa yaitu irtifa'/al-'uluw (tinggi), bukan duduk seperti makhluk, bukan pula bermakna menguasai (istila') secara majaz yang sering digunakan kelompok Muktazilah atau Jahmiyah.
🔸 Tinggi Dzat dan Sifat
Allah Maha Tinggi dengan Dzat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya dan Maha Tinggi Sifat-Nya.
🔸 Tanpa Tasybih & Takwil
Para Salaf sepakat bahwa istiwa secara hakiki, sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk. Allah berkalam: ﴾لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ﴿ "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. ...." (QS. Asy-Syura: 11).
Salaf menetapkan sifat istiwa tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana caranya), atau tamsil (menyerupakan dengan makhluk).
🔸 Allah Tidak Membutuhkan 'Arsy
Istiwa Allah tidak berarti Allah membutuhkan 'Arsy atau tempat. Sebaliknya, Arsy dan seluruh makhluklah yang membutuhkan Allah. 

Analogi Langit dan Bumi. Analogi untuk mendekatkan pemahaman bahwa keberadaan sesuatu di atas sesuatu yang lain tidak mengharuskan adanya kebutuhan (seperti langit di atas bumi). Langit tidak menempel dan tidak membutuhkan bumi.

Selasa, 21 April 2026

Kadar Kecintaanmu Kepada Saudaramu Sebagai Cerminan Kadar Keimananmu


 


Kadar Kecintaanmu Kepada Saudaramu Sebagai Cerminan Kadar Keimananmu


"Seringkali kita mencari ukuran untuk menilai seberapa besar kadar iman kita. Ternyata, jawabannya bukan hanya pada panjangnya shalat malam kita, melainkan pada seberapa tulus kita mencintai dan menginginkan kebaikan bagi orang lain..."

عَنْ أَبِيْ حَمْزَة أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ خَادِمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ » رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah –Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu– pembantu Rasulullah, dari Nabi , beliau bersabda: ”Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

والذي نفسُ مُحَمَّدٍ بيدِهِ لا يُؤْمِنُ أحدُكُم حتى يُحِبَّ لِأَخِيهِ ما يُحِبُّ لنفسِهِ من الخيرِ
خلاصة حكم المحدث : صحيح | الراوي : أنس بن مالك | المحدث : الألباني | المصدر : صحيح النسائي | الصفحة أو الرقم : 5032
| التخريج : أخرجه النسائي (5017) واللفظ له، وأخرجه البخاري (13)، ومسلم (45) مختصراً بلفظ مقارب

"Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang diantara kalian beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri dalam hal kebaikan." (Hadits Shahih. HR. An-Nasa'i)

لا يبلغُ العبدُ حقيقةَ الإيمانِ حتَّى يحبَّ للنَّاسِ ما يحبُّ لنفسِهِ
خلاصة حكم المحدث : صحيح | الراوي : [أنس بن مالك] | المحدث : الهيتمي المكي | المصدر : الزواجر عن اقتراف الكبائر | الصفحة أو الرقم : 1/238 | التخريج : أخرجه ابن حبان (235)، وأبو يعلى (3081)، والضياء المقدسي في ((المختارة)) (2525) واللفظ لهم، وأصل الحديث في البخاري (13)، ومسلم (45).

"Tidaklah seorang hamba akan mencapai hakikat keimanan hingga ia mencintai manusia lainnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (Hadits Shahih).

Senin, 20 April 2026

Hadits Tentang Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


 


Hadits Tentang Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar-Rahman istawa (berada tinggi) di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha : 5)

Rasulullah ﷺ telah menetapkan sifat istawa untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya:

 يا أبا هُرَيْرةَ ، إنَّ اللَّهَ خلقَ السَّمَواتِ والأرضِ وما بينَهُما في ستَّةِ أيَّامٍ ، ثمَّ استَوَى علَى العرشِ يومَ السَّابعِ ، وخلقَ التُّربةَ يومَ السَّبتِ ، والجبالَ يومَ الأحَدِ ، والشَّجرَ يومَ الاثنَينِ ، والشَّرَّ يومَ الثُّلاثاءِ ، والنُّورَ يومَ الأربعاءِ ، والدَّوابَّ يومَ الخَميسِ ، وآدمَ يومَ الجمُعةِ في آخرِ ساعةٍ منَ النَّهارِ بعدَ العصرِ ، خَلقَه مِن أديمِ الأرضِ بأحمرِها وأسودِها ، وطيِّبِها وخبيثِها ، مِن أجلِ ذلِكَ جعلَ اللَّهُ مِن آدمَ الطَّيِّبَ والخبيثَ
خلاصة حكم المحدث : إسناده جيد | الراوي : أبو هريرة | المحدث : الألباني | المصدر : مختصر العلو | الصفحة أو الرقم : 71 | التخريج : أخرجه مسلم (2789) مختصراً بنحوه، والنسائي في ((السنن الكبرى)) (11392) واللفظ له

"Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia istawa (berada tinggi) di atas 'Arsy pada hari ketujuh. Dia menciptakan tanah pada hari Sabtu, gunung-gunung pada hari Minggu, pepohonan pada hari Senin, kejahatan (hal-hal yang tidak disukai/makruh) pada hari Selasa, cahaya pada hari Rabu, hewan-hewan melata pada hari Kamis, dan menciptakan Adam pada hari Jumat di saat terakhir dari waktu siang (setelah Ashar), Dia menciptakannya dari permukaan bumi, yang merahnya, hitamnya, yang baiknya, dan yang buruknya. Karena itulah Allah menjadikan manusia (keturunan Adam) ada yang baik dan ada yang buruk". 

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «لما خلق اللهُ الخَلْقَ كتب في كتاب، فهو عنده فوق العرش: إن رحمتي تَغْلِبُ غضبي». وفي رواية: «غَلَبَتْ غضبي» وفي رواية: «سَبَقَتْ غضبي». (صحيح - متفق عليه)

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu secara marfū', "Ketika Allah menciptakan semua makhluk, maka Dia pun menulis di dalam kitab, dan kitab itu ada di sisi-Nya di atas 'Arasy yang isinya, "Sesungguhnya rahmat-Ku akan mengalahkan murka-Ku." Dalam satu riwayat, "Telah mengalahkan murka-Ku." Dalam riwayat lain, "Telah mendahului kemarahan-Ku."  (Hadits shahih - Muttafaq 'alaih)

Minggu, 19 April 2026

Sains vs Al-Qur'an: Benarkah Saling Bertentangan?


 



Sains vs Al-Qur'an: Benarkah Saling Bertentangan?


Seringkali muncul perdebatan saat sebuah penemuan sains tampak tidak selaras dengan ayat suci. Namun, sebelum menyimpulkan adanya benturan, kita perlu memahami karakteristik dari kedua jalan kebenaran ini:

1. Sains: Kebenaran yang Terus Bergerak (Dinamis)
Sains berpijak pada pengamatan indrawi dan rasio manusia yang terbatas. Karena alat ukur dan teknologi terus berkembang, kesimpulan sains bersifat dinamis. Dalam dunia ilmiah, sebuah teori dianggap "benar" hanya selama belum ada bukti baru yang membantahnya. Contohnya, dulu sains menganggap rahim hanyalah tempat penyimpanan bayi yang sudah "berbentuk kecil sempurna", namun seiring ditemukannya mikroskop, teori ini berubah total.

2. Al-Qur'an: Kebenaran yang Tetap (Absolut)
Bagi keyakinan umat Islam, Al-Qur'an adalah wahyu dari Tuhan yang Maha Mengetahui. Kebenarannya bersifat mutlak. Jika terjadi celah antara teks agama dan fakta sains, hal itu biasanya menunjukkan keterbatasan sains yang belum sampai pada hakikat tersebut, atau keterbatasan manusia dalam menafsirkan ayatnya.

Studi Kasus: Embriologi
Dalam bidang embriologi, Al-Qur'an (QS. Al-Mu’minun: 14) telah menyebutkan tahapan perkembangan janin mulai dari nuthfah, 'alaqah (sesuatu yang melekat), hingga mudghah (segumpal daging).
Dahulu, para ilmuwan belum memiliki alat untuk melihat fase-fase awal ini. Baru setelah teknologi mikroskop canggih ditemukan pada abad ke-20, sains mengonfirmasi bahwa janin memang melalui fase "melekat" pada dinding rahim dan tampak seperti "daging yang dikunyah". Di sini kita melihat bahwa sains memerlukan waktu berabad-abad untuk sampai pada kebenaran yang sudah tertulis dalam wahyu.

Kesimpulan
Konflik yang tampak sebenarnya bukanlah benturan antara Sains dan Al-Qur'an, melainkan antara "Produk Sains" (hasil olah pikir yang bisa salah/belum lengkap) dan "Tafsir Manusia" terhadap ayat (yang juga bisa keliru). Keduanya adalah upaya manusia mencari kebenaran: sains membaca "ayat alam" (Kauniyah), dan tafsir memahami "ayat tertulis" (Qauliyah).

Jumat, 17 April 2026

Makna Kafir dan Siapa Yang Dimaksud Kafir ?


 


Makna Kafir dan Siapa Yang Dimaksud Kafir ?


Kafir berasal dari kata bahasa Arab kafara (كفر) yang berarti menutup atau menyembunyikan. Secara istilah, kafir adalah sebutan bagi orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, atau mengingkari ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad .

Siapa yang Dimaksud Kafir Menurut Syari'at?

🔸 Orang yang Mendustakan Ayat-Ayat Allah
Mereka yang telah menerima peringatan namun tetap menutup hati dan menolak beriman.

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ۝٦

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman." (QS. Al-Baqarah: 6).

🔸 Ahli Kitab (Yahudi & Nasrani) dan Kaum Musyrik Mereka yang tidak mengimani kenabian Muhammad atau menyekutukan Allah.

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ ۝٦

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya..." (QS. Al-Bayyinah: 6).

🔸 Orang yang Zhalim dan Melampaui Batas
Orang yang menolak seruan kebenaran dan melanggar hukum-hukum Allah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خُلَّةٌ وَّلَا شَفَاعَةٌۗ وَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۝٢٥٤

"...Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Baqarah: 254).

🔸 Orang yang Mengingkari Nikmat (Kufur Nikmat) Seseorang yang tidak mau bersyukur atau menutupi kenyataan atas nikmat yang diberikan Allah.

Maraknya Kasus Jarimah Seksual Akibat Menyelisihi Manhaj Salafush Shalih

Maraknya Kasus Jarimah Seksual Akibat Menyelisihi Manhaj Salafush Shalih Di zaman Nabi ﷺ dan para Salafush Shalih ( generasi terbaik umat in...