Senin, 20 April 2026

Hadits Tentang Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


 


Hadits Tentang Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy


الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar-Rahman istawa (berada tinggi) di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha : 5)

Rasulullah ﷺ telah menetapkan sifat istawa untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya:

 يا أبا هُرَيْرةَ ، إنَّ اللَّهَ خلقَ السَّمَواتِ والأرضِ وما بينَهُما في ستَّةِ أيَّامٍ ، ثمَّ استَوَى علَى العرشِ يومَ السَّابعِ ، وخلقَ التُّربةَ يومَ السَّبتِ ، والجبالَ يومَ الأحَدِ ، والشَّجرَ يومَ الاثنَينِ ، والشَّرَّ يومَ الثُّلاثاءِ ، والنُّورَ يومَ الأربعاءِ ، والدَّوابَّ يومَ الخَميسِ ، وآدمَ يومَ الجمُعةِ في آخرِ ساعةٍ منَ النَّهارِ بعدَ العصرِ ، خَلقَه مِن أديمِ الأرضِ بأحمرِها وأسودِها ، وطيِّبِها وخبيثِها ، مِن أجلِ ذلِكَ جعلَ اللَّهُ مِن آدمَ الطَّيِّبَ والخبيثَ
خلاصة حكم المحدث : إسناده جيد | الراوي : أبو هريرة | المحدث : الألباني | المصدر : مختصر العلو | الصفحة أو الرقم : 71 | التخريج : أخرجه مسلم (2789) مختصراً بنحوه، والنسائي في ((السنن الكبرى)) (11392) واللفظ له

"Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia istawa (berada tinggi) di atas 'Arsy pada hari ketujuh. Dia menciptakan tanah pada hari Sabtu, gunung-gunung pada hari Minggu, pepohonan pada hari Senin, kejahatan (hal-hal yang tidak disukai/makruh) pada hari Selasa, cahaya pada hari Rabu, hewan-hewan melata pada hari Kamis, dan menciptakan Adam pada hari Jumat di saat terakhir dari waktu siang (setelah Ashar), Dia menciptakannya dari permukaan bumi, yang merahnya, hitamnya, yang baiknya, dan yang buruknya. Karena itulah Allah menjadikan manusia (keturunan Adam) ada yang baik dan ada yang buruk". 

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «لما خلق اللهُ الخَلْقَ كتب في كتاب، فهو عنده فوق العرش: إن رحمتي تَغْلِبُ غضبي». وفي رواية: «غَلَبَتْ غضبي» وفي رواية: «سَبَقَتْ غضبي». (صحيح - متفق عليه)

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu secara marfū', "Ketika Allah menciptakan semua makhluk, maka Dia pun menulis di dalam kitab, dan kitab itu ada di sisi-Nya di atas 'Arasy yang isinya, "Sesungguhnya rahmat-Ku akan mengalahkan murka-Ku." Dalam satu riwayat, "Telah mengalahkan murka-Ku." Dalam riwayat lain, "Telah mendahului kemarahan-Ku."  (Hadits shahih - Muttafaq 'alaih)

Minggu, 19 April 2026

Sains vs Al-Qur'an: Benarkah Saling Bertentangan?


 



Sains vs Al-Qur'an: Benarkah Saling Bertentangan?


Seringkali muncul perdebatan saat sebuah penemuan sains tampak tidak selaras dengan ayat suci. Namun, sebelum menyimpulkan adanya benturan, kita perlu memahami karakteristik dari kedua jalan kebenaran ini:

1. Sains: Kebenaran yang Terus Bergerak (Dinamis)
Sains berpijak pada pengamatan indrawi dan rasio manusia yang terbatas. Karena alat ukur dan teknologi terus berkembang, kesimpulan sains bersifat dinamis. Dalam dunia ilmiah, sebuah teori dianggap "benar" hanya selama belum ada bukti baru yang membantahnya. Contohnya, dulu sains menganggap rahim hanyalah tempat penyimpanan bayi yang sudah "berbentuk kecil sempurna", namun seiring ditemukannya mikroskop, teori ini berubah total.

2. Al-Qur'an: Kebenaran yang Tetap (Absolut)
Bagi keyakinan umat Islam, Al-Qur'an adalah wahyu dari Tuhan yang Maha Mengetahui. Kebenarannya bersifat mutlak. Jika terjadi celah antara teks agama dan fakta sains, hal itu biasanya menunjukkan keterbatasan sains yang belum sampai pada hakikat tersebut, atau keterbatasan manusia dalam menafsirkan ayatnya.

Studi Kasus: Embriologi
Dalam bidang embriologi, Al-Qur'an (QS. Al-Mu’minun: 14) telah menyebutkan tahapan perkembangan janin mulai dari nuthfah, 'alaqah (sesuatu yang melekat), hingga mudghah (segumpal daging).
Dahulu, para ilmuwan belum memiliki alat untuk melihat fase-fase awal ini. Baru setelah teknologi mikroskop canggih ditemukan pada abad ke-20, sains mengonfirmasi bahwa janin memang melalui fase "melekat" pada dinding rahim dan tampak seperti "daging yang dikunyah". Di sini kita melihat bahwa sains memerlukan waktu berabad-abad untuk sampai pada kebenaran yang sudah tertulis dalam wahyu.

Kesimpulan
Konflik yang tampak sebenarnya bukanlah benturan antara Sains dan Al-Qur'an, melainkan antara "Produk Sains" (hasil olah pikir yang bisa salah/belum lengkap) dan "Tafsir Manusia" terhadap ayat (yang juga bisa keliru). Keduanya adalah upaya manusia mencari kebenaran: sains membaca "ayat alam" (Kauniyah), dan tafsir memahami "ayat tertulis" (Qauliyah).

Jumat, 17 April 2026

Makna Kafir dan Siapa Yang Dimaksud Kafir ?


 


Makna Kafir dan Siapa Yang Dimaksud Kafir ?


Kafir berasal dari kata bahasa Arab kafara (كفر) yang berarti menutup atau menyembunyikan. Secara istilah, kafir adalah sebutan bagi orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, atau mengingkari ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad .

Siapa yang Dimaksud Kafir Menurut Syari'at?

🔸 Orang yang Mendustakan Ayat-Ayat Allah
Mereka yang telah menerima peringatan namun tetap menutup hati dan menolak beriman.

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ۝٦

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman." (QS. Al-Baqarah: 6).

🔸 Ahli Kitab (Yahudi & Nasrani) dan Kaum Musyrik Mereka yang tidak mengimani kenabian Muhammad atau menyekutukan Allah.

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ ۝٦

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya..." (QS. Al-Bayyinah: 6).

🔸 Orang yang Zhalim dan Melampaui Batas
Orang yang menolak seruan kebenaran dan melanggar hukum-hukum Allah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خُلَّةٌ وَّلَا شَفَاعَةٌۗ وَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۝٢٥٤

"...Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Baqarah: 254).

🔸 Orang yang Mengingkari Nikmat (Kufur Nikmat) Seseorang yang tidak mau bersyukur atau menutupi kenyataan atas nikmat yang diberikan Allah.

Rabu, 15 April 2026

Menjawab Tuduhan Bahwa Al-Qur'an Mencontek Al-Kitab Tauroh dan Injil


 

Menjawab Tuduhan Bahwa Al-Qur'an Mencontek Al-Kitab Tauroh dan Injil

https://teguhakhirblora.blogspot.com/2026/04/menjawab-tuduhan-bahwa-al-quran.html?m=1


Tuduhan bahwa Al-Qur'an "mencontek" Alkitab adalah isu lama yang sudah dijawab oleh para ulama dan pakar sejarah. Berikut adalah poin-poin bantahan logis dan historis untuk mematahkan tuduhan tersebut:

1. Nabi Muhammad adalah seorang "Ummi"

Secara historis, Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis (Ummi). Beliau tidak mungkin mempelajari manuskrip Alkitab yang pada saat itu belum diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Alkitab bahasa Arab baru ada secara lengkap berabad-abad setelah wafatnya Nabi.

2. Perbedaan Teologi yang Mendasar (Koreksi, Bukan Copy)

Jika Al-Qur'an mencontek, seharusnya ia mengikuti doktrin yang ada. Namun, Al-Qur'an justru mengkoreksi poin-poin paling krusial dalam Alkitab:
🔸 Ketuhanan: Al-Qur'an menolak keras konsep Trinitas dan status "Anak Tuhan" yang ada di Perjanjian Baru.
🔸 Sifat Nabi: Di Alkitab, ada kisah nabi yang dituduh melakukan dosa besar (seperti mabuk atau berzina). Al-Qur'an justru datang untuk membersihkan nama mereka dan menegaskan bahwa semua Nabi adalah manusia pilihan yang terjaga (Ma'sum).

3. Detail Sejarah yang Lebih Akurat

Al-Qur'an memberikan detail yang tidak ada di Alkitab namun kemudian dibuktikan oleh ilmu sejarah/arkeologi modern:
🔸 Gelar Penguasa Mesir: Alkitab menyebut penguasa di zaman Nabi Yusuf sebagai "Firaun". Namun, Al-Qur'an secara akurat menyebutnya "Al-Malik" (Raja). Gelar "Firaun" baru digunakan pada masa Nabi Musa. Secara arkeologis, ini benar karena gelar Firaun belum digunakan pada periode Yusuf (Hiksos).
🔸 Kisah Haman: Nama "Haman" disebut di Al-Qur'an sebagai menteri Firaun. Kritikus dulu menyebut ini salah karena Haman ada di Persia dalam Alkitab. Namun, setelah penemuan batu Rosetta, ditemukan bahwa "Haman" memang nama kepala pekerja bangunan di Mesir kuno.

4. Tantangan Sastra (Al-Tahaddi)

Al-Qur'an turun dengan gaya bahasa (balaghah) yang tidak tertandingi oleh sastra Arab mana pun saat itu. Jika itu hasil contekan, para penyair Arab yang hebat di masa itu pasti akan dengan mudah membuktikannya. Namun, hingga kini tantangan untuk membuat satu surat yang semisal dengannya (QS. Al-Baqarah: 23) tidak pernah terpenuhi.

5. Logika "Sumber yang Sama"

Umat Islam percaya bahwa kemiripan cerita (seperti kisah Nabi Musa, Nuh, Ibrahim) terjadi karena sumbernya sama, yaitu wahyu dari Allah.
Ibarat dua orang saksi yang menceritakan kejadian yang sama; cerita mereka pasti mirip, tapi saksi kedua (Al-Qur'an) datang untuk memberikan kesaksian yang lebih murni dan meluruskan bagian yang sudah berubah di tangan manusia.

Kesimpulannya: Mencontek berarti mengambil kesalahan yang sama. Al-Qur'an justru membuang kesalahan, menambah akurasi sejarah, dan membawa sistem hukum yang jauh lebih lengkap dan orisinal.


Senin, 13 April 2026

Keunggulan dan Kehebatan Bahasa Arab: Sang Raja Kosakata Dunia


 


Keunggulan dan Kehebatan Bahasa Arab: Sang Raja Kosakata Dunia


Dalam konteks keagamaan dan linguistik tradisional, banyak ulama berpendapat bahwa tidak ada bahasa yang mampu mengungguli bahasa Arab dalam hal kekayaan kosakata, ketelitian makna, dan keindahan sastra. Berikut perbandingannya secara objektif:

1⃣ Dari Segi Kekayaan Kosakata
Bahasa Arab sering dianggap sebagai bahasa terkaya di dunia.
🔸Bahasa Arab: Diestimasi memiliki lebih dari 12,3 juta kosakata. Sebagai perbandingan, satu kata seperti "singa" bisa memiliki hingga 200 sinonim dengan nuansa makna berbeda.
🔸 Bahasa Lain: Bahasa Inggris memiliki sekitar 600.000 hingga 1 juta kata (termasuk istilah teknis), sementara bahasa Korea tercatat memiliki sekitar 1,1 juta kata dalam kamus daring terbesarnya.

2⃣ Dari Segi Struktur dan Keaslian (Linguistik Historis)
🔸 Kemurnian
Bahasa Arab adalah salah satu bahasa tertua yang strukturnya masih tetap sama selama lebih dari 1.400 tahun. Penutur bahasa Arab modern masih bisa memahami teks klasik abad ke-7, sesuatu yang sangat sulit dilakukan oleh penutur bahasa Inggris modern terhadap teks bahasa Inggris kuno.
🔸 Sistem Akar Kata
Bahasa Arab sangat sistematis karena dibangun dari sistem "akar kata" (biasanya tiga huruf) yang dapat diturunkan menjadi ribuan kata terkait, menjadikannya sangat logis secara struktur.

3⃣ Kesimpulan
Jika indikatornya adalah kedalaman makna dan struktur linguistik, bahasa Arab sulit ditandingi bahasa lain.
Namun, jika indikatornya dilihat dari sudut pandang fungsional dan global di dunia modern, beberapa bahasa lain (seperti : bahasa Inggris, Mandarin) memiliki keunggulan di bidang tertentu.

Keistimewaan Bahasa Arab sebagai Bahasa Al-Qur'an


 

Keistimewaan Bahasa Arab sebagai Bahasa Al-Qur'an


Bahasa Arab dipilih Allah sebagai bahasa Al-Qur'an karena memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki oleh bahasa lain di dunia. Berikut adalah beberapa keunggulan utama bahasa Arab dibandingkan bahasa lainnya:
🔸 Kekayaan Kosakata (Leksikal)
Bahasa Arab memiliki perbendaharaan kata yang luar biasa luas. Sebagai contoh, satu entitas bisa memiliki ratusan sinonim dengan nuansa makna yang berbeda, seperti singa yang memiliki sekitar 800 nama atau pedang yang memiliki 300 nama.
🔸 Kedalaman dan Ketepatan Makna
Bahasa Arab mampu menyampaikan pesan secara sangat presisi. Satu kata dalam bahasa Arab seringkali tidak dapat diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa lain tanpa kehilangan detail maknanya, seperti perbedaan antara kata nazzala dan anzala yang sama-sama berarti "menurunkan" namun memiliki proses yang berbeda.
🔸 Sistem Tata Bahasa (Gramatikal) yang Sempurna
Struktur kalimat dan sistem perubahan kata (Morfologi/Sharaf) serta perubahan harakat akhir (Sintaksis/Nahwu) dalam bahasa Arab sangat sistematis dan detail. Hal ini memungkinkan penyampaian gagasan yang sangat luas dengan kata-kata yang ringkas (ijaz).
🔸 Keindahan Sastra (Balaghah)
Bahasa Arab memiliki nilai estetika dan retorika yang sangat tinggi. Pada saat Al-Qur'an diturunkan, bangsa Arab berada di puncak kejayaan sastra, namun mereka tetap terkagum-kagum dengan keindahan gaya bahasa Al-Qur'an yang melampaui kemampuan manusia.
🔸 Kemampuan Menjaga Keaslian
Bahasa Arab dianggap sebagai bahasa yang paling kuat dalam menjaga integritas teks asli. Berbeda dengan bahasa lain yang banyak mengalami evolusi drastis, bahasa Arab Al-Qur'an (Fusha) tetap dipahami dan dipelajari dengan kaidah yang sama selama lebih dari 14 abad.
🔸 Keunggulan Fonologi
Sistem pengucapan huruf (makharijul huruf) dalam bahasa Arab sangat unik, bahkan ada huruf tertentu seperti dhad (ض) yang dianggap hanya dimiliki oleh bahasa Arab.
Pemilihan bahasa Arab ini bertujuan agar pesan-pesan Ilahi dapat dipahami dengan sebaik-baiknya oleh manusia karena sifat bahasanya yang paling fasih dan paling jelas.


Rabu, 08 April 2026

Jika Mushaf Seakrab Gawai: Di Balik Layar dan Lembar Cahaya


 


Jika Mushaf Seakrab Gawai: Di Balik Layar dan Lembar Cahaya


Duhai jiwa, andai Mushaf sedekat gawai di jemari,
Dicari gelisah bagai musafir merindu bumi,
Bergetar hati tiap Dzikrullah memanggil diri,
Takkan kubiarkan ia bisu, terasing di sudut sepi.

Andai mataku terpaku pada ayat yang bercahaya,
Melebihi candu layar yang penuh tipu daya,
Meresapi tiap kalam-Nya dengan segenap rasa,
Lebih dari sekadar mengejar fana di lini masa.

Tiada helai terlewati tanpa tadabbur yang suci,
Menyimak pesan Ilahi yang kekal abadi,
Andai interaksiku dengannya sungguh bersemi,
Niscaya tenanglah batin, benderanglah jalan kami.

Esensi Makna:

• Bait 1 (Prioritas): Mengambil hikmah dari QS. Al-Anfal: 2, tentang getaran hati saat mengingat Allah melalui kalam-Nya.

• Bait 2 (Realita): Merujuk pada QS. Al-Hadid: 20, mengingatkan bahwa kesenangan dunia (termasuk di balik layar) seringkali semu.

• Bait 3 (Harapan): Terinspirasi dari QS. An-Nisa: 82, tentang pentingnya tadabbur agar Al-Qur'an menjadi cahaya penuntun hidup.

Hadits Tentang Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy

  Hadits Tentang Allah Istawa 'Ala Al-'Arsy الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى “Ar-Rahman istawa (berada tinggi) di atas ‘Arsy.” ...