Sabtu, 21 Maret 2026

Ringkasan Mengapa Kami Tidak Mengikuti Hasil Sidang Isbat Umaro'/Pemerintah ?


 


Ringkasan Mengapa Kami Tidak Mengikuti Hasil Sidang Isbat Umaro'/Pemerintah ?


1⃣ Allah dan Rasul-Nya Lebih Berhak Untuk Kita Taati
2⃣ Tidak Ada Ketaatan dalam Perkara Maksiat
3⃣ Ittihadul Matholi'/Wihdatul Matholi' (penyatuan mathla') itu lebih kuat dalilnya dibanding Ikhtilaful Matholi' sebagaimana pendapat Jumhur Ulama' Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah.
4⃣ Pendapat Ulama Salafush-Sholih yang didukung dalil, lebih berhak didahulukan daripada fatwa sebagian ulama Muta'akhirin.
Terlebih lagi jika ada fatwa ulama mutaakhirin lain yang menyelisihi fatwa ulama tersebut.
5⃣ Fenomena alam seperti Ijtima' (Konjungsi), Gerhana Matahari, Istiqbal, Gerhana Bulan ataupun Ayyamul Bidh itu terjadi secara serempak dan global.
Walau hilal🌙 tidak bisa disaksikan di semua wilayah, tapi keadaan Bulan 🌕 (terutama tanggal 14 dan 15) pada waktu Ayyamul-Bidh umumnya bisa disaksikan mayoritas penduduk bumi yang berakal sehat dan tidak rabun matanya ataupun buta hatinya. Bulan berada di atas langit sejak awal malam sampai akhir malam. Sebaliknya tanggal 16 ketika pertengahan Maghrib Bulan masih di bawah ufuq sehingga langit gelap.
6⃣ Ittihadul Matholi' itu lebih baik dan mashlahatnya lebih besar daripada ikhtilaful matholi' untuk menjaga persatuan kaum muslimin.
7⃣ Kalender Hijriyyah itu lazimnya hanya satu kalender yang sinkron di seluruh dunia
Belum lagi terkait Lailalatul Qadar waktunya semalam dan tidak berbilang tanggalnya. Demikian juga Puasa Arofah yang ada kaitan dengan Wukuf di Arofah.
8⃣ Pemerintah prakteknya menyelisihi prinsip Rukyatul Hilal Hakiki
9⃣ Imam Malik melarang mengikuti umaro' yang memutuskan perkara tersebut dengan bersandar hisab
🔟 Ketika Daulah Fathimiyyah (Syiah) menggunakan Hisab, maka Ahlus-Sunnah tidak mau mengikutinya.

Catatan : Untuk orang-orang yang mengaku Salafi.. ketahuilah jika orang-orang yang mengaku Salafi di Indonesia secara garis besar ada 7 versi, maka setidaknya ada satu versi yang tetap mengikuti ittihadul matholi'. Jadi tidak ada ijma' Salafi. Versi Salafi yang menolak Ittihadul Matholi' pada umumnya para pelaku dosa besar yang mujahir ataupun bermaksiat terang-terangan. Menghalalkan tafarruq mengadakan sholat Jum'at sendiri, mendirikan jam'iyyah/muassasah, menghalalkan wanita merantau (mondhok) tanpa mahrom, pondhok anak kecil tanpa hadhinah yang sah, Ash-Shuwar makhluk bernyawa, tasawwul (minta-minta/penggalangan dana untuk hizb), tanzhim hizbiyyah dan perkara bid'ah/kemaksiatan lainnya.

Menjadikan Hisab Imkanur Rukyat sebagai Tolok Ukur dan Filter Untuk Memverifikasi ( Sebagai Penguji Kebenaran Laporan Rukyat ) Termasuk Perkara Bid'ah (2)



Menjadikan Hisab Imkanur Rukyat sebagai Tolok Ukur dan Filter Untuk Memverifikasi ( Sebagai Penguji Kebenaran Laporan Rukyat ) Termasuk Perkara Bid'ah (2)


Maka ketahuilah Penggunaan Hisab Imkanur Rukyah sebagai filter (tolok ukur diterimanya hasil rukyat) ini termasuk perkara bid'ah karena bertentangan dengan prinsip Rukyatul Hilal Hakiki (murni penglihatan mata).

🔸 Nabi Muhammad bersabda :

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

"Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah ('Idul Fithri) karena melihatnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

إنا أمة أمية ، لا نكتب ولا نحسب ، الشهر هكذا وهكذا . يعني مرة تسعة وعشرين ، ومرة ثلاثين

"Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi (buta huruf), kami tidak (biasa) menulis dan tidak (biasa) menghitung. Satu bulan itu begini dan begini (maksudnya 29 atau 30 hari)." (HR. Al-Bukhari)

🔸 Kesederhanaan Ibadah
Syariat Islam itu mudah dan tidak memerlukan hisab ataupun alat astronomi rumit. Jika ada Muslim yang adil (terpercaya) bersumpah melihat hilal, maka kesaksiannya wajib diterima, meski data hisab menyatakan hilal masih rendah. Menolaknya berarti termasuk menambah-nambah syarat yang tidak ada di zaman Nabi.

Sebab dan Alasan Utama Hisab Dihukumi Bid'ah

🔸 Menyelisihi Sunnah atau Perintah Eksplisit Rasulullah ﷺ (Meninggalkan Rukyat)
Rasulullah ﷺ secara eksplisit memerintahkan untuk melihat hilal (rukyat) sebagai satu-satunya penentu awal puasa dan lebaran, bukan dengan hitungan. Menggunakan hisab dianggap mengubah syariat atau meninggalkan metode yang diajarkan Nabi.
🔸 Ibadah Harus Bersifat Tauqifi
Tata cara ibadah (termasuk penentuan waktunya) harus mengikuti contoh persis dari Rasulullah (tauqifi). Karena Nabi tidak pernah menggunakan hisab untuk menentukan puasa, maka melakukannya dianggap bid'ah dalam urusan ibadah.
🔸 Mengada-adakan Cara Baru dalam Ibadah (Bid'ah I'tiqadiyyah)
Hisab dianggap sebagai perkara baru yang diada-adakan dalam urusan ibadah ritual (ta'abbudi), di mana dasar utamanya adalah ittiba' (mengikuti contoh Rasul), bukan inovasi akal atau teknologi.
🔸 Menganggap Syariat Kurang Sempurna
Penggunaan hisab menyiratkan seolah-olah syariat Islam yang dibawa Rasulullah ﷺ tidak sempurna atau kurang presisi, sehingga perlu disempurnakan dengan teknologi astronomi modern.
🔸 Mengabaikan Metode Syar'i (Istikmal)
Jika hilal tidak terlihat, Nabi memerintahkan istikmal (menggenapkan bulan menjadi 30 hari), bukan beralih ke hisab astronomi.
🔸 Menolak Hadits Shahih
Di antaranya menolak atau membuang hadits tentang "berpuasalah dengan rukyat" dan menggantinya dengan "berpuasalah dengan hisab" yang mana itu termasuk bid'ah dholalah.
🔸 Ketergantungan pada Ilmu Non-Wahyu
Hisab dianggap bersandar pada logika dan ilmu astronomi yang pada masa itu sering dikaitkan dengan peramalan atau ilmu bintang, yang dianggap tidak memiliki otoritas dalam menetapkan hukum syariat.
🔸 Menghilangkan Kemudahan Agama
Syariat Islam diturunkan untuk semua kalangan, termasuk orang awam di pelosok yang bisa melihat langit. Menggunakan hisab dianggap mempersulit umat karena mewajibkan keahlian khusus yang tidak dimiliki semua orang.
🔸 Potensi Perbedaan yang Berkelanjutan
Meskipun hisab menawarkan kepastian matematis, sebagian ulama berpendapat bahwa kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi tidak boleh mengalahkan tata cara yang telah ditetapkan secara syar'i (rukyat), karena hisab sering menimbulkan perdebatan hasil perhitungan di antara para ahli falak sendiri. 

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين

Menjadikan Hisab Imkanur Rukyat sebagai Tolok Ukur dan Filter Untuk Memverifikasi ( Sebagai Penguji Kebenaran Laporan Rukyat ) Termasuk Perkara Bid'ah (1)



Kembali Berpuasa Setelah Ramadhan Di Antara Tanda Amalan Puasa Ramadhan Diterima


 


Kembali Berpuasa Setelah Ramadhan Di Antara Tanda Amalan Puasa Ramadhan Diterima

Ketika membicarakan faedah melakukan puasa Syawwal, Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata :

أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم: ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة وعدم قبولها.

كتاب لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف ص ٢٢١ - ط ابن حزم - اب رجب الحنبلي

"Sesungguhnya kembali berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya puasa Ramadhan. Karena sesungguhnya Allah, jika menerima amal seorang hamba, Dia akan memberinya taufik untuk melakukan amal sholih setelahnya. Sebagaimana perkataan sebagian ulama: 'Pahala dari suatu kebaikan adalah kebaikan setelahnya.' Maka barangsiapa melakukan suatu kebaikan lalu mengikutinya dengan kebaikan lain, hal itu merupakan tanda diterimanya kebaikan yang pertama. Sebagaimana barangsiapa melakukan suatu kebaikan lalu mengikutinya dengan keburukan, hal itu merupakan tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tidak diterimanya."
📚 Kitab Lathaiful Ma’arif fima li Muwasim al-’Am minal Wazhaif, hal. 221, Cet. Ibnu Hazm.

2 Syawwal 1447 H (21-03-2026)

Kamis, 19 Maret 2026

Kala Ramadhan Berpamitan : Untaian Muhasabah Ibnu Rajab di Lathaif al-Ma’arif




"Kala Ramadhan Berpamitan : Untaian Muhasabah Ibnu Rajab di Lathaif al-Ma’arif"



كيف لا تجرى للمؤمن على فراقه دموع وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رجوع.

تذكرت أياما مضت ولياليا ... خلت فجرت من ذكرهن دموع

ألا هل لها يوما من الدهر عودة ... وهل لي إلى يوم الوصال رجوع

وهل بعد إعاض الحبيب تواصل ... وهل لبدور قد أفلن طلوع

أين حرق المجتهدين في نهاره أين قلق المجتهدين في أسحاره.

اسمع أنين العاشقين ... إن استطعت له سماعا

راح الحبيب فشيعته ... مدامعي تهمي سراعا

لو كلف الجبل الأصم ... فراق إلف ما استطاعا

إذا كان هذا جزع من ربح فيه, فكيف حال من خسر في أيامه ولياليه ماذا ينفع المفرط فيه بكاؤه وقد عظمت فيه مصيبته وجل عزاؤه كم نصح المسكين فما قبل النصح كم دعي إلى المصالحة فما أجاب إلى الصلح كم شاهد الواصلين فيه وهو متباعد كم مرت به زمر السائرين وهو قاعد حتى إذا ضاق به الوقت وخاف المقت ندم على التفريط حين لا ينفع الندم وطلب الإستدراك في وقت العدم.

أتترك من تحب وأنت جار ... وتطلبهم وقد بعد المزار

وتبكي بعد نأيهم اشتياقا ... وتسأل في المنازل أين ساروا

تركت سؤالهم وهم حضور ... وترجو أن تخبرك الديار

فنفسك لم ولا تلم المطايا ... ومت كمدا فليس لك اعتذار

يا شهر رمضان ترفق دموع المحبين تدفق قلوبهم من ألم الفراق تشقق عسى وقفة للوداع تطفىء من نار الشوق ما أحرق عسى ساعة توبة وإقلاع ترفو من الصيام كلما تخرق عسى منقطع عن ركب المقبولين يلحق عسى أسير الأوزار يطلق عسى من استوجب النار يعتق.

عسى وعسى من قبل وقت التفرق ... إلى كل ما ترجو من الخير تلتقى

فيجبر مكسور ويقبل تائب ... ويعتق خطاء ويسعد من شقى

 كتاب لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف ص ٢١٧ - ط ابن حزم- ابن رجب الحنبلي
:

"Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak meneteskan air mata atas perpisahan (dengan Ramadan), padahal ia tidak tahu apakah sisa umurnya masih ada kesempatan untuk kembali menemuinya. 

Aku teringat hari-hari dan malam-malam yang telah berlalu, lalu air mata pun mengalir karena mengingatnya.
Adakah, apakah masih ada waktu dari masa untuk kembali, dan adakah bagiku kesempatan kembali hingga hari pertemuan?
Apakah masih ada pertemuan setelah kekasih pergi, dan apakah bulan yang telah terbenam bisa terbit kembali?

Manakah semangat orang-orang yang bersungguh-sungguh di siang harinya? Manakah kecemasan orang-orang yang bersungguh-sungguh di waktu sahur-nya?
Dengarkanlah rintihan para pencinta (Allah), jika engkau mampu mendengarnya.
Kekasih telah pergi, maka aku mengantarnya dengan air mataku yang mengalir deras.
Seandainya gunung yang tuli diperintahkan untuk menanggung perpisahan dengan kekasih, niscaya ia tidak akan mampu.

Jika seperti ini (sedihnya) orang yang beruntung di dalamnya (Ramadan), lalu bagaimana keadaan orang yang rugi di hari-hari dan malam-malamnya? Apa gunanya tangisan orang yang menyia-nyiakannya, padahal musibah baginya begitu besar dan kehilangannya tak terobati?
Berapa kali si miskin ini dinasihati namun tidak menerima nasihat? Berapa kali ia diajak untuk berdamai (taubat) namun tidak menjawab seruan untuk sholih? Berapa kali ia melihat orang-orang yang mencapai (keberkahan) di bulan itu sementara ia justru menjauh? Berapa kali rombongan orang-orang yang berjalan (menuju Allah) melewatinya sementara ia tetap duduk santai?
Hingga ketika waktunya sempit dan ia takut akan murka (Allah), ia menyesal atas kelalaiannya di saat penyesalan tidak lagi berguna, dan ia menuntut perbaikan di saat kesempatan telah tiada.

Apakah engkau meninggalkan orang yang engkau cintai padahal engkau tetangganya, lalu engkau mencari mereka saat tempatnya sudah jauh?
Engkau menangis setelah kepergian mereka karena rindu, dan engkau bertanya pada tempat-tempat tinggal (yang kosong) ke mana mereka pergi?
Engkau membiarkan bertanya saat mereka ada, dan engkau berharap tempat itu mengabarkan padamu?
Maka cela dirimu sendiri, jangan cela unta kendaraannya, dan matilah karena sedih (menyesal) karena engkau tidak punya alasan lagi.

Wahai bulan Ramadan, berlemah lembutlah! Air mata orang-orang yang mencinta telah tercurah, hati mereka hancur karena rasa sakit perpisahan.
Semoga berhentinya waktu untuk perpisahan ini memadamkan api kerinduan yang membakar.
Semoga ada waktu untuk bertaubat dan berhenti (dari dosa), yang menambal segala robekan puasa.
Semoga orang yang terputus (dari rahmat) dapat menyusul rombongan orang-orang yang diterima.
Semoga tawanan dosa dibebaskan.
Semoga orang yang berhak masuk neraka dimerdekakan.

Semoga dan semoga, sebelum waktu perpisahan tiba, engkau akan bertemu dengan segala kebaikan yang engkau harapkan.
Maka (Allah) menyembuhkan yang patah hati, menerima yang bertaubat, memerdekakan yang bersalah, dan membahagiakan yang celaka."

📚 Kitab Lathaif al-Ma'arif fi-ma li-Mawasim al-'Am min al-Wazha'if, hal. 217, cetakan Ibnu Hazm - Ibnu Rajab al-Hanbali

Simpuh Pasrah di Penghujung Ramadhan 1447 H



Simpuh Pasrah di Penghujung Ramadhan 1447 H


Di ufuk jingga yang kian merapuh,
Ramadhan pamit, langkah menjauh,
Terasa sekejap waktu berlabuh,
Meninggalkan rindu yang kian riuh.

Tetesan air mata jatuh membasuh,
Melihat bulan kian menjauh,
Jiwa terisak, kalbu pun luruh,
Meratapi diri yang penuh peluh.

Tangan menengadah berlumur noda,
Amal shalih sedikit tak seberapa,
Dosa menggunung di dalam dada,
Sesal menghujam tak kunjung reda.

Di hadap-Mu hamba bersimpuh pasrah,
Membasuh hidup yang penuh salah,
Ampuni hamba yang sering menyerah,
Tenggelam dalam nafsu yang serakah.

Duhai Ilahi, Rabb-ku Ar-Rahman,
Dekaplah hamba yang penuh beban,
Sebelum tertutup pintu ampunan,
Cucilah hati dari kehampaan.

Terimalah hamba yang penuh cacat,
Meski ibadah jauh dari taat,
Semoga puasa menjadi syafaat,
Penyelamat kami di hari akhirat.

Izinkan kaki kembali melangkah,
Menuju Ramadhan penuh berkah,
Semoga umur masih dijatah,
Bertemu lagi di jalan hidayah.
 

Selasa, 17 Maret 2026

Ramadhan Tinggal 3 Hari dan Akan Segera Meninggalkan Kita


 


Ramadhan Tinggal 3 Hari dan Akan Segera Meninggalkan Kita


Waktu berlalu begitu kencang,
Ramadhan mulia kini kan pulang.
Tiga hari tersisa di ambang,
Hati gelisah bimbang melayang.

Sedih menghimpit di dalam dada,
Perpisahan ini kian terasa.
Bulan ampunan segera tiada,
Diri masih berlumur dosa.

Amal ibadah masihlah sedikit,
Lalai mengejar syurga yang sulit.
Rasa sesal datang menghimpit,
Menangisi waktu yang kian sempit.

Ya Allah terimalah taubat hamba,
Sebelum Ramadhan menutup gerbangnya.
Meski diri penuh cela dan noda,
Jangan biarkan kami hampa tanpa pahala.


اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِي مَرْحُومًا وَلاَ تَجْعَلْنِي مَحْرُومًا

"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau menjadikannya yang terakhir, maka jadikanlah aku orang yang disayangi (dirahmati), dan janganlah Engkau jadikan aku orang yang malang (terhalang dari rahmat-Mu)."

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Ya Rabb kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Minggu, 15 Maret 2026

Lima Hari Lagi Bulan Ramadhon Akan Pergi Meninggalkan Kita





Lima Hari Lagi Bulan Ramadhon Akan Pergi Meninggalkan Kita


Lima hari lagi engkau 'kan berlalu,
Meninggalkan jiwa yang penuh pilu,
Ramadhan mulia tamu yang syahdu,
Sedih hati mengenang hari berlalu.

Tangan hampa tak banyak beramal,
Malam berlalu tanpa bersujud maksimal,
Kini diri merasa teramat dangkal,
Meninggalkan berkah yang sangat kekal.

Detik berlalu tiada kembali,
Peluang emas tersia berkali,
Tangan menadah, air mata jatuh di pipi,
Takut esok aku tak berjumpa lagi.

Wahai Sang Pemilik Bulan Mulia,
Ampuni hamba yang lalai dan fana,
Izinkan sisa waktu menjadi bermakna,
Sebelum Ramadan benar-benar sirna.

"Ya Allah, jangan biarkan matahari Ramadhan terbenam kecuali Engkau telah mengampuni dosa-dosaku, menerima amal yang sedikit ini, dan menetapkanku sebagai hamba yang Engkau bebaskan dari api neraka."

Jumat, 13 Maret 2026

Syair Bulan Ramadhan Tujuh Hari Akan Bersiap Hendak Pergi


 

Syair Bulan Ramadhan Tujuh Hari Akan Bersiap Hendak Pergi


Tujuh hari tersisa dari bulan yang suci,
Ramadhan perlahan bersiap hendak pergi.
Masjid-masjid syahdu dalam doa dan bakti,
Mengejar ampunan sebelum fajar berganti.

Langkah waktu kian cepat tak terbendung,
Meninggalkan rindu yang kini kian membumbung.
Akankah amal kita cukup untuk bernaung?
Di hari esok saat rahmat tak lagi mengepung.

Wahai hati, manfaatkan sisa waktu yang ada,
Sebelum Syawwal tiba menyapa di depan mata.
Semoga perpisahan ini tak membawa hampa,
Hingga di Ramadhan depan kita kembali berjumpa.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Lathaif al-Ma'arif menggambarkan kesedihan hati orang bertakwa tatkala akan berpisah dengan bulan Ramadhon :

كَيْفَ لَا تَجْرِى لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِهِ دُمُوْعٌ وَهُوَ لَا يَدْرِي هَلْ بَقِيَ لَهُ فِي عُمْرِهِ إِلَيْهِ رُجُوْعٌ؟

"Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak menetes saat berpisah dengan Ramadan, padahal ia tidak tahu apakah di sisa umurnya masih ada kesempatan untuk bertemu kembali?"


Jum'at, 24 Ramadhan 1447 H

Mengapa Konsep Ittihadul Matholi' Lebih Kuat daripada Ikhtilaful Matholi' ?


 


Mengapa Konsep Ittihadul Matholi' Lebih Kuat daripada Ikhtilaful Matholi' ?

Ittihadul Matholi' itu berasal dari kata Ittihad yang berarti "persatuan/kesatuan" dan Matholi' (bentuk jamak dari Mathla') yang berarti "tempat/waktu terbit". Jika di sebuah negeri terlihat hilal, maka itu berlaku untuk seluruh negeri.

1⃣ Dalilnya lebih kuat dan ini pendapat jumhur ulama' Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah (Hanafi, Maliki, dan Hambali). Keabsahan dalil berpegang pada keumuman perintah dalam hadits: «صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ». Kata صُومُوا "berpuasalah kalian" di sini dipahami sebagai umat Islam secara kolektif, bukan per wilayah.
2⃣ Mashlahat Ittihadul Matholi' lebih besar. Menjaga persatuan umat Islam dan menawarkan solusi administratif agar umat Islam memiliki satu kalender yang sinkron di seluruh dunia.
3⃣ Lailatul Qodar hanya terjadi satu malam dan bersifat universal. Jika Lailatul Qodar terjadi pada malam ganjil, maka semua tempat insya Allah juga pada malam ganjil.
4⃣ Ittihadul Matholi’ dianggap lebih logis karena fenomena alam tidak mengenal batas administrasi negara.
5⃣ Hilal walau tidak bisa dirukyat di semua wilayah, tapi secara astronomis waktu ijtimak (konjungsi) dan istiqbal itu terjadi secara serempak. Dan ijtimak secara astronomis indikasi akhir bulan berganti bulan baru. Demikian juga gerhana Matahari dan Bulan terjadi secara serempak di seluruh penjuru bumi.
6⃣ Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14 dan 15) insya Allah bisa disaksikan mayoritas penduduk bumi dan tak bisa dimanipulasi. Terutama tanggal 14 dan 15 bentuk bulan 🌕 Purnama dan umumnya bisa disaksikan di atas langit sejak awal malam hingga akhir malam. Adapun tanggal 16 ketika pertengahan Maghrib Bulan masih dibawah ufuq sehingga langit terlihat gelap.
7⃣ Keadilan Ibadah Puasa Arafah. Puasa Arafah merujuk pada peristiwa wukuf di Arafah. Ittihadul Matholi’ menyinkronkan waktu puasa di seluruh dunia dengan waktu wukuf yang sebenarnya, menghindari situasi di mana suatu wilayah berhari raya saat jamaah haji baru melakukan wukuf.

Dalam perkara khilaf tadhodh semisal ini, kebenaran itu hanya satu dan tidak mungkin sama-sama benar. Otoritas ilmu dan kebenaran itu lebih berhak didahulukan daripada otoritas umaro'/penguasa.

Selasa, 10 Maret 2026

Di Antara Doa Yang Dibaca Ketika Lailatul Qadar


 


Di Antara Doa Yang Dibaca Ketika Lailatul Qadar


سألَتْهُ صلى اللهُ عليهِ وسلَّمَ عائشةُ رضي الله عنها إنْ وافقتُها فبِمَ أدعو ؟ قال قولي اللهمَّ إنك عفوٌ تحبُّ العفوَ فاعفُ عني
الراوي : عائشة أم المؤمنين | المحدث : ابن القيم | المصدر : أعلام الموقعين | الصفحة أو الرقم: 4/249 | خلاصة حكم المحدث : صحيح | التخريج : أخرجه الترمذي (3513)، وابن ماجة (3850)، وأحمد (25384) باختلاف يسير.

"Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Nabi ﷺ, 'Jika aku mendapatinya (Lailatul Qadar), apa yang harus aku ucapkan?' Beliau ﷺ menjawab: 'Ucapkanlah: 

اللهمَّ إنك عفوٌ تحبُّ العفوَ فاعفُ عني

Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku)'". 

🔸 Perawi: Aisyah Ummul Mukminin.
🔸 Derajat: Hadits Sahih (menurut Ibnul Qayyim dalam A'lamul Muwaqqi'in 4/249, juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
🔸 Ini adalah salah satu doa terbaik yang diajarkan Nabi ﷺ untuk dibaca, khususnya pada malam Lailatul Qadar, memohon ampunan dan penghapusan dosa. 


Malam, 21 Ramadhon 1447 H 

Senin, 09 Maret 2026

Penjelasan Menurut Ilmu Astronomis Gerhana Bulan Hanya Terjadi Pada Pertengahan Sinodik Ketika Umur Bulan 14,75 hari ( Tanggal 14 atau 15





Penjelasan Menurut Ilmu Astronomis Gerhana Bulan Hanya Terjadi Pada Pertengahan Sinodik Ketika Umur Bulan 14,75 hari ( Tanggal 14 atau 15 )

Ringkasnya. Menurut ilmu Astronomis, gerhana Bulan itu hanya terjadi pada pertengahan sinodik yaitu ketika umur Bulan sekitar 14,75 hari. Saat fase Bulan Purnama (Full Moon), yaitu ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus (oposisi). Gerhana bisa terjadi tanggal 14 (jika umur Bulan ketika awal bisa dirukyat antara 1-2 hari atau diatas 24 jam). Gerhana Bulan bisa terjadi tanggal 15 (jika umur Bulan awal bisa dirukyat antara 12-24 jam). Karena penanggalan itu hasil pembulatan sehingga istilah "umur Bulan" itu beda dengan tanggal.

Berikut adalah poin kunci yang memperjelas  :
🔸Siklus Sinodik
Rata-rata panjangnya adalah 29,53 hari dengan titik tengahnya (Purnama) sekitar 14,75 hari.
🔸 Oposisi Astronomis
Gerhana hanya terjadi saat fase Bulan Purnama, yaitu ketika Bulan berada di titik oposisi (180° dari Matahari). Secara matematis, ini selalu terjadi di titik tengah siklus sinodik (29,53 hari ÷ 2 = 14,76 hari).
🔸 Definisi "Umur Bulan"
Umur Bulan dihitung sejak momen konjungsi (ijtimak/ijtima') atau sering disebut Fase Bulan Baru (New Moon). Adapun kalender Hijriah dimulai sejak Maghrib (setelah hilal terlihat), sehingga biasanya ada selisih waktu antara detik kelahiran Bulan secara astronomis dengan dimulainya Tanggal 1.
🔸 Penyebab Variasi Tanggal (14 atau 15):
Jika durasi antara konjungsi ke Maghrib (saat penentuan tanggal 1) sudah lama atau hilal terlihat ketika umur Bulan antara 1-2 hari, maka "tabungan" umur Bulan sudah besar, sehingga fase purnama bisa tercapai pada tanggal 14. Tapi sebenarnya pada tanggal 14 tersebut umur Bulan sudah lebih dari 14 hari 12 jam.
Jika durasi antara konjungsi ke Maghrib sangat singkat atau hilal terlihat ketika umur Bulan baru 13-23 jam, maka purnama baru akan tercapai pada tanggal 15. Tapi sebenarnya umur Bulan pada tanggal 15 tersebut belum genap 15 hari (masih kurang beberapa jam), karena tanggal 1 dimulai ketika umur Bulan kurang dari 1 hari atau sekitar 12-23 jam.

Jadi, gerhana Bulan selalu terjadi pada umur astronomis yang sama (~14,75 hari), namun angka tanggalnya bisa berbeda tergantung kapan kita mulai menghitung hari pertama. Perbedaan antara umur astronomis (durasi sejak konjungsi) dan tanggal kalender (pembulatan hari) inilah yang sering membuat masyarakat awam bingung mengapa gerhana tidak selalu jatuh pada tanggal 15.

Kesimpulan Inti:
• Umur Astronomis: Mutlak (diukur dari detik konjungsi).
• Tanggal Kalender: Relatif (diukur dari Maghrib saat hilal teramati/ditetapkan).

Gerhana Bulan selalu terjadi di tengah siklus, namun angka tanggalnya hanyalah masalah "kapan kita mulai menghitung hari pertama" dibandingkan dengan detik kelahiran bulan yang sebenarnya.
 

Rabu, 04 Maret 2026

Tanggal 04-03-2026 Malam Kamis Bulan Diperkirakan Terbit Setelah Pertengahan Maghrib Sehingga Bukan Termasuk Ayyamul Bidh ( Menunjukkan Malam 16 Romadhon 1447 H )


 

Tanggal 04-03-2026 Malam Kamis Bulan Diperkirakan Terbit Setelah Pertengahan Maghrib Sehingga Bukan Termasuk Ayyamul Bidh ( Menunjukkan Malam 16 Romadhon 1447 H )


🔸Tanggal 03-03-2026 Bulan terbit sebelum Maghrib dan terjadi gerhana Bulan malam 15 Ramadhan 1447 H.
🔸 Jarak rata-rata antara Maghrib dan Isya' di Blora sekitar 70 menit (antara 68-73 menit). Pertengahan Maghrib sekitar 35 menit setelah matahari terbenam.
🔸 Jadwal Kemenag biasanya menambahkan waktu pengamanan (ihtiyati) sekitar 2-3 menit untuk memastikan waktu shalat benar-benar telah masuk.
🔸 Jadi malam nanti 04-03-2026 insya Allah Bulan diperkirakan baru akan terbit setelah lewat pertengahan Maghrib, sehingga bukan termasuk Ayyamul Bidh. Karena ketika awal Maghrib posisi Bulan masih dibawah ufuq sehingga langit terlihat gelap.





Alhamdulillah.. tadi malam ba'da sholat Maghrib diriku menyaksikan gerhana Bulan malam 15 Romadhon 1447 H.

Nanti insya Allah bisa dipastikan ketika masuk Maghrib posisi Bulan masih dibawah ufuk sehingga bukan ternasuk ayyamul bidh. Karena ayyamul bidh itu hanya ada 3 hari yaitu keadaan Bulan dimana awal malam sampai akhir malam posisi Bulan di atas ufuk.

Jadi jika ada orang yang meyakini ayyamul bidh itu ketika awal Maghrib Bulan tidak di atas ufuq, maka itu termasuk perkara bid'ah dholalah.



Senin, 02 Maret 2026

Ahlus-Sunnah Bersyukur Atas Kematian Ahlul Ahwa' dan Orang Kafir Yang Zholim


 


Ahlus-Sunnah Bersyukur Atas Kematian Ahlul Ahwa' dan Orang Kafir Yang Zholim

Ahlus-Sunnah gembira jika mendengar kabar kematian orang kafir, orang munafiq ataupun ahlul ahwa' yang zholim dan memusuhi Islam. Dengan kematian orang zholim akan membuat makhluk di bumi terhenti dari kejahatannya.

ففي الصَّحيحَينِ من حَديثِ أبي قَتادَةَ الأنصاريِّ رضِيَ اللهُ عنه، أنَّ النبيَّ قال عن موتِ أمثالِ هؤلاءِ: « والعبد الفاجر يستريح منه العباد والبلاد، والشجر والدواب ». فكيف لا يَفرَحُ المسلمُ بموتِ مَن آذَى العِبادَ وأفْسَدَ في البلاد؟!

"Dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim), dari hadits Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi bersabda mengenai kematian orang-orang semacam itu (orang fajir): 'Adapun hamba yang fajir (jahat), maka manusia, negeri, pohon, dan binatang pun beristirahat dari kejahatannya.' Maka bagaimana mungkin seorang Muslim tidak gembira dengan kematian orang yang menyakiti manusia dan berbuat kerusakan di negeri?!" 

وروى عبد الرزاق عن معمر عن ابن طاووس عن أبيه: (أنه أخبر بموت الحجاج مرارًا فلما تحقق وفاته قال: (فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ).

"Dan Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya (Thawus bin Kaysan): Bahwa ia diberitahu tentang kematian Al-Hajjaj (bin Yusuf) berulang kali. Ketika ia memastikan kematiannya, ia berkata: '"Maka, orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam". (QS. Al-An'am: 45).

قِيلَ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ: الرَّجُلُ يَفْرَحُ بِمَا يَنْزِلُ بِأَصْحَابِ ابْنِ أَبِي دُؤَادَ، عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ إِثْمٌ؟، قَالَ: «وَمَنْ لَا يَفْرَحُ بِهَذَا؟» (كتاب السنة لأبي بكر بن الخلال ٥\١٢١)

"Ditanyakan kepada Abu Abdillah (imam Ahmad bin Hanbal) : 'Seseorang merasa senang dengan musibah yang menimpa pengikut Ibnu Abi Du'ad, apakah ia berdosa karenanya?' Beliau menjawab: 'Dan siapa yang tidak gembira dengan hal itu?'" (Kitab As-Sunnah karya Abu Bakar al-Khallal, 5/121)


Makna Kafir dan Siapa Yang Dimaksud Kafir ?

  Makna Kafir dan Siapa Yang Dimaksud Kafir ? Kafir berasal dari kata bahasa Arab  kafara  ( كفر ) yang berarti  menutup  atau  menyembunyik...