Taqwa Sebagai Tolok Ukur Kemuliaan Di Sisi Allah.. Bukan Harta, Gelar dan Selainnya
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti." (QS. Al-Hujurat : 13)
🔸 Ali bin abi Thalib Radhiyaallahu 'anhu berkata :
التقوى هي الخوف من الجليل و العمل بالتنزيل والرضا بالقليل و الإستعداد ليوم الرحيل
“ Taqwa adalah takut kepada Allah, beramal sesuai yang diturunkan (Al-Qur’an dan As-Sunnah), menerima dengan yang sedikit dan selalu senantiasa bersiap-siap menempuh untuk hari perjalanan menghadap Allah."
🔸 Seorang Tabi’in, Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah juga memberikan makna taqwa
ليس تقوى الله بصيام النهار ولا بقيام الليل و التخليط فيما بين ذلك و لكن تقوى الله ترك ما حرم الله و أداء ما افترض الله فمن رزق بعد ذلك خيرا فهو من خير إلى خير
“Ketaqwaan kepada Allah bukanlah terletak pada puasanya seseorang di siang hari dan shalatnya ditengah malam maupun hal –hal yang dia kerjakan di waktu – waktu itu, akan tetapi ketaqwaan kepada Allah terletak pada meninggalkan apa-apa yang diharamkan Allah dan mengerjakan semua kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan dan barang siapa yang telah diberi rezeqi sesudah itu maka itu merupakan kebaikan menuju kebaikan.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar