Minggu, 01 Desember 2024

Kesedihan Itu Tiada Mashlahat Bagi Hati


 


Kesedihan Itu Tiada Mashlahat Bagi Hati


𝗜𝗯𝗻𝘂𝗹 𝗤𝗮𝘆𝘆𝗶𝗺 𝗥𝗮𝗵𝗶𝗺𝗮𝗵𝘂𝗹𝗹𝗮̄𝗵𝘂 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁𝗮 :

الحزن لا مصلحة فيه للقلب وأحب شيء إلى الشيطان وهو ليس بمطلوب ولا مقصود ولا فيه فائدة، وقد استعاذ منه النبي صلى الله عليه وسلم فقال (اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن).

"𝗞𝗲𝘀𝗲𝗱𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝗯𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝗵𝗮𝘁𝗶, 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗹𝗶𝗸𝗻𝘆𝗮, 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗱𝗶𝘀𝘂𝗸𝗮𝗶 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝘀𝘆𝗮𝗶𝘁𝗵𝗮̄𝗻. 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗮𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝘂𝗹𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗲𝗻𝗱𝗮𝗸𝗶𝗻𝘆𝗮, 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗺𝗮𝗻𝗳𝗮𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮.

𝗦𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗵 𝗡𝗮𝗯𝗶 ﷺ 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗹𝗶𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮, 𝗯𝗲𝗹𝗶𝗮𝘂 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗼𝗮,

اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن

'𝗬𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵, 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗵𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗸𝘂 𝗯𝗲𝗿𝗹𝗶𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮-𝗠𝘂 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗲𝗴𝘂𝗻𝗱𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘀𝗲𝗱𝗶𝗵𝗮𝗻.'

📚  𝗠𝗮𝗱𝗮̄𝗿𝗶𝗷𝘂𝘀 𝗦𝗮̄𝗹𝗶𝗸𝗶̄𝗻, 𝟭/𝟱𝟬𝟭

Sabtu, 30 November 2024

Jangan Jadikan "Ahlus Sunnah" Seperti Label Barang Dagangan


 

Jangan Jadikan "Ahlus Sunnah" Seperti Label Barang Dagangan

     Dalam Syarhus-Sunnah (hal 132) Imam Al Barbahari Rahimahullahu berkata :

• 158. Tidak boleh seorang muslim berkata: "Si Fulan seorang Ahlus-Sunnah" hingga benar-benar melihat bahwa orang tersebut telah menunjukkan karakter (yang menunjukkan ciri-ciri) Ahlus-Sunnah dan tidak boleh seorang dikatakan Shahibus Sunnah hingga benar-benar semua (ushul) As-Sunnah telah lengkap menghiasi dirinya.
• 159. Abdullah bin Mubarak berkata: "Akar kebid'ahan ada empat firqah kemudian berakar menjadi tujuh puluh dua cabang bid'ah. Adapun akar bid'ah yang empat, Qadariyah, Murji'ah, Syi'ah dan Khawarij." (Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam " Al Ibanah Al Kubra" (278).)


"As-Sunnah Dan Ahlus-Sunnah Wal Jama'ah" Dari Kitab Syarhus-Sunnah


 



"As-Sunnah Dan Ahlus-Sunnah Wal Jama'ah" Dari Kitab Syarhus-Sunnah


"Alhamdulillah.. Dialah Dzat yang telah memberi hidayah dan karunia Islam kepada kita semua serta menjadikan kita sebagai umat yang terbaik. Kami memohon taufik untuk meraih kecintaan dan keridhaan الله serta terpelihara dari murka dan kebenciaan-Nya.

1.  Ketahuilah sesungguhnya Islam adalah As-Sunnah dan As-Sunnah adalah Islam dan masing-masing tidak bisa dipisahkan.

2.  Termasuk bagian dari As-Sunnah adalah tetap di atas Al-Jama'ah, barangsiapa condong kepada selain Al-Jama'ah dan menyelisihinya maka ia telah melepas tali Islam dari pundaknya dan telah tersesat dan menyesatkan.

3.  Landasan dan tolok ukur Al-Jama'ah adalah para Shahabat Nabi Muhammad semoga الله merahmati mereka semua, mereka adalah Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah, barangsiapa yang tidak mengambil kebenaran dari mereka maka ia telah memilih jalan kesesatan dan kebid'ahan. Setiap yang bid'ah adalah sesat dan setiap pelaku kesesatan terancam menjadi penghuni Neraka.

4.  Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu berkata : "Allah Ta'ala tidak menerima udzur bagi seorangpun  yang berbuat kesesatan yang dia anggap petunjuk."Begitu juga الله tidak menerima udzur seorang pun yang meninggalkan petunjuk yang ia anggap sebagai kesesatan karena semua perkara telah dijelaskan secara tuntas dan hujjah telah ditegakkan secara sempurna sehingga tidak ada celah bagi siapapun untuk mencari-cari alasan. As-Sunnah dan Al-Jama'ah telah meletakkan kerangka agama secara sempurna dan telah tampak jelas kepada seluruh manusia dan manusia hanya tinggal mengikutinya."

Rabu, 27 November 2024

Pemimpin Itu Cerminan Rakyatnya







Pemimpin Itu Cerminan Rakyatnya


"Apabila masyarakat baik niscaya Allah akan mudahkan pemimpin yang baik pula dan sebaliknya apabila rakyatnya mayoritas jelek (zhalim) niscaya akan memiliki pemimpin yang zhalim pula.."


       Allah Ta’ala berkalam :

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi penguasa (pemimpin) bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Al An’aam: 129).

وأخرج أبو الشيخ عن منصور بن أبي الأسود قال: سألت الأعمش عن قوله { وكذلك نولي بعض الظالمين بعضاً } ، ما سمعتهم يقولون فيه؟ قال: سمعتهم يقولون إذا فسد الناس أُمِّرَ عليهم شرارهم. (الدر المنثور — جلال الدين السيوطي (٩١١ هـ))

        Abu Asy-Syaikh meriwayatkan dari Manshur ibn Abil-Aswad ia berkata : Saya bertanya kepada Al-A’masy rahimahullah tentang kalam Allah taala:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim berkuasa atas sebagian lainnya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-An’am:129)
Apa yang telah engkau dengarkan dari mereka (para Salaf) tentang ayat ini?
Beliau menjawab: Saya mendengar mereka berkata:

«ﺇﺫا ﻓﺴﺪ اﻟﻨﺎﺱ ﺃﻣﺮ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺷﺮاﺭﻫﻢ»

“Jika manusia telah rusak, maka mereka akan dipimpin oleh orang-orang jelek dari mereka.”
(lihat al-Durr al-Mantsur - Jalaluddin As-Suyuthi)

قال الإمام ابن القيم رحمه الله : وتأمل حكمته تعالى في أن جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس أعمالهم، بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم : فإن استقاموا استقامت ملوكهم، وإن عدلوا عدلت عليهم، وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم، وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك، وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق وبخلوا بها عليهم، وإن أخذوا ممن يستضعفونه ما لا يستحقونه في معاملتهم أخذت منهم الملوك ما لا يستحقونه وضربت عليهم المكوس والوظائف، وكلما يستخرجونه من الضعيف يستخرجه الملوك منهم بالقوة، فعمّالهم ظهرت في صور أعمالهم . وليس في الحكمة الإلهية أن يولى على الأشرار الفجار إلا من يكون من جنسهم . ولما كان الصدر الأول خيار القرون وأبرها كانت ولاتهم كذلك، فلما شابوا شابت لهم الولاة فحكمة الله تأبى أن يولي علينا في مثل هذه الأزمان مثل معاوية وعمر بن عبد العزيز فضلاً عن مثل أبي بكر وعمر بل ولاتنا على قدرنا وولاة من قبلنا على قدرهم وكل من الأمرين موجب الحكمة ومقتضاها . (مفتاح دار السعادة ج٢ ص١٧٧-١٧٨)

     Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

"Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta'ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka.

Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zalim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka.

Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat.

Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu.

Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita.

Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah . (Lihat Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178 karya Imam Ibnul Qayyim )”

     Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah akidah, ibadah, akhlak dan muamalahnya.

       Allah Ta'ala berkalam :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuraa : 30)

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’du : 11)





Kamis, 21 November 2024

"Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah" Itu Bukan Sebuah Jam'iyyah ataupun Hizbiyyah


 

"Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah" Itu Bukan Sebuah Jam'iyyah ataupun Hizbiyyah

Hukumi Manusia Dengan Hujjah Dan Burhan Sesuai Zhahirnya


⭐  Jika ada orang yang mengklaim dirinya bukan beragama Islam atau di KTP tertulis (mengaku) Islam tapi dirinya enggan sholat (sengaja tidak sholat tanpa udzur syar'i) ataupun melakukan syirik akbar maka secara umum berhak dihukumi kafir. Adapun secara mu'ayyan maka setelah iqomatul hujjah.

⭐  Jika ada orang yang membanggakan diri dan nisbat kepada sebuah jam'iyyah, hizb, muassasah (yayasan hizbiyyah), kelompok, majmu'ah (grup/geng), ormas atau semisal maka secara umum berhak dihukumi bukan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Dan mereka berhak disebut sesuai dengan nama jam'iyyah, hizb ataupun ormasnya.

⭐  Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah itu orang-orang mukmin yang berada di atas millah, manhaj ataupun madzhab Nabi ﷺ dan para Shahabat. Barangsiapa yang sengaja menyelisihi  Aqidah Ahlus-Sunnah ataupun menyelisihi sebagian atau salah satu pokok dari Ushul As-Sunnah maka bukan termasuk ahlinya. Ini hukum secara umum. Adapun hukum secara muayyan maka setelah iqomatul hujjah dan bayanul hujjah.


والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين


Rabu, 20 November 2024

Peringatan Dari Sifat At-Talawwun ( Berubah-ubah Warna ) Dalam Agama


 


Peringatan Dari Sifat At-Talawwun ( Berubah-ubah Warna ) Dalam Agama


572 - حدثنا ابن صاعد ، قال : حدثنا عمرو بن علي ، قال : حدثنا يحيى بن سعيد ، قال : حدثنا إسماعيل بن أبي خالد ، عن إبراهيم بن بشير ، عن خالد مولى أبي مسعود ، قال : قال حذيفة [ ص: 505 ] لأبي مسعود : إن الضلالة حق الضلالة أن تعرف ما كنت تنكر وتنكر ما كنت تعرف وإياك والتلون في دين الله فإن دين الله واحد .
📖  الإبانة الكبرى لابن بطة

.... Hudzaifah Ibnul Yaman -رضي الله عنه- berkata kepada Abu Mas'ud : “Sungguh kesesatan yang sebenar-benarnya adalah : engkau menganggap "ma’ruf" kepada sesuatu yang sebelumnya engkau anggap mungkar, atau engkau menganggap mungkar kepada sesuatu yang sebelumnya engkau anggap "ma’ruf". Waspadalah engkau dari sikap talawwun (berubah-ubah warna) dalam agama Allah. Karena sesungguhnya agama Allah itu satu".
📖  lihat Al-Ibaanah Al-Kubra karya Ibnu Baththah.


Senin, 18 November 2024

Keutamaan Sabar, 3 Macam Sabar Dan Doa Mohon Kesabaran






Keutamaan Sabar, 3 Macam Sabar Dan Doa Mohon Kesabaran


     Allah Ta’ala berkalam :

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌۗ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝١٠

"Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Rabb-mu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar : 10)

     Sabar itu ada tiga macam, yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat dan sabar dalam menghadapi takdir.

قال ابن رجب رحمه الله : والصبر ثلاثة أنواع : صبر على طاعة الله وصبر عن محارم الله وصبر على أقدار الله المؤلمة. 
الكتاب : لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف

     Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata : “Ada tiga macam sabar: (1) Sabar atas ketaatan kepada Allah, (2) Sabar atas (menjauhi) hal-hal yang diharamkan Allah, dan (3) Sabar atas ketetapan Allah yang pahit (atau susah).” (lihat Lathâ’if al-Ma’ârif fî mâ li Mawâsîm al-‘Âm min al-Wadhâ’if h.147).

     Allah Ta’ala berkalam :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝٢٠٠

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali-Imron : 200).

      Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Sholihin (1/175) ketika menjelaskan ayat di atas, beliau rahimahullah mengatakan,

فأمر الله المؤمنين بمتضي إيمانهم، وبشرف إيمانهم بهذه الأوامر الأربعة: (اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ) (آل عمران: من الآية٢٠٠).
فالصبر عن المعصية، والمصابرة على الطاعة، والمرابطة كثرة الخير وتتابع الخير، والتقوي تعم ذلك كله. (وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ) .
كتاب شرح رياض الصالحين لابن عثيمين (١\١٧٥)

"(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang mukmin sesuai dengan konsekuensi dan besarnya keimanannya dengan 4 hal yaitu: "Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali-Imron : 200).
Ash-shabru ( الصبر ) berarti menahan diri dari maksiat. Al-mushaabarah ( والمصابرة ) berarti menahan diri dalam melakukan ketaatan. Al-muroobathoh ( والمرابطة ) adalah banyak melakukan kebaikan dan mengikutkannya lagi dengan kebaikan. Sedangkan takwa mencakup semua hal tadi. ("dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.")

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Dari Shuhaib, dia berkata: Rasulullah bersabda, “Menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sesungguhnya semua urusan orang Mukmin itu baik, dan itu tidaklah ada kecuali bagi orang mukmin. Jika kesenangan mengenainya, dia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Dan jika kesusahan mengenainya, dia bersabar, maka sabar itu baik baginya (HR. Muslim, no: 2999)

     Sabar itu indah, dan keindahannya itu akan nampak apabila kita telah benar-benar memperjuangkannya. Allah Ta'ala berfirman :

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ ۝٤٥

"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk," (QS. Al-Baqarah : 45)



.... رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ ۝١٢٦

.... (Mereka berdoa,) “Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).”
(QS. Al-A’râf :126)

Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat

  Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat Shalat merupakan tiang agama yang memiliki dimensi spiritual, mental, hingga fisik. Berikut adalah penj...