Sabtu, 07 Juni 2025

Hati-Hati Dalam Menjelaskan Makna Shifat Ma'iyyah ( الْمَئِيَّة = Kebersamaan ) Allah


 

Hati-Hati Dalam Menjelaskan Makna Shifat Ma'iyyah ( الْمَئِيَّة = Kebersamaan ) Allah


Jika ada yang mengatakan :
1️⃣ "Allah bersama makhluk itu berarti Allah berada dimana-mana"
2️⃣ "Allah ber-istawa di atas 'Arsy. Yang bersama makhluk HANYA ilmunya"
3️⃣ "Dzat Allah berada di atas 'Arsy, HANYA ilmunya yang bersama makhluk"

Ketiga ucapan tersebut sama-sama batil. Ucapan 1️⃣ berarti menafikan Allah itu Al-'Aliy dan shifat Al-'Uluw (Maha Tinggi). Adapun ucapan 2️⃣ dan 3️⃣ itu menunjukkan kebersamaan Allah dengan makhluq hanya ilmunya. Padahal Ilmu termasuk Shifat Allah yang tidak mungkin terpisah dari Dzat Allah.


Makna Ma'iyyah Allah Yang Benar

"Allah ber-istiwa di atas 'Arsy, sedang (namun) Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluq."
Itu artinya walau Allah Al-'Aliy yang memiliki shifat Al-'Uluw (Maha Tinggi) dan ber-istawa di atas 'Arsy, namun Allah Maha Mengetahui segenap makhluq atau apa-apa yang terjadi di langit dan bumi. Itulah makna Ma'iyyah Allah. Karena Shifat Ma'iyyah Allah itu beda dengan ma'iyyah makhluq.

.... لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١١ ( الشورى : ١١ )

Jumat, 06 Juni 2025

Shifat Al-'Uluw, Istawa' Di Atas 'Arsy Dan Shifat Ma'iyyah Allah Al-'Aliy


Shifat Al-'Uluw, Istawa' Di Atas 'Arsy Dan Shifat Ma'iyyah Allah Al-'Aliy



🔸 Allah memiliki shifat Al-'Uluw (Maha Tinggi). Allah berkalam :

... وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ۝٢٥٥ ( الْبَقَرَة : ٢٥٥ )
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَىۙ ۝١  ( الْأَعْلَى : ١ )

🔸 Allah istawa di atas 'Arsy. Dengan istiwa' secara hakiki, dan Istiwa' Allah beda dengan istiwa' makhluq.

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى ۝٥ ( طه : ٥ )

🔸 Shifat Ma'iyyah Allah beda dengan ma'iyyah makhluq.
1️⃣  Ma'iyyah 'Ammah (الْمَئِيَّة الْعَامَّة) yaitu kebersamaan Allah secara umum terhadap seluruh  makhluq.

.... وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ ۝٤ ( الحديد : ٤ )

"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hadid : 4)
2️⃣  Ma'iyyah Khashah (الْمَئِيَّة الْخَاصَّة) yaitu kebersamaan yang spesial/khusus untuk hamba-hamba pilihan Allah.

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَ ۝١٢٨  ( النحل:  ١٢٨ )

"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS.An-Nahl : 128)

🔸 Sifat ma'iyyah itu tidak berarti harus menempel. Ketika kita katakan : "malam itu Bulan bersama kami", "kami selalu bersama Al-Jama'ah" ataupun "saya bersama Ahlus-Sunnah" maka tidak bisa dipahami berarti "menempel". Sedang shifat Istiwa' dan Ma'iyyah Allah beda dengan makhluq. Allah berkalam :

.... لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١١ ( الشورى : ١١ )

Kamis, 05 Juni 2025

Keutamaan Puasa 9 Hari Awal Dzulhijjah Terutama Hari 'Arafah 9 Dzulhijjah


 

Keutamaan Puasa 9 Hari Awal Dzulhijjah Terutama Hari 'Arafah 9 Dzulhijjah


عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنِ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ (رواه أحمد وأبو داود).

🔸 Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi mengatakan, Rasulullah biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, dan hari Senin dan Kamis pertama setiap bulan  …” (HR. Abu Daud dan Ahmad. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

🔸 Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menyebutkan bahwa di antara shahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. (Lihat Latho-if Al Ma’arif)

🔸 Puasa hari 'Arafah bisa menghapuskan dosa dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Rabu, 04 Juni 2025

Allah Itu Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Sempurna, Serta Berbeda Dengan Makhluq

 




Allah Itu Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Sempurna, Serta Berbeda Dengan Makhluq

🔸 Dalilnya sangat banyak dan lebih dari ribuan, di antaranya Allah berkalam dalam QS. Al-Fatihah, QS. Al-Ikhlash, QS. Al-Hasyr : 23, QS. Al-Baqarah 255, dan QS. Al-A'la.

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ۝٢٣ ( الحشر : ٢٣ )

.... لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١١ ( الشورى : ١١ )

🔸 Jika Allah itu Al-Ahad, Ash-Shomad, Al-A'la kemudian Al-Uluw ataupun istawa di atas Arsy, maka itu bukan menunjukkan kekurangan melainkan justru menunjukkan Keagungan (Al-'Azhim), dan kemahasempurnaan (Asmaul Husna) ataupun Asma Wa Shifat Allah. Demikian juga jika Allah tidak pernah mati, tidak punya isteri dan anak, tidak bodoh, tidak tidur, tidak letih, tidak mungkin menjelma menjadi manusia (makhluq), tidak berada di mana-mana (termasuk di tempat pembuangan kotoran manusia dan tempat najis) maka itu semua bukan menunjukkan ketidakmampuan ataupun ketidakmahakuasa, tapi justru menunjukkan Keagungan dan Kemahasempurnaan Allah.

🔸 Ketika seorang hamba mengerjakan sholat membaca Al-Fatihah, rukuk membaca سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ “SUBHANAA ROBBIYAL ‘AZHIM (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung).” (HR. Muslim, no. 772) dan sujud membaca سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى "SUBHANAA ROBBIYAL A’LAA" (Mahasuci Rabbku Yang Mahatinggi). (HR. Muslim, no. 772 dan Abu Daud, no. 871) maka itu semua di antara bentuk pengakuan dan persaksian seorang hamba.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.




Minggu, 01 Juni 2025

Kenapa Banyak Insan Yang Menolak & Meragukan Sifat Allah Yang Ditetapkan-Nya ?


 


Kenapa Banyak Insan Yang Menolak & Meragukan Sifat Allah Yang Ditetapkan-Nya ?

Jika Makhluq Saja Tidak Mustahil Mampu Seperti Ini..

👑 Jika ada seorang "raja manusia" atau "raja jin" yang istawa di atas singgasananya. Sang raja punya 7 keping uang logam berbentuk "qurshoh" berada di bawahnya. Maka tidak mustahil :

1⃣ Posisi raja selalu berada di atas 7 keping uang tsb.
2⃣ Sang raja mampu menguasai, mengawasi ataupun mengatur 7 keping uang tersebut.
3⃣ Raja bisa dikatakan sangat dekat (bersama) dengan 7 keping uang, walau raja berada di atas singgasana. Dan tidak boleh dikatakan sang raja berada dimana-mana.
4⃣ Raja mampu turun mendekati kepingan uang tanpa harus turun dari singgasananya sesuai kehendaknya
5⃣ Raja terpisah dengan 7 keping uang, walau posisi raja sangat dekat dengan kepingan tersebut.
6️⃣ Raja mampu menginjak salah satu kepingan dengan kakinya tanpa turun dari singgasana dan tanpa bermadhorot terhadap dirinya.
7️⃣ Dan sebagainya.

Sedangkan Allah Tidaklah Sama Dengan Makhluq

.. لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١١

 ".... Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Asy-Syura : 11)


Allah Istawa Di Atas 'Arsy Jangan Dipahami Allah Membutuhkan Tempat & Makhluq



Allah Istawa Di Atas 'Arsy Jangan Dipahami Allah Membutuhkan Tempat & Makhluq


🔸 Allah berada di atas seluruh makhluq dan istawa di atas Arsy. Istawa Allah tidak sama dengan istawa makhluq. Allah berkalam :

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى ۝٥

"(yaitu) Ar-Rahman, yang ber-istawa di atas ‘Arsy." (QS. Thaha : 5)

🔸 Allah telah ada sebelum ada tempat ataupun sebelum ada makhluq. Allah Ta'ala berkalam :

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ۝٣

"Dialah Al-Awwal, Al-Akhir, Al-Zhahir dan Al-Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Hadid : 3)

🔸 Allah tidak membutuhkan tempat, Arsy ataupun makhluq. Tapi sebaliknya semua makhluq membutuhkan Allah. Al Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan QS. Al-Ikhlas ayat 2 :

وَقَوْلُهُ: ﴿اللَّهُ الصَّمَدُ﴾ قَالَ عِكْرِمَةُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: يَعْنِي الَّذِي يَصْمُدُ الْخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِمْ.

"Allah adalah Ash-Shomad." Ikrimah telah meriwayatkan dari lbnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah yang bergantung kepada-Nya semua makhluk dalam kebutuhan dan sarana mereka.

🔸 Allah berbeda dengan makhluq (termasuk istawa Allah). Allah berkalam :

.... لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١١

 ".... Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Asy-Syura : 11)

🔸 Jika seluruh makhluk memerlukan ruang dan tempat, maka mustahil Allah membutuhkan tempat karena Allah beda dengan makhluq dan tidak membutuhkan makhluq.


 

Jumat, 30 Mei 2025

Tafsir Ibnu Katsir Terkait QS. An-Najm : 39




Tafsir Ibnu Katsir Terkait QS. An-Najm : 39
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ ۝٣٩


﴿وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى﴾ أَيْ: كَمَا لَا يُحْمَلُ عَلَيْهِ وِزْرُ غَيْرِهِ، كَذَلِكَ لَا يُحَصِّلُ مِنَ الْأَجْرِ إلا ما كسب هو لنفسه. ومن وهذه الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ اسْتَنْبَطَ الشَّافِعِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، وَمَنِ اتَّبَعَهُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا يَصِلُ إِهْدَاءُ ثَوَابِهَا إِلَى الْمَوْتَى؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِهِمْ وَلَا كَسْبِهِمْ؛ وَلِهَذَا لَمْ يَنْدُبْ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أُمَّتَهُ وَلَا حَثَّهُمْ عَلَيْهِ، وَلَا أَرْشَدَهُمْ إِلَيْهِ بِنَصٍّ وَلَا إِيمَاءٍ، وَلَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَلَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُونَا إِلَيْهِ، وَبَابُ الْقُرُبَاتِ يُقْتَصَرُ فِيهِ عَلَى النُّصُوصِ، وَلَا يُتَصَرَّفُ فِيهِ بِأَنْوَاعِ الْأَقْيِسَةِ وَالْآرَاءِ، فَأَمَّا الدُّعَاءُ وَالصَّدَقَةُ فَذَاكَ مُجْمَعٌ عَلَى وُصُولِهِمَا، وَمَنْصُوصٌ مِنَ الشَّارِعِ عَلَيْهِمَا.
وَأَمَّا الْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم: "إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: مِنْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ مِنْ بَعْدِهِ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ"(٧) ، فَهَذِهِ الثَّلَاثَةُ فِي الْحَقِيقَةِ هِيَ مِنْ سَعْيِهِ وَكَدِّهِ وَعَمَلِهِ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ: "إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ"(٨) .
📚 تفسير ابن كثير

🔸 Salah seorang ulama madzhab Asy-Syafi’i, Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
"Mengenai kalam Allah Ta’ala, { وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى } Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”, Yaitu sebagaimana tidak dibebankan kepadanya dosa orang lain, maka demikian pula dia tidak memperoleh pahala kecuali dari apa yang diupayakan oleh dirinya sendiri.
Dari ayat ini imam Asy-Syafi’i dan para pengikutnya berpendapat bahwa bacaan Al-Qur’an tidak sampai pahalanya pada mayit karena bacaan tersebut bukan amalan si mayit dan bukan usahanya. Oleh karena itu, Rasulullah tidak menganjurkan umatnya dan tidak memotivasi mereka untuk melakukan hal tersebut. Tidak ada nash (dalil) dan tidak ada bukti otentik yang memuat anjuran tersebut. Begitu pula tidak ada seorang Shahabat Nabi -radhiyallahu ‘anhum- pun yang menukilkan ajaran tersebut pada kita. "Law kaana khoiron la-sabaquna ilaih" (Jika amalan tersebut baik, tentu para Shahabat lebih dahulu melakukannya). Dalam masalah qurobat (amal taqorrub) hanya terbatas pada nash-nash syari'at, tidak bisa dipakai analogi dan qiyas. Akan tetapi berkenaan dengan do’a dan shadaqah, maka para ulama sepakat akan sampainya (bermanfaatnya) amalan tersebut dan didukung pula dengan nash dari syariat yang menyatakannya.
Adapun mengenai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa Rasulullah telah bersabda:
"Apabila manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu anak saleh yang mendoakannya, atau shadaqah jariyah sesudah kepergiannya atau ilmu yang bermanfaat." Ketiga macam amal ini pada hakikatnya dari hasil jerih payah yang bersangkutan dan merupakan buah dari kerjanya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:
"Sesungguhnya sesuatu yang paling baik yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil upayanya dan sesungguhnya anaknya merupakan hasil dari upayanya."
📚 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir.


Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat

  Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat Shalat merupakan tiang agama yang memiliki dimensi spiritual, mental, hingga fisik. Berikut adalah penj...