Rabu, 03 September 2025

Fahami Perbedaan Khimar ( Kerudung Sedada ) Dan Jilbab Wanita Muslimah


 

Fahami Perbedaan Khimar ( Kerudung Sedada ) Dan Jilbab Wanita Muslimah


Khimar ( Kerudung Sedada ) Untuk Menutup Aurat dan Pakaian Sholat Di Rumah


وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝٣١

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan khimar (kerudung) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali ...." (QS. An-Nur : 31)


Jilbab ( Pakaian Terluar Wanita Yang Menutupi Khimar, Baju dan Perhiasan Wanita Menjulur dari Atas Kepala Sampai Kaki ) Untuk Hijab

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ۝٥٩

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab : 59)

Senin, 01 September 2025

Makna At-Tauhid

 


Makna At-Tauhid ( معنى التوحيد )


الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:

تعريف التوحيد

التوحيد في اللغة: مصدر للفعل (وحَّد، يوحِّد) توحيدا فهو موحِّد إذا نسب إلى الله الوحدانية ووصفه بالانفراد عما يشاركه أو يشابهه في ذاته أو صفاته، والتشديد للمبالغة أي بالغت في وصفه بذلك.

وتقول العرب: واحد وأحد، ووحيد، أي منفرد، فالله تعالى واحد، أي: منفرد عن الأنداد والأشكال في جميع الأحوال، فالتوحيد هو العلم بالله واحدا لا نظير له، فمن لم يعرف الله كذلك، أو لم يصفه بأنه واحد لا شريك له، فإنه غير موحد له.

وأما تعريفه في الاصطلاح فهو: إفراد الله تعالى بما يختص به من الألوهية والربوبية والأسماء والصفات.

ويمكن أن يُعرف بأنه: اعتقاد أن الله واحد لا شريك له في ربوبيته وألوهيته وأسمائه وصفاته.


Alhamdulillah.. (Segala puji hanya milik Allah), shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah, wa ba'du:

Definisi At-Tauhid

🔸 Tauhid dari sisi lughoh (bahasa) adalah mashdar dari kata kerja (وحَّد ، يوحِّد ) tauhidan yaitu mengesakan. Ketika disandarkan kepada Allah adalah keesaan (wahdaniyah) disifati dengan sifat tunggal yang tidak ada sekutu atau yang menyerupai baik dari sisi sifat maupun dzatnya. Sementara ketika ada tasydidnya menunjukkan penambahan makna yang lebih dalam maksudnya lebih dalam dalam sifatnya hal itu.

🔸 Orang Arab mengatakan ‘واحد وأحد ، ووحيد ‘ maksudnya adalah tunggal. maka Allah ta’ala itu wahid maksudnya tersendiri, tidak ada sekutu dan sifatnya  dalam seluruh kondisinya. Maka tauhid adalah ilmu tentang Allah itu satu (esa) yang tidak ada tandingannya. Siapa yang tidak mengenal Allah seperti itu, atau belum disifati bahwa Dia adalah esa tidak ada sekutu baginya, maka dia belum bertauhid pada-Nya.

🔸 Adapun pengertian dari sisi istilah adalah mengesakan Allah ta’ala dengan apa yang khusus untuknya dari Uluhiyah, Rububiyah dan Asma’ serta sifat-Nya.

🔸 Atau bisa juga didefinisikan dengan keyakinan bahwa Allah itu esa tidak disekutukan dalam Rububiyah, Uluhiyah dan asma serta sifat-Nya.


Penggunaan istilah (Tauhid) atau salah satu dari turunan katanya menunjukkan bahwa arti ini telah menjadi ketetapan yang digunakan dalam Kitab dan As-Sunnah. Di Antara Dalil At-Tauhid adalah QS. Al-Fatihah, dan QS. Al-Ikhlash. Allah juga berkalam :

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (سورة البقرة : ١٦٣)

“Dan Ilah-mu adalah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah melainkan Dia Ar-Rahman Ar-Rahim.” (QS Al-Baqarah: 163)


Minggu, 31 Agustus 2025

Ucapkan Kebenaran Di Manapun Berada, Tidak Takut Celaan Orang Yang Mencela


 

Ucapkan Kebenaran Di Manapun Berada, Tidak Takut Celaan Orang Yang Mencela


عن عُبَادَةَ بن الصَّامتِ رضي الله عنه قال: بَايَعْنَا رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم على السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ، وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ، وعلى أَثَرَةٍ علينا، وعلى أَلَّا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أهلَه، وعلى أَنْ نَقُولَ بِالْحَقِّ أينما كُنَّا، لا نَخَافُ في الله لَوْمَةَ لَائِمٍ.  (صحيح - متفق عليه - صحيح مسلم: 1709)

'Ubādah bin Ash-Shamit radhiyallāhu 'anhu berkata,
"Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk selalu mendengar dan taat dalam kesulitan dan kemudahan, ketika semangat dan malas (benci), serta dalam kondisi monopoli atas kami, agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, dan agar kami mengucapkan yang benar di mana pun berada, tidak takut di jalan Allah terhadap celaan orang yang mencela."  (Shahih - Muttafaq 'alaihi - Shahih Muslim 1709)

Jumat, 29 Agustus 2025

Rasulullah ﷺ Mengajarkan Istikhoroh Dalam Semua Urusan


Rasulullah ﷺ Mengajarkan Istikhoroh Dalam Semua Urusan


وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ  ۝٢١٦

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

🔸 Di antara hikmah yang terkandung di dalam ayat tersebut ialah jika seorang hamba menginginkan kesudahan yang baik dalam setiap urusannya, maka ia dituntut untuk menyerahkan segala urusannya kepada Allah Yang Maha Mengetahui akibat segala urusan, serta ridha atas pilihan dan ketentuan Allah baginya. Yaitu di antaranya dengan istikharoh sebagaimana yang diajarkan Nabi.

🔸 Para ulama menjelaskan bahwa setelah istikharah hendaknya seseorang melakukan apa yang sesuai keinginan hatinya. Imam An-Nawawi mengatakan,

إذا استخار مضى لما شرح له صدره

“Jika seseorang melakukan istikharah, maka lanjutkanlah apa yang menjadi keinginan hatinya.”

عن جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ، يَقُولُ: «إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ لِيَقُلِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي، وَمَعَاشِي، وَعَاقِبَةِ أَمْرِي» أَوْ قَالَ: «عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ، فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي» أَوْ قَالَ: «فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي» قَالَ: «وَيُسَمِّي حَاجَتَه». (صحيح - رواه البخاري - صحيح البخاري: 1162)

🔸 Jābir bin Abdullah radhiyallāhu 'anhumā meriwayatkan, Rasulullah ﷺ mengajari kami istikharah dalam semua urusan sebagaimana beliau mengajari kami surah Al-Qur`an. Beliau bersabda, "Apabila salah seorang kalian menginginkan suatu urusan, hendaklah ia salat dua rakaat di luar salat wajib, kemudian membaca doa: Allāhumma innī astakhīruka bi 'ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as`aluka min faḍlikal-'aẓīm, fa innaka taqdiru wa lā aqdiru, wa ta'lamu wa lā a'lamu, wa anta 'allāmul-guyūb. Allāhumma in kunta ta'lam anna hāżal-amra khairun lī fī dīnī wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī (Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan luasnya ilmu-Mu supaya diberikan pilihan yang terbaik. Aku memohon kepada-Mu dengan besarnya kekuasaan-Mu agar diberikan kemampuan. Aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha mengetahui yang gaib. Ya Allah! Jika Engkau mengetahui perkara ini lebih baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku) .. Atau beliau mengatakan: 'ājili amrī wa ājilihi (dalam urusanku sekarang maupun yang akan datang), fa-qdurhu lī, wa yassirhu lī, ṡumma bārik lī fīhi, wa in kunta ta'lam anna hāżal-amra syarrun lī fī dīnī wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī (maka tetapkanlah ia untukku dan mudahkanlah, kemudian berkahilah ia untukku. Jika Engkau mengetahui perkara ini buruk bagi agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku) .. Atau beliau mengatakan: 'ājili amrī wa ājilihi (dalam urusanku sekarang maupun yang akan datang), fa-ṣrifhu 'annī, wa-ṣrifnī 'anhu, wa-qdur liyal-khaira haiṡu kāna, ṡumma raḍḍinī bihī (maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, dan tetapkanlah untukku yang lebih baik di mana pun berada, kemudian buatlah aku rida kepadanya)." Perawi berkata, "Hendaklah dia menyebutkan kebutuhannya."  
(Shahih - HR. Al'-Bukhari - Shahih Al-Bukhari - 1162)

Selasa, 26 Agustus 2025

Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ Diperselisihkan Dan Tiada Yang Tahu Pasti



Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ Diperselisihkan Dan Tiada Yang Tahu Pasti

🔸 Nabi ﷺ lahir pada hari Senin. Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah  pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim)

🔸 Nabi ﷺ lahir pada tahun Gajah. Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad berkata,

لا خلاف أنه ولد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بجوف مكّة ، وأن مولده كان عامَ الفيل .

“Tidak ada khilaf di antara para ulama bahwa Nabi  lahir di kota Mekkah. Dan kelahirannya adalah di tahun gajah.”

🔸 Adapun tanggal kelahiran Nabi diperselisihkan ulama karena memang tidak ada hadits ataupun riwayat shahih. Beberapa pendapat tentang tanggal kelahiran Nabi Muhammad di antaranya : 2 Rab'ul Awwal, 8 Rabi'ul Awwal (sebagaimana pendapat Ibnu Hazm), 9 Rabi'ul Awwal (menurut penelitian ahli falak, seperti Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad Sulaim), 10 Rabi'ul Awwal,  12 Rabi'ul Awwal (sebagaimana pendapat jumhur ulama), 17 Rabi'ul Awwal, 18 Rabiul Awal dan 22 Rabi'ul Awwal. Ada juga pendapat Nabi lahir bulan Ramadhan (yaitu sebagaimana bulan turunnya wahyu atau diangkat menjadi nabi tepat usia 40 tahun) meskipun pendapat ini dianggap ganjil oleh Ibnu Katsir.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.
 

Sabtu, 23 Agustus 2025

Tafsir "Kursi Allah" Yang Shahih Riwayat Ibnu 'Abbas Radhiyaallahu 'anhuma




Tafsir "Kursi Allah" Yang Shahih Riwayat Ibnu 'Abbas Radhiyaallahu 'anhuma


.... وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ۝٢٥٥ ( البقرة : ٢٥٥ )

".... Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar." (QS. Al-Baqarah : 255)

عن ابن عباس رضي الله عنهما موقوفًا عليه: «الكُرسِيُّ مَوْضِع القَدَمَين، والعَرْش لا يَقْدِرُ أحدٌ قَدْرَه». (صحيح موقوفًا على ابن عباس -رضي الله عنهما - رواه عبد الله بن أحمد في السنة، وابن خزيمة في التوحيد)

🔸 Dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhuma secara mauqūf sampai di dia, "Al-Kursi adalah maudhi'ul-Qadamain (footstool = pijakan kedua kaki yang berada di depan Arsy) dan Al-'Arsy tidak ada seorang pun yang mampu mengukurnya." (Hadits Shahih - Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam kitab As-Sunnah dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauḥīd)

وفي لسان العرب (6/ 194): قال أبو منصور: الصحيح عن ابن عباس في الكرسي ما رواه عمار الذهبي [كذا! والصواب: الدهني] عن مسلم البطين عن سعيد بن جبير عن ابن عباس أنه قال الكرسي موضع القدمين، وأما العرش فإنه لا يقدر قدره. قال: وهذه رواية اتفق أهل العلم على صحتها. قال: ومن روى عنه في الكرسي أنه العلم فقد أبطل.

🔸 Dalam Lisanul-Arab (6/194): Abu Manshur berkata: Yang benar menurut Ibnu Abbas tentang Arsy adalah apa yang diriwayatkan Ammar al-Dzahabi (yang benar Ad-Dahni) dari Muslim al-Bathin dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa ia mengatakan, "Al-Kursi adalah maudhi'ul-Qadamain (footstool = pijakan kedua kaki Allah), dan tentang Al-Arsy tidak bisa diperkirakan ukurannya." Ia berkata: Riwayat ini disepakati ahli ilmu (para ulama) tentang keshahihannya. Ia berkata: Dan barangsiapa yang meriwayatkan bahwa Al-Kursi adalah ilmu, maka telah melakukan kebatilan.

🔸 Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya juga menyebutkan bahwa Al-Kursi adalah maudhi'ul-Qadamain (footstool = pijakan kedua kaki Allah) sebagaimana dalam beberapa riwayat berikut :

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: وَرُوِيَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ مِثْلُهُ. ثُمَّ قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: وَقَالَ آخَرُونَ: الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ ثُمَّ رَوَاهُ عَنْ أَبِي مُوسَى وَالسُّدِّيِّ وَالضَّحَّاكِ وَمُسْلِمٍ الْبَطِينِ.
وَقَالَ شُجَاعُ بْنُ مَخْلَدٍ فِي تَفْسِيرِهِ: أَخْبَرَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْني عَنْ مُسْلِمٍ الْبَطِينِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ: ﴿وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ﴾ قَالَ: "كُرْسِيُّهُ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ وَالْعَرْشُ لَا يُقَدِّرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ".
كَذَا أَوْرَدَ هَذَا الْحَدِيثَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرِ بْنُ مَرْدَوَيْهِ مِنْ طَرِيقِ شُجَاعِ بْنِ مَخْلَدٍ الْفَلَّاسِ، فَذَكَرَهُ(٨٠) وَهُوَ غَلَطٌ وَقَدْ رَوَاهُ وَكِيع فِي تَفْسِيرِهِ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِي(٨١) عَنْ مُسْلِمٍ الْبَطِينِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ وَالْعَرْشُ لَا يُقَدِّرُ أَحَدٌ قَدْرَهُ. وَقَدْ رَوَاهُ الْحَاكِمُ فِي مُسْتَدْرَكِهِ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ الْمَحْبُوبِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِي عَاصِمٍ عَنْ سُفْيَانَ -وَهُوَ الثَّوْرِيُّ-بِإِسْنَادِهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مَوْقُوفًا مِثْلَهُ وَقَالَ: صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ(٨٢) وَقَدْ رَوَاهُ ابْنُ مَرْدَوَيْهِ مِنْ طَرِيقِ الْحَاكِمِ بْنِ ظُهَيْر الْفَزَارِيِّ الْكُوفِيِّ -وَهُوَ مَتْرُوكٌ-عَنِ السُّدِّيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوعًا وَلَا يَصِحُّ أَيْضًا.

🔸 Imam Al-Albani rahimahullah sebagaimana dalam “Ash-Shahihah” (1/226) berkata :

وما روي عن ابن عباس أنه العلم، فلا يصح إسناده إليه لأنه من رواية جعفر بن أبي المغيرة عن سعيد بن جبير عنه. رواه ابن جرير. قال ابن منده: ابن أبي المغيرة ليس بالقوي في ابن جبير.

“apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Kursiy adalah ilmu, tidak shahih sanadnya, karena itu berasal dari riwayat Ja’far bin Abil Mughiiroh dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Ibnu Jariir. Imam Ibnu Mandah berkata : “ibnu Abil Mughiiroh, tidaklah kuat didalam riwayat Ibnu Jubair”.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.



 

Kamis, 21 Agustus 2025

Ringkasan Perbedaan Konsep Takfir Menurut Beragam Millah dan Madzhab



Ringkasan Perbedaan Konsep Takfir Menurut Beragam Millah dan Madzhab


     Berikut ini ringkasan perbedaan konsep takfir menurut beragam millah & madzhab sebatas apa yang kami ketahui :
1️⃣ Millah dan madzhab Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah : mengkafirkan pelaku syirik akbar secara umum. Untuk takfir mu'ayyan, maka mengkafirkan pelaku syirik akbar yang enggan taubat setelah iqomatul hujjah.
2️⃣ Wahhabi : cenderung mengkafirkan setiap pelaku syirik akbar tanpa ada udzur bil-jahl dan sebagian lagi berpendapat perlu iqomatul hujjah.
3️⃣ Salafi : mengkafirkan pelaku syirik akbar. Sebagian berpegang boleh takfir mu'ayyan walau tanpa iqomatul hujjah dan sebagian berpendapat adanya udzur bil-jahl.
4️⃣ Asy'ariyyah : cenderung hanya mengkafirkan pelaku syirik akbar bagi yang enggan taubat setelah iqomatul hujjah.
5️⃣ Sururiyyah : memiliki kecenderungan mengkafirkan orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka atau yang dianggap sebagai musuh Islam. Paham takfiri ini banyak diadopsi para teroris.
6️⃣ Khawarij : mengkafirkan pelaku dosa besar.
7️⃣ Murji'ah : tidak mengkafirkan pelaku syirik akbar, karena iman adalah masalah hati dan tidak dapat dinilai dari luar.
8️⃣ Jahmiyyah : tidak mengkafirkan seseorang karena perbuatan atau perkataan mereka, karena iman adalah masalah hati dan tidak dapat dinilai dari luar. Ada kesamaan dengan Murji'ah. Tetapi Jahmiyyah punya pandangan yang lebih radikal dalam beberapa hal yang tidak dimiliki Murji'ah.
9️⃣ Mu'tazilah : menghukumi pelaku dosa besar sebagai fasiq, tetapi tidak secara langsung mengkafirkan.
🔟 Syi'ah : umumnya mencela dan mengkafirkan sebagian para Shahabat Nabi ataupun orang-orang yang mereka anggap tidak loyal terhadap ahlul bait dan imam Syi'ah. Walau ada sebagian sikte Syi'ah punya pandangan yang berbeda.

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...