

Hukum Memanfaatkan Kulit Bangkai Dan Kulit Binatang Yang Dagingnya Haram
๐ธ Kulit bangkai dan kulit hewan yang dagingnya haram dimakan hukum asalnya najis.
ُْูู َّูุงٓ ุงَุฌِุฏُ ِْูู ู
َุงٓ ุงُْูุญَِู ุงََِّูู ู
ُุญَุฑَّู
ًุง ุนَٰูู ุทَุงุนِู
ٍ َّูุทْุนَู
ُูٗٓ ุงَِّูุงٓ ุงَْู ََُّْูููู ู
َْูุชَุฉً ุงَْู ุฏَู
ًุง ู
َّุณُْْููุญًุง ุงَْู َูุญْู
َ ุฎِْูุฒِْูุฑٍ َูุงَِّููٗ ุฑِุฌْุณٌ ุงَْู ِูุณًْูุง ุงَُِّูู ِูุบَْูุฑِ ุงِّٰููู ุจِูٖۚ َูู
َِู ุงุถْุทُุฑَّ ุบَْูุฑَ ุจَุงุบٍ ََّููุง ุนَุงุฏٍ َูุงَِّู ุฑَุจََّู ุบَُْููุฑٌ ุฑَّุญِْูู
ٌ ูกูคูฅ
Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi – karena semua itu rijs (kotor/najis) ...." (QS. Al-An'am : 145)
๐ธ Kulit yang telah disamak bisa menjadi suci. Kecuali babi dan anjing terdapat khilafiyyah.
َูุนَِู ุงุจِْู ุนَุจَّุงุณٍ ุฑَุถَِู ุงَُّْููู ุนَُْููู
َุง َูุงَู: َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّْููู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
– ุฅِุฐَุง ุฏُุจِุบَ ุงْูุฅَِูุงุจُ ََููุฏْ ุทَُูุฑَ – ุฃَุฎْุฑَุฌَُู ู
ُุณِْูู
ٌ.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda, “Jika kulit hewan telah disamak, kulit tersebut menjadi suci.” (HR. Muslim)
๐ธ Penyembelihan kulit dengan menyamak. Rasulullah ๏ทบ pernah ditanya tentang kulit bangkai, beliau menjawab : ุฏุจุงุบูุง ุฐูุงุชูุง “Samaknya (kulit hewan yang halal dimakan) adalah penyembelihannya’’ (HR. Ahmad)
ุณُุฆَِู ุฑุณُูู ุงَِّููู ุตَّูู ุงَُّููู ุนَِููู ูุณَّูู
َ ุนู ุฌُููุฏِ ุงูู
ูุชุฉِ ؟ ููุงَู: ุฏุจุงุบُูุง ุฐَูุงุชُูุง ( ุฎูุงุตุฉ ุญูู
ุงูู
ุญุฏุซ : ุตุญูุญ. ุงูุฑุงูู : ุนุงุฆุดุฉ ุฃู
ุงูู
ุคู
ููู | ุงูู
ุญุฏุซ : ุงูุฃูุจุงูู | ุงูู
ุตุฏุฑ : ุตุญูุญ ุงููุณุงุฆู | ุงูุตูุญุฉ ุฃู ุงูุฑูู
: 4256 | ุงูุชุฎุฑูุฌ : ุฃุฎุฑุฌู ุงููุณุงุฆู (4245) ูุงูููุธ ูู، ูุฃุญู
ุฏ (25214)، ูุงุจู ุญุจุงู (1290) ุจูุญูู.)
Ringkasan Hukum Memanfaatkan Kulit Bangkai Dan Hewan Yang Dagingnya Haram Menurut 4 Madzhab
๐ธ Hukum menanfaatkan kulit binatang yang dagingnya haram menurut 4 madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) terdapat khilafiyyah dan memiliki beberapa perbedaan. Berikut adalah ringkasan:
1️⃣ Madzhab Hanafi. Menurut Madzhab Hanafi, kulit binatang yang dagingnya haram dapat dimanfaatkan jika telah disamak (dibersihkan dengan proses penyamakan). Penyamakan dianggap dapat menghilangkan najis yang ada pada kulit tersebut. Setelah disamak, kulit dapat digunakan untuk berbagai keperluan.
2️⃣ Madzhab Maliki. Madzhab Maliki berpendapat bahwa kulit binatang yang haram tidak dapat dimanfaatkan, bahkan setelah disamak. Mereka berpendapat bahwa najis pada kulit tidak dapat dihilangkan sepenuhnya oleh proses penyamakan.
3️⃣ Madzhab Syafi'i. Menurut Madzhab Syafi'i, kulit binatang yang haram dapat dimanfaatkan setelah disamak. Penyamakan dianggap dapat mensucikan kulit dari najis. Setelah disamak, kulit dapat digunakan untuk keperluan yang halal. Kecuali babi dan anjing.
4️⃣ Madzhab Hanbali. Madzhab Hanbali memiliki pendapat yang serupa dengan Madzhab Syafi'i, bahwa kulit binatang yang haram dapat dimanfaatkan setelah disamak. Penyamakan dianggap dapat menghilangkan najis yang ada pada kulit tersebut, sehingga kulit dapat digunakan untuk berbagai keperluan.
๐ธ Kesimpulan : Jumhur atau kebanyakan ulama berpendapat bahwa penyamakan kulit dapat menghilangkan najis dan membuat kulit tersebut dapat dimanfaatkan. Kecuali babi dan anjing diperselisihkan.
ูุงููู ุชุนุงูู ุฃุนูู
ุจุงูุตูุงุจ، ูุงูุญู
ุฏ ููู ุฑุจ ุงูุนุงูู
ูู