Apa Itu Bid'ah Dalam Islam ?
ما هي البدعة في الإسلام ؟
Bid'ah Secara Bahasa
Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam kalam Allah Ta’ala,
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah [2] : 117, Al An’am [6] : 101), maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya. Juga kalam-Nya,
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ
“Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46] : 9) , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. (Lihat Lisanul ‘Arob, 8/6)
Bid'ah Secara Istilah
🔸 Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. mengatakan :
فَالْبِدْعَةُ إِذَنْ عِبَارَةٌ عَنْ: طَرِيقَةٍ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٍ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ.
وَهَذَا عَلَى رَأْيِ مَنْ لَا يُدْخِلُ الْعَادَاتِ فِي مَعْنَى الْبِدْعَةِ، وَإِنَّمَا يَخُصُّهَا بِالْعِبَادَاتِ، وَأَمَّا عَلَى رَأْيِ مَنْ أَدْخَلَ الْأَعْمَالَ الْعَادِيَّةَ فِي مَعْنَى الْبِدْعَةِ، فَيَقُولُ:
الْبِدْعَةُ: طَرِيقَةٌ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٌ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ، يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيقَةِ الشَّرْعِيَّةِ.
كتاب الاعتصام للشاطبي ت الهلالي ج ١ ص ٥٠-٥١
"Bid'ah secara istilah adalah: Suatu jalan/metode dalam agama yang diada-adakan (dibuat-buat tanpa dalil), yang menyerupai syariat, dengan tujuan melakukannya untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Definisi ini berlaku bagi mereka yang tidak memasukkan urusan adat (kebiasaan duniawi) ke dalam makna bid'ah, melainkan mengkhususkan bid'ah hanya pada urusan ibadah saja.
Adapun menurut pendapat mereka yang memasukkan perbuatan adat ke dalam makna bid'ah, maka mereka mendefinisikannya sebagai:
Bid'ah adalah suatu jalan dalam agama yang diada-adakan, yang menyerupai syariat, yang mana tujuan melakukannya adalah sama dengan tujuan dilakukannya jalan syariat (yaitu mendekatkan diri kepada Allah)."
(Kitab Al-I'tisham karya Imam Asy-Syathibi, Tahqiq Al-Hilali, Jilid 1, Hal. 50-51)
🔸 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
"وَالْبِدْعَةُ: مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ."
من كتاب: مجموع الفتاوى ١٨\٣٤٦
“Bid’ah adalah sesuatu yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) Salaful-Ummah.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346)
🔸 Ibnu Rajab al-Hanbali :
والمراد بالبدعة: ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشرع يدلُّ عليه، فليس ببدعةٍ شرعًا، وإن كان بدعةً لغةً (كتاب جامع العلوم والحكم ج ٢ ص ١٢٧ - ت الأرنؤوط - ابن رجب الحنبلي)
Yang dimaksud dengan bid’ah adalah: Sesuatu yang baru diada-adakan yang tidak memiliki dasar dalam syariat yang melandasinya. Adapun sesuatu yang memiliki dasar dari syariat yang melandasinya, maka itu bukanlah bid’ah secara syara’ (terminologi agama), meskipun secara bahasa (etimologi) disebut sebagai bid’ah."
(Kitab Jami'ul Ulum wal Hikam, Juz 2, Hal. 127 - Tahqiq Al-Arna'uth - Ibnu Rajab Al-Hanbali)
Hadits Nabi ﷺ dan Kalam Salafush-Sholih Tentang Amalan Bid'ah
Para Salafus-Shalih memberikan perhatian besar dalam menjaga kemurnian syariat dari bid’ah (perkara baru dalam agama).
1. Rasulullah Muhammad ﷺ
أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كان يقولُ في خطبتِه يومَ الجمعةِ : أما بعدُ، فإن خيرَ الحديثِ كتابُ اللهِ وخيرَ الهديِ هديُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وشرَّ الأمورِ محدثاتُها وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ
Bahwa Nabi ﷺ dalam khutbah Jumatnya biasa mengucapkan: "Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur'an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk urusan adalah umural muhdatsat perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Muslim)
عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري ومسلم) وَ فِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
Dari Ummul-Mu’minin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah Radhiyallahu anha ia berkata: Rasulullah ﷺ telah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-ngada (mensyari'atkankan) perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits riwayat Muslim: Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”.
2. Abdullah bin Mas’ud radhiyaallahu 'anhu
اتَّبِعُوا وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ
"Ikutilah (petunjuk Nabi) dan janganlah kalian berbuat bid'ah (perkara baru dalam agama), karena sungguh kalian telah dicukupi (dengan syariat yang ada)."
(Riwayat Al-Waki' dalam Az-Zuhd, no. 315 dan Ad-Darimi dalam Sunannya, no. 211)
3. Abdullah bin Umar radhiyaallahu 'anhuma
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
"Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya sebagai suatu kebaikan."
(Diriwayatkan oleh Al-Lalaka’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, no. 126)
4. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah
"قِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، فَإِنَّهُمْ عَنْ عِلْمٍ وَقَفُوا، وَبِبَصَرٍ نَافِذٍ كَفُّوا".
"Berhentilah kamu di mana kaum itu (para shahabat) berhenti. Sebab mereka berhenti berdasarkan ilmu, dan dengan pandangan yang tajam mereka menahan diri." (Diriwayatkan dalam kitab As-Sunnah oleh Abu Dawud, dan juga dalam sumber-sumber lain seperti Tarikh Dimasyq oleh Ibnu Asakir).
5. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah
الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا
"Bid’ah lebih dicintai Iblis daripada maksiat. Pelaku maksiat (lebih mudah) bertaubat, sedangkan pelaku bid’ah (sulit) bertaubat (karena merasa benar)."
(Riwayat Al-Lalaka’i dalam Syarh Ushul I’tiqad, no. 238)
6. Imam Malik bin Anas rahimahullah
مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا
"Barangsiapa membuat bid’ah dalam Islam dan menganggapnya baik, maka ia telah menuduh Muhammad ﷺ mengkhianati risalah. Karena Allah berfirman: 'Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu'. Maka apa yang pada hari itu bukan bagian dari agama, maka hari ini pun bukan bagian dari agama." (Dinukil oleh Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tishom)
Kalam Imam Asy-Syafi’i rahimahullah Bahwa Al-Muhdatsat Terbagi 2 Yaitu Bid'ah Dholalah dan Muhdatsah Ghoiru Madzmumah
وقد روى الحافظ أبو نعيم (في "الحلية" ٩/ ١) بإسناده عن إبراهيم بن الجنيد، [حدثنا حرملة بن يحيى] قال: سمعتُ الشافعي رحمة الله عليه يقول: البدعة بدعتان: بدعةٌ محمودةٌ، وبدعة مذمومةٌ، فما وافق السنة، فهو محمودٌ وما خالف السنة، فهو مذمومٌ. واحتجّ بقول عمر: نعمت البدعة هي.
ومراد الشافعي رحمه الله ما ذكرناه مِنْ قبلُ: أن البدعة المذمومة ما ليس لها أصل من الشريعة يُرجع إليه، وهي البدعةُ في إطلاق الشرع، وأما البدعة المحمودة فما وافق السنة، يعني: ما كان لها أصل مِنَ السنة يُرجع إليه، وإنما هي بدعةٌ لغةً لا شرعًا، لموافقتها السنة.
وقد روي عَنِ الشَّافعي كلام آخر يفسِّرُ هذا، وأنَّه قال: والمحدثات ضربان: ما أُحدِث مما يُخالف كتابًا، أو سنة، أو أثرًا، أو إجماعًا، فهذه البدعة الضلال، وما أُحدِث مِنَ الخير، لا خِلافَ فيه لواحدٍ مِنْ هذا، وهذه محدثة غيرُ مذمومة (صحيح، رواه البيهقي في "مناقب الشافعي" ١/ ٤٦٩.).
كتاب جامع العلوم والحكم ج ٢ ص ١٣١ - ت الأرنؤوط - ابن رجب الحنبلي
"Al-Hafiz Abu Nu’aim meriwayatkan (dalam kitab Al-Hilyah 9/1) dengan sanadnya dari Ibrahim bin al-Junid, [Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami], ia berkata: Saya mendengar Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: 'Bid’ah itu ada dua macam: bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Apa saja yang sesuai dengan sunnah, maka itu terpuji, dan apa saja yang menyalahi sunnah, maka itu tercela.' Beliau berhujjah dengan perkataan Umar (bin Khattab): 'Sebaik-baik bid’ah adalah ini (shalat tarawih berjamaah).'
Maksud perkataan Asy-Syafi'i rahimahullah adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya:
Bahwa bid’ah madzmumah (tercela) adalah apa yang tidak memiliki dasar dalam syariat untuk dijadikan rujukan, dan inilah yang disebut bid’ah secara terminologi syariat (itlaqus syar'i). Adapun bid’ah mahmudah (terpuji) adalah apa yang sesuai dengan sunnah, yakni yang memiliki landasan asal dari sunnah untuk dijadikan rujukan. Hal itu disebut bid’ah secara bahasa saja (lughatan), bukan secara syariat, karena kesesuaiannya dengan sunnah.
Telah diriwayatkan pula dari Asy-Syafi'i perkataan lain yang menafsirkan hal ini, beliau berkata:
'Al-Muhdatsat (perkara-perkara baru) itu ada dua jenis: (pertama) perkara baru yang menyelisihi Al-Qur'an, Sunnah, Atsar, atau Ijma' (kesepakatan ulama Ahlus-Sunnah), maka ini adalah bid’ah dhalalah (bid'ah yang sesat). (Kedua) Apa saja yang diada-adakan dari kebaikan yang tidak menyelisihi satu pun dari hal-hal tersebut, maka ini adalah muhdatsah ghoiru madzmumah (perkara baru yang tidak tercela)." (Shahih, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi'i 1/469)."





Tidak ada komentar:
Posting Komentar