Kamis, 15 Januari 2026

Apa Terjemahan "Istawa/اِسْتَوَى" Yang Lebih Tepat Untuk Menghindari Kesalahpahaman ?


Apa Terjemahan "Istawa/اِسْتَوَى" Yang Lebih Tepat Untuk Menghindari Kesalahpahaman ?

1. Istilah "Bersemayam"

Istilah ini sering digunakan dalam terjemahan Al-Qur'an versi lama (seperti DEPAG). Namun, banyak ulama dan pakar bahasa mengkritik penggunaan kata ini karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersemayam memiliki arti duduk, tinggal, atau berkediaman. Makna ini dianggap terlalu sempit dan berisiko memberikan kesan bahwa Allah membutuhkan tempat atau duduk sebagaimana makhluk.

2. Istilah "Bertakhta"

Istilah "Bertakhta" dianggap sedikit lebih baik daripada bersemayam karena menunjukkan kekuasaan dan keagungan. Meskipun begitu, kata ini tetap memiliki keterbatasan bahasa karena masih bisa diasosiasikan dengan raja di dunia yang membutuhkan singgasana fisik.

3. Pandangan Para Ulama Ahlus-Sunnah

Syaikh Al-Albani dan para ulama Ahlus Sunnah menetapkan sifat Al-Uluw (Ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya) tanpa menetapkan makan (tempat yang melingkupi-Nya). Allah berada di atas Arsy dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa butuh pada Arsy tersebut. 
Banyak ulama menyarankan untuk membiarkan kata "Istawa" tetap sebagaimana adanya atau menerjemahkannya dengan "Betinggi di atas Arsy". Hal ini selaras dengan penjelasan Imam Bukhari dalam Shahih-nya yang menukil pendapat Mujahid dan Abu Al-Aliyah bahwa Istawa berarti Alaa (Meninggi) dan Irtafa’a (Naik/Tinggi).

Jika harus memilih terjemahan yang paling aman untuk menghindari kerancuan akidah:
🔸Lebih Utama: Menggunakan kata "Meninggi/Tinggi di atas Arsy" atau tetap menggunakan istilah "Istawa" dengan penjelasan bahwa Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya tanpa membutuhkan tempat.
🔸 Bertakhta: Lebih luas maknanya dibanding bersemayam, namun tetap harus dibarengi keyakinan bahwa Allah bertakhta tidak serupa dengan raja manapun.
🔸 Hindari "Bersemayam": Karena konotasinya yang sangat kuat dengan makna "tinggal/duduk" secara fisik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...