Kaidah Utama dalam Memahami Asma wa Shifat Allah
Kaidah Ahlus-Sunnah wal Jama'ah dalam memahami Nama (Asma) dan Sifat Allah berlandaskan pada prinsip Itsbat (menetapkan apa yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya) tanpa melakukan penyimpangan. Berikut adalah 4 kaidah utama dalam memahami Asma wa Shifat:
1️⃣ Al-Itsbat (Menetapkan). Menetapkan semua nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits yang shahih sebagaimana adanya.
2⃣ Tanzih (Mensucikan). Meyakini bahwa tidak ada satu pun makhluk yang serupa dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya, sesuai kalam-Nya: ﴾لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ﴿ "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. ...." (QS. Asy-Syura: 11).
3⃣ Meninggalkan 4 Perkara Terlarang yaitu:
(1) Tahrif: Mengubah makna teks (distorsi), baik lafazh maupun maknanya. (2) Ta’thil: Menolak atau meniadakan sifat-sifat Allah. (3) Takyif: Mempertanyakan atau menentukan "bagaimana" (hakikat bentuk) sifat Allah. dan (4) Tamtsil: Menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk.
4⃣ Al-Iman bil Makna wa Tafwidul Kaifiyyah. Beriman kepada makna bahasanya yang jelas (misal: Istawa artinya tinggi/bertakhta), namun menyerahkan urusan "bagaimana" hakikat bentuknya (kaifiyyah) hanya kepada Allah.
Prinsip ini dirangkum dalam perkataan Imam Malik tentang Istiwa:
الاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ
"Istiwa itu maklum (diketahui maknanya), kaif (caranya) tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya (kaifiyyah-nya) adalah bid'ah."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar