Syair Batas Pintu Maafku
Pintu maafku selalu terbuka lebar,
Bagi jiwa yang tulus serta bersabar,
Kepada Allah tauhidnya berkibar,
Tiada syirik yang membuat iman pudar.
Kan kurengkuh mereka dalam kedamaian,
Yang menjaga shalat penuh kesetiaan,
Sujud dan ruku' menjadi kebiasaan,
Membasuh dosa, menjemput ampunan.
Namun maafku punya pagar pembatas,
Bagi yang tulus dan berhati ikhlas,
Tak akrab dengan kaum zhalim penindas,
Yang memusuhi diriku dengan culas.
Jika engkau teguh dalam ketauhidan,
Shalat dijaga, musuhku dijauhkan,
Maka lapang dada ini kusandarkan,
Segala khilafmu pasti kumaafkan.
Memaafkan Yang Terpuji Itu Jika Membawa Ishlah ( Perbaikan )
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَاۚ فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ ٤٠
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (mengadakan perbaikan), maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS. Asy-Syura : 40)
Ayat ini mengaitkan kata memaafkan ('afa) dengan mengadakan perbaikan (ashlaha). Para ulama menyimpulkan bahwa memaafkan baru bernilai pahala besar jika tindakan memaafkan tersebut melahirkan ishlah (perbaikan). Jika memaafkan justru membuat pelaku semakin zhalim (madharat lebih besar), maka tidak memaafkan atau menegakkan hukum itu lebih utama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar