بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Mari Meniti Jejak Salafush Shalih dalam Beragama. Blog ini didedikasikan sebagai media literasi Islam yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman para Shahabat Nabi. Kami menyajikan artikel seputar tauhid, aqidah, fiqih madzhab Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah, serta tazkiyatun nufus guna menjaga kemurnian ajaran Islam dari paham yang menyimpang.
Senin, 11 Maret 2024
Minggu, 10 Maret 2024
Doa Menyambut Bulan Ramadhan
Doa Menyambut Bulan Ramadhan
Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit, ia berkata: Rasulullah ﷺ mengajari kami beberapa kalimat apabila telah datang Ramadhan:
“Ya Allah sampaikan aku ke ramadhan, sampaikan ramadhan kepadaku, dan terima amalku di Ramadhan.” (HR. Al-Thabrani dan al-Dailami)
Dari penjelasan para ulama ahli hadits, isnadnya lemah. Di dalamnya terdapat perawi yang bernama Abu Ja’far al-Razi. Nama aslinya Isa bin Maahaan. Ia banyak salahnya, hafalannya tidak kuat, dan kacau. Al-Fallas berkata, “Dia buruk hafalan”. Abu Zur’ah berkata, “Sering ragu-ragu (dalam meriwayatkan).”
Doa serupa disandarkan kepada Yahya bin Abi Katsir rahimahullah,
“Ya Allah, sampaikan aku dengan selamat ke Ramadhan, sampaikan Ramadhan kepadaku, dan terimalah amalku di Ramadhan.” (lihat Hilyatul Auliya’: I/420. Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)
Sekali lagi ini bukan doa dari Nabi ﷺ. Sehingga tidak termasuk sunnah khusus berdoa dengan doa ini. Tapi kalau membacanya sebagai permintaan kepada Allah, maka dibolehkan.
Sabtu, 24 Februari 2024
Seputar Ayyamul Bidh
Ayyamul Bidh adalah hari-hari tertentu dari setiap bulan yang keutamaannya disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad ﷺ. Yaitu tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas dari setiap bulan dalam tahun Hijriah.
Disebut "بيضا" karena putih (terang)nya malam-
malamnya bersama Bulan, karena Bulan terbit dari awal malam hingga akhir malam. Dan karena itu Ibnu Bari berkata : yang benar adalah mengatakan : "أيام البيض"
(ayyamul bidh), karena "al bidh" adalah sebuah shifat malam, maksudnya hari siang-malam yang putih (terang).
An Nawawi berkata dalam Al-Majmu' : Dengan di-idhofahkan “أيام” kepada “البيض” dan ini benar, dan hal ini terjadi dalam banyak kitab fiqih dan lainnya, dan dalam banyak kitab "الأيام البيض" (al-ayyamul bidh) dengan alif dan lam, dan itu salah, karena semua hari berwarna putih (terang), namun yang benar adalah “ayyamul bidh" yakni hari-hari yang malamnya putih (terang).
Hari-hari ini (ayyamul bidh) adalah tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas dari setiap bulan Arab. Disebut hari-hari ini (ayyamul bidh) karena diputihkan oleh terbitnya Bulan dari awal hingga akhir malam, karena cahaya Bulan yang sempurna dan sangat putih (terang)nya di dalamnya. Lihat ((Mughni Al-Muhtaj oleh Al-Syarbini Al-Khathib)) (1/447) dan ((Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah)) (28/93). Yang benar dikatakan (hari-hari putihnya) atau (hari-hari putihnya) Lihat: ((Fath al-Bari karya Ibnu Hajar)) (4/226). [Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah (1/435-436)].
Puasa ayyamul bidh itu pada tanggal 13, 14, 15 setiap bulannya. Ayyamul bidh hukum asalnya bisa diketahui dengan menghitung dari awal bulan Hijriyah. Dan awal bulan Hijriyah itu ditetapkan dengan ru’yatul hilal yang dilaksanakan setiap penghujung bulan pada tanggal 29 atau dengan menggenapkan bulan sebelumnya menjadi 30 hari.
Akan tapi permasalahannya bagaimana jika tidak ada yang melakukan rukyatul hilal untuk mengetahui awal setiap bulan Hijriyah? Dari pengamatan dan pengalaman kami insya Allah tanda-tanda ayyamul bidh pada umumnya bisa diketahui dan terbedakan :
■ Tanggal 13 : Bentuk Bulan membulat, Bulan sudah terbit beberapa waktu (lebih dari 45 menit) sebelum awal Maghrib. Bulan terbenam menjelang fajar atau waktu sahur.
■ Tanggal 14 : Bentuk Bulat bulat purnama, sudah terbit sebelum (mendekati) awal Maghrib. Ba'da Shubuh Bulan masih mudah dilihat diatas ufuk langit Barat. Dibandingkan semua hari pada tanggal 14 posisi Bulan paling mudah dilihat mulai sebelum awal Maghrib sampai waktu Shubuh.
■ Tanggal 15 : bentuk Bulan bulat purnama, terbit pada awal Maghrib atau paling lambat sebelum pertengahan Maghrib Bulan tampak terbit diatas ufuk langit Timur.
■ Tanggal 16 : bentuk Bulan bulat purnama, awal Maghrib Bulan belum terbit atau baru terbit setelah pertengahan Maghrib. Sehingga awal malam gelap dan tidak termasuk Ayyamul Bidh.
Hari-hari ini (ayyamul bidh) adalah tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas dari setiap bulan Arab. Disebut hari-hari ini (ayyamul bidh) karena diputihkan oleh terbitnya Bulan dari awal hingga akhir malam, karena cahaya Bulan yang sempurna dan sangat putih (terang)nya di dalamnya. Lihat ((Mughni Al-Muhtaj oleh Al-Syarbini Al-Khathib)) (1/447) dan ((Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah)) (28/93). Yang benar dikatakan (hari-hari putihnya) atau (hari-hari putihnya) Lihat: ((Fath al-Bari karya Ibnu Hajar)) (4/226). [Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah (1/435-436)].
Puasa Sunnah 3 Hari Pada Ayyamul Bidh
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah ﷺ bersabda :
“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari no. 1979)
Dari Abu Dzar, Rasulullah ﷺ bersabda padanya,
“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2425. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa haditsnya hasan).
Dari Ibnu Milhan Al Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata,
“Rasulullah ﷺ biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.” (HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,
“Rasulullah ﷺ biasa tidak berbuka (= berpuasa) pada ayyamul bidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An Nasai no. 2347. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Namun dikecualikan berpuasa pada tanggal 13 Dzulhijjah (bagian dari hari tasyriq). Berpuasa pada hari tersebut diharamkan.
Malam Ahad, 15 Sya'ban 1445 H (24-02-2024)
Senin, 22 Januari 2024
Tahukah Engkau Apa Makna Al Ashaghir ( Orang-orang Yang Kecil/Anak Kecil ) ?
Al Imam Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Umayyah Al Jumahi radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda :
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya Hari Kiamat itu dicarinya/dituntutnya ilmu dari ‘Al Ashaghir’" (lihat Kitab Az Zuhd karya Ibnul Mubarak, hal 20-21, hadits no. 61)
Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
"Manusia akan selalu berada di atas kebaikan, selama ilmu mereka datang dari para shahabat Nabi Muhammad ﷺ dan dari akabir (orang-orang besar) mereka. Jika ilmu datang dari arah ashoghir (orang-orang kecil/ahlul ahwa') mereka, dan hawa-nafsu mereka bercerai-berai, mereka pasti binasa." (Riwayat Imam Ibnul Mubarak di dalam az Zuhud, hlm. 281, hadits 815.)
Jadi Ashoghir (orang kecil/orang hina) yaitu orang-orang yang berkata menurut pendapatnya sendiri tanpa bersandar dalil dari Kitabullah dan As Sunnah sesuai faham para Shahabat Nabi ﷺ. Mereka adalah para ahlul ahwa' (pengikut hawa nafsu dan shohibul bid'ah) yang lebih mendahulukan hawa nafsu, tidak bisa membedakan kebenaran dan kebatilan ataupun berkata sembarangan tanpa ilmu tapi merasa sok tahu sebagaimana seorang anak kecil yang belum mumayyiz.
Minggu, 07 Januari 2024
Menyingkap Praktek Sistem Perbudakan (Abdi) di Pondhok Pesantren Jam'iyyah Salafiyyah
Khidmah yang dalam bahasa Jawa disebut ngawulo, adalah mengabdikan atau mendedikasikan diri atas ilmu yang telah dimiliki kepada orang atau almamater yang pernah berjasa atau kepada masyarakat luas dengan niat yang tulus dan ikhlas tanpa pamrih apapun, kecuali karena Allah.
Khidmah yang benar dan sesuai syari'at Islam itu dilakukan atas dasar ikhlash/ridho serta tiada unsur dipaksa. Sebagaimana Anas bin Malik pernah berkhidmah atau menjadi khodim (pembantu) Nabi ﷺ atas kehendak sendiri dan tanpa unsur dipaksa selama 10 tahun. Itupun rumah ibu Anas juga di Madinah, sehingga selain masih ada hubungan mahram juga bisa setiap saat pulang ke rumah ibunya (Ummu Sulaim binti Milhan yang masih ada hubungan mahram dengan Nabi ﷺ). Dengan kata lain khodim itu dilakukan orang merdeka, atas dasar ridho dan tidak karena diperintah/diwajibkan. Sedang mengabdi (menjadi abdi/budak) sebaliknya dan umumnya ada persyaratan/ikatan tertentu.
Di antara kita pun dulu juga ada yang pernah mengambil ilmu sambil khidmah selama sekitar 2 tahun dengan bantu bersih-bersih, menyapu, membantu mengasuh anak kecil dsb atas dasar suka rela dan tiada yang maksa. Jadi khidmah itu hukum asalnya mubah dan tidak wajib. Barangsiapa yang mewajibkan khidmah maka telah berbuat bid'ah sehingga wajib atasnya untuk mendatangkan burhan dan hujjah. Karena setahu kita Nabi ﷺ dan para Shahabat tak ada satupun yang mewajibkan khidmah (menjadi pembantu) ataupun "mengabdi" (yang dilakukan orang merdeka sebagaimana pengabdian yang dilakukan para budak).
Para ulama pakar fiqih katakan bahwa hukum asal manusia adalah merdeka (الحرّيّة) dan bukan budak (عبد) atau hamba sahaya (الرّقّ). Dari sini, maka sudah seharusnya para santri diperlakukan layaknya manusia merdeka yang memiliki hak sebagaimana manusia lainnya. Kita tidak boleh memperkerjakan, mewajibkan santri mengabdi ataupun makan keringatnya tanpa burhan dan hujjah. Nabi dan para Shahabat, para imam madzhab Ahlus Sunnah, imam Al Bukhori, imam Muslim ataupun para aimah Ahlus Sunnah wal Jama'ah setahu kami tidak ada yang mewajibkan semua muridnya menjadi khodim ataupun mengabdikan diri laksana budak.
Akan tapi realitanya di pondhok-pondhok jam'iyyah Salafiyyah dan semisal sering kira jumpai praktek bid'ah sistem perbudakan atau bahasa halusnya "diwajibkan mengabdi" tanpa burhan dan hujjah. Santri diminta bekerja sesuai yang dikehendaki tuannya dan diperas keringatnya tanpa diberi upah. Saya sendiri pernah menyaksikan langsung atau mengalami, sehingga tak lama setelah itu memutuskan pindah pondhok. Demikian juga ada yang diwajibkan bekerja mengabdikan diri bagai budak tanpa diberi upah yang layak atau sesuai UMR. Apa mereka kira semua orang itu bisa ikhlash atas perlakuan tersebut.? Itu semua termasuk bentuk kezhaliman dan menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
Di hadits berikut Nabi ﷺ memerintahkan untuk memperlakukan secara manusia kepada budak, apalagi terhadap santri yang bukan budak :
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika kalian memiliki budak maka dekatilah mereka makanannya. Maka hal itu akan mencukupi dari kelelahannya. Ajaklah dia dan makanlah bersamanya. Jika dia tidak mau melakukan maka berilah makanan dan letakkan di tangannya." (HR Ibnu Majah)
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
“Seorang budak itu berhak mendapatkan makan dan sandang (dari tuannya) dan janganlah dia dibebani atas suatu pekerjaan melainkan sesuai dengan kemampuannya.”
(HR. Muslim no.3141)
Terhadap para khodim (pembantu) saja, Nabi ﷺ sering menawari agar pembantunya minta apa saja yang dikehendaki dan Rasulullah mengabulkan permintaannya meskipun permintaannya itu besar. Dari Rabi'ah bin Ka'ab Al-Aslami radhiallahu 'anhu, kebiasaan beliau yaitu menyediakan tempat wudhu Rasulullah ﷺ ;
"Saya bermalam bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya.
Maka beliau bersabda kepadaku, "Mintalah kepadaku."
Maka aku berkata, "Aku meminta kepadamu agar aku menemanimu di surga."
Beliau berkata, "Atau ada selain itu.?"
Aku menjawab, "Itu saja yang aku minta."
Maka beliau menjawab, "Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud (shalat)."
(HR. Muslim)
Beliau juga memerintahkan untuk memberikan gaji upah sebelum keringatnya kering atau langsung setelah mereka selesai bekerja. Disini ada beberapa cara, ada yang prosesnya harian, pekanan, bulanan. Tetapi berdasarkan hadits ini lebih baik memberikan gaji setelah selesai bertugas. Dari Abdullah bin Umar ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :
“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR Ibnu Majah dan at-Thabrani)
Termasuk dosa besar karena berbuat zhalim jika tidak memberikan upah yang layak padahal pembantunya sudah bekerja. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda;
Dalam hadits Qudsi Allah Ta’ala berfirman:
"Ada tiga jenis orang yang Aku menjadi musuh mereka pada hari kiamat, seseorang yang bersumpah atas nama-Ku lalu mengingkarinya, seseorang yang menjual orang yang telah merdeka, lalu memakan hasil penjualannya (harganya) dan seseorang yang memperkerjakan pekerja kemudian pekerja itu menyelesaikan pekerjaannya, namun tidak memberi upahnya." (HR. Al-Bukhari)
Abu Hurairah radhiallahu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Janganlah seorang dari kalian berkata (ketika memerintahkan budaknya dengan kalimat):
‘Hidangkanlah makanan untuk rabb kamu, berilah minuman untuk rabbmu’,
Akan tapi hendaklah dia berkata (dengan kalimat):
‘sayyidku dan maulaku (pemeliharaku)’.
Dan janganlah seorang dari kalian mengatakan: ‘Abdi (hamba sahaya laki-lakiku), dan Amati (hamba sahaya perempuanku)’,
Akan tapi Katakanlah: ‘fataya (pemudaku), Fatatiy (pemudiku) dan ghulami (budakku)’.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi ﷺ bersabda:
“Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh menelantarkannya.” (HR. Muslim no. 2564).
Larangan Berbuat Zhalim
Secara istilah, zhalim artinya melakukan sesuatu yang keluar dari koridor kebenaran, baik karena kurang atau melebih batas. Al Asfahani mengatakan:
“Zhalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada posisinya yang tepat baginya, baik karena kurang maupun karena adanya tambahan, baik karena tidak sesuai dari segi waktunya ataupun dari segi tempatnya” (lihat Mufradat Allafzhil Qur’an Al Asfahani 537, dinukil dari Mausu’ah Akhlaq Durarus Saniyyah).
Perbuatan zalim terlarang dalam Islam. Terdapat banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi ﷺ yang mencela dan melarang perbuatan zhalim. Allah Ta’ala berfirman:
“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim." (QS. Hud: 18).
“Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).
Dan ayat-ayat yang semisal sangatlah banyak. Adapun dalil dari As Sunnah, diantaranya Nabi ﷺ bersabda:
“Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezhaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezhaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zhalim.’” (HR. Muslim no. 2577).
■ Nabi ﷺ dan para Shahabat, para aimah madzhab Ahlus Sunnah, imam Al Bukhori, imam Muslim ataupun para salafus sholih tidak ada yang mewajibkan seluruh muridnya untuk khidmah, menjadi khodim ataupun memperlakukan murid-muridnya laksana budak.
■ Mewajibkan manusia merdeka atau santri untuk menjadi khodim (pembantu) ataupun mengabdi laksana budak tanpa burhan dan hujjah itu termasuk bid'ah yang sesat dan kezholiman. Maka tidak usah heran jika menimbulkan banyak masalah dan kasus.
■ Nabi ﷺ bersabda:
“Jauhilah kezhaliman karena kezhaliman adalah kegelapan di hari kiamat.” (HR. Al Bukhari no. 2447, Muslim no. 2578).
■ Tulisan ini kami tulis sebagai bentuk nasihat. Dengan harapan semoga dicatat malaikat, sehingga jika mereka menghindar untuk diselesaikan di dunia insya Allah mereka tak akan mungkin bisa mengelak untuk diselesaikan di akhirat. Karena telah kami adukan kepada Rabbul 'Alamin.
■ Jika memang mampu, silahkan dibantah secara ilmiyyah atau jika perlu dibuktikan dengan mubahalah.
"Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, “Tunjukkan burhan (bukti kebenaran) kalian jika kalian orang yang shodiq (benar).” (QS. Al Baqarah : 111)
Allah Ta'ala berfirman :
"Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al Qoshosh : 50).
"Ya Robb-ku, berilah keputusan dengan adil. Dan Robb kami Ar Rohman, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kalian katakan.”
Sabtu, 06 Januari 2024
Jihad Dengan Al Qur'an ( Jihad Dengan Hujjah Dan Bayan ) Itu Lebih Utama Dari Selainnya
Jihad Dengan Al Qur'an ( Jihad Dengan Hujjah Dan Bayan ) Itu Lebih Utama Dari Selainnya
Allah Ta'ala berfirman :
“Dan andaikata Kami menghendaki benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Quran dengan jihad yang besar.” (QS. Al-Furqon : 51-52).
Berkata Ibnu al-Qayyim dalam Miftah Dar as-Sa’adah :
https://shamela.ws/book/6840/69
“ Oleh karena itu jihad ada dua bentuk pertama : Jihad dengan tangan dan senjata. Yang ini pengikutnya banyak. Kedua : Jihad dengan hujjah dan bayan. Ini bentuk jihad khusus para pengikut para rasul, inilah jihad para imam. Jihad dalam bentuk ini lebih utama dari yang lain, karena besar manfaatnya, keras jalannya, dan banyak musuhnya. Allah berfirman di dalam QS. Al-Furqon : (وَلَو شِئْنَا لبعثنا فِي كل قَرْيَة نذيرا فلاتطع الْكَافرين وجاهدهم بِهِ جهادا كَبِيرا) (QS. Al-Furqon: 51-52). Ini surat Makkiyah. Inilah jihad dengan Al-Qur’an dan inilah jihad yang paling besar. “
Senin, 01 Januari 2024
Kewajiban Menyampaikan As Sunnah dan Membela Al Haq (Kebenaran) Serta Menjelaskan Bid'ah Dan Membantah Kebatilan
Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat
Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat Shalat merupakan tiang agama yang memiliki dimensi spiritual, mental, hingga fisik. Berikut adalah penj...
-
Wahai Ahlul-Ahwa'.. Fahami dan Bertaubatlah Sebelum Terlambat! SubhanaAllah.. Ketahuillah tidak ada ayat ataupun hadits shahih yang me...
-
Revisi : https://teguhakhirblora.blogspot.com/2023/04/rukun-tauhid-ingkar-thoghut-dan-beriman.html?m=1 Rukun Tauhid "Ingkar Thoghut Da...
-
Hanya Sekedar Pemberitahuan Barangsiapa yang menjalin hubungan dengannya, insya Allah jika kelak mereka mati lebih dulu daripada aku, maka...
















