Tidak Meminta Upah Di Antara Tanda Para Da'i (Pendakwah) yang Mendapat Petunjuk
اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ٢١
"Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Yasin : 21)
وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۚ ١٠٩
Aku tidak meminta ajr (imbalan) kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalan (upah)ku tidak lain, kecuali dari Rabb semesta alam. (QS. Asy-Syu'ara' : 109)
قُلْ مَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ ٨٦
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta ajr (upah/imbalan) sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada. (QS. Shad : 86)
Catatan :
1. Ini terlepas dari membahas hukum menerima upah dari pengajaran Al-Qur'an (sebagai kompensasi waktu/profesi).
2. Para Salaf banyak yang menolak hadiah atau pemberian dari murid ataupun wali murid karena khawatir hatinya terfitnah sehingga tidak bisa bersikap adil.
3. Sikap para Salaf yang menolak hadiah bukan karena mereka merasa cukup saja, tapi sebagai bentuk wara' (kehati-hatian). Mereka sadar bahwa hati manusia itu lemah dan mudah condong kepada orang yang memberi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar