Selasa, 16 Juni 2026

Belajar dari Kelembutan Nabi Musa dalam Mengingkari dan Menasihati Penguasa Zhalim


 

Belajar dari Kelembutan Nabi Musa dalam Mengingkari dan Menasihati Penguasa Zhalim



Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi adab dan etika dalam menyuarakan kebenaran. Bahkan kepada penguasa paling zalim dalam sejarah kemanusiaan sekalipun—yaitu Firaun yang mengaku dirinya tuhan—Allah tetap memerintahkan hamba-Nya untuk berbicara dengan santun.

Perintah ini diabadikan di dalam Al-Qur'an surah Thaha ayat 43–44, ketika Allah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun:

اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۚ ۝٤٣ فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى ۝٤٤

“Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)

Para ulama tafsir menjelaskan, jika Nabi Musa yang paling mulia diperintahkan untuk berlemah lembut kepada Firaun yang paling kufur, maka sudah sepatutnya kita menasihati pemimpin Muslim saat ini—yang tentu tidak seburuk Firaun—dengan adab dan kesantunan yang jauh lebih baik.

Nabi Musa tidak mengajak bani Israil berdemo ataupun berkoar-koar dengan tujuan menjatuhkan Fir'aun. Sikap santun dan dialogis dalam menasihati penguasa selaras dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya :
🔸 Sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Menasihati pemimpin dengan tutur kata yang santun mencerminkan tingginya adab dan penghormatan terhadap harkat kemanusiaan.
🔸 Sila ke-3 (Persatuan Indonesia): Menyampaikan kritik tanpa memprovokasi massa atau membuat kegaduhan publik berfungsi untuk menjaga stabilitas dan persatuan bangsa.
🔸 Sila ke-4 (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan): Mengutamakan jalur dialogis dan musyawarah yang bijaksana mencerminkan sistem perwakilan yang sehat, alih-alih menggunakan aksi demonstrasi atau upaya menjatuhkan secara sepihak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belajar dari Kelembutan Nabi Musa dalam Mengingkari dan Menasihati Penguasa Zhalim

  Belajar dari Kelembutan Nabi Musa dalam Mengingkari dan Menasihati Penguasa Zhalim Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi adab ...