Rabu, 17 Juni 2026

Pemuda dan Mahasiswa: Bukan Tolok Ukur Kebenaran, Melainkan Jembatan Masa Depan


 


Pemuda dan Mahasiswa: Bukan Tolok Ukur Kebenaran, Melainkan Jembatan Masa Depan

https://teguhakhirblora.blogspot.com/2026/06/pemuda-dan-mahasiswa-bukan-tolok-ukur.html?m=1


Opini yang menempatkan pemuda dan mahasiswa sebagai poros segala kebenaran atau wakil resmi seluruh rakyat sering kali melahirkan ekspektasi yang keliru. Mahasiswa dan pemuda bukanlah lembaga penentu hukum, bukan dewan perwakilan yang dipilih melalui pemilu, dan tidak memiliki monopoli atas kebenaran mutlak. Kedudukan hakiki mereka adalah sebagai generasi penerus—sebuah fase krusial dalam estafet kepemimpinan bangsa.

1. Bukan Tolok Ukur Kebenaran Mutlak dan Bahaya Fenomena Ashaghir

Status sebagai mahasiswa atau pemuda tidak otomatis membuat setiap gagasan, aksi, atau argumen mereka menjadi benar tanpa cela.

🔸 Proses Belajar: Pemuda berada dalam fase pencarian jati diri dan pematangan intelektual.

🔸 Uji Rasionalitas: Setiap pemikiran mahasiswa tetap harus diuji menggunakan indikator objektif, data empiris, dan metodologi ilmiah, bukan mengandalkan hawa nafsu atau asumsi semata.

🔸 Bahaya Dogmatisme: Menganggap pemuda selalu benar secara mutlak justru menjebak mereka dalam kesombongan intelektual yang menghambat ruang dialog.

Di dalam Islam, kebenaran mutlak hanya milik Allah, sedangkan manusia—termasuk pemuda—adalah tempatnya salah dan lupa. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (QS. Al-Baqarah: 147)

Oleh karena itu, menjadikan pemuda yang belum matang keilmuannya sebagai tolok ukur kebenaran atau rujukan utama adalah sebuah kekeliruan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memperingatkan bahaya fenomena Ashaghir (orang-orang kecil/muda yang belum matang ilmu dan pengalamannya):

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الأَصَاغِرِ

"Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah dicarinya ilmu (kebenaran/fatwa) pada dewan atau orang-orang yang ashaaghir (masih muda/kecil ilmu dan pengalamannya)." (HR. Thabrani, Sahih)

2. Realitas Kerusakan Moral, Perilaku, dan Bahaya Karakter Khawarij

Menilai pemuda secara objektif berarti harus berani melihat realitas bahwa usia muda atau status akademis tidak menjamin kesucian moral maupun kelurusan berpikir. Di lapangan, fakta menunjukkan potret dekadensi yang nyata:

🔸 Ketidakjujuran Akademik: Praktik kecurangan seperti plagiarisme, titip absen, hingga penggunaan joki tugas mencerminkan hilangnya nilai integritas sejak bangku kuliah.

🔸 Krisis Amanah: Dalam lingkup organisasi intra maupun ekstra kampus, tidak jarang ditemukan oknum pemuda yang menyalahgunakan kekuasaan, memanipulasi anggaran, atau mengkhianati kepercayaan anggotanya.

🔸 Kerusakan Akhlak dan Dekadensi Moral: Maraknya tawuran pelajar, keterlibatan dalam judi online, penyalahgunaan narkoba, perundungan (bullying), hingga pergaulan bebas membuktikan bahwa pemuda pun sangat rentan.

🔸 Perilaku Zhalim dan Ekstremisme: Ketika dibakar semangat tanpa ilmu, sebagian pemuda bertindak zhalim dengan melakukan intimidasi, memaksakan kehendak secara anarkis, atau terjebak dalam pemikiran ekstrem.

Secara khusus, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jauh-jauh hari telah memberikan peringatan keras mengenai tipe pemuda yang memiliki semangat tinggi, pandai bersilat lidah, rajin beribadah, namun pola pikirnya ekstrem, dangkal, dan merusak (karakteristik Khawarij):

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ

"Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang berusia muda (muda usia mereka), bodoh akal pikirannya (perangainya bodoh). Mereka mengucapkan perkataan sebaik-baik manusia (pandai beretorika), mereka membaca Al-Qur'an namun tidak melewati tenggorokan mereka (tidak dipahami ke lubuk hati)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Terkait bahaya sifat tidak jujur dan tidak amanah yang kerap menjangkiti pemuda, beliau juga bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

"Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanah) ia berkhianat." (HR. Bukhari & Muslim)

Lebih dari itu, pemuda yang menggunakan kekuatannya untuk berbuat zhalim atau anarkis harus mengingat ancaman Allah:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ

"Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim." (QS. Ibrahim: 42)

3. Bukan Wakil Rakyat Secara Konstitusional

Secara hukum dan sistem tata negara, mahasiswa tidak memegang mandat politik dari rakyat karena tidak dipilih melalui Pemilu. Gerakan mereka adalah gerakan moral (moral force) yang bersifat independen. Mereka bertindak sebagai penyambung lidah atau pengeras suara aspirasi rakyat yang tersumbat, bukan sebagai pengambil keputusan kebijakan publik.

Jika mereka ingin meluruskan keadaan, hal itu harus dipandang sebagai bagian dari tugas amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran), bukan bertindak seolah-olah sebagai pemegang kekuasaan perwakilan yang sah.

4. Kedudukan Hakiki: Generasi Penerus yang Harus Terus Dibenahi

Nilai tertinggi dari pemuda dan mahasiswa terletak pada potensi masa depan mereka sebagai pelanjut peradaban, yang berarti mereka adalah cerminan masa depan bangsa itu sendiri.

🔸 Investasi Jangka Panjang: Mereka adalah pemilik masa depan yang sedang mempersiapkan diri untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan di berbagai sektor.

🔸 Proses Penyaringan Moral: Mengingat besarnya potensi penyimpangan moral di kalangan pemuda, fase ini harus menjadi ruang evaluasi dan perbaikan diri secara ketat, bukan ruang pemakluman atas kesalahan.

🔸 Laboratorium Kepemimpinan: Masa muda dan bangku perkuliahan adalah ruang simulasi untuk belajar mengelola konflik, merumuskan solusi, mengasah empati sosial, serta memperbaiki akhlak sebelum terjun langsung ke masyarakat.

Perubahan kepemimpinan adalah sunnatullah yang pasti terjadi. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan pentingnya mempersiapkan generasi penerus yang kuat dan tidak lemah, baik secara intelektual maupun spiritual:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (QS. An-Nisa: 9)

Masa muda ini adalah fase krusial yang kelak akan dipertanggungjawabkan secara personal di hadapan Allah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

"Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang lima perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan, serta tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan." (HR. Tirmidzi)

Kesimpulan

Menilai pemuda secara proporsional sangat penting untuk menjaga arah pergerakan mereka. Mereka tidak perlu didewakan sebagai pemilik kebenaran tunggal, karena mereka juga manusia biasa yang bisa berbuat zhalim, tidak jujur, rusak akhlaknya, bahkan rentan terjebak dalam pemikiran ekstrem (sufahaul ahlam). Mereka juga tidak harus dibebani tanggung jawab formal sebagai wakil rakyat. Tempatkanlah mereka pada porsinya yang paling tepat: sebagai generasi penerus yang harus terus dididik, dikritik secara tajam namun sehat, serta terus dibimbing agar siap memimpin bangsa ini dengan integritas tinggi di masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Di Balik Panggung Demonstrasi: Menakar Kepentingan Sejati Dua Kubu yang Berseteru

  Di Balik Panggung Demonstrasi: Menakar Kepentingan Sejati Dua Kubu yang Berseteru https://teguhakhirblora.blogspot.com/2026/06/di-balik-pa...