Apa Kekhawatiranmu Mengenai Rizqi/Rezekimu Esok Hari Itu Berdosa ?
....حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بنُ حَنْبَلٍ: سَمِعْتُ سُفْيَان بنَ عُيَيْنَةَ يَقُوْلُ: فِكْرُكَ فِي رِزْقِ غَدٍ يَكْتُبُ عَلَيْكَ خَطِيْئَة. (كتاب سير أعلام النبلاء - ط الرسالة ج ١٤ ص ٢٩٨ - شمس الدين الذهبي)
.... telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal:
Aku mendengar Sufyan bin 'Uyainah berkata: "Fikiran (kekhawatiran) mu mengenai rezeki esok hari dicatat atas dirimu sebagai sebuah kesalahan (dosa)." (Kitab Siyar A'lam an-Nubala - Cetakan ar-Risalah, Jilid 14, Halaman 298 - Syamsuddin adz-Dzahabi)
Kapan Kekhawatiran Rizqi (Rezeki) Menjadi "Kesalahan/Dosa" ?
Yaitu tingkat kegelisahan yang berlebihan (al-hamm al-mudhniq), yang secara praktis mencerminkan:
🔸 Keraguan terhadap Jaminan Allah (Su'uzhan): Jika seseorang memikirkan rezeki esok hari dengan perasaan "jika saya tidak melakukan ini, maka Allah tidak akan memberi saya rezeki," maka ini adalah masalah aqidah. Ini meragukan ayat Allah yang menyatakan bahwa rezeki setiap makhluk sudah dijamin.
وَمَا مِن دَاۤبَّةٍ فِی ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَیَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلࣱّ فِی كِتَـٰبࣲ مُّبِینࣲ
"Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)." (QS. Hud: 6)
🔸 Hati yang Tergantung pada Sebab (Asbab): Dosa atau kesalahan di sini berarti hati telah berpaling dari Musabbib (Pemberi Sebab/Allah) menuju kepada Asbab (harta/pekerjaan itu sendiri). Ketika seseorang merasa bahwa rezekinya 100% bergantung pada ikhtiarnya, ia telah menafikan peran Allah di sana.
🔸 Lalai dari Hak Allah: Kecemasan yang membuat seseorang menghalalkan segala cara (berbuat curang, meninggalkan shalat, meninggalkan hak orang lain) demi mengamankan rezeki masa depan—inilah inti dari "kesalahan" yang dimaksud.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar