Siapakah Mujaddid di Setiap Penghujung 100 Tahun?
https://teguhakhirblora.blogspot.com/2026/09/siapakah-mujaddid-di-setiap-penghujung.html?m=1
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun seseorang (tokoh) yang memperbaharui bagi mereka agama mereka." (HR. Abu Dawud, al-Hakim, dan yang lainnya).
Pola Waktu dan Perhitungan Mujaddid
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diangkat menjadi rasul pada tahun 610 M (sekitar 13 tahun sebelum Hijrah) dan wafat pada tahun 11 Hijriah. Berdasarkan hal ini, rentang waktu puncak kiprah seorang mujaddid umumnya berada di sekitar kelipatan 100 tahun Hijriah.
Sebagai contoh, untuk abad ke-1 Hijriah, rentang waktunya diperkirakan jatuh pada penghujung tahun 87–110 H.
Perkiraan pola ini terbukti benar pada dua periode awal di mana terdapat ijma' (kesepakatan) ulama. Para sejarawan dan ahli hadits sepakat menetapkan mujaddid untuk dua abad pertama:
• Abad ke-1 Hijriah: Khalifah Umar bin Abdul Aziz (wafat 101 H).
• Abad ke-2 Hijriah: Imam Muhammad bin Idris as-Syafi'i (wafat 204 H).
Bahkan, Imam Ahmad bin Hanbal pernah menyatakan bahwa beliau melihat Allah menghidupkan sunnah melalui Umar bin Abdul Aziz pada abad pertama, dan melalui Imam as-Syafi'i pada abad kedua.
Pola perhitungan rentang waktu puncak kiprah mujaddid dari abad ke-1 (87–110 H) hingga abad ke-14 (1387–1411 H) ini merupakan cara pandang yang selaras dengan kaidah ulama dalam memahami frasa على رأس كل مائة سنة (pada penghujung/kepala setiap 100 tahun).
Kandidat Mujaddid Abad ke-14 Hijriah
Jika menggunakan pola perhitungan tersebut, maka mujaddid abad ke-14 Hijriah insya Allah adalah seorang ulama besar yang dakwah dan puncak kiprahnya berkembang di sekitar tahun 1387–1411 H.
Oleh karena itu, ada kemungkinan besar figur tersebut adalah Imam asy-Syinqithi yang wafat pada tahun 1393 H—seorang ulama yang terkenal sebagai bahrul 'ilm (lautan ilmu) sekaligus guru bagi para ulama besar di masanya.
Sebagai guru besar di Masjidil Haram dan Universitas Islam Madinah, majelis ilmu Imam Asy-Syinqithi melahirkan banyak tokoh sentral dan ulama besar dunia Islam. Di antara para murid terkemuka beliau adalah:
• Syaikh Abdul Aziz bin Baz: Pernah menjadi Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi.
• Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: Ulama besar mazhab Hanbali dan pakar ushul fikih asal Qassim.
• Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i: Pendiri pusat dakwah dan Ma'had Darul Hadits di Dammaj, Yaman, yang sangat masif pengaruhnya dalam menghidupkan kembali pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah di Yaman.
• Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali
• Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi: Penulis kitab tafsir Aisarut Tafaasir dan pengajar senior di Masjidil Haram.
Melalui ketulusan dakwah, kedalaman ilmu, serta deretan murid-muridnya yang berkaliber dunia, Imam Asy-Syinqithi meninggalkan warisan intelektual yang terus menerangi estafet keilmuan Islam hingga masa kini.
Imam Asy-Syinqithi Dikenal Memiliki Nama Yang Harum dan Diterima Luas Berbagai Kalangan Umat Islam
Imam Muhammad al-Amin asy-Syinqithi dikenal memiliki reputasi yang sangat bersih, nama yang harum, sangat sedikit (bahkan hampir tidak ada) kritik tajam terhadap pribadi beliau, serta diterima secara luas oleh berbagai kalangan umat Islam, khususnya di dunia Arab dan kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Beberapa faktor utama mengapa beliau sangat dihormati dan diterima secara universal meliputi:
• Integritas Ilmiah yang Luar Biasa: Beliau dikenal sebagai seorang bahrul 'ilm (lautan ilmu) yang menguasai tafsir, ushul fiqh, bahasa Arab, dan qira'at tanpa cacat cela dalam hal kredibilitas keilmuannya.
• Sikap Zuhud dan Wara': imam Asy-Syinqithi terkenal sangat zuhud, tidak ambisius terhadap jabatan atau harta duniawi, serta senantiasa menjaga kehormatan diri (iffah). Sikap wara' beliau ini membuat pihak-pihak yang berbeda pandangan pun segan untuk mencela beliau.
• Ketulusan dalam Mengajar dan Berdakwah: Selama bertahun-tahun mengajar di Masjid Nabawi dan Universitas Islam Madinah, majelis beliau dipadati oleh para penuntut ilmu dari berbagai latar belakang mazhab dan golongan tanpa ada gesekan berarti. Bahkan para ulama besar sezamannya seperti Syaikh bin Baz dan Syaikh al-Utsaimin sangat memuliakan kedudukan beliau.
• Karya Monumental yang Objektif: Kitab tafsir beliau, Adhwa' al-Bayan, disajikan dengan metode perbandingan mazhab yang objektif, berbasis pada penguatan dalil (istidlal) Al-Qur'an dan Sunnah, sehingga karya tersebut diakui objektivitasnya oleh akademisi dan ulama lintas mazhab.
Kombinasi antara kedalaman ilmu, ketulusan amal, dan akhlak mulia inilah yang menjadikan nama imam Asy-Syinqithi harum abadi dan diterima dengan penuh kecintaan oleh mayoritas kaum muslimin.
Mengenal Imam Asy-Syinqithi: Sang "Lautan Ilmu" dan Guru Para Ulama
Profil Singkat
Imam Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Al-Jukani Al-Syinqithi lahir pada tahun 1325 H (sekitar 1907 M) di wilayah Syinqith (sekarang Mauritania). Beliau dikenal dengan julukan Al-Allamah (ulama yang sangat luas ilmunya) serta dijuluki sebagai "Lautan Ilmu" karena kecerdasan yang luar biasa dan kekuatannya dalam menghafal Al-Qur'an serta hadis sejak usia muda. Beliau wafat pada tahun 1393 H (1973 M) di Makkah Al-Mukarramah dan dimakamkan di pemakaman bersejarah Al-Ma'la.
Karya Monumental
Karya-karya ilmiah yang menjadi rujukan utama para penuntut ilmu hingga hari ini, di antaranya:
• Adhwa' al-Bayan fi Idhah al-Qur'an bil Qur'an: Kitab tafsir yang luar biasa, di mana beliau menafsirkan ayat Al-Qur'an dengan ayat Al-Qur'an lainnya, dipadu dengan pembahasan fikih dan ushul fikih yang mendalam.
• Daf'u Iham al-Idhtirab 'an Ayat al-Kitab: Kitab yang mengupas cara mengkompromikan ayat-ayat Al-Qur'an yang sepintas tampak saling bertentangan.
• Muzakkirah Ushul al-Fiqh dan Manhaj al-Dirasat al-Lughawiyyah.
Gaya Hidup dan Kepribadian
Selain dikenal sebagai ulama yang sangat alim, Imam Asy-Syinqithi adalah figur yang sangat zuhud dan wara' (memiliki kehati-hatian tinggi terhadap hal syubhat). Beliau tidak silau dengan dunia; gaji besar yang diterimanya dari pemerintah selalu habis dibagikannya kepada fakir miskin dan para penuntut ilmu sebelum sempat ia simpan. Dalam kesehariannya, beliau juga sangat tegas di atas kebenaran sunnah, tidak takut celaan orang lain, namun tetap berakhlak mulia dan bertawadu' (rendah hati).
Hubungan Intelektual dan Murid-Muridnya
Sebagai guru besar di Masjidil Haram dan Universitas Islam Madinah, majelis ilmu Imam Asy-Syinqithi melahirkan banyak tokoh sentral dan ulama besar dunia Islam. Di antara para murid terkemuka beliau adalah:
• Syaikh Abdul Aziz bin Baz: Pernah menjadi Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi.
• Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: Ulama besar mazhab Hanbali dan pakar ushul fikih asal Qassim.
• Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i: Pendiri pusat dakwah dan Ma'had Darul Hadits di Dammaj, Yaman, yang sangat masif pengaruhnya dalam menghidupkan kembali pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah di Yaman.
• Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali
• Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi: Penulis kitab tafsir Aisarut Tafaasir dan pengajar senior di Masjidil Haram.
Melalui ketulusan dakwah, kedalaman ilmu, serta deretan murid-muridnya yang berkaliber dunia, Imam Asy-Syinqithi meninggalkan warisan intelektual yang terus menerangi estafet keilmuan Islam hingga masa kini.
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Mengenal Imam Asy-Syinqithi: Sang "Lautan Ilmu" dan Guru Para Ulama
Imam Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Al-Jukani Al-Syinqithi lahir pada tahun 1325 H (sekitar 1907 M) di wilayah Syinqith (sekarang Mauritania). Beliau dikenal dengan julukan Al-Allamah (ulama yang sangat luas ilmunya) serta dijuluki sebagai "Lautan Ilmu" karena kecerdasan yang luar biasa dan kekuatannya dalam menghafal Al-Qur'an serta hadits sejak usia muda. Beliau wafat pada tahun 1393 H (1973 M) di Makkah Al-Mukarramah dan dimakamkan di pemakaman bersejarah Al-Ma'la.
Karya Monumental
Karya-karya ilmiah yang menjadi rujukan utama para penuntut ilmu hingga hari ini, di antaranya:
• Adhwa' al-Bayan fi Idhah al-Qur'an bil Qur'an:
• Daf'u Iham al-Idhtirab 'an Ayat al-Kitab
• Muzakkirah Ushul al-Fiqh dan Manhaj al-Dirasat al-Lughawiyyah.
Gaya Hidup dan Kepribadian
Selain dikenal sebagai ulama yang sangat alim, Imam Asy-Syinqithi adalah figur yang sangat zuhud dan wara' (memiliki kehati-hatian tinggi terhadap hal syubhat). Beliau tidak silau dengan dunia; gaji besar yang diterimanya dari pemerintah selalu habis dibagikannya kepada fakir miskin dan para penuntut ilmu sebelum sempat ia simpan. Dalam kesehariannya, beliau juga sangat tegas di atas kebenaran sunnah, tidak takut celaan orang lain, namun tetap berakhlak mulia dan bertawadu' (rendah hati).
Hubungan Intelektual dan Murid-Muridnya
Sebagai guru besar di Masjidil Haram dan Universitas Islam Madinah, majelis ilmu Imam Asy-Syinqithi melahirkan banyak tokoh sentral dan ulama besar dunia Islam. Di antara para murid terkemuka beliau adalah:
• Syaikh Abdul Aziz bin Baz: Pernah menjadi Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi.
• Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: Ulama besar mazhab Hanbali dan pakar ushul fikih asal Qassim.
• Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i: Ulama besar pendiri Darul Hadits di Dammaj, Yaman.
• Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali
• Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi: Penulis kitab tafsir Aisarut Tafaasir dan pengajar senior di Masjidil Haram.
Melalui ketulusan dakwah, kedalaman ilmu, serta deretan murid-muridnya yang berkaliber dunia, Imam Asy-Syinqithi meninggalkan warisan intelektual yang terus menerangi estafet keilmuan Islam hingga masa kini.
Penyusun: Hazim Al-Jawiy





