Jumat, 21 Maret 2025

Di Antara Doa Yang Diajarkan Rasulullah ﷺ Pada Saat Lailatul Qadr


 


Di Antara Doa Yang Diajarkan Rasulullah ﷺ Pada Saat Lailatul Qadr


سألَتْهُ صلى اللهُ عليهِ وسلَّمَ عائشةُ رضي الله عنها إنْ وافقتُها فبِمَ أدعو ؟ قال قولي اللهمَّ إنك عفوٌ تحبُّ العفوَ فاعفُ عني
الراوي : عائشة أم المؤمنين | المحدث : ابن القيم | المصدر : أعلام الموقعين | الصفحة أو الرقم: 4/249 | خلاصة حكم المحدث : صحيح
التخريج : أخرجه الترمذي (3513)، وابن ماجة (3850)، وأحمد (25384) باختلاف يسير.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِن عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العفْوَ فاعْفُ عنِّي رواهُ التِرْمذيُّ وقال: حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.

🔸 Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah ﷺ, yaitu jika saja aku tahu bahwa suatu malam adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul ﷺ, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ’ANNII (artinya: Ya الله, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf (menghapus kesalahan), karenanya maafkanlah aku (hapuslah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513. Hadits ini hasan shahih.)

Minggu, 16 Maret 2025

Tidak Cukup Sekedar Nisbat/Mengklaim.. Bagaimana Tolok Ukurnya?

 



Tidak Cukup Sekedar Nisbat/Mengklaim..
Bagaimana Tolok Ukurnya?



🔸 Jika nisbat kepada Asy'ariyyah, maka tidak boleh menyelisihi Ushul dan ijma' Asy'ariyyun. Sehingga jika memang menyelisihi ijma'/kosensus Asy'ariyyun maka bukan Asy'ariyyah.

🔸 Jika nisbat/mengklaim Wahabiyyah, maka tidak boleh menyelisihi Ushul dan ijma' Wahabiyyun.

🔸 Jika nisbat kepada Salafiyyah, maka tidak boleh menyelisihi perkara Ushul dan ijma' Salafiyyun. Sehingga tidak semua Salafiy itu Wahabi, jika memang menyelisihi ijma' Wahabiyyun.

🔸 Jika nisbat kepada Syafi'iyyah, maka tidak boleh menyelisihi perkara Ushul dan ijma' Syafi'iyyun. Adapun jika berbeda dalam perkara furu' maka tidak keluar dari Syafi'iyyah.

🔸 Jika nisbat kepada Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah, maka tidak boleh menyelisihi Ushul As-Sunnah dan ijma' Ahlus-Sunnah. Sedang tolok ukur al-haqq (kebenaran) itu Al-Qur'an dan Hadits Shohih sesuai pemahaman para Salafush Sholih. Kemudian Al-Ijma' di sisi Ahlus-Sunnah termasuk hujjah.


والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Jumat, 14 Maret 2025

Pada Ramadhan 1446 H Insya Allah Terjadi 2 Gerhana Yaitu Gerhana Bulan Dan Gerhana Matahari di Akhir Bulan

 Pada Ramadhan 1446 H Insya Allah Terjadi 2 Gerhana Yaitu Gerhana Bulan Dan Gerhana Matahari di Akhir Bulan





Mengeluarkan Zakat Fithri Berupa Beras

 




 
Mengeluarkan Zakat Fithri Berupa Beras

https://teguhakhirblora.blogspot.com/2025/03/mengeluarkan-zakat-fithri-berupa-beras.html?m=1


إخراج زكاة الفطر من الأرز
منذ 2006-12-01

السؤال: يقول بعض العلماء: إنه لا يجوز أداء زكاة الفطر من الرز مادامت الأصناف المنصوص عليها موجودة فما رأي فضيلتكم؟

الإجابة: قال بعض العلماء إنه إذا كانت الأصناف الخمسة وهي البر، والتمر، والشعير، والزبيب، والأقط إذا كانت هذه موجودة فإن زكاة الفطر لا تجزىء من غيرها، وهذا القول مخالف تماماً لقول من قال: إنه يجوز إخراج زكاة الفطر من هذه الأصناف وغيرها حتى من الدراهم فهما طرفان. والصحيح أنه يجزئ إخراجها من طعام الآدميين من هذه الأصناف وغيرها، وذلك لأن أبا سعيد الخدري رضي الله عنه كما ثبت عنه في صحيح البخاري يقول: "كنا نخرجها على عهد النبي صلى الله عليه وسلم صاعاً من طعام وكان طعامنا التمر، والشعير، والزبيب، والأقط"، ولم يذكر البر أيضاً ولا أعلم أن البر ذُكر في زكاة الفطر في حديث صحيح صريح، لكن لا شك أن البر يجزئ، ثم حديث ابن عباس رضي الله عنهما قال: "فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث، وطعمة للمساكين". فالصحيح أن طعام الآدميين يجزئ إخراج الفطرة منه وإن لم يكن من الأصناف الخمسة التي نص عليها الفقهاء؛ لأن هذه الأصناف ـ كما سبقت الإشارة إليه ـ كانت أربعةً منها طعام الناس في عهد النبي صلى الله عليه وسلم، وعلى هذا فيجوز إخراج زكاة الفطر من الأرز. بل الذي أرى أن الأرز أفضل من غيره في وقتنا الحاضر؛ لأنه أقل مؤنة وأرغب عند الناس، ومع هذا فالأمور تختلف فقد يكون في البادية طائفة التمر أحب إليهم فيخرج الإنسان من التمر، وفي مكان آخر الزبيب أحب إليهم فيخرج الإنسان من الزبيب، وكذلك الأقط وغيره، فالأفضل في كل قوم ما هو أنفع لهم، والله الموفق.
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
مجموع فتاوى و رسائل الشيخ محمد صالح العثيمين المجلد الثامن عشر - كتاب زكاة الفطر

رابط المادة: http://iswy.co/e3m49

Mengeluarkan Zakat Fithri Berupa Beras

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian ulama mengatakan bahwa tidak boleh membayarkan zakat fithri berupa beras selagi macam barang yang ditetapkan syari’at masih ada, bagaimana pendapat anda.?

Jawaban.
Beberapa ulama mengatakan bahwa jika lima macam barang yakni gandum, kurma, tepung syair, kismis, dan keju masih ada maka zakat fithri tidak boleh diwujudkan dengan yang lainnya, pendapat ini bertentangan mutlak dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya boleh saja mengeluarkan zakat fithri berbentuk lima macam ini dan sejenisnya, bahkan sampai berbentuk dirham sekalipun, sehingga kedua pendapat ini saling bertentangan.

Yang benar adalah bahwa diperbolehkan mengeluarkannya dalam bentuk makanan yang biasa dimakan manusia, itu karena Abu Sa’id Al-Khudriy Radhiyallahu ‘anhu seperti yang dituliskan dalam shahih Al-Bukhari, berkata :

كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ  – وَفِي رِوَايَةٍ –  أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ

“Kami mengeluarkan (zakat fithri) pada masa Nabi satu sha’ dari makanan, makanan kami adalah kurma, tepung syair, kismis dan keju”

Dia (Abu Said) tidak menyebutkan gandum juga, saya tidak pernah tahu bahwa gandum disebutkan dalam zakat Fithri pada hadits yang shahih secara jelas, akan tetapi tak ragu lagi bahwa gandum boleh digunakan untuknya, selanjutnya hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata.

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah menetapkan kewajiban zakat fithri sebagai pembersih orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan perkataan kotor serta sebagai makanan untuk orang-orang miskin”

Sehingga yang benar adalah bahwa makanan yang biasa dimakan manusia boleh digunakan dalam mengeluarkan zakat fithri, meski tidak termasuk lima macam yang ditetapkan oleh para ahli fikih, karena macam makanan ini -seperti yang telah lewat dalilnya- empat diantaranya merupakan makanan manusia pada masa Nabi , atas dasar ini menjadi bolehlah mengeluarkan zakat fithri berupa beras. Justru saya berpendapat beras lebih utama daripada yang lain pada masa kita sekarang ini ; karena paling sedikit kesulitannya dan paling diharap oleh manusia.

Bersama kenyataan ini menjadi jelaslah bahwa perkara memang berbeda-beda, sungguh ada disuatu lembah suatu kelompok yang kurma lebih mereka sukai maka para manusia mengeluarkan zakat fithri berupa kurma, di tempat yang lain kismis lebih mereka sukai sehingga manusia mengeluarkan zakat fithri berbentuk kismis, demikian juga dengan keju dan selainnya, yang paling utama untuk setiap kaum adalah yang bermanfaat bagi mereka. Wa Allahul Muwafiq.


Kamis, 13 Maret 2025

Bukti Empiris Ayyamul Bidh Bulan Ramadhan 1446 H

Bukti Empiris Ayyamul Bidh Bulan Ramadhan 1446 H






Nasihat Al-Hasan Al-Bashri Untuk Para Imam Sholat Tarawih Di Bulan Ramadhan


 

Nasihat Al-Hasan Al-Bashri Untuk Para Imam Sholat Tarawih Di Bulan Ramadhan


٧٦٧٩ - حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ زَائِدٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: «مَنْ أَمَّ النَّاسَ فِي رَمَضَانَ فَلْيَأْخُذْ بِهِمُ الْيُسْرَ، فَإِنْ كَانَ بَطِيءَ الْقِرَاءَةِ فَلْيَخْتِمِ الْقُرْآنَ خَتْمَةً، وَإِنْ كَانَ قِرَاءَتُهُ بَيْنَ ذَلِكَ فَخَتْمَةٌ وَنِصْفٌ، فَإِنْ كَانَ سَرِيعَ الْقِرَاءَةِ فَمَرَّتَيْنِ»
كتاب المصنف - ابن أبي شيبة - ت الحوت ج ٢ ص ١٦٣

🔸 Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri -rahimahullah- mengatakan :
"Siapa yang mengimami manusia pada bulan Ramadhan, hendaklah ia mengambil yang termudah bagi mereka,
Apabila bacaannya lambat, hendaklah ia mengkhatamkan Al-Qur'an satu kali,
Apabila bacaannya sedang, maka hendaklah mengkhatamkan satu setengah Al-Qur'an,
Adapun apabila bacaannya cepat, maka hendaklah dua kali khatam Al-Qur'an. "
📚  lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (1677)


🔸 Catatan :
(1) Perhatikanlah semoga Allah Ta'ala merahmati kalian .. kembali kepada yang paling mudah, hendaklah ia mengkhatamkan Al-Qur'an paling sedikitnya 1 kali - 2 kali pada bulan Ramadhan.
(2) Sholat tarawih itu idealnya tiap rakaat membaca seperdelapan s.d seperempat juz kecuali jika memang para jama'ahnya mampu lebih dari itu.

Sabtu, 08 Maret 2025

Hendaknya Engkau Membaca Al-Qur'an Dari Mushaf Daripada Membaca Dari HP



Hendaknya Engkau Membaca Al-Qur'an Dari Mushaf Daripada Membaca Dari HP


قال النبي ﷺَ : من سره أن يحب الله و رسوله فليقرأ في (المصحف). حسنه الألباني في كتاب سلسلة الأحاديث الصحيحة (٢٣٤٢)

🔸 Nabi ﷺَ bersabda : "Siapa saja yang suka agar Allah dan Rasul-Nya mencintai dirinya, maka hendaklah ia membaca Al-Qur’an dari Mushaf."  (Dihasankan Al-Albani di dalam Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah no. 2342)

وعن عبد الله بن مسعود - رضي الله عنه - قال: "أديموا النظر في المصاحف". أخرجه ابن أبي شيبة في "المصنف" (2/ 499)،

🔸 Abdullah bin Mas’ud berkata, “Teruslah kalian untuk selalu melihat mushaf-mushaf!”

وعن عبد الله قال: "تعاهدوا هذه المصاحف -وربما قال: القرآن- فلهو أشد تفصيًا من صدور الرجال من النَّعَم من عُقُلِه". صحيح. أخرجه أحمد (1/ 381).

🔸 Dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, “Jagalah baik-baik mushaf-mushaf ini. Bisa jadi dia berkata: Al-Qur’an. Karena sesungguhnya ia (Al-Qur'an) lebih mudah hilang dari hati manusia daripada unta yang terikat tali.”

وقال يونس بن عُبيد : “كان خُلق الأوّلين النظر في المصاحف”. أخرجه ابن أبي شيبة في "المصنف" (2/ 499).

🔸 Yunus bin Ubaid berkata, “Kebiasaan orang-orang terdahulu adalah selalu melihat mushaf-mushaf.”



Lebih Baik Meninggalkan Membaca Al-Qur'an dari HP/Semisal Ketika Ada Mushaf Karena Beberapa Alasan


1. Lebih mencocoki perintah Nabi ﷺ dan amalan para Salafush Sholih.

2. Mushaf memiliki kehormatan, dan apa yang memiliki kehormatan adalah lebih baik. Oleh karena itu, seseorang bisa membawa hp ke wc, tetapi tidak boleh membawa mushaf.

3. Mushaf adalah ushul (pokok), sedangkan hp adalah furu' (cabang). Menurut kesepakatan ulama tidak boleh beralih ke cabang ketika ada pokok.

4. Mushaf harus dihormati, dan oleh karena itu, ia memiliki keberkahan dan kebaikan karena diantara kedua sampulnya mengandung kalam Allah Ta'ala.

5. Mushaf isinya khusus untuk salinan Al-Qur'an, sedangkan hp terdapat salinan Al-Qur'an dan juga hal-hal lain.

6. Membaca Al-Qur'an dari mushaf adalah salah satu syiar Islam yang harus disebarluaskan dan dipertahankan agar tetap nampak dan menjadi seperti syiar-syiar lainnya. Ketika seseorang mengambil mushaf, kemungkinan besar ia akan membaca Al-Qur'an, sedangkan ketika seseorang mengambil hp, tidak bisa dipastikan bahwa ia akan membaca Al-Qur'an.

7. Orang-orang yang membaca Al-Qur'an dari ponsel dia tidak bisa menjamin dirinya aman dari meninggalkan membaca Al-Qur'an dan akhirnya masuk ke situs-situs atau hal-hal yg tidak pantas.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين

Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat

  Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat Shalat merupakan tiang agama yang memiliki dimensi spiritual, mental, hingga fisik. Berikut adalah penj...