Sabtu, 23 Agustus 2025

Tafsir "Kursi Allah" Yang Shahih Riwayat Ibnu 'Abbas Radhiyaallahu 'anhuma




Tafsir "Kursi Allah" Yang Shahih Riwayat Ibnu 'Abbas Radhiyaallahu 'anhuma


.... وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ۝٢٥٥ ( البقرة : ٢٥٥ )

".... Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar." (QS. Al-Baqarah : 255)

عن ابن عباس رضي الله عنهما موقوفًا عليه: «الكُرسِيُّ مَوْضِع القَدَمَين، والعَرْش لا يَقْدِرُ أحدٌ قَدْرَه». (صحيح موقوفًا على ابن عباس -رضي الله عنهما - رواه عبد الله بن أحمد في السنة، وابن خزيمة في التوحيد)

🔸 Dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhuma secara mauqūf sampai di dia, "Al-Kursi adalah maudhi'ul-Qadamain (footstool = pijakan kedua kaki yang berada di depan Arsy) dan Al-'Arsy tidak ada seorang pun yang mampu mengukurnya." (Hadits Shahih - Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam kitab As-Sunnah dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauḥīd)

وفي لسان العرب (6/ 194): قال أبو منصور: الصحيح عن ابن عباس في الكرسي ما رواه عمار الذهبي [كذا! والصواب: الدهني] عن مسلم البطين عن سعيد بن جبير عن ابن عباس أنه قال الكرسي موضع القدمين، وأما العرش فإنه لا يقدر قدره. قال: وهذه رواية اتفق أهل العلم على صحتها. قال: ومن روى عنه في الكرسي أنه العلم فقد أبطل.

🔸 Dalam Lisanul-Arab (6/194): Abu Manshur berkata: Yang benar menurut Ibnu Abbas tentang Arsy adalah apa yang diriwayatkan Ammar al-Dzahabi (yang benar Ad-Dahni) dari Muslim al-Bathin dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa ia mengatakan, "Al-Kursi adalah maudhi'ul-Qadamain (footstool = pijakan kedua kaki Allah), dan tentang Al-Arsy tidak bisa diperkirakan ukurannya." Ia berkata: Riwayat ini disepakati ahli ilmu (para ulama) tentang keshahihannya. Ia berkata: Dan barangsiapa yang meriwayatkan bahwa Al-Kursi adalah ilmu, maka telah melakukan kebatilan.

🔸 Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya juga menyebutkan bahwa Al-Kursi adalah maudhi'ul-Qadamain (footstool = pijakan kedua kaki Allah) sebagaimana dalam beberapa riwayat berikut :

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: وَرُوِيَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ مِثْلُهُ. ثُمَّ قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: وَقَالَ آخَرُونَ: الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ ثُمَّ رَوَاهُ عَنْ أَبِي مُوسَى وَالسُّدِّيِّ وَالضَّحَّاكِ وَمُسْلِمٍ الْبَطِينِ.
وَقَالَ شُجَاعُ بْنُ مَخْلَدٍ فِي تَفْسِيرِهِ: أَخْبَرَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْني عَنْ مُسْلِمٍ الْبَطِينِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ: ﴿وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ﴾ قَالَ: "كُرْسِيُّهُ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ وَالْعَرْشُ لَا يُقَدِّرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ".
كَذَا أَوْرَدَ هَذَا الْحَدِيثَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرِ بْنُ مَرْدَوَيْهِ مِنْ طَرِيقِ شُجَاعِ بْنِ مَخْلَدٍ الْفَلَّاسِ، فَذَكَرَهُ(٨٠) وَهُوَ غَلَطٌ وَقَدْ رَوَاهُ وَكِيع فِي تَفْسِيرِهِ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِي(٨١) عَنْ مُسْلِمٍ الْبَطِينِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ وَالْعَرْشُ لَا يُقَدِّرُ أَحَدٌ قَدْرَهُ. وَقَدْ رَوَاهُ الْحَاكِمُ فِي مُسْتَدْرَكِهِ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ الْمَحْبُوبِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِي عَاصِمٍ عَنْ سُفْيَانَ -وَهُوَ الثَّوْرِيُّ-بِإِسْنَادِهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مَوْقُوفًا مِثْلَهُ وَقَالَ: صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ(٨٢) وَقَدْ رَوَاهُ ابْنُ مَرْدَوَيْهِ مِنْ طَرِيقِ الْحَاكِمِ بْنِ ظُهَيْر الْفَزَارِيِّ الْكُوفِيِّ -وَهُوَ مَتْرُوكٌ-عَنِ السُّدِّيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوعًا وَلَا يَصِحُّ أَيْضًا.

🔸 Imam Al-Albani rahimahullah sebagaimana dalam “Ash-Shahihah” (1/226) berkata :

وما روي عن ابن عباس أنه العلم، فلا يصح إسناده إليه لأنه من رواية جعفر بن أبي المغيرة عن سعيد بن جبير عنه. رواه ابن جرير. قال ابن منده: ابن أبي المغيرة ليس بالقوي في ابن جبير.

“apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Kursiy adalah ilmu, tidak shahih sanadnya, karena itu berasal dari riwayat Ja’far bin Abil Mughiiroh dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Ibnu Jariir. Imam Ibnu Mandah berkata : “ibnu Abil Mughiiroh, tidaklah kuat didalam riwayat Ibnu Jubair”.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.



 

Kamis, 21 Agustus 2025

Ringkasan Perbedaan Konsep Takfir Menurut Beragam Millah dan Madzhab



Ringkasan Perbedaan Konsep Takfir Menurut Beragam Millah dan Madzhab


     Berikut ini ringkasan perbedaan konsep takfir menurut beragam millah & madzhab sebatas apa yang kami ketahui :
1️⃣ Millah dan madzhab Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah : mengkafirkan pelaku syirik akbar secara umum. Untuk takfir mu'ayyan, maka mengkafirkan pelaku syirik akbar yang enggan taubat setelah iqomatul hujjah.
2️⃣ Wahhabi : cenderung mengkafirkan setiap pelaku syirik akbar tanpa ada udzur bil-jahl dan sebagian lagi berpendapat perlu iqomatul hujjah.
3️⃣ Salafi : mengkafirkan pelaku syirik akbar. Sebagian berpegang boleh takfir mu'ayyan walau tanpa iqomatul hujjah dan sebagian berpendapat adanya udzur bil-jahl.
4️⃣ Asy'ariyyah : cenderung hanya mengkafirkan pelaku syirik akbar bagi yang enggan taubat setelah iqomatul hujjah.
5️⃣ Sururiyyah : memiliki kecenderungan mengkafirkan orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka atau yang dianggap sebagai musuh Islam. Paham takfiri ini banyak diadopsi para teroris.
6️⃣ Khawarij : mengkafirkan pelaku dosa besar.
7️⃣ Murji'ah : tidak mengkafirkan pelaku syirik akbar, karena iman adalah masalah hati dan tidak dapat dinilai dari luar.
8️⃣ Jahmiyyah : tidak mengkafirkan seseorang karena perbuatan atau perkataan mereka, karena iman adalah masalah hati dan tidak dapat dinilai dari luar. Ada kesamaan dengan Murji'ah. Tetapi Jahmiyyah punya pandangan yang lebih radikal dalam beberapa hal yang tidak dimiliki Murji'ah.
9️⃣ Mu'tazilah : menghukumi pelaku dosa besar sebagai fasiq, tetapi tidak secara langsung mengkafirkan.
🔟 Syi'ah : umumnya mencela dan mengkafirkan sebagian para Shahabat Nabi ataupun orang-orang yang mereka anggap tidak loyal terhadap ahlul bait dan imam Syi'ah. Walau ada sebagian sikte Syi'ah punya pandangan yang berbeda.

Minggu, 17 Agustus 2025

Hakikat Kemerdekaan Terlepas Dari Penghambaan Kepada Makhluq & Hawa Nafsu


Hakikat Kemerdekaan Terlepas Dari Penghambaan Kepada Makhluq & Hawa Nafsu



لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَاۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ۝٢٥٦ ( البقرة : ٢٥٦ )
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ۝٣٦ ( النّحل : ٣٦ ) 


🔸 Hakikat suatu kemerdekaan menurut Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah yaitu terbebas dari segala bentuk kesyirikan (penghambaan selain Alah), dari perbudakan hawa nafsu dan segala bentuk fitnah dunia. Ini berarti kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga dari perbudakan keinginan duniawi dan hawa nafsu.

🔸 Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rohimahullah dalam Nuniyyah-nya mengatakan :

هَربوا من الرق الذي خُلقوا له ♡ فبُلُوا برِقِّ النفس والشيطان

“Mereka lari dari penghambaan (kepada Allah) yang mereka diciptakan untuknya.. akhirnya mereka dihukum dengan penghambaan kepada hawa nafsu dan syaithan..”

🔸Syaiikh Al-‘Utsaimin rohimahullah mengatakan :

العبودية لله هي حقيقة الحرية، فمن لم يتعبد له، كان عابدا لغيره.

“Menjadi hamba Allah, itulah kemerdekaan yang hakiki, karena siapapun yang tidak menghamba kepada Allah, dia pasti menghamba kepada yang selain-Nya..” (Syarah Akidah Wasithiyyah, 365)
Jika kita menghamba hanya kepada Allah, maka kita akan bebas dan merdeka dari penghambaan kepada semua makhluk-Nya .. dan itulah kemerdekaan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia.


Jumat, 15 Agustus 2025

Menukil Pendapat Seorang 'Alim ( Imam ), Maka Bukan Berarti Mengikuti Madzhabnya


 

Menukil Pendapat Seorang 'Alim ( Imam ), Maka Bukan Berarti Mengikuti Madzhabnya


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ۝٥٩ ( النِّسَاء : ٥٩ )

🔸 Ketika kita menukil pendapat imam Abu Hanifah, kalam imam Malik, imam Asy-Syafi'i ataupun kalam imam Ahmad maka itu bukan berarti kita mengikuti madzhabnya ataupun kemudian kita dihukumi pindah-pindah madzhab. Demikian juga ketika kita menukil pendapat Al-Hasan Al-Bashri, pendapat imam Al-Auza'i, Sufyan Ats-Tsauri dan para imam lainnya. Ataupun kita menukil pendapat madzhab Azh-Zhohiri, menukil kalam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ataupun kalam syaikh Muhammad bin Abdul-Wahhab maka itu bukan berarti bisa dihukumi mengikuti madzhabnya..

🔸 Madzhab kami bukan Hanafi .. bukan Maliki.. bukan Syafi'i dan bukan Hanbali. Kami bukan pula mengikuti madzhab Zhohiri, madzhab Wahhabi, madzhab Salafi (Al-Albani) ataupun madzhab semisal lainnya.

🔸 Ketahuillah.. millah dan madzhab yang kami ikuti yaitu "Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah" sebagaimana para Salafush-Sholih. Sehingga wajar jika kami biasa menukil pendapat atau kalam para aimah (imam) Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah dan berupaya mengikuti pendapat yang lebih kuat hujjah/dalilnya. Demikian juga wajar jika kita berupaya membela para aimah dari para pencelanya, sekalipun kita tidak mengikuti madzhabnya.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Sabtu, 09 Agustus 2025

Jangan Sampai Keliru Penggunaan dan Penyebutaan Karena Hakikatnya Berbeda


 

Jangan Sampai Keliru Penggunaan dan Penyebutaan Karena Hakikatnya Berbeda


🔸 Millah/Madzhab Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah

🔸 As-Salaf (Salafush-Sholih) dan Manhaj As-Salaf (Salafush-Sholih)

🔸 Madzhab Asy-Syafi'i dan Syafi'iyyah

🔸 Madzhab Hanbali

🔸 Madzhab Wahhabi

🔸 Madzhab Salafi

🔸 Jam'iyyah Salafiyyah

🔸 Madzhab Sururiy dan Jam'iyyah Sururiyyah

🔸 Madzhab/Sikte Haddadiyyah

🔸 Madzhab/Sikte Asy'ariyyah

🔸 Jam'iyyah Asy'ariyyah - Jam'iyyah Aswaja

🔸 Madzhab Ahlul-Bid'ah Wal-Furqoh atau Sikte Ahlul Bid'ah Wal-Jam'iyyah

🔸 Madzhab/sikte Khawarij

Ada Banyak Madzhab dalam Islam, Tapi Yang Paling Masyhur Ada 4 Madzhab


 


Ada Banyak Madzhab dalam Islam, Tapi Yang Paling Masyhur Ada 4 Madzhab


🔸 Dalam Islam sebenarnya terdapat banyak madzhab besar. Namun, yang populer ada 4 madzhab yaitu Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. Kalau kita menengok ke belakang, tercatat setidaknya ada 13 Madzhab yaitu :
1. Al-Hasan Al-Bashri 21 – 110 Kufah
2. Abu Hanifah 80 – 150 Kufah
3. Al-Auza'i ... – 157 Syam
4. Sufyan Ats-Tsauri 97 - 161 Kufah
5. Al-Laits bin Sa'ad 94 - 175 Mesir
6. Malik bin Anas 93 - 197 Madinah
7. Sufyan bin Uyainah 107 - 198 Makkah
8. Asy-Syafi'i 150 - 204 Baghdad - Mesir
9. Ishaq bin Rahawaih 161 - 238 Naisabur
10. Ahmad bin Hanbal 164 - 241 Baghdad
11. Abu Tsaur... - 246 Baghdad
12. Daud Azh-Zhahiri 255- 297 Baghdad
13. Ibnu Jarir Ath-Thabari 224 - 310 Baghdad

🔸 Madzhab-madzhab tersebut bukan sengaja didirikan. Tapi terbentuk dan berkembang dengan sendirinya karena banyaknya murid dan orang-orang yang mengikutinya. Tidak sebagaimana jam'iyyah yang umumnya sengaja didirikan, punya pemimpin (ketua) dan struktur organisasi.

🔸 Wahhabi dan Salafiyyah itu hakikatnya sebuah madzhab baru yang terbentuk dengan sendirinya karena banyaknya murid atau orang-orang yang mengikutinya. Kemudian banyak jam'iyyah dan muassasah yang mengklaim mengikuti madzhab Salaf sebagaimana banyak jam'iyyah ahlul bid'ah yang mengklaim mengikuti madzhab Syafi'i. Tapi umumnya jam'iyyah-jam'iyyah tersebut mencocoki hanya dalam perkara fiqh.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.


[v] 

Rabu, 06 Agustus 2025

Nama Lain Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah ( أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ )


 

Nama Lain Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah
( أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ )

1️⃣ Al-Jama'ah. Istilah ini diambil dari sabda Rasulullah ﷺ

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab terpecah menjadi 72 millah dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 firqah, yang 72 akan masuk Neraka dan yang 1 firqah akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud)
2️⃣ Ath-Thoifah Al-Manshuroh. Istilah ini di ambil dari sabda Nabi ﷺ,

لا تَزالُ طائفةٌ من أُمَّتي مَنْصُورِينَ ، لا يَضُرُّهم خُذْلانُ مَن خذلهم ، حتى تقومَ الساعةُ ( أخرجه الترمذي (2192)، وابن ماجه (6) باختلاف يسير، وأحمد (15596) بنحوه مطولاً، وابن حبان (61) واللفظ له)

3️⃣ Al-Firqatun An-Najiyah. Istilah ini diambil dari hadits :

فقد ثبت في الحديث الصحيح أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة" قيل: من هي يا رسول الله؟ قال: من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي. وفي بعض الروايات: هي الجماعة. رواه أبو داود، والترمذي، وابن ماجه، والحاكم

4️⃣ Al-Ghuroba'. Istilah ini diambil dari sabda Nabi ﷺ,

بَدَأَ الإسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كما بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.

“Islam bermula dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali menjadi asing lagi sebagaimana permulaannya, maka beruntunglah bagi al-ghuroba'..” (HR. Muslim, 145)
5️⃣ Ahlul-Hadits/Ashhabul-Hadits dan Ahlul-Atsar

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...