Jumat, 12 September 2025

Darah Hukum Asalnya Haram Sekalipun Untuk Berobat Kecuali Darurat


 

Darah Hukum Asalnya Haram Sekalipun Untuk Berobat Kecuali Darurat



حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣

"Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasiq. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Maidah : 3)

✍🏼 Berdasarkan ayat tersebut maka darah hukum asalnya haram. Termasuk diperjualbelikan, dimasak/dimakan, diminum, dihisap dalam keadaan hidup, dishodaqohkan, ditransfusikan/donor ataupun untuk obat. Apalagi jika tiada nukilan Salafush-Sholih berobat menggunakan darah. Kecuali darurat/terpaksa dan bukan karena ingin berbuat dosa (tidak ada cara lain untuk menyelamatkan jiwa serta harapan untuk selamat lebih besar), maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين


Rabu, 10 September 2025

Jangan Mengganti Perintah Dengan Mengerjakan Yang Tidak Diperintahkan


 


Jangan Mengganti Perintah Dengan Mengerjakan Yang Tidak Diperintahkan


Orang-orang Yang Zholim Mengganti Perintah Allah Dengan Mengerjakan Sesuatu Yang Tidak Diperintahkan Allah, Sebagaimana Perbuatan Orang-orang Yang Zholim Dari Bani Israil..


فَبَدَّلَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِيْ قِيْلَ لَهُمْ فَاَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رِجْزًا مِّنَ السَّمَاۤءِ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ ۝٥٩

"Lalu orang-orang yang zhalim mengganti perintah dengan (perintah lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka Kami turunkan malapetaka dari langit kepada orang-orang yang zhalim itu, karena mereka (selalu) berbuat fasiq." (QS. Al-Baqarah : 59)




Orang-orang yang Zholim dari Ahlul-Ahwa' Gemar Menyelisihi Perintah dan Mengerjakan Sesuatu Yang Tidak Diperintahkan Syari'at..


1. Diperintahkan mentauhidkan Allah.. kemudian malah berbuat syirik dengan menyembah thoghut, menyembah 'alim  ataupun menyembah hawa nafsu.

2. Diperintahkan bersatu di atas Al-Jama'ah dan tidak berpecah belah..kemudian malah berpecah belah dan mendirikan jam'iyyah ataupun muassasah.

3. Diperintahkan mengerjakan sholat Jum'at dan sholat 'Id ma'al umaro' (para 'amir yang sah).. kemudian malah mengadakan sendiri-sendiri bersama hizb-nya.

4. Diperintahkan berpegang teguh dengan Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafa'ur Rosyidin.. kemudian malah mengerjakan beragam bid'ah.

5. Diperintahkan memelihara lihyah (jenggot).. kemudian malah mencukur jenggot.

6. Diperintahkan ikhlash dalam ibadah ataupun berupaya menyembunyikan amal sholih.. kemudian malah gemar berbuat riya' dan sum'ah lewat media sosial ataupun pengeras suara.

7. Diperintahkan menunaikan amanah dan menyerahkan anak kepada yang berhak menjadi hadhinah.. kemudian malah khianat dan menitipkan anak kecil kepada orang yang tidak berhak menjadi hadhinah yang sah.

8. Diperintahkan menghilangkan atau merusak "Ash-Shuwar".. kemudian malah membuat Ash-Shuwar makhluq bernyawa lengkap dengan kepala (semisal foto dan video).

9. Diperintahkan berpuasa Senin hari kelahiran Nabi.. kemudian malah mengadakan ihtifal maulid Nabi.

10. Diperintahkan menjaga 'iffah.. kemudian malah gemar melakukan tasawwul dengan minta-minta, mengajukan proposal dana, penggalangan dana untuk hizb dsb.

11. Diperintahkan membuatkan makanan untuk keluarga mayit.. kemudian malah melakukan niyahah dengan ma'tam.

12. Diperintahkan memperbanyak membaca dzikir dan tahlil.. kemudian malah mengerjakan ritual tahlilan kematian yang tidak diperintahkan..

13. Diperintahkan memperbanyak membaca shalawat Nabi.. kemudian malah mengarang dan menyanyikan sholawat yang tidak diajarkan Nabi dan para Shahabat.

14. Diperintahkan jujur dan bersama orang-orang yang benar.. kemudian malah gemar dusta dan bersama orang-orang yang di atas kebatilan.

15. Diperintahkan zuhud dalam perkara dunia.. kemudian malah condong kepada dunia dan berlomba-lomba mendapatkan dunia tanpa peduli menerjang perkara haram.

16. Diperintahkan puasa Sunnah 6 hari bulan Sya'ban.. kemudian malah mengadakan hari raya Al-Abror (hari raya ketupat).

17. Diperintahkan menghadirkan niat di dalam hati.. kemudian malah melafazhkan niat dengan lisan.

Dan seterusnya.. bersambung insya Allah.

Selengkapnya insya Allah bisa dibaca di :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02zz6cJTtVADPKJDe7CgFL9T3zKnEVkk7hZfy1Fqb4cUKvkzwu8oW3q9oHSP3NqZgFl&id=100083041335132&mibextid=Nif5oz

Selasa, 09 September 2025

Pengikut Al-Haq ( Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah ) Itu Sedikit Di Antara Manusia





Pengikut Al-Haq ( Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah ) Itu Sedikit Di Antara Manusia



لَقَدْ جِئْنٰكُمْ بِالْحَقِّ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كٰرِهُوْنَ ۝٧٨

"Sungguh, Kami telah datang membawa al-haqq (kebenaran) kepada kalian tetapi kebanyakan di antara kalian benci pada kebenaran itu." (QS. Az-Zukruf : 78)

وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ ۝١٣

"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba : 13)

عن عبدالله بن عمرو قال: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم  : طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, Beruntunglah al-ghuroba' (orang-orang yang terasing).” “Lalu siapa orang al-ghuroba' wahai Rasulullah”, tanya Shahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi.)

عن الحسن – رحمه الله - قال : ( يا أهل السنة ترفقوا رحمكم الله فإنكم من أقل الناس ) اللالكائي : 1/57/19 .

Dari Al-Hasan rahimahullah beliau berkata:
"Wahai Ahlus-Sunnah hendaklah kalian saling berkasih sayang semoga Allah merahmati kalian, karena sesungguhnya kalian adalah termasuk manusia yang paling sedikit."


Berpeganglah dengan Kebenaran Walau Engkau Seorang Diri

روى الإمام أحمد في مسنده وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة: (عن عبدالله بن عمرو قال: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم «طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ». فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ «نَاسٌ صَالِحُونَ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ»، وفي رواية: (طوبى للغرباءِ قيل: من الغرباءُ؟ قال: ناسٌ صالحون قليلٌ في ناسِ سوءٍ كثيرٍ من يعصيهم أكثرُ ممن يطيعُهم) 

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Rasulullah bersabda, "Berbahagialah bagi al-ghuroba' (orang-orang yang asing), berbahagialah bagi al-ghuroba' berbahagialah bagi al-ghuroba'." Maka dikatakan, "Siapa al-ghuroba', wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang-orang yang shalih yang berada di tengah-tengah banyak orang yang buruk, yang lebih banyak orang yang durhaka kepada Allah daripada yang taat kepada-Nya."
Dalam riwayat lain disebutkan: "Berbahagialah bagi al-ghuroba'". Dikatakan, 'Siapa al-ghuroba'.?' Beliau menjawab, 'Orang-orang shalih yang sedikit jumlahnya di tengah-tengah banyak orang yang buruk, yang lebih banyak orang yang durhaka kepada Allah daripada yang taat kepada-Nya.'"

قال ابن مسعود رضي الله عنه: "الجماعة ما وافق الحق؛ ولو كنت وحدك" (رواه اللالكائي في شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة:1/122- رقم160، وصحح سنده الشيخ الألباني كما في تعليقه على مشكاة المصابيح: 1/61، ورواه الترمذي في سننه:4/467).

Ibnu Mas'ud radhiyaallahu 'anhu berkata, "Al-Jamaah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran, meskipun kamu sendirian." (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Lalakai dalam kitab Syarh Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah (1/122, no. 160), dan sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam ta'liq-nyya terhadap kitab Mishkatul Mashabih (1/61). Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunannya 4/467)

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: " عَلَيْكَ بِطَرِيقِ الْحَقِّ، وَلَا تَسْتَوْحِشْ لِقِلَّةِ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطَرِيقَ الْبَاطِلِ، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ " (مدارج السالكين - ط الكتاب العربي ج ٢ ص ٢٢  - ابن القيم)

Sebagian salaf mengatakan, “Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa” (Madarijus Salikin, 1: 22).

Minggu, 07 September 2025

Ashhaabul-Yamiin Terdiri Dari Segolongan Jama'ah Generasi Awal dan Jama'ah Generasi Akhir





Ashhaabul-Yamiin Terdiri Dari Segolongan Jama'ah Generasi Awal dan Jama'ah Generasi Akhir

ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ ۝٣٩ وَثُلَّةٌ مِّنَ الْاٰخِرِيْنَۗ ۝٤٠ ( الْوَاقِعَةُ : ٣٩-٤٠ )

وَقَوْلُهُ: ﴿ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ﴾ أَيْ: جَمَاعَةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ وَجَمَاعَةٌ مِنَ الْآخَرِينَ.
وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا الْمُنْذِرُ بْنُ شَاذَانَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدِ بْنِ بَشير، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَين، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ -قَالَ: وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَأْخُذُ عَنْ بَعْضٍ-قَالَ: أَكْرَيْنَا ذَاتَ لَيْلَةٍ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ غَدَوْنَا عَلَيْهِ، فَقَالَ: "عُرضت عليَّ الْأَنْبِيَاءُ وَأَتْبَاعُهَا بِأُمَمِهَا، فَيَمُرُّ عَلَيَّ النَّبِيُّ، وَالنَّبِيُّ فِي الْعِصَابَةِ، وَالنَّبِيُّ فِي الثَّلَاثَةِ، وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ -وَتَلَا قَتَادَةُ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ﴾ [هُودٍ: ٧٨]-قَالَ: حَتَّى مرَّ عليَّ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ فِي كَبْكَبَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ". قَالَ: "قلتُ: رَبِّي مَنْ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا أَخُوكَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ وَمَنْ مَعَهُ(٧٣) مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ". قَالَ: "قُلْتُ: رَبِّ فَأَيْنَ أُمَّتِي؟ قَالَ: انْظُرْ عَنْ يَمِينِكَ فِي الظِّرَابِ(٧٤) . قَالَ: "فَإِذَا وُجُوهُ الرِّجَالِ". قَالَ: "قَالَ: أَرَضِيتَ؟ " قَالَ: قُلْتُ: "قَدْ رَضِيتُ، رَبِّ". قَالَ: انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ عَنْ يَسَارِكَ فَإِذَا وُجُوهُ الرِّجَالِ. قَالَ: أَرَضِيتَ؟ قُلْتُ: "رَضِيتُ، رَبِّ". قَالَ: فَإِنَّ مَعَ هَؤُلَاءِ سَبْعِينَ أَلْفًا، يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ". قَالَ: وَأَنْشَأَ عُكَّاشة بْنُ مُحْصَن مِنْ بَنِي أَسَدٍ -قَالَ سَعِيدٌ: وَكَانَ بَدْريًّا-قَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: فَقَالَ: "اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ". قَالَ: أَنْشَأَ(٧٥) رَجُلٌ آخَرُ، قال: يا نبي الله، ادع الله أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ: "سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ" قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ -فِدَاكُمْ أَبِي وَأُمِّي-أَنْ تَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّبْعِينَ فَافْعَلُوا وَإِلَّا فَكُونُوا(٧٦) مِنْ أَصْحَابِ الظِّرَابِ(٧٧) ، وَإِلَّا فَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ الْأُفُقِ، فَإِنِّي قَدْ رَأَيْتُ نَاسًا كَثِيرًا قَدْ تأشَّبوا حَوْلَهُ"(٧٨) . ثُمَّ قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". فَكَبَّرْنَا، ثُمَّ قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". قَالَ: فَكَبَّرْنَا، قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". قَالَ: فَكَبَّرْنَا. ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ﴾ قَالَ: فَقُلْنَا بَيْنَنَا: مَنْ هَؤُلَاءِ السَّبْعُونَ أَلْفًا؟ فَقُلْنَا: هُمُ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ، وَلَمْ يُشْرِكُوا. قَالَ: فَبَلَغَهُ ذَلِكَ فَقَالَ: "بَلْ هُمُ الَّذِينَ لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ".
وَكَذَا رَوَاهُ ابْنُ جَرِيرٍ مِنْ طَرِيقَيْنِ آخَرَيْنِ عَنْ قَتَادَةَ، بِهِ نَحْوَهُ(٧٩) . وَهَذَا الْحَدِيثُ لَهُ طُرُقٌ كَثِيرَةٌ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ فِي الصِّحَاحِ وَغَيْرِهَا.
وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا مِهْرَان، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبَانِ بْنِ أَبِي عَيَّاشٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْر، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: ﴿ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ﴾ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "هُمَا جَمِيعًا مِنْ أُمَّتِي"(٨٠) .

Kalam Allah : {ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ} "(yaitu) segolongan (jama'ah) dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan (jama'ah) pula dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 39-40). Yakni jama'ah dari generasi awal dan jama'ah dari generasi akhir.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا الْمُنْذِرُ بْنُ شَاذَانَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدِ بْنِ بَشير، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَين، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ -قَالَ: وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَأْخُذُ عَنْ بَعْضٍ-قَالَ: أَكْرَيْنَا ذَاتَ لَيْلَةٍ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ غَدَوْنَا عَلَيْهِ، فَقَالَ: "عُرضت عليَّ الْأَنْبِيَاءُ وَأَتْبَاعُهَا بِأُمَمِهَا، فَيَمُرُّ عَلَيَّ النَّبِيُّ، وَالنَّبِيُّ فِي الْعِصَابَةِ، وَالنَّبِيُّ فِي الثَّلَاثَةِ، وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ -وَتَلَا قَتَادَةُ هَذِهِ الْآيَةَ: {أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ} [هُودٍ: 78]-قَالَ: حَتَّى مرَّ عليَّ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ فِي كَبْكَبَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ". قَالَ: "قلتُ: رَبِّي مَنْ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا أَخُوكَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ". قَالَ: "قُلْتُ: رَبِّ فَأَيْنَ أُمَّتِي؟ قَالَ: انْظُرْ عَنْ يَمِينِكَ فِي الظِّرَابِ. قَالَ: "فَإِذَا وُجُوهُ الرِّجَالِ". قَالَ: "قَالَ: أَرَضِيتَ؟ " قَالَ: قُلْتُ: "قَدْ رَضِيتُ، رَبِّ". قَالَ: انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ عَنْ يَسَارِكَ فَإِذَا وُجُوهُ الرِّجَالِ. قَالَ: أَرَضِيتَ؟ قُلْتُ: "رَضِيتُ، رَبِّ". قَالَ: فَإِنَّ مَعَ هَؤُلَاءِ سَبْعِينَ أَلْفًا، يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ". قَالَ: وَأَنْشَأَ عُكَّاشة بْنُ مُحْصَن مِنْ بَنِي أَسَدٍ -قَالَ سَعِيدٌ: وَكَانَ بَدْريًّا-قَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: فَقَالَ: "اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ". قَالَ: أَنْشَأَ رَجُلٌ آخَرُ، قال: يا نبي الله، ادع الله أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ: "سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ" قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ -فِدَاكُمْ أَبِي وَأُمِّي-أَنْ تَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّبْعِينَ فَافْعَلُوا وَإِلَّا فَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ الظِّرَابِ ، وَإِلَّا فَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ الْأُفُقِ، فَإِنِّي قَدْ رَأَيْتُ نَاسًا كَثِيرًا قَدْ تأشَّبوا حَوْلَهُ". ثُمَّ قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". فَكَبَّرْنَا، ثُمَّ قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". قَالَ: فَكَبَّرْنَا، قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". قَالَ: فَكَبَّرْنَا. ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: {ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ} قَالَ: فَقُلْنَا بَيْنَنَا: مَنْ هَؤُلَاءِ السَّبْعُونَ أَلْفًا؟ فَقُلْنَا: هُمُ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ، وَلَمْ يُشْرِكُوا. قَالَ: فَبَلَغَهُ ذَلِكَ فَقَالَ: "بَلْ هُمُ الَّذِينَ لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ".

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Mundzir ibnu Syadzan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakkar, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Basyir, dari Qatadah. dari Al-Hasan, dari Imran ibnu Husain, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa dahulu sebagian dari mereka (shahabat) menerima hadits dari sebagian yang lainnya. Disebutkan bahwa pada suatu malam kami dijamu oleh Rasulullah ﷺ, kemudian pada pagi harinya kami kembali kepada beliau ﷺ lalu beliau ﷺ bersabda: bahwa tadi malam ditampilkan kepada beliau (dalam mimpinya) para nabi dan para pengikutnya berikut semua umatnya masing-masing. Maka lewatlah di hadapan beliau seorang nabi yang diikuti oleh segolongan manusia, dan nabi yang hanya diikuti oleh tiga orang serta nabi yang tidak diikuti oleh seorang jua pun. Qatadah membacakan ayat berikut, yaitu kalam-Nya: ﴿أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ﴾ Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal? (Hud: 78)  (menceritakan siapa dia yang tidak diikuti oleh seorang pun). Akhirnya lewatlah di hadapan beliau . Musa ibnu Imran bersama sejumlah besar kaum Bani Israil. Nabi bertanya, "Ya Rabb-ku, siapakah orang ini?" Allah menjawab, "Ini adalah saudaramu Musa ibnu Imran dan orang-orang yang mengikutinya dari kaum Bani Israil." Aku bertanya.”Lalu manakah umatku?" Allah berkalam, "Lihatlah ke arah kananmu gelombang manusia yang banyak itu," dan ternyata mereka itu adalah manusia yang jumlahnya sangat besar. Allah berkalam, "Puaskah kamu?" Aku menjawab, "Aku telah puas, ya Rabb-ku." Allah kembali berfirman, "Lihatlah ke cakrawala yang ada di sebelah kirimu," tiba-tiba terlihat gelombang manusia yang amat besar jumlahnya. Allah berfirman, "Puaskah kamu?" Aku menjawab, "Aku telah puas, ya Rabb-ku." Allah berkalam, "Sesungguhnya bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab." Saat itu juga Ukasyah ibnu Mihsan dari Bani Asad —yang menurut Sa'id adalah seorang yang ikut dalam Perang Badar— bangkit, lalu berkata, "Wahai Nabi Allah, doakanlah kepada Allah, semoga Dia menjadikan diriku termasuk di antara mereka yang tujuh puluh ribu itu." Maka Nabi berdoa: Ya Allah, jadikanlah dia seorang dari mereka. Kemudian bangkit pula lelaki lainnya dan berkata, "Wahai Nabi Allah, doakanlah kepada Allah, semoga Dia menjadikan diriku termasuk dari mereka." Nabi menjawab: Kamu telah kedahuluan oleh Ukasyah untuk mendapatkannya. Lalu Rasulullah bersabda, "Jika kalian mampu, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, untuk menjadi orang-orang yang termasuk ke dalam yang tujuh puluh itu, berbuatlah. Jika tidak dapat, jadilah kalian termasuk orang-orang yang ada di sebelah kananku itu. Dan jika tidak dapat, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang ada di ufuq sebelah kiriku. Karena sesungguhnya aku telah melihat banyak orang yang keadaan mereka digabungkan." Kemudian Rasulullah bersabda: Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah seperempat ahli surga. Lalu kami bertakbir, kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah sepertiga ahli surga. Maka kami bertakbir, dan beliau bersabda lagi: Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah separo ahli surga. Maka kami bertakbir lagi. Kemudian Rasulullah membaca ayat ini, yaitu kalam-Nya: ﴿ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ﴾ (yaitu) segolongan (jama'ah) dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan (jama'ah) dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi’ah: 39-40); Ibnu Mas'ud melanjutkan kisahnya, bahwa lalu kami saling bertanya di antara sesama kami (para shahabat) menanyakan tentang siapa sajakah mereka yang termasuk di dalam tujuh puluh ribu orang itu. Akhirnya kami sepakat untuk mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang dilahirkan di masa Islam dan tidak mengalami masa kemusyrikan. Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda: Tidak, mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan kay, tidak meminta ruqyah dan tidak tathayyur (percaya kepada takhayul), dan hanya kepada Rabb mereka saja mereka bertawakal.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui dua jalur lain dari Qatadah dengan sanad yang semisal dan lafahz yang serupa. Hadits ini mempunyai jalur periwayatan yang banyak selain dari jalur ini di dalam kitab-kitab sahih dan kitab-kitab hadits lainnya.

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا مِهْرَان، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبَانِ بْنِ أَبِي عَيَّاشٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْر، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ} قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هُمَا جَمِيعًا مِنْ أُمَّتِي"

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Aban ibnu Abu Iyasy, dari Sa'id ibnu Jubair. dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:  ﴿ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ﴾ (yaitu) segolongan (jama'ah) dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan (jama'ah) dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 39-40) Bahwa Rasulullah telah bersabda: Kedua-duanya dari kalangan umatku. 


Jumat, 05 September 2025

Ihtifal "Maulid Nabi Muhammad" atau "Natalis Prophetae Muhammadi"


 

Ihtifal "Maulid Nabi Muhammad" atau "Natalis Prophetae Muhammadi"


🔸 Ihtifal Maulid Nabi Muhammad (Ulang tahun Nabi) atau dalam bahasa Latin-nya "Natalis Prophetae Muhammadi". Dan sudah maklum bahwa hati Natal itu bukan hari raya umat Islam. Karena hari raya umat Islam hanya ada 2 yaitu 'Idul Fithri dan 'Idul Adha.

.... فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” (HR. Abu Daud, 1134, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/119, dishahihkan Al-Albani)

🔸 Dalam sejarah para Shahabat Nabi, Tabi'in dan Tabiut Tabi'in serta para imam 4 madzhab Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah tidak ada nukilan mengadakan ihtifal Maulid Nabi . Sebaliknya yang pertama kali mengadakan perayaan maulid Nabi (perayaan natal) itu sikte Syiah yaitu Dinasti Fathimiyah. Dinasti Fathimiyah berkuasa di Mesir pada tahun 297-567 H (909-1171 M).

🔸 Syari'at Islam telah sempurna sebelum Nabi wafat. Tiada satupun hadits Shahih yang memerintahkan Ihtifal Maulid Nabi. Sedang Nabi bersabda :

"مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ” رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: “مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهَ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ”

“Barangsiapa yang (memulai) mengada-adakan (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk bagian darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim disebutkan: ”Barangsiapa yang mengerjakan sebuah amalan yang tidak terdapat padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak."
Berdasarkan hadits ini, amalan Ihtifal Maulid Nabi dapat tertolak jika terbukti : 1️⃣ Tidak ada contoh atau perintah dari Nabi Muhammad. 2️⃣ Amalan tersebut termasuk bid'ah (perkara baru) yang tidak ada dalam ajaran Islam.



Jum'at, 12 Rabi'ul Awwal 1447 H (05-09-2025)

Rabu, 03 September 2025

Fahami Perbedaan Khimar ( Kerudung Sedada ) Dan Jilbab Wanita Muslimah


 

Fahami Perbedaan Khimar ( Kerudung Sedada ) Dan Jilbab Wanita Muslimah


Khimar ( Kerudung Sedada ) Untuk Menutup Aurat dan Pakaian Sholat Di Rumah


وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝٣١

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan khimar (kerudung) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali ...." (QS. An-Nur : 31)


Jilbab ( Pakaian Terluar Wanita Yang Menutupi Khimar, Baju dan Perhiasan Wanita Menjulur dari Atas Kepala Sampai Kaki ) Untuk Hijab

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ۝٥٩

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab : 59)

Senin, 01 September 2025

Makna At-Tauhid

 


Makna At-Tauhid ( معنى التوحيد )


الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:

تعريف التوحيد

التوحيد في اللغة: مصدر للفعل (وحَّد، يوحِّد) توحيدا فهو موحِّد إذا نسب إلى الله الوحدانية ووصفه بالانفراد عما يشاركه أو يشابهه في ذاته أو صفاته، والتشديد للمبالغة أي بالغت في وصفه بذلك.

وتقول العرب: واحد وأحد، ووحيد، أي منفرد، فالله تعالى واحد، أي: منفرد عن الأنداد والأشكال في جميع الأحوال، فالتوحيد هو العلم بالله واحدا لا نظير له، فمن لم يعرف الله كذلك، أو لم يصفه بأنه واحد لا شريك له، فإنه غير موحد له.

وأما تعريفه في الاصطلاح فهو: إفراد الله تعالى بما يختص به من الألوهية والربوبية والأسماء والصفات.

ويمكن أن يُعرف بأنه: اعتقاد أن الله واحد لا شريك له في ربوبيته وألوهيته وأسمائه وصفاته.


Alhamdulillah.. (Segala puji hanya milik Allah), shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah, wa ba'du:

Definisi At-Tauhid

🔸 Tauhid dari sisi lughoh (bahasa) adalah mashdar dari kata kerja (وحَّد ، يوحِّد ) tauhidan yaitu mengesakan. Ketika disandarkan kepada Allah adalah keesaan (wahdaniyah) disifati dengan sifat tunggal yang tidak ada sekutu atau yang menyerupai baik dari sisi sifat maupun dzatnya. Sementara ketika ada tasydidnya menunjukkan penambahan makna yang lebih dalam maksudnya lebih dalam dalam sifatnya hal itu.

🔸 Orang Arab mengatakan ‘واحد وأحد ، ووحيد ‘ maksudnya adalah tunggal. maka Allah ta’ala itu wahid maksudnya tersendiri, tidak ada sekutu dan sifatnya  dalam seluruh kondisinya. Maka tauhid adalah ilmu tentang Allah itu satu (esa) yang tidak ada tandingannya. Siapa yang tidak mengenal Allah seperti itu, atau belum disifati bahwa Dia adalah esa tidak ada sekutu baginya, maka dia belum bertauhid pada-Nya.

🔸 Adapun pengertian dari sisi istilah adalah mengesakan Allah ta’ala dengan apa yang khusus untuknya dari Uluhiyah, Rububiyah dan Asma’ serta sifat-Nya.

🔸 Atau bisa juga didefinisikan dengan keyakinan bahwa Allah itu esa tidak disekutukan dalam Rububiyah, Uluhiyah dan asma serta sifat-Nya.


Penggunaan istilah (Tauhid) atau salah satu dari turunan katanya menunjukkan bahwa arti ini telah menjadi ketetapan yang digunakan dalam Kitab dan As-Sunnah. Di Antara Dalil At-Tauhid adalah QS. Al-Fatihah, dan QS. Al-Ikhlash. Allah juga berkalam :

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (سورة البقرة : ١٦٣)

“Dan Ilah-mu adalah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah melainkan Dia Ar-Rahman Ar-Rahim.” (QS Al-Baqarah: 163)


Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...