Minggu, 30 November 2025

Orang Kafir dan Ahlul-Ahwa' Telah Sesat Sehingga Perbuatan Buruk Dianggap Baik


 

Orang Kafir dan Ahlul-Ahwa' Telah Sesat Sehingga Perbuatan Buruk Dianggap Baik



اَفَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ فَرَاٰهُ حَسَنًاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرٰتٍۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ ۝٨

"Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. Al-Fathir : 8)

وعن جعفر بن محمد قال سئل محمد بن ابي الورد عن قوله افمن زين له سوء عمله فراه حسنا سورة فاطر آية ٨ قال من ظن في اساءته انه محسن.
كتاب صفة الصفوة  ج ١ ص ٥٠٧ - ابن الجوزي

Dari Ja'far bin Muhammad, dia berkata: Muhammad bin Abi al-Ward ditanya tentang firman Allah, "Maka apakah orang yang dijadikan amal buruknya indah (terlihat baik) lalu dia melihatnya baik...?" (QS. Fatir: 8). Dia menjawab: "(Maksudnya) orang yang beranggapan bahwa keburukannya adalah kebaikan."


Sabtu, 29 November 2025

Manzilah ( Maqam/Kedudukan ) Kejujuran






Manzilah ( Maqam/Kedudukan ) Kejujuran
فَصْلٌ مَنْزِلَةُ الصِّدْقِ

وَمِنْ مَنَازِلِ {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: ٥] مَنْزِلَةُ الصِّدْقِ وَهِيَ مَنْزِلَةُ الْقَوْمِ الْأَعْظَمِ. الَّذِي مِنْهُ تَنْشَأُ جَمِيعُ مَنَازِلِ السَّالِكِينَ، وَالطَّرِيقُ الْأَقْوَمُ الَّذِي مَنْ لَمْ يَسِرْ عَلَيْهِ فَهُوَ مِنَ الْمُنْقَطِعِينَ الْهَالِكِينَ. وَبِهِ تَمَيَّزَ أَهْلُ النِّفَاقِ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ، وَسُكَّانُ الْجِنَانِ مِنْ أَهْلِ النِّيرَانِ. وَهُوَ سَيْفُ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ الَّذِي مَا وُضِعَ عَلَى شَيْءٍ إِلَّا قَطَعَهُ. وَلَا وَاجَهَ بَاطِلًا إِلَّا أَرْدَاهُ وَصَرَعَهُ. مَنْ صَالَ بِهِ لَمْ تُرَدَّ صَوْلَتُهُ. وَمَنْ نَطَقَ بِهِ عَلَتْ عَلَى الْخُصُومِ كَلِمَتُهُ. فَهُوَ رُوحُ الْأَعْمَالِ، وَمَحَكُّ الْأَحْوَالِ، وَالْحَامِلُ عَلَى اقْتِحَامِ الْأَهْوَالِ، وَالْبَابُ الَّذِي دَخَلَ مِنْهُ الْوَاصِلُونَ إِلَى حَضْرَةِ ذِي الْجَلَالِ. وَهُوَ أَسَاسُ بِنَاءِ الدِّينِ، وَعَمُودُ فُسْطَاطِ الْيَقِينِ. وَدَرَجَتُهُ تَالِيَةٌ لِدَرَجَةِ النُّبُوَّةِ الَّتِي هِيَ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْعَالِمِينَ. وَمِنْ مَسَاكِنِهِمْ فِي الْجَنَّاتِ تُجْرَى الْعُيُونُ وَالْأَنْهَارُ إِلَى مَسَاكِنِ الصِّدِّيقِينَ. كَمَا كَانَ مِنْ قُلُوبِهِمْ إِلَى قُلُوبِهِمْ فِي هَذِهِ الدَّارِ مَدَدٌ مُتَّصِلٌ وَمَعِينٌ.

وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَهْلَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ. وَخَصَّ الْمُنْعَمَ عَلَيْهِمْ بِالنَّبِيَّيْنِ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ. فَقَالَ تَعَالَى {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} [التوبة: ١١٩] وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ} [النساء: ٦٩] فَهُمُ الرَّفِيقُ الْأَعْلَى {وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} [النساء: ٦٩] وَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَمُدُّهُمْ بِأَنْعُمِهِ وَأَلْطَافِهِ وَمَزِيدِهِ إِحْسَانًا مِنْهُ وَتَوْفِيقًا. وَلَهُمْ مَرْتَبَةُ الْمَعِيَّةِ مَعَ اللَّهِ. فَإِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّادِقِينَ، وَلَهُمْ مَنْزِلَةُ الْقُرْبِ مِنْهُ. إِذْ دَرَجَتُهُمْ مِنْهُ ثَانِي دَرَجَةِ النَّبِيِّينَ.

وَأَخْبَرَ تَعَالَى أَنَّ مَنْ صَدَقَهُ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ. فَقَالَ {فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ} [محمد: ٢١] .

مدارج السالكين بين منازل إياك نعبد وإياك نستعين ج ٢ ص ٢٥٨ - ابن القيم - أبو عبد الله محمد بن أبي بكر ابن قيم الجوزية


Dari maqam {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: ٥]  (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan) adalah maqam kejujuran, yang merupakan maqam terbesar bagi para salik (orang yang berjalan menuju Allah). Dari sini, semua maqam para salik bermula, dan ini adalah jalan lurus yang jika tidak diikuti, maka orang itu termasuk orang yang terputus dan binasa.
Dengan kejujuran ini, orang-orang munafik dibedakan dari orang-orang mukmin, dan penduduk surga dibedakan dari penduduk neraka. Kejujuran adalah pedang Allah di bumi, yang jika diletakkan pada sesuatu, maka akan memotongnya, dan jika dihadapi dengan kebatilan, maka akan mengalahkannya.
Orang yang menggunakan kejujuran, maka kekuatannya tidak akan dikalahkan, dan orang yang mengucapkan kejujuran, maka kalimatnya akan mengungguli lawan-lawannya. Kejujuran adalah ruh amal, penguji keadaan, dan pendorong untuk menghadapi kesulitan. Ini adalah pintu yang dilalui oleh orang-orang yang sampai kepada Hadirat Allah.
Kejujuran adalah dasar bangunan agama, tiang kemah keyakinan, dan derajatnya setelah kenabian, yang merupakan derajat tertinggi di dunia. Dari kediaman mereka di surga, mengalir mata air dan sungai-sungai ke kediaman orang-orang yang jujur, sebagaimana dari hati mereka ke hati mereka di dunia, ada hubungan yang terus-menerus dan pertolongan yang tak putus-putus.

Allah telah memerintahkan orang-orang mukmin untuk bersama orang-orang yang jujur, dan mengkhususkan orang-orang yang diberi nikmat dengan para nabi, orang-orang yang jujur, syuhada, dan orang-orang shalih. Allah berkalam :

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} [التوبة: ١١٩] 

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orang-orang yang jujur." (QS. At-Taubah: 119). Dan Allah bekalam :

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ} [النساء: ٦٩] 

"Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang yang jujur, syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisa: 69)
Mereka adalah ar-rofiq al-a'laa (teman yang paling tinggi), dan  {وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} [النساء: ٦٩] sebaik-baik teman. Allah terus-menerus memberikan mereka nikmat, kelembutan, dan tambahan kebaikan dari-Nya, serta taufik. Mereka memiliki kedudukan maqom ma'iyyah (bersama Allah), karena Allah bersama orang-orang yang jujur. Mereka juga memiliki kedudukan kedekatan dengan Allah, karena derajat mereka adalah kedua setelah para nabi.

Allah telah memberitahu bahwa orang yang jujur kepada-Nya, maka itu lebih baik baginya. Allah berkalam :

 {فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ} [محمد: ٢١] .

"Maka jika telah tetap keputusan (untuk perang), maka (alangkah baiknya) jika mereka jujur kepada Allah." (QS. Muhammad: 21)



Rabu, 26 November 2025

Mengikuti Hawa Nafsu Termasuk Syirik Yang Bisa Menyesatkan Dari Jalan Allah



Mengikuti Hawa Nafsu Termasuk Syirik Yang Bisa Menyesatkan Dari Jalan Allah


قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله : "لَيْسَ الشِّرْكُ عِبَادَةَ الْأَصْنَامِ فَحَسْبُ؛ بَلْ هُوَ أَيْضًا مُتَابَعَتُك لِهَوَاك وَأَنْ تَخْتَارَ مَعَ رَبِّك شَيْئًا سِوَاهُ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَالْآخِرَةِ وَمَا فِيهَا فَمَا سِوَاهُ - تَبَارَكَ وَتَعَالَى - غَيْرُهُ فَإِذَا رَكَنْت إلَى غَيْرِهِ فَقَدْ أَشْرَكْت بِهِ غَيْرَهُ فَاحْذَرْ وَلَا تَرْكَنْ وَخَفْ وَلَا تَأْمَنْ وَفَتِّشْ وَلَا تَغْفُلْ فَتَطْمَئِنَّ وَلَا تُضِفْ إلَى نَفْسِك حَالًا وَلَا مَقَامًا وَلَا تَدَعْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ ". وَقَالَ (الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ أَيْضًا:" إنَّمَا هُوَ اللَّهُ وَنَفْسُك وَأَنْتَ الْمُخَاطَبُ وَالنَّفْسُ ضِدُّ اللَّهِ وَعَدُوَّتُهُ؛ وَالْأَشْيَاءُ كُلُّهَا تَابِعَةٌ لِلَّهِ فَإِذَا وَافَقْت الْحَقَّ فِي مُخَالَفَةِ النَّفْسِ وَعَدَاوَتِهَا كُنْت خَصْمًا لَهُ عَلَى نَفْسِك - إلَى أَنْ قَالَ: "فَالْعِبَادَةُ" فِي مُخَالَفَتِك نَفْسَك وَهَوَاك قَالَ تَعَالَى: {وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ}" (من كتاب: مجموع الفتاوى ج ١٠ ص ٥١٨)

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Syirik tidak hanya terbatas pada penyembahan berhala saja, tetapi juga termasuk mengikuti hawa nafsu dan memilih sesuatu selain rabb-mu (Allah) sebagai tandingan bagi-Nya, baik itu dari dunia dan apa yang ada di dalamnya, maupun akhirat dan apa yang ada di dalamnya. Apa pun yang selain Allah, maka itu adalah selain-Nya, dan jika kamu condong kepada selain-Nya, maka kamu telah menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. Maka, waspadalah dan jangan condong, takutlah dan jangan merasa aman, periksalah dan jangan lengah, sehingga kamu merasa tenang. Jangan menambahkan kepada dirimu suatu keadaan atau kedudukan, dan jangan meninggalkan sesuatu darinya."

Syaikh Abdul-Qadir juga berkata, "Sesungguhnya yang ada hanyalah Allah dan dirimu, dan kamu adalah yang dituntut, sedangkan nafsu adalah lawan dan musuh Allah. Semua hal adalah tunduk kepada Allah, maka jika kamu setuju dengan kebenaran dalam menentang nafsu dan memusuhinya, maka kamu adalah lawan bagi nafsu itu sendiri."

Beliau juga berkata, "Ibadah itu adalah menentang nafsu dan hawa nafsu kamu." Allah berfirman, "Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah." (QS. Al-Jatsiyah: 18)

📚 lihat Majmu' Al-Fatawa 10/518

Selasa, 25 November 2025

Jika Engkau Mencintai Allah Rabbul 'Alamin, Maka Ikutilah Nabi Muhammad ﷺ








 Jika Engkau Mencintai Allah Rabbul 'Alamin, Maka Ikutilah Nabi Muhammad ﷺ



قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣١ ( آل عمران : ٣١ )

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ حَاكِمَةٌ عَلَى كُلِّ مَنِ ادَّعَى مَحَبَّةَ اللَّهِ، وَلَيْسَ هُوَ عَلَى الطَّرِيقَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ فَإِنَّهُ كَاذِبٌ فِي دَعْوَاهُ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، حَتَّى يَتَّبِعَ الشَّرْعَ الْمُحَمَّدِيَّ وَالدِّينَ النَّبَوِيَّ فِي جَمِيعِ أَقْوَالِهِ وَأَحْوَالِهِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: "مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ" وَلِهَذَا قَالَ: ﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾ أَيْ: يَحْصُلُ لَكُمْ فَوْقَ مَا طَلَبْتُمْ مِنْ مَحَبَّتِكُمْ إِيَّاهُ، وَهُوَ مَحَبَّتُهُ إِيَّاكُمْ، وَهُوَ أَعْظَمُ مِنَ الْأَوَّلِ، كَمَا قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ الْعُلَمَاءِ: لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تُحِبّ، إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُحَبّ وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَغَيْرُهُ مِنَ السَّلَفِ: زَعَمَ قَوْمٌ أَنَّهُمْ يُحِبُّونَ اللَّهَ فَابْتَلَاهُمُ اللَّهُ بِهَذِهِ الْآيَةِ، فَقَالَ: ﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾ .


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣١

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali-Imran : 31)

Ayat yang mulia ini menjadi hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, namun tidak berada di atas jalan Muhammad , maka sesungguhnya dia berdusta dalam pengakuannya, sampai dia mengikuti syariat Muhammad dan agama Nabi dalam semua ucapan dan perbuatannya. Sebagaimana yang telah sah dalam hadits shahih dari Rasulullah , bahwa beliau bersabda, "مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ" ("Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak."). Oleh karena itu, Allah berkalam, {قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ} "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu'." (QS. Ali Imran: 31) Maksudnya, kamu akan mendapatkan lebih dari apa yang kamu minta, yaitu cinta Allah kepada kamu, dan itu lebih besar daripada cinta kamu kepada-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama hikmah, "Bukanlah yang penting kamu mencintai, tapi yang penting kamu dicintai." Al-Hasan Al-Bashri dan selainnya dari kalangan salaf berkata, "Suatu kaum mengaku bahwa mereka mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini, yaitu, {قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ}'Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu'."

📚 Lihat Tafsir Ibnu Katsir QS. Ali-Imran : 31

Kamis, 20 November 2025

Jadikan Rasa Letih, Sakit, Kesedihan dan Musibah Sebagai Penghapus Dosa


 


Jadikan Rasa Letih, Sakit, Kesedihan dan Musibah Sebagai Penghapus Dosa


عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ».  
(صحيح - متفق عليه - صحيح البخاري: 5641)

Abu Sa'īd Al-Khudriy dan Abu Hurairah radhiiyallāhu 'anhumā meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda,
"Tidaklah seorang muslim ditimpa kepayahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, dan kesusahan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya (dosa) dengan sebab itu."  (Shahih  - Muttafaq 'alaihi - Shhih Al-Bukhari - 5641)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٥٥ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ۝١٥٦ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ۝١٥٧

"(155) Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).(157) Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah : 155 - 157)

Rabu, 19 November 2025

Hanya Sekedar Pemberitahuan


 

Hanya Sekedar Pemberitahuan


Barangsiapa yang menjalin hubungan dengannya, insya Allah jika kelak mereka mati lebih dulu daripada aku, maka diriku tidak ingin mensholati ataupun masuk rumah mereka.
Sebagaimana Malik bin Dinar rahimahullah menyampaikan perumpamaan

النَّاسُ أَجْنَاسٌ كَأَجْنَاسِ الطَّيْرِ الْحَمَامُ مَعَ الْحَمَامِ وَالْغُرَابُ مَعَ الْغُرَابِ وَالْبَطُّ مَعَ الْبَطِّ وَالصَّعْوُ مَعَ الصَّعْوِ وَكُلُّ إِنْسَانٍ مَعَ شِكْلِهِ

“Manusia berjenis-jenis sebagaimana berjenis-jenisnya burung. Burung merpati dengan burung merpati, burung gagak dengan burung gagak, bebek dengan bebek, burung Regulus dengan burung Regulus. Begitu juga setiap orang akan bersama yang setipe dengannya.” (Al-Ibanah al-Kubra 512)

" الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ "

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ ەۗ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَبْصَارُۙ ۝٤٢

"Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak," (QS. Ibrahim : 42)

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ لِيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَسَاۤءُوْا بِمَا عَمِلُوْا وَيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا بِالْحُسْنٰىۚ ۝٣١

"Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (QS. An-Najm : 31)


Kejujuran Adalah Mahkota Akhlaq Mulia


 

Kejujuran Adalah Mahkota Akhlaq Mulia


Dalam bahasa Arab, kejujuran disebut shidq (الصدق), yang berarti benar, tulus, dan sesuai antara ucapan dengan kenyataan. Kejujuran adalah mahkota akhlaq mulia karena dasar dari segala sifat dan akhlaq terpuji lainnya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ ۝١١٩

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan Ash-Shodiqin (orang-orang yang jujur dan benar)." (QS. At-Taubah : 119)

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «عليكم بالصدق، فإن الصدق يهدي إلى البِرِّ، وإن البر يهدي إلى الجنة، وما يزال الرجل يصدق ويَتَحَرَّى الصدق حتى يكتب عند الله صِدِّيقًا، وإياكم والكذب، فإن الكذب يهدي إلى الفجور، وإن الفجور يهدي إلى النار، وما يزال الرجل يكذب ويَتَحَرَّى الكذب حتى يكتب عند الله كَذَّابا» ( صحيح - متفق عليه )

'Abdullah bin Mas'ūd radhiyallāhu 'anhu meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Hendaknya kalian senantiasa jujur karena kejujuran itu menuntun kepada al-birr (kebaikan) dan sesungguhnya kebaikan itu mengantarkan ke Al-Jannah (Surga). Seseorang yang selalu jujur dan berusaha untuk jujur sehinga dicatat di sisi Allah sebagai shiddiq (orang jujur). Sebaliknya, jauhilah dusta karena dusta itu menjerumuskan kepada al-fujur (kedurhakaan/keburukan) dan sesungguhnya kedurhakaan itu menjerumuskan ke neraka. Seseorang akan selalu berdusta dan berupaya untuk berdusta sampai dicatat di sisi Allah sebagai kadzdzab (pendusta)." (Shahih - Muttafaq 'alaihi)

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...