Sabtu, 13 Desember 2025

Sabar Yang Baik ( الصَّبْرُ الْجَمِيلُ )




Sabar Yang Baik ( الصَّبْرُ الْجَمِيلُ )

﴿فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ﴾

".... Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan". (Yusuf: 18)

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الصَّبْرُ الْجَمِيلُ: الَّذِي لَا جَزَعَ فِيهِ.
وَرَوَى هُشَيْم، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَحْيَى، عَنْ حبَّان بْنِ أَبِي جَبَلة قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ قَوْلِهِ: ﴿فَصَبْرٌ جَمِيلٌ﴾ فَقَالَ: "صَبْرٌ لَا شَكْوَى(٣) فِيهِ" وَهَذَا مُرْسَلٌ(٤) .
وَقَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: قَالَ الثَّوْرِيُّ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ قَالَ: ثَلَاثٌ مِنَ الصَّبْرِ: أَلَّا تُحَدِّثَ بِوَجَعِكَ، وَلَا بِمُصِيبَتِكَ، وَلَا تُزَكِّيَ نَفْسَكَ(٥) .
وَذَكَرَ الْبُخَارِيُّ هَاهُنَا حَدِيثَ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فِي الْإِفْكِ حَتَّى ذَكَرَ قَوْلَهَا: وَاللَّهِ لَا أَجِدُ لِي وَلَكُمْ مَثَلًا إِلَّا أَبَا يُوسُفَ(٦) ، ﴿فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ﴾(٧) .
( تفسير ابن كثير — ابن كثير ٧٧٤ هـ)


Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan :

'Mujahid berkata: "Sabar yang baik adalah sabar yang tidak ada keluhan di dalamnya."

Hasyim meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yahya, dari Habban bin Abi Jablah, dia berkata: "Rasulullah ditanya tentang kalam Allah: { فَصَبْرٌ جَمِيلٌ } 'Maka bersabarlah dengan sabar yang baik' (Yusuf: 18), maka beliau bersabda: 'Sabar yang tidak ada keluhan di dalamnya.'"
Atsar ini adalah mursal.

Abdurrazzaq berkata: "Ats-Tsauri berkata dari sebagian sahabatnya, bahwa ada tiga hal yang termasuk sabar: tidak menceritakan sakitmu, tidak menceritakan musibahmu, dan tidak menyanjung dirimu sendiri."

Al-Bukhari menyebutkan hadits Aisyah radhiyaallahu 'anha tentang kisah Al-Ifk, sampai pada perkataannya: "Demi Allah, aku tidak menemukan contoh bagi kami kecuali seperti yang dikatakan ayah Yusuf:

﴿فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ﴾

'Maka bersabarlah dengan sabar yang baik, dan Allah-lah yang dimohon pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.'" (Yusuf: 18)

📚 lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Yusuf : 18

Kamis, 11 Desember 2025

Tawakkal dan Bersandar Kepada Baiknya Pilihan Allah





Tawakkal dan Bersandar Kepada Baiknya Pilihan Allah



كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٢١٦

".... dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216)

فَسَتَذْكُرُوْنَ مَآ اَقُوْلُ لَكُمْۗ وَاُفَوِّضُ اَمْرِيْٓ اِلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ بَصِيْرٌ ۢ بِالْعِبَادِ ۝٤٤

".... maka kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafir : 44)

وعن قيس بن جبير قال قال عبد الله حبذا المكروهان الموت والفقر وايم الله ان هو إلا الغنى والفقر وما أبالي بايهما بليت إن حق الله في كل واحد منهما واجب وان كان الغنى فيه للعطف وان كان للفقراء ان فيه للصبر.
وعن الحسن قال قال عبد الله بن مسعود ما أبالي إذا رجعت إلى أهلي على أي حال اراهم بخير أو بشر أم بضر وما أصبحت على حالة فتمنيت أني على سواها. (كتاب صفة الصفوة ج ١ ص ١٥٤ - ابن الجوزي)

Dari Qais bin Jubair, ia berkata, Abdullah bin Mas'ud berkata, "Alangkah baiknya dua hal yang tidak disukai: kematian dan kefakiran. Demi Allah, keduanya hanyalah kekayaan dan kefakiran. Aku tidak peduli dengan mana dari keduanya aku diuji, karena hak Allah dalam keduanya adalah wajib. Jika kekayaan, maka ada kewajiban untuk bersedekah, dan jika kefakiran, maka ada kewajiban untuk bersabar."

Dari Al-Hasan, ia berkata, Abdullah bin Mas'ud berkata, "Aku tidak peduli dengan keadaan apa pun aku kembali kepada keluargaku, apakah mereka dalam keadaan baik atau buruk, atau dalam kesulitan. Aku tidak pernah pagi hari dengan keadaan tertentu, lalu aku menginginkan agar aku berada dalam keadaan lain."

📚 Kitab Shifat Ash-Shofwah, jilid 1, halaman 154, Ibn Al-Jauzi

وقال أبو العباس محمد بن يزيد المبرد قيل للحسن بن علي: إن أبا ذر يقول: الفقر أحب إلي من الغنى، والسقم أحب إلي من الصحة، فقال: رحم الله أبا ذر أما أنا فأقول: من اتكل على حسن اختيار الله له لم يتمكن أن يكون في غير الحالة التي اختار الله له. وهذا أحد الوقوف على الرضا بما تعرف به القضاء. (كتاب البداية والنهاية - ط السعادة ج ٨ ص ٣٩ - ابن كثير)

Abu Al-Abbas Muhammad bin Yazid Al-Mubarrad berkata, "Dikatakan kepada Hasan bin Ali, 'Abu Dzar berkata, 'Kefakiran lebih aku sukai daripada kekayaan, dan sakit lebih aku sukai daripada sehat.' Hasan bin Ali menjawab, 'Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Adapun aku, aku katakan, 'Barangsiapa yang percaya pada pilihan Allah yang baik baginya, maka ia tidak akan menginginkan keadaan lain selain yang telah Allah pilih untuknya.' Ini adalah salah satu bentuk ridha dengan apa yang telah ditetapkan oleh taqdir."

📚 Kitab Al-Bidayah wa Al-Nihayah, jilid 8, halaman 39, Ibnu Katsir

Para Ash-Shodiq ( Orang yang Jujur ) Punya Tabi'at dan Kebiasaan Sedikit Tidur


 

Para Ash-Shodiq ( Orang yang Jujur ) Punya Tabi'at dan Kebiasaan Sedikit Tidur


۞ اِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ اَنَّكَ تَقُوْمُ اَدْنٰى مِنْ ثُلُثَيِ الَّيْلِ وَنِصْفَهٗ وَثُلُثَهٗ وَطَاۤىِٕفَةٌ مِّنَ الَّذِيْنَ مَعَكَۗ وَاللّٰهُ يُقَدِّرُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ عَلِمَ اَنْ لَّنْ تُحْصُوْهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْاٰنِۗ عَلِمَ اَنْ سَيَكُوْنُ مِنْكُمْ مَّرْضٰىۙ وَاٰخَرُوْنَ يَضْرِبُوْنَ فِى الْاَرْضِ يَبْتَغُوْنَ مِنْ فَضْلِ اللّٰهِۙ وَاٰخَرُوْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۖ فَاقْرَءُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُۙ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًاۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِۙ هُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٢٠

"Sesungguhnya Rabb-mu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an; Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah; dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Muzzammil : 20)

✍🏻  Berdasarkan ayat di atas maka dapat difahami :
⭐ Dua pertiga malam lamanya sekitar 7 jam, dari jam 21.00 malam hingga pukul 04:00 pagi.
⭐ Seperdua malam lamanya sekitar 5 jam, dari jam 23:00 malam hingga jam 04:00 pagi.
⭐ Sepertiga malam lamanya sekitar 3 jam, dari jam 01:00 dini hari hingga jam 04:00 pagi.
✍🏻  Para Ash-Shodiq (orang-orang yang jujur dan benar) punya tabi'at dan kebiasaan sedikit tidur atau hanya sekitar 3-5 jam/hari.
✍🏻  Misal malam hari hanya tidur sekitar 2 jam, maka bisa ditambah tidur siang 1 atau 2 jam.

لا حول ولا قوة إلا بالله


Selasa, 09 Desember 2025

Mauqif Seorang Muslim Terhadap Harta




Mauqif Seorang Muslim Terhadap Harta



"ثُمَّ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَأْخُذَ الْمَالَ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ لِيُبَارَكَ لَهُ فِيهِ وَلَا يَأْخُذُهُ بِإِشْرَافِ وَهَلَعٍ؛ بَلْ يَكُونُ الْمَالُ عِنْدَهُ بِمَنْزِلَةِ الْخَلَاءِ الَّذِي يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ لَهُ فِي الْقَلْبِ مَكَانَةٌ وَالسَّعْيُ فِيهِ إذَا سَعَى كَإِصْلَاحِ الْخَلَاءِ. وَفِي الْحَدِيثِ الْمَرْفُوعِ الَّذِي رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ: {مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ شَتَّتَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. وَمَنْ أَصْبَحَ وَالْآخِرَةُ أَكْبَرُ هَمِّهِ جَمَعَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ؟ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ} . وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: أَنْتَ مُحْتَاجٌ إلَى الدُّنْيَا وَأَنْتَ إلَى نَصِيبِك مِنْ الْآخِرَةِ أَحْوَجُ فَإِنْ بَدَأْت بِنَصِيبِك مِنْ الْآخِرَةِ مَرَّ عَلَى نَصِيبِك مِنْ الدُّنْيَا فَانْتَظَمَهُ انْتِظَامًا."
                                           
من كتاب: مجموع الفتاوى ج ١٠ ص ٦٦٣

"Kemudian, hendaknya ia (seorang muslim) mengambil harta dengan jiwa yang dermawan, agar diberkahi baginya di dalamnya, dan tidak mengambilnya dengan keserakahan dan ketamakan. Sebaliknya, harta itu harus berada di sisinya seperti tempat pembuangan (wc atau pembuangan sampah) yang dibutuhkan, tanpa memiliki tempat di dalam hatinya. Dan usahanya dalam mencari harta harus seperti memperbaiki tempat pembuangan.

Dalam hadits marfu' yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya, Nabi bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ شَتَّتَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. وَمَنْ أَصْبَحَ وَالْآخِرَةُ أَكْبَرُ هَمِّهِ جَمَعَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ؟ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

"Barangsiapa yang pagi harinya dengan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, memecah-belah kekayaannya, dan tidak akan datang kepadanya dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang pagi harinya dengan akhirat sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dengan sendirinya."

Sebagian As-Salaf berkata, "Engkau membutuhkan dunia, tetapi engkau lebih membutuhkan bagianmu di akhirat. Jika engkau memulai dengan bagianmu di akhirat, maka bagianmu di dunia akan mengikuti dan engkau akan mendapatkannya dengan mudah."

📚 Dari Kitab Majmu’ Al-Fatawa 10/663

Senin, 08 Desember 2025

Menjaga Wudhu' Termasuk Tabi'at dan Tanda Seorang Mukmin



 




Menjaga Wudhu' Termasuk Tabi'at dan Tanda Seorang Mukmin



"وَمَنْ لَمْ يُصَلِّ إلَّا بِوُضُوءِ وَاغْتِسَالٍ فَإِنَّهُ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ إلَّا لِلَّهِ وَلِهَذَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ أَحْمَد. وَابْنُ مَاجَه مِنْ حَدِيثِ ثوبان عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: {اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تَحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةُ وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إلَّا مُؤْمِنٌ فَإِنَّ الْوُضُوءَ سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ} وَقَدْ يَنْتَقِضُ وُضُوءُهُ وَلَا يَدْرِي بِهِ أَحَدٌ فَإِذَا حَافَظَ عَلَيْهِ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهِ إلَّا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَمَنْ كَانَ كَذَلِكَ لَا يَكُونُ إلَّا مُؤْمِنًا وَالْإِخْلَاصُ فِي النَّفْعِ الْمُتَعَدِّي أَقَلُّ مِنْهُ فِي الْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ وَلِهَذَا قَالَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَّفَقِ عَلَى صِحَّتِهِ: {سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إلَّا ظِلُّهُ} الْحَدِيثَ."
من كتاب: مجموع الفتاوى ج ١٨ ص ٢٦١

"Dan barangsiapa yang tidak shalat kecuali dengan wudhu' dan mandi, maka ia tidak melakukannya kecuali karena Allah. Oleh karena itu, Nabi bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari Tsauban, "Tegakkanlah (agama) dan kalian tidak akan mampu, dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amalan kalian adalah shalat, dan tidak ada yang menjaga wudhu' kecuali orang mukmin. Sesungguhnya wudhu' adalah rahasia antara hamba dan Allah Azza wa Jalla."

Seseorang mungkin berhadats dan tidak ada yang mengetahuinya, namun jika ia menjaga wudhu', maka ia tidak melakukannya kecuali karena Allah. Dan barangsiapa yang demikian, maka ia tidak akan menjadi kecuali orang mukmin.

Ikhlash dalam memberikan manfaat kepada orang lain lebih sedikit daripada ikhlash dalam ibadah badaniyah. Oleh karena itu, Nabi bersabda dalam hadits yang disepakati kesahihannya, "Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya..." (al-hadits)."

📚 Dari kitab: Majmu' Al-Fatawa, jilid 18, halaman 261

Sabtu, 06 Desember 2025

Istighfar Termasuk Kebaikan Yang Paling Agung

 


Istighfar Termasuk Kebaikan Yang Paling Agung



"وَقَالَ: التَّوْبَةُ مِنْ أَعْظَمِ الْحَسَنَاتِ وَالْحَسَنَاتُ كُلُّهَا مَشْرُوطٌ فِيهَا الْإِخْلَاصُ لِلَّهِ وَمُوَافَقَةُ أَمْرِهِ بِاتِّبَاعِ رَسُولِهِ وَالِاسْتِغْفَارِ مِنْ أَكْبَرِ الْحَسَنَاتِ وَبَابُهُ وَاسِعٌ.
فَمَنْ أَحَسَّ بِتَقْصِيرِ فِي قَوْلِهِ أَوْ عَمَلِهِ أَوْ حَالِهِ أَوْ رِزْقِهِ أَوْ تَقَلُّبِ قَلْبٍ: فَعَلَيْهِ بِالتَّوْحِيدِ وَالِاسْتِغْفَارِ فَفِيهِمَا الشِّفَاءُ إذَا كَانَا بِصِدْقِ وَإِخْلَاصٍ.
وَكَذَلِكَ إذَا وَجَدَ الْعَبْدُ تَقْصِيرًا فِي حُقُوقِ الْقَرَابَةِ وَالْأَهْلِ وَالْأَوْلَادِ وَالْجِيرَانِ وَالْإِخْوَانِ. فَعَلَيْهِ بِالدُّعَاءِ لَهُمْ وَالِاسْتِغْفَارِ.
{قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ لِي لِسَانًا ذَرِبًا عَلَى أَهْلِي.فَقَالَ لَهُ: أَيْنَ أَنْتَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؟ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً} "."
من كتاب: مجموع الفتاوى ج ١١ ص ٦٩٨

Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah) berkata, "Tobat adalah salah satu kebaikan yang paling agung, dan semua kebaikan itu disyaratkan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya dengan mengikuti Rasul-Nya. Istighfar adalah salah satu kebaikan yang paling agung, dan pintu itu luas.

Barangsiapa yang merasa kurang dalam ucapan, perbuatan, keadaan, rezeki, atau perubahan hatinya, maka hendaknya ia melakukan tauhid dan istighfar, karena dalam keduanya ada kesembuhan jika dilakukan dengan jujur dan ikhlas.

Demikian pula jika seorang hamba merasa kurang dalam hak-hak kerabat, keluarga, anak-anak, tetangga, dan saudara, maka hendaknya ia berdoa untuk mereka dan meminta ampun bagi mereka.

Hudzaifah bin Yamani berkata kepada Nabi , 'Saya memiliki lidah yang tajam terhadap keluargaku.' Nabi berkata kepadanya, 'Kemanakah engkau dari istighfar? Sesungguhnya saya meminta ampun kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari.'"

📚 Dari kitab: Majmu' al-Fatawa, jilid 11, halaman 698


Kamis, 04 Desember 2025

Setiap Mushibah Itu Telah Tertulis Dalam Kitab Lauhul-Mahfuzh


 

Setiap Mushibah Itu Telah Tertulis Dalam Kitab Lauhul-Mahfuzh



مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ ۝٢٢ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ ۝٢٣

22. Setiap mushibah yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.
23. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri, (QS. Al-Hadid : 22-23)

وَقَالَ عِكْرِمَةُ: لَيْسَ أَحَدٌ إِلَّا وَهُوَ يَفْرَحُ وَيَحْزَنُ، وَلَكِنِ اجْعَلُوا الفَرَح شُكْرًا وَالْحُزْنَ صَبْرًا.

Ikrimah berkata, "Tidak ada seorang pun kecuali dia akan merasa gembira dan sedih, tetapi jadikanlah kegembiraanmu sebagai syukur dan kesedihanmu sebagai sabar." (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Maka bersyukurlah engkau di saat memperoleh kegembiraan dan bersabarlah ketika menanggung kedukaan. Rasulullah bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim 2999)

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...