Sabtu, 17 Januari 2026

Kita Tidaklah Sesat Jika Tidak Mengerjakan Amalan yang Tidak Disyari'atkan Nabi ﷺ dan Para Shahabat


 

Kita Tidaklah Sesat Jika Tidak Mengerjakan Amalan yang Tidak Disyari'atkan Nabi ﷺ dan Para Shahabat


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣١

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-Imran : 31)

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري ومسلم) وَ فِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Dari Ummul-Mu’minin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah Radhiyallahu anha ia berkata: Rasulullah telah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-ngada (mensyari'atkankan) perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits riwayat Muslim: Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”.

Rasulullah ﷺ bersabda :

« أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ »

“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli-Kitab berpecah belah menjadi 72 millah, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 millah, 72 millah di neraka, dan 1 millah di surga. Merekalah Al-Jama’ah.” (HR. Abu Daud 4597. Hadits hasan). Sedang dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda :مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي "Apa yang aku (nabi Muhammad ﷺ) berada di atasnya dan para Shahabatku.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)


Jumat, 16 Januari 2026

Mengajak Mubahalah Sebagai Bagian Kesempurnaan Penegakan Hujjah


 


Mengajak Mubahalah Sebagai Bagian Kesempurnaan Penegakan Hujjah


أَنَّ السُّنَّةَ فِي مُجَادَلَةِ أَهْلِ الْبَاطِلِ إِذَا قَامَتْ عَلَيْهِمْ حُجَّةُ اللَّهِ، وَلَمْ يَرْجِعُوا، بَلْ أَصَرُّوا عَلَى الْعِنَادِ أَنْ يَدْعُوَهُمْ إِلَى الْمُبَاهَلَةِ، وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِذَلِكَ رَسُولَهُ، وَلَمْ يَقُلْ: إِنَّ ذَلِكَ لَيْسَ لِأُمَّتِكَ مِنْ بَعْدِكَ، وَدَعَا إِلَيْهِ ابْنُ عَمِّهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ لِمَنْ أَنْكَرَ عَلَيْهِ بَعْضَ مَسَائِلِ الْفُرُوعِ، وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ وَدَعَا إِلَيْهِ الْأَوْزَاعِيُّ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ فِي مَسْأَلَةِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ، وَلَمْ يُنْكَرْ عَلَيْهِ ذَلِكَ، وَهَذَا مِنْ تَمَامِ الْحُجَّةِ.
كتاب زاد المعاد في هدي خير العباد ج ٣ ص ٥٦١-٥٦٢  - ت الرسالة الثاني - ابن القيم

"Bahwasanya Sunnah dalam mujadalah (berdebat) melawan pembela kebatilan—apabila hujjah Allah telah tegak atas mereka namun mereka tidak mau kembali (kepada kebenaran), bahkan terus-menerus dalam keangkuhan—adalah dengan mengajak mereka untuk Mubahalah (saling melaknat). Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan hal tersebut kepada Rasul-Nya, dan Dia tidak mengatakan bahwa hal itu tidak berlaku bagi umatmu setelahmu.
Anak paman beliau (sepupu beliau), Abdullah bin Abbas, juga pernah mengajak (mubahalah) orang yang mengingkari sebagian masalah furu' (cabang fikih) terhadapnya, dan para shahabat tidak ada yang mengingkarinya. Demikian pula Al-Auza'i mengajak Sufyan Ats-Tsauri untuk bermubalah dalam masalah mengangkat tangan (saat shalat), dan hal itu pun tidak diingkari. Ini merupakan bagian dari sempurnanya penegakan hujah."

📚 Kitab Zadul-Ma'ad fi Hadyi Khair al-Ibad, jilid 3, halaman 561-562, karya Ibn Qayyim al-Jauziyyah.

Kamis, 15 Januari 2026

Makna "Istawa 'Ala"


Makna "Istawa 'Ala"
 ( معنى استوى على )

استوى على" تعني في اللغة العربية علا وصعد وارتفع فوق شيء، أو استقر وثبت عليه، أو استولى وملَك عليه، ويختلف المعنى الدقيق حسب السياق؛ ففي سياق مثل "استوى على العرش" تعني العلو والارتفاع والمُلك، بينما "استوى على ظهر الدابة" تعني الركوب والعلو عليها، وفي سياق الطعام تعني النضج، ومع شخصين تعني التساوي. 

Istawā 'alā" (استوى على) dalam bahasa Arab berarti tinggi, naik, dan meninggi di atas sesuatu, atau menetap dan kokoh di atasnya, atau menguasai dan memilikinya. Makna tepatnya berbeda-beda sesuai dengan konteksnya:
🔸 Dalam konteks seperti "Istawā 'alal 'Arsy" (استوى على العرش), maknanya adalah al-Uluw (ketinggian), al-irtifa'a (meninggi), dan kekuasaan.
🔸 Sedangkan "Istawā 'alā dhahriddābbah" (استوى على ظهر الدابة) berarti menunggangi dan berada di atas punggung hewan tersebut.
🔸 Dalam konteks makanan (Istawā at-ta'ām), artinya adalah kematangan (masak).
🔸 Jika berkaitan dengan dua orang (Istawā asy-syakhshān), maknanya adalah kesetaraan atau kesamaan.

في السياق العقدي (الاستواء على العرش):
وردت في القرآن الكريم في قوله تعالى: "الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى". واختلف المفسرون في تأويلها:
أهل السنة والجماعة (السلف): يثبتونها كما وردت بمعنى العلو والارتفاع بما يليق بجلال الله، من غير تكييف ولا تشبيه. موقع الإسلام سؤال وجواب

Dalam Konteks Aqidah (Istiwa di Atas Arsy):
Terdapat dalam Al-Qur'an pada firman Allah Ta'ala: "Ar-Rahmanu 'alal 'arsyi-stawa" (Allah Yang Maha Pengasih beristiwa di atas Arsy). Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan maknanya.
🔸Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Salaf): Mereka menetapkannya sebagaimana mestinya dengan makna Tinggi dan Berada di Atas yang sesuai dengan keagungan Allah, tanpa takyif (menggambarkan bentuk/cara) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk).



معاني "استوى على" المختلفة:

العلو والارتفاع: علا وصعد فوق الشيء، مثل قوله تعالى: {ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} أي علا عليه.

الاستقرار والثبات: استقر وثبت، مثل: "استوى على ظهر الدابة" أو "استوت السفينة على الجودي".

الاستيلاء والملك: استولى وتمكن، مثل: "استوى على سرير الملك" أي تولى الحكم.

الاعتدال والاستقامة: استقام واعتدل، مثل: {فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ} أي اعتدل وتكامل.

الجلوس: جلس منتصبًا، مثل: "استوى على الكرسي" أو "استوى على فرسه". 













 

Apa Terjemahan "Istawa/اِسْتَوَى" Yang Lebih Tepat Untuk Menghindari Kesalahpahaman ?


Apa Terjemahan "Istawa/اِسْتَوَى" Yang Lebih Tepat Untuk Menghindari Kesalahpahaman ?

1. Istilah "Bersemayam"

Istilah ini sering digunakan dalam terjemahan Al-Qur'an versi lama (seperti DEPAG). Namun, banyak ulama dan pakar bahasa mengkritik penggunaan kata ini karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersemayam memiliki arti duduk, tinggal, atau berkediaman. Makna ini dianggap terlalu sempit dan berisiko memberikan kesan bahwa Allah membutuhkan tempat atau duduk sebagaimana makhluk.

2. Istilah "Bertakhta"

Istilah "Bertakhta" dianggap sedikit lebih baik daripada bersemayam karena menunjukkan kekuasaan dan keagungan. Meskipun begitu, kata ini tetap memiliki keterbatasan bahasa karena masih bisa diasosiasikan dengan raja di dunia yang membutuhkan singgasana fisik.

3. Pandangan Para Ulama Ahlus-Sunnah

Syaikh Al-Albani dan para ulama Ahlus Sunnah menetapkan sifat Al-Uluw (Ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya) tanpa menetapkan makan (tempat yang melingkupi-Nya). Allah berada di atas Arsy dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa butuh pada Arsy tersebut. 
Banyak ulama menyarankan untuk membiarkan kata "Istawa" tetap sebagaimana adanya atau menerjemahkannya dengan "Betinggi di atas Arsy". Hal ini selaras dengan penjelasan Imam Bukhari dalam Shahih-nya yang menukil pendapat Mujahid dan Abu Al-Aliyah bahwa Istawa berarti Alaa (Meninggi) dan Irtafa’a (Naik/Tinggi).

Jika harus memilih terjemahan yang paling aman untuk menghindari kerancuan akidah:
🔸Lebih Utama: Menggunakan kata "Meninggi/Tinggi di atas Arsy" atau tetap menggunakan istilah "Istawa" dengan penjelasan bahwa Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya tanpa membutuhkan tempat.
🔸 Bertakhta: Lebih luas maknanya dibanding bersemayam, namun tetap harus dibarengi keyakinan bahwa Allah bertakhta tidak serupa dengan raja manapun.
🔸 Hindari "Bersemayam": Karena konotasinya yang sangat kuat dengan makna "tinggal/duduk" secara fisik.

Selasa, 13 Januari 2026

Penjelasan Kemuliaan Umur dan Anjuran untuk Memanfaatkannya dalam Kebaikan

 



Penjelasan Kemuliaan Umur dan Anjuran untuk Memanfaatkannya dalam Kebaikan



الْبَابُ الأَوَّلُ فِي بَيَانِ شَرَفِ الْعُمْرِ وَالْحَثِّ عَلَى اغْتِنَامِهِ فِي الْخَيْرِ

أَخْبَرَنَا أَبُو الْقَاسِمِ هِبَةُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُصَيْنِ، أنا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ التَّمِيمِيُّ، أنا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ يُخْبِرُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:)) إِنَّ الصِّحَّةَ وَالْفَرَاغَ، نِعْمَتَانِ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَغْبُونٌ فِيهِمَا كثيرٌ مِنَ النَّاسِ)) .

قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ، أنا عَبْدُ اللَّهِ –يَعْنِي: ابْنَ الْمُبَارَكِ-، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الأَمَانِيَّ)) .

أَخْبَرَنَا الْكَرُوخِيُّ، أنا أَبُو عَامِرٍ الأَزْدِيُّ، وَأَبُو بَكْرٍ الْغُورَجِيُّ قَالا: أنا ابْنُ الْجَرَّاحِ، ثنا ابْنُ مَحْبُوبٍ، ثنا التِّرْمِذِيُّ، ثنا أَبُو مُصْعَبٍ، عَنْ مُحْرِزِ بْنِ عَوْنٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَعْرَجِ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم قال: ((بادروا بالأعمال سبعاً: هل تنتظرون إِلا فَقْرًا مُنْسِيًا، أَوْ غِنًى مُطْغِيًا، أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا، أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا، أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا، أَوِ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غائبٍ يُنْتَظَرُ، أَوِ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ)) .

كتاب حفظ العمر لابن الجوزي ص ٣١-٣٢

Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Qasim Hibatullah bin Muhammad bin al-Hushain, (ia berkata): Mengabarkan kepada kami Abu Ali al-Hasan bin Ali al-Tamimi, (ia berkata): Mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ja'far, (ia berkata): Menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, (ia berkata): Menceritakan kepadaku ayahku (Imam Ahmad bin Hanbal), (ia berkata): Menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim, (ia berkata): Menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id bin Abi Hind, bahwasanya ia mendengar ayahnya mengabarkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat di antara nikmat-nikmat Allah 'Azza wa Jalla, yang mana banyak manusia merugi (tertipu) pada keduanya."

Diriwayatkan oleh Ahmad, dari Ali bin Ishaq, dari Abdullah (yakni Ibnul Mubarak), dari Abu Bakar bin Abi Maryam, dari Dhamrah bin Habib, dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang cerdas (al-kayyis) adalah orang yang menghisab (mengendalikan) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah (al-'ajiz) adalah orang yang membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsunya, namun ia mengharap berbagai angan-angan kepada Allah عز وجل."

Kami dikabarkan oleh al-Karukhi, dari Abu Amir al-Azdi dan Abu Bakar al-Ghuraji, keduanya berkata: Kami dikabarkan oleh Ibnul Jarrah, dari Ibnu Mahbub, dari at-Tirmidzi, dari Abu Mush'ab, dari Muhriz bin 'Aun, dari Abdurrahman al-A'raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Bersegeralah kalian beramal sebelum datangnya tujuh perkara. Tidaklah kalian menunggu melainkan: (1) Kemiskinan yang membuat lupa. (2) Kekayaan yang membuat melampaui batas. (3) Penyakit yang merusak tubuh. (4) Masa tua yang melemahkan akal. (5) Kematian yang datang dengan cepat. (6) Dajjal, seburuk-buruk sosok gaib yang dinanti. (7) Atau Hari Kiamat, dan Hari Kiamat itu jauh lebih dahsyat dan lebih pahit."

📚 Kitab Hifzhul 'Umr oleh Ibnu al-Jauzi, hal. 31-32

Senin, 12 Januari 2026

Tidakkah Cukup Al-Qur'an dan Uban Sebagai Peringatan?


 


Tidakkah Cukup Al-Qur'an dan Uban Sebagai Peringatan?


يا من لا يقلع عن ارتكاب الحرام لا في شهر حلال ولا في شهر حرام يا من هو في الطاعات إلى وراء وفي المعاصي إلى قدام يا من هو في كل يوم من عمره شرا مما كان في قبله من الأيام متى تستفيق من هذا المنام متى تتوب من هذا الإجرام يا من أنذره الشيب بالموت وهو مقيم على الآثام أما كفاك واعظ الشيب مع واعظ القرآن والإسلام الموت خير لك من الحياة على هذه الحال والسلام كتاب لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف ص ٢٥٩ - ط ابن حزم - ابن رجب الحنبلي

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
"Wahai orang yang tidak berhenti melakukan keharaman, baik di bulan yang halal (biasa) maupun di bulan yang haram (mulia). Wahai orang yang dalam ketaatan justru mundur ke belakang, namun dalam kemaksiatan malah maju ke depan. Wahai orang yang setiap hari dalam umurnya justru lebih buruk dari hari-hari sebelumnya. Kapan engkau akan terbangun dari tidur (kelalaian) ini? Kapan engkau akan bertaubat dari dosa-dosa ini? Wahai orang yang uban telah memperingatkannya akan kematian, namun ia tetap terus bergelimang dosa. Apakah tidak cukup bagimu peringatan dari uban bersama dengan peringatan Al-Qur'an dan Islam? Kematian bagimu lebih baik daripada hidup dalam keadaan seperti ini. Selesai."

📚 Kitab Latha'if al-Ma'arif fima li Mawashim al-'Am min al-Wazha'if, hal. 259 - Cetakan Dar Ibn Hazm - Ibnu Rajab al-Hanbali

Jumat, 09 Januari 2026

Larangan Bermajelis Dengan Ahlul-Bathil Ataupun Ahlul-Ahwa'





Larangan Bermajelis Dengan Ahlul-Bathil Ataupun Ahlul-Ahwa'


وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖٓۖ اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ جَامِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَنَّمَ جَمِيْعًاۙ ۝١٤٠

"Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam," (QS. An-Nisa' : 140)

Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya berkata :

وفي هذه الآية، الدلالة الواضحة على النهي عن مجالسة أهل الباطل من كل نوع، من المبتدعة والفسَقة، عند خوضهم في باطلهم.

"Ayat ini mengandung dalil (petunjuk) yang jelas tentang larangan duduk bersama (bermajelis) dengan para pelaku kebatilan dari segala jenis, baik ahli bid'ah maupun orang-orang fasiq, ketika mereka sedang tenggelam dalam kebatilan mereka."

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: «لَا تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الْأَهْوَاءِ , فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقُلُوبِ» (كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٥٢١ - ابن بطة)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata
"Janganlah kalian duduk bersama pengikut hawa nafsu, karena sesungguhnya duduk bersama mereka itu membuat hati menjadi sakit.". (lihat kitab Ibanah al-Kubra karya Ibnu Baththah)

عَنْ هِشَامٍ , قَالَ: كَانَ الْحَسَنُ وَمُحَمَّدٌ يَقُولَانِ: لَا تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الْأَهْوَاءِ , وَلَا تُجَادِلُوهُمْ , وَلَا تَسْمَعُوا مِنْهُمْ (كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٤٤٤ - ابن بطة)

"Dari Hisyam, ia berkata: Al-Hasan (Al-Bashri) dan Muhammad (bin Sirin) sering berkata: 'Janganlah kalian duduk (bermajelis) dengan pengikut hawa nafsu (ahli bid'ah), jangan mendebat mereka, dan jangan pula mendengarkan ucapan mereka'." (lihat kitab Al-Ibanah al-Kubra, Ibnu Baththah Al-Ukbari,  juz 2 halaman 444)

عَنْ أَبِي قِلَابَةَ , قَالَ: «لَا تُجَالِسُوا أَهْلَ الْأَهْوَاءِ , وَلَا تُجَادِلُوهُمْ , فَإِنِّي لَا آمَنُ مِنْ أَنْ يَغْمِسُوكُمْ فِي ضَلَالَتِهِمْ , أَوْ يُلَبِّسُوا عَلَيْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ» قَالَ: وَكَانَ وَاللَّهِ مِنَ الْفُقَهَاءِ ذَوِي الْأَلْبَابِ
(كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٥١٨ - ابن بطة)

"Dari Abu Qilabah, beliau berkata: 'Janganlah kalian duduk bersama pengikut hawa nafsu (ahli bid'ah) dan janganlah mendebat mereka. Karena sesungguhnya aku tidak merasa aman (khawatir) mereka akan menenggelamkan kalian ke dalam kesesatan mereka, أو mengaburkan (membuat rancu) kebenaran yang telah kalian ketahui.'
Perawi berkata: 'Demi Allah, beliau (Abu Qilabah) adalah termasuk ahli fikih yang memiliki akal cerdas (bijak).’"
(Kitab Al-Ibanah Al-Kubra, jilid 2, halaman 518, karya Ibnu Baththah)

٤٩٥ - حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ أَحْمَدَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو نَصْرٍ عِصْمَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا حَنْبَلُ بْنُ إِسْحَاقَ , قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ , يَقُولُ: «أَهْلُ الْبِدَعِ مَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُجَالِسَهُمْ , وَلَا يُخَالِطَهُمْ , وَلَا يَأْنَسَ بِهِمْ»
(كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٤٧٥ - ابن بطة)

"495 - Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh 'Umar bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Nashr 'Ishmah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hanbal bin Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad bin Hanbal) berkata:  'Ahli bid'ah itu tidak sepatutnya bagi siapa pun untuk duduk bersama mereka, tidak pula bercampur baur (bergaul) dengan mereka, dan tidak pula merasa nyaman (akrab) dengan mereka.'"
(Kitab Al-Ibanah Al-Kubra, jilid 2, halaman 475, karya Ibnu Baththah)

Catatan :
Kitab Al-Ibanah Al-Kubro yang beredar dicetak menjadi 2 jilid sampai 9 jilid

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...