Senin, 29 September 2025

Makna At-Tauhid ( معنى التوحيد ) Dan Makna Kalimat Tauhid "Laa Ilaha Illa Allah"


 


Makna At-Tauhid ( معنى التوحيد ) Dan Makna Kalimat Tauhid "Laa Ilaha Illa Allah"


التوحيد في اللغة: مصدر للفعل (وحَّد، يوحِّد) توحيدا فهو موحِّد إذا نسب إلى الله الوحدانية ووصفه بالانفراد عما يشاركه أو يشابهه في ذاته أو صفاته، والتشديد للمبالغة أي بالغت في وصفه بذلك.

🔸 Tauhid dalam bahasa : Mashdar yang berasal dari kata kerja (wahhada, yuwwahhidu) yang berarti mengesakan, sehingga seseorang disebut sebagai muwahhid (orang yang mengesakan) jika dia menghubungkan keesaan kepada Allah dan mensifati-Nya dengan keunikan dari apa yang menyerupai atau menyamai-Nya dalam dzat atau sifat-sifat-Nya. Dan tashdid (penekanan) dalam kata tersebut untuk menunjukkan mubalaghah, yaitu penekanan yang kuat dalam mensifati Allah dengan keunikan tersebut."

وأما تعريفه في الاصطلاح فهو: . إفراد الله تعالى بما يختص به من الألوهية والربوبية والأسماء والصفات وكل ما يختص به.

🔸 Dan definisi tauhid secara istilah : Mengesakan Allah Ta'ala dengan apa yang khusus bagi-Nya dari segi uluhiyah, rububiyah, asma wa shifat serta semua apa yang khusus bagi Allah.
Atau lebih ringkasnya : "إفراد الله تعالى بما يختص به"

و معنى كلمة التوحيد لا إله إلا الله : لا معبود حق إلا الله، هذا معناها كما قال تعالى: ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ [الحج:62] وهي نفي وإثبات (لا إله) نفي و(إلا الله) إثبات (لا إله) تنفي جميع المعبودات، وجميع الآلهة بغير حق، و(إلا الله) تثبت العبادة بالحق لله وحده فهي أصل الدين وأساس الملة.

"Makna kalimat Tauhid Laa Ilaha Illa Allah adalah: Tidak ada sesembahan yang haqq (benar) kecuali Allah. Ini adalah maknanya sebagaimana kalam Allah Ta'ala: "Demikianlah karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq (benar), dan apa saja yang mereka seru selain dari-Nya adalah batil (palsu)" (QS. Al-Hajj: 62). Kalimat ini merupakan penafian dan penetapan. (Laa ilaaha) adalah penafian, dan (illallah) adalah penetapan. (Laa ilaaha) menafikan semua sesembahan dan semua tuhan yang disembah tanpa hak, sedangkan (illallah) menetapkan ibadah yang benar hanya untuk Allah semata. Maka kalimat ini adalah pokok agama dan dasar millah (agama)."

Catatan : Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah tidak mensyariatkan (mewajibkan) pembagian tauhid menjadi 2, 3, ataupun 4 karena memang tiada al-ijma'. Yang penting bisa memahami makna tauhid dengan benar sesuai faham Salafush-Sholih.

Sabtu, 27 September 2025

Mauqifku Terkait Menghadiri Undangan Walimah Pernikahan dan Hadiah






Mauqifku Terkait Menghadiri Undangan Walimah Pernikahan dan Hadiah


✍🏼 Diriku meyakini bahwa hukum menghadiri undangan walimah pernikahan adalah fardhu kifayah dan bukan fardhu 'ain. Sebagaimana hukum sholat jenazah ataupun menjenguk orang sakit. Sehingga selama ada kemungkaran dan bukan undangan "khusus", maka tidak wajib memenuhi undangan tersebut. Demikian juga apabila ada udzur.

✍🏼 Siapapun boleh mengundangku untuk acara walimah pernikahan. Baik muslim ataupun non muslim, kerabat ataupun bukan kerabat, tetangga dekat ataupun tetangga jauh. Jika berharap diriku datang, maka hendaknya undangan "khusus" dan langsung menemuiku di manapun berada.

✍🏼 Sejak kecil diriku sudah tidak mau ikut tradisi "buwohan" yang termasuk perkara bid'ah karena memang bukan ajaran Nabi dan para Shahabat. Adapun terkait memberi hadiah.. jika tiada udzur insya Allah biasanya diriku memberi hadiah di antaranya bisa berupa :
🔸 mushaf Al-Qur'an ataupun mushaf Al-Qur'an beserta terjemahan. Untuk pedoman hidup. Jika sudah memiliki, maka kelak bisa diberikan kepada anaknya.
🔸 kitab/buku biasanya untuk orang yang gemar membaca.
🔸 madu lebah, al-habbatus-sauda', minyak zaitun untuk menjaga kesehatan tubuh.
🔸 minyak wangi
🔸 susu, perlengkapan masak ataupun semisal dll sesuai keridhaan hati.
Dengan tujuan memberi karena Allah dan tanpa mengharapkan balasan dari mereka.


Pemberitahuan Dan Boleh Disebarkan


Diriku meyakini hukum menghadiri undangan walimah itu bukan fardhu 'ain, melainkan fardhu kifayah. Sebagaimana hukum sholat jenazah ataupun menjenguk orang sakit.

Jika berharap diriku datang memenuhi undangan walimah pernikahan, maka syarat pertama yaitu dengan undangan "khusus". Sampaikan undangan dengan menemuiku secara langsung.

Apabila diriku tidak ditemui secara langsung oleh yang punya hajat dengan alasan rumah jauh.. tidak begitu kenal.. tidak pernah ke rumahku.. sibuk.. hajr (satron/berselisih).. ataupun dengan alasan lain... maka jangan salahkan jika diriku juga tidak ingin datang dengan alasan yang sama. Adil kan?

Jika syarat ini terpenuhi, maka insya Allah diriku jika tidak ada udzur akan memenuhi undangan sekalipun mungkin tidak pada hari H. Terutama jika ada kemungkaran..

Mencari ridha Allah wajib kita dahulukan daripada keridhoan manusia..

« مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »
(صحيح - أخرجه الترمذي)

Jumat, 26 September 2025

Hakikat Kalam Allah Itu Berbeda Dengan Kalam Makhluq


 

Hakikat Kalam Allah Itu Berbeda Dengan Kalam Makhluq


Beredar syubhat bahwa "Al-Qur'an Kalam Allah yang berbahasa Arab seperti perkataan makhluq". Maka sebagai bantahan kita katakan :
1️⃣ Walau sama-sama kalam dan memiliki sisi kesamaan, maka ketahuilah hakikat kalam Allah beda dengan kalam makhluq.

فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١١

".... Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Asy-Syura : 11)
2⃣ Kalam Allah termasuk sifat dari Allah yang qadim, abadi dan tidak diciptakan, sedangkan kalam makhluk adalah ciptaan Allah yang bersifat temporal (sementara) dan tidak kekal.
3⃣ Kalam Allah berasal dari Allah, sedangkan kalam makhluq berasal dari manusia yang memiliki keterbatasan dan kekurangan.
4⃣ Kalam Allah adalah sempurna, tidak ada kesalahan atau kekurangan, sedangkan kalam makhluq dapat memiliki kesalahan dan kekurangan.
5⃣ Kalam Allah memiliki kekuasaan untuk menciptakan dan mengubah sesuatu, sedangkan kalam makhluq tidak memiliki kekuasaan seperti itu.

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ۝٨٢

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “كُنْ!” Maka jadilah sesuatu itu." (QS. Yasin : 82)
6⃣ Andai Al-Qur'an kalam Allah diturunkan kepada sebuah gunung, maka gunung pun bisa hancur.

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ۝٢١

7⃣ Kalam Allah mengandung syifa', rohmat dan petunjuk. Beda dengan kalam makhluq

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا ۝٨٢



Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar


 

Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar



وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝١٠٤

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali-Imran : 104)

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۝١١٠

"Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq." (QS. Ali-Imran : 110)

وَالْعَصْرِۙ ۝١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ۝٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ۝٣

1. Demi masa,
2. sungguh, manusia berada dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al-'Ashr : 1-3)


Rabu, 24 September 2025

Nasihat Untuk Yang Gemar Menyebarkan Berita Kematian Melebihi Hajat


 

Nasihat Untuk Yang Gemar Menyebarkan Berita Kematian Melebihi Hajat



🔸 Untuk saudaraku kaum muslimin.. khususnya Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah, hendaknya tidak menyebarkan berita kematian melebihi hajat yang dibenarkan syariat.


🔸 Dalam Islam dianjurkan untuk menyampaikan berita kematian kepada keluarga dan kerabat untuk memberikan kesempatan ta'ziyah, mendoakan dan melaksanakan kewajiban. Namun, menyebarkan berita kematian secara berlebihan atau melebihi hajat, seperti melalui media sosial atau kepada orang-orang yang tidak perlu mengetahuinya, maka itu termasuk tindakan yang tidak dianjurkan. Hukumnya makruh atau bahkan bisa haram, tergantung pada konteks dan dampaknya. Terlebih jika sampai berdampak ada yang menghujat ataupun mendoakan keburukan atas yang meninggal dunia.

🔸 Di antara hadits yang melarang adalah hadits dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

إِذَا مِتُّ فَلَا تُؤْذِنُوا بِي، إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْيًا، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنِ النَّعْيِ

“Jika aku mati, janganlah kalian mengumumkan kematianku, karena aku takut hal itu termasuk dalam an-na’yu. Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ, melarang dari an-na’yu.” (HR. Tirmidzi no. 986 dan Ahmad no. 23455. At-Tirmidzi mengatakan, “Ini hadits hasan.” Dinilai hasan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (3: 117). Hadits di atas memiliki penguat dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالنَّعْيَ، فَإِنَّ النَّعْيَ مِنْ عَمَلِ الجَاهِلِيَّةِ

“Janganlah kalian mengumumkan kematian seseorang, karena hal itu termasuk perbuatan jahiliyah.” (HR. Tirmidzi (no. 984) secara marfu’)


Tolok Ukur Al-Haqq "Al-Qur'an & As-Sunnah Dengan Faham Salaful-Ummah Ash-Sholih"


 


Tolok Ukur Al-Haqq "Al-Qur'an & As-Sunnah Dengan Faham Salaful-Ummah Ash-Sholih"


📖 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ۝٥٩ (ٱلنِّسَاء ٥٩) 

📖 وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا ۝١١٥ (ٱلنِّسَاء : ١١٥) 

📖 عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله عنه قال : وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون , فقلنا يا رسول الله كأنها موعظة مودعٍ فأوصنا , قال – أوصيكم بتقوى الله عزوجل , والسمع والطاعة وإن تأمر عليك عبد , فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً . فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديّين عضوا عليها بالنواجذ , وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة – رواه أبوداود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح

قال ابن عباس رضي الله عنه للخوارج: جئتكم من عند أصحاب رسول الله وليس فيكم منهم أحدا وعليهم نزل القرآن وهم أعلم بتأويله (جامع بيان العلم (2/127)).

🔸 Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata kepada Khawarij: "Aku datang kepada kalian dari sisi para Shahabat Rasulullah, dan tidak ada di antara kalian seorang pun dari mereka. Al-Qur'an diturunkan kepada mereka (para Shahabat), dan mereka lebih mengetahui tentang tafsirnya." (Dikutip dari Jami' Bayan al-'Ilm, 2/127).

لماذا يجب ان نفهم القرآن والسنة على فهم الصحابة رضي الله عنهم؟
قال العلامة ابن القيم رحمه الله تعالى : "أفهام الصحابة فوق أفهام جميع الأمة، وعلمهم بمقاصد نبيهم ﷺ ، وقواعد دينه وشرعه، أتمّ من عِلم كل مَن جاء بعدهم."  (الطرق الحكمية ٣٢٤/١)

🔸 Mengapa Kita Wajib Memahami Al Qur'an Dan As Sunnah Dengan Pemahaman Para Shahabat ?
Al Allamah Ibnul Qayyim رحمَـہ الله تَعـَالَـى berkata : "Pemahaman Shahabat رضي اللّه عنهم diatas pemahaman seluruh umat. Dan ilmu mereka tentang maksud tujuan Nabi ﷺ dan kaidah-kaidah agamanya dan syari'atnya lebih sempurna daripada ilmu setiap orang yang hidup setelah mereka." (lihat At Turuqul Hikmiyyah : 1/324)
 

Selasa, 23 September 2025

Penggunaan Kullu (كل) Bisa Bermakna "Semua" dan Bisa Bermakna "Sebagian Besar"




Penggunaan Kullu (كل) Bisa Bermakna "Semua" dan Bisa Bermakna "Sebagian Besar"
 
Penggunaan Kull (كل) dalam Al Qur’an

🔸 Tentang segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah, sebagaimana QS. Al-Qashash : 88.

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ۝٨٨

🔸 Tentang setiap yang bernyawa akan mati, sebagaimana QS. Al-Ankabut : 57, QS. Ali-'Imran : 185, dan QS. Al-Anbiya : 35.

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ ۝٥٧

🔸 Tentang penciptaan segala sesuatu dari air, sebagaimana QS. Al-Anbiya’: 30

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ ۝٣٠

🔸 Tentang adzab penghancuran segala sesuatu melalui angin, QS. Al-Ahqof: 25

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍۢ بِاَمْرِ رَبِّهَا فَاَصْبَحُوْا لَا يُرٰىٓ اِلَّا مَسٰكِنُهُمْۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الْقَوْمَ الْمُجْرِمِيْنَ ۝٢٥

🔸 Tentang terbukanya segala pintu bagi orang yang lalai, sebagaimana QS. Al-An’am 44

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ ۝٤٤

🔸 Tentang Ratu Bilqis yang diberi Allah segala sesuatu ( مِنْ كُلِّ شَيْء) tapi realitanya tidak memiliki apa yang dimiliki nabi Sulaiman, sebagaimana QS. An-Naml : 23

اِنِّيْ وَجَدْتُّ امْرَاَةً تَمْلِكُهُمْ وَاُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَّلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ ۝٢٣


Penggunaan Kull (كل) dalam Al-Hadits

🔸 Hadits tentang semua mayit akan hancur dimakan bumi.

كلُّ ابنِ آدمَ يأْكلُهُ التُّرابُ إلاَّ عجبَ الذَّنبِ منْهُ خلقَ وفيهِ يرَكَّبُ

"Kullu ibni Adam akan dimakan oleh tanah kecuali tulang ekornya darinya ia diciptakan dan dengannya dia akan disusun (kembali dalam kehidupan selanjutnya). ( HR Muslim, an-Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah)
Dalam hadits di atas lafadz (كل) bermakna kebanyakan karena ada di antara keturunan Nabi Adam yang jasadnya tidak dimakan oleh tanah diantaranya jasad para nabi dan rasul sesuai dengan hadits :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺣَﺮَّﻡَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺃَﺟْﺴَﺎﺩَ ﺍﻟْﺄَﻧْﺒِﻴَﺎﺀِ

Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada bumi memakan jasad para nabi . (HR Abu Dawud)

🔸 Hadits tentang jintan hitam (الحبة السوداء) sebagai obat segala penyakit ;

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻧَّﻪُ ﺳَﻤِﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺒَّﺔِ ﺍﻟﺴَّﻮْﺩَﺍﺀِ : ( ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺩَﺍﺀٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﺴَّﺎﻡَ ) ﻗَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦُ ﺷِﻬَﺎﺏٍ : ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﻡُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ

Dari Abi Hurairah radhiyaallahu 'anhu bahwasanya beliau mendengar Rasulullah bersabda : "Pada al-habbatus-sauda' ada obat dari segala penyakit kecuali as-saam. Ibnu Syihab berkata: arti as-saam adalah kematian. (HR Bukhari dan Muslim)

🔸 Hadits tentang "Kullu bid'atin dholalah". Dalam riwayat An-Nasaai ada tambahan

وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

“Dan kullu muhdatsah adalah bid’ah dan kullu bid’ah adalah dholallah dan kullu dholallah di neraka” (HR An-Nasaai no 1578)

Kesimpulan

🔸 Makna "kull" (كل) dalam Al-Qur'an dan hadits tidak selalu berarti "semua" atau "setiap". Tapi bisa bermakna "sebagian besar" atau pada umumnya.
🔸 Makna "kull" (كل)  hukum asalnya "semua" atau setiap. Kecuali apabila ada dalil takhsis (yang mengkhususkan) maka maknanya menjadi "sebagian besar.

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...