Rabu, 01 Juli 2026

Syi'ir Kemuliaan Mauqif Diam Menghadapi Orang Bodoh


 


Syi'ir Kemuliaan Mauqif Diam Menghadapi Orang Bodoh



إِذا نَطَقَ السَفيهُ فَلا تَجِبهُ --- فَخَيرٌ مِن إِجابَتِهِ السُكوتُ

فَإِن كَلَّمتَهُ فَرَّجتَ عَنهُ --- وَإِن خَلَّيتَهُ كَمَداً يَموتُ

"Jika orang pandir/bodoh berbicara (mendebatmu), maka jangan engkau jawab, karena sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam."

"Jika engkau melayaninya (berbicara dengannya), engkau akan membuat dirinya senang, namun jika engkau membiarkannya, ia akan mati merana karena dongkol."

قالوا سَكَتَّ وَقَد خُوصِمتَ قُلتُ لَهُم --- إِنَّ الجَوابَ لِبابِ الشَرِّ مِفتاحُ

والصمَّتُ عَن جاهِلٍ أَو أَحمَقٍ شَرَفٌ --- وَفيهِ أَيضاً لِصَونِ العِرضِ إِصلاحُ

أَما تَرى الأُسدَ تُخشى وَهِيَ صامِتَةٌ --- وَالكَلبُ يخسى لَعَمري وَهوَ نَبّاحُ

Mereka berkata: "Engkau diam padahal engkau sedang ditantang berdebat?" Aku katakan kepada mereka:
"Sesungguhnya jawaban (terhadap debat itu) adalah kunci pembuka pintu keburukan."

Diam dari meladeni orang yang bodoh atau pandir adalah sebuah kehormatan,
Dan di dalam diam itu pula, ada perbaikan untuk menjaga harga diri.

Tidakkah engkau melihat singa itu ditakuti padahal ia diam?
Sementara anjing dihinakan —demi umurku—padahal ia menggonggong.

( Diwan Imam Asy-Syafi'i )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tabadul Al-Hujjah vs Tasalsul Al-As'ilah: Seni Menyudahi Debat Kusir

  Tabadul Al-Hujjah vs Tasalsul Al-As'ilah: Seni Menyudahi Debat Kusir Esensi dari jidal syar'i (debat/diskusi yang sesuai syariat...