Sabtu, 03 Oktober 2026

Bantahan Atas Syubhat Sebuah Poster Bahwa "bila kaif" Berarti Meniadakan Mutlak

Bantahan Atas Syubhat Sebuah Poster Bahwa "bila kaif" Berarti Meniadakan Mutlak

https://teguhakhirblora.blogspot.com/2026/10/bantahan-atas-syubhat-sebuah-poster.html?m=1





Isi poster tersebut tidak tepat dan mengandung kekeliruan, baik dari segi pemahaman akidah (khususnya mengenai sifat Istawā) maupun dari tinjauan ilmu bahasa Arab (Nahwu dan Shorof) yang disematkan di dalamnya.

Berikut adalah pelurusan dan penjelasan lengkapnya:

1. Pelurusan dari Segi Istilah dan Akidah (Istawā 'alā al-'Arsy)

• Makna Bila Kaif: Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah (seperti mazhab Salafus Shalih dan imam empat mazhab), istilah bila kaif (tanpa kaif) bukan berarti meniadakan adanya kaif (bagaimana) bagi Allah sebagaimana klaim poster tersebut.

• Prinsip Sebenarnya: Prinsip bila kaif artinya kita mengimani makna Istawā (beristiwa'-nya Allah di atas 'Arsy) sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa merinci, membayangkan, atau mempertanyakan "bagaimana" bentuk/tata cara-Nya. Kita menetapkan maknanya secara bahasa, namun menyerahkan hakikat kaifiyat-nya kepada Allah semata (Mafqud al-kaif, tidak diketahui akalnya oleh manusia), dan kita menyucikan Allah dari menyerupai makhluk (Laisa kamitslihi syai'un).

• Kesalahan Poster: Poster tersebut keliru karena menyatakan bahwa bila kaif berarti meniadakan mutlak adanya kaif bagi Allah atau mendefinisikannya dengan konotasi yang diputarbalikkan.

2. Pelurusan dari Segi Ilmu Nahwu dan Shorof

Poster tersebut menutup narasinya dengan kalimat: "Check aja Nahwu Shorof nya..." Ini adalah bentuk pencatutan istilah tata bahasa Arab yang keliru untuk mendukung argumen yang salah:

• Analisis Kata Bila (بلا): Dalam ilmu Nahwu, bila terdiri dari huruf ba' dan la (seperti lā nafi / peniadaan). Secara fungsi gramatikal, bila adalah huruf nafi (peniadaan/tidak) yang masuk pada isim (kata benda). Jadi, secara bahasa, bila kaif secara harfiah memang bermakna "tanpa bagaimananya" atau "tanpa ada bentuk/tata cara".

• Kekeliruan Pembuat Poster: Pembuat poster mencoba mengotak-ngotak dengan membedakan Bila Kaif dan Bi Kaif secara serampangan untuk menyimpulkan adanya peniadaan mutlak atau tafsir liar. Padahal, dalam Nahwu-Shorof, imbuhan huruf bi (ب) pada bi kaif berfungsi sebagai ilshoq atau ta'diyah (menunjukkan kelekatan/makna "dengan"), sedangkan bila menunjukkan peniadaan ("tanpa").

• Menggunakan pisau analisis Nahwu-Shorof untuk membalikkan makna bila kaif menjadi "meniadakan adanya kaif bagi Allah" adalah pemahaman gramatikal yang dipaksakan dan keluar dari kaidah penafsiran ulama salaf.

Kesimpulan

Poster tersebut tidak benar. Secara akidah, pemahamannya menyalahi mazhab Ahlus Sunnah dalam menyikapi sifat-sifat Allah (Istawā), dan secara linguistik, penggunaan dalih "Nahwu Shorof" di dalamnya dipakai secara keliru untuk membenarkan logika yang menyimpang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siapakah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani?

  Siapakah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani? https://teguhakhirblora.blogspot.com/2026/10/siapakah-syaikh-muhammad-nashiruddin-al.html?...