Selasa, 16 Desember 2025

Nabi ﷺ dan Para Salafush-Sholih Biasa Memakai Cincin Yang Berukir Tulisan





Nabi ﷺ dan Para Salafush-Sholih Biasa Memakai Cincin Yang Berukir Tulisan


🔸 Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من ورق وكان فصه حبشيا

Cincin Nabi  terbuat dari perak, dan mata cincinnya berasal dari Habasyah (ethiopia). (HR. Muslim 2094, Turmudzi 1739, dan yang lainnya).

🔸 Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من فضة فصه منه

”Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perak, dan mata cincin juga dari bahan perak.” (HR. Bukhari 5870, Nasai 5198, dan yang lainnya).

🔸 Juga dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, katanya:

كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةَ أَسْطُرٍ مُحَمَّدٌ سَطْرٌ وَرَسُولُ سَطْرٌ وَاللَّهِ سَطْرٌ

“Adalah cincin Rasulullah memiliki tiga garis tulisan:
Ukiran pada cincin Nabi terdiri dari tiga baris: "Muhammad" pada baris pertama, "Rasul" pada baris kedua, dan "Allah" pada baris ketiga.." (H.R. Bukhari No. 2939, 5540. At Tirmidzi No. 1748, Ibnu Majah No. 3639–3640)

🔸 Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Majmu menyebutkan;

"وَيَجُوزُ نَقْشُهُ وَإِنْ كَانَ فِيهِ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى فَفِي الصَّحِيحَيْنِ " كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَلَا كَرَاهَةَ فِيهِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ وَمَالِكٌ وَالْجُمْهُورُ وَكَرِهَهُ ابْنُ سِيرِينَ وَبَعْضُهُمْ لِخَوْفِ امْتِهَانِهِ وَهَذَا بَاطِلٌ مُنَابِذٌ لِلْحَدِيثِ وَلِفِعْلِ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ قَالَ الْعُلَمَاءُ مِنْ إصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ وَلَهُ أَنْ يَنْقُشَ فِيهِ اسْمَ نَفْسِهِ أَوْ كَلِمَةَ حِكْمَةٍ وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ لِلرَّجُلِ جَعْلُ خَاتَمِهِ فِي خِنْصَرِهِ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ ...." (كتاب المجموع شرح المهذب ج ٤ ص ٤٦٣  - ط المنيرية - النووي)

"Dan diperbolehkan mengukir cincin (dengan tulisan), meskipun di dalamnya terdapat zikir kepada Allah Ta'ala. Sebab, dalam kitab Ash-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) disebutkan bahwa: 'Ukiran cincin Rasulullah adalah: Muhammad Rasulullah.'

Menurut madzhab kami (Syafi'iyah), hal tersebut tidaklah makruh. Pendapat ini juga dipegang oleh Sa’id bin al-Musayyib, Imam Malik, dan mayoritas ulama (Jumhur). Sementara itu, Ibnu Sirin dan sebagian ulama lainnya memakruhkannya karena khawatir akan terjadi penghinaan (terhadap asma Allah). Namun, pendapat (yang memakruhkan) ini adalah batil karena bertentangan dengan hadits serta perbuatan para ulama salaf maupun khalaf.

Para ulama dari kalangan sahabat kami (Syafi'iyah) dan ulama lainnya berkata: Seseorang diperbolehkan mengukir namanya sendiri atau kalimat hikmah pada cincinnya.

Dan kaum muslimin telah bersepakat (ijma') bahwa sunnah bagi laki-laki adalah memakai cincin di jari kelingkingnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim..."

🔸 Ibnu Rajab rahimahullah kitab Ahkam al-Khawatim menyebutkan,

وأما خواتيم غيرهم من الصحابة والتابعين والأئمة فقد روي أن الزبير كان نقش خاتمه: "ثقتي بالرحمن"، ونقش خاتم حذيفة: "الحمد لله" ونقش أويس القرني: "كن من الله عَلَى حذر"، وعلى خاتم الحسن البصري: "لا إله إلا الله الملك الحق المبين" وقد تقدم.

وعلى خاتم النخعي: "نحن بالله وله". وعلى خاتم الشعبي: "الله ولي الخلق"، وعلى خاتم طاوس: "أعبد الله مخلصًا"، وعلى خاتم الزهري: "محمد يسأل الله العافية". رواه أبو نعيم في الحلية.

وعلى خاتم هشام بن عروة: "رب زدني علمًا"، وعلى خاتم مالك ابن أنس: "حسبنا الله ونعم الوكيل"، وكان نقش فص خاتم النعمان أبو حنيفة: "قل الخير وإلا فلتسكت (١)، وأبي يوسف: "من عمل برأيه ندم"، ومحمد ابن ( ... ) (٢)، وعلى خاتم الشافعي: "الله ثقة محمد بن إدريس"، وعلى خاتم الربيع بن سليمان: "الله ثقة الربيع بن سليمان".

وكان نقش خاتم أبي مسهر: "أبرمت فقم"، فَإِذَا استثقل أحدًا ختم به علي طينة ثم رماها إِلَيْهِ فيقرأها.

وروى أبو نعيم في "الحلية" من طريق ابن عائشة عن أبيه قال: بلغ عمر ابن عبد العزيز رضي الله عنه أن ابنًا له اشترى فصًا بألف درهم فكتب إِلَيْهِ عمر: عزيمة مني عليك لما بعت الفص الَّذِي اشتريت بألف درهم وتصدقت بثمنه، واشتريت فصًا بدرهم ونقشت عليه "رحم الله امرأً عرف قدره".

وعن الأوزاعي قال: نقش رجل عَلَى خاتم عمر بن عبد العزيز، فحسبه خمس عشرة ليلة، ثم خلى سبيله. ونقش بعض العارفين عَلَى خاتمه: "ولعل طرفك لا يدور وأنت تجمع {للدهور} " (٣)، ونقش بعضهم عَلَى خاتمه "وإن امرأً دنياه أكبر همه لمستمسك منها بحبل غرور".

(كتاب أحكام الخواتيم ص ٦٨٢-٦٨٣ - ابن رجب الحنبلي)

"Adapun cincin para sahabat lainnya, para tabi'in, dan para imam, maka telah diriwayatkan bahwa ukiran cincin Az-Zubair adalah: 'Thiqati bir-Rahman' (Kepercayaanku kepada Sang Maha Pengasih). Ukiran cincin Hudzaifah'Alhamdulillah' (Segala puji bagi Allah). Ukiran cincin Uwais al-Qarni'Kun minallahi 'ala hadzar' (Waspadalah/berhati-hatilah terhadap Allah). Dan pada cincin Al-Hasan al-Bashri'La ilaha illallah al-Malikul Haqqul Mubin' (Tiada Ilahi selain Allah, Penguasa yang Maha Benar lagi Maha Nyata), dan ini telah disebutkan sebelumnya.

Pada cincin An-Nakha'i'Nahnu billahi wa lahu' (Kita milik Allah dan bersama Allah). Pada cincin Asy-Sya'bi'Allahu waliyyul khalq' (Allah adalah pelindung makhluk). Pada cincin Thawus'A'budullaha mukhlishan' (Aku menyembah Allah dengan ikhlas). Pada cincin Az-Zuhri'Muhammadun yas'alullaha al-'afiyah' (Muhammad memohon keselamatan kepada Allah). Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah.

Pada cincin Hisyam bin Urwah'Rabbi zidni 'ilman' (Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku). Pada cincin Malik bin Anas'Hasbunallahu wa ni'mal wakil' (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung). Ukiran mata cincin An-Nu'man Abu Hanifah adalah: 'Qul al-khaira wa illa faltaskut' (Katakanlah yang baik atau diamlah). Ukiran cincin Abu Yusuf'Man 'amila bira'yihi nadima' (Siapa yang bertindak hanya berdasarkan pendapatnya sendiri, ia akan menyesal). Ukiran Muhammad bin (Asy-Syaibani)... Pada cincin Asy-Syafi'i'Allahu thiqatu Muhammad bin Idris' (Allah adalah kepercayaan Muhammad bin Idris). Pada cincin Ar-Rabi' bin Sulaiman'Allahu thiqatu Ar-Rabi' bin Sulaiman'.

Adapun ukiran cincin Abu Mushir adalah: 'Abramta faqum' (Engkau sudah membosankan/mengganggu, maka berdirilah/pergilah). Jika ia merasa berat (terganggu) dengan kehadiran seseorang, ia akan mengecapkan cincin itu pada segumpal tanah liat lalu melemparkannya kepada orang tersebut, sehingga orang itu membacanya (dan segera pergi).

Abu Nu'aim meriwayatkan dalam al-Hilyah melalui jalur Ibnu Aisyah dari ayahnya, ia berkata: Sampai kabar kepada Umar bin Abdul Aziz r.a. bahwa salah seorang putranya membeli mata cincin seharga seribu dirham. Maka Umar menulis surat kepadanya: 'Aku perintahkan dengan tegas kepadamu agar engkau menjual mata cincin seharga seribu dirham itu dan menyedekahkan uangnya, lalu belilah mata cincin seharga satu dirham dan ukirlah di atasnya: 'Rahimallahu amra'an 'arafa qadrah' (Semoga Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar/kemampuan dirinya).'

Dari Al-Auza'i, ia berkata: Seseorang mengukir (sesuatu yang tidak pantas) pada cincin Umar bin Abdul Aziz, maka Umar menahannya selama lima belas malam, kemudian melepaskannya. Sebagian orang arif (ahli makrifat) mengukir pada cincinnya: 'Mungkin saja matamu tak lagi berkedip, sementara engkau sibuk mengumpulkan harta untuk masa depan (zaman)'. Dan sebagian lagi mengukir pada cincinnya: 'Sungguh, seseorang yang dunianya menjadi obsesi terbesarnya, berarti ia sedang berpegang pada tali tipu daya'."

 

Sabarlah Atas Cercaan Dan Maafkanlah


 


Sabarlah Atas Cercaan Dan Maafkanlah


١٢٠ - حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ إِسْحَاقَ، عَنِ الْمُبَارَكِ بْنِ فَضَالَةَ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: " سَبَّ رَجُلٌ رَجُلًا مِنَ الصَّدْرِ الْأَوَّلِ، فَقَامَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَمْسَحُ الْعَرَقَ عَنْ وَجْهِهِ، وَهُوَ يَتْلُو: {وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ} [الشورى: ٤٣] ".
١٢١ - قَالَ الْحَسَنُ: «عَقَلَهَا وَاللَّهِ وَفَهَمَهَا إِذْ ضَيَّعَهَا الْجَاهِلُونَ»
كتاب الصبر والثواب عليه لابن أبي الدنيا ص ٨٧ - ابن أبي الدنيا

120 - Telah menceritakan kepadaku Ali bin Al-Hasan, dari Yahya bin Ishaq, dari Al-Mubarak bin Fadhalah, dari Al-Hasan, ia berkata: "Seorang laki-laki mencaci maki seorang laki-laki dari kalangan generasi al-awwal (generasi pertama umat ini), maka laki-laki itu berdiri sambil mengusap keringat dari wajahnya, dan ia membaca:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ۝٤٣

'Dan barangsiapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan (perbuatan) yang mulia.' (QS. Al-Syura: 43)."

121 - Al-Hasan berkata: "Ia telah memahami dan mengamalkan (ayat) itu, demi Allah, ketika orang-orang yang bodoh telah mengabaikannya (menyia-nyiakannya)."

📚 Kitab Al-Sabr wa Al-Tsawab 'Alaiah, Ibn Abi Al-Dunia, hal. 87

Kita boleh membela diri ketika dizholimi ataupun membalas kezhaliman dengan semisal (qishash), tetapi bersabar dan memaafkan itu termasuk perbuatan mulia yang lebih utama..

Senin, 15 Desember 2025

Setiap Dosa dan Perbuatan Yang Haram Hakekatnya Termasuk Akhlaq Tercela


 

Setiap Dosa dan Perbuatan Yang Haram Hakekatnya Termasuk Akhlaq Tercela


قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٣٣ ( سورة الأعراف : ٣٣ )
عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ، فَقَالَ: «الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ». (صحيح - رواه مسلم)
«فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ القُرآنَ ...الخ» رواه مسلم

🔸 Nabi Muhammad ﷺ diutus Allah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlaq dengan mengajarkan syari'at Islam. Syariat Islam diturunkan untuk menjaga lima hal pokok (Maqashid Syariah) yaitu : Hifdz Ad-Din
(menjaga agama), An-Nafs (jiwa), Al-Aql (akal), Al-Mal (harta) dan An-Nasl (keturunan). Perbuatan haram dan dosa selalu merusak salah satu/lebih dari maqashid syariah, sehingga dipandang buruk (akhlaq tercela).
🔸 Akhlaq adalah sifat atau tabiat yang tertanam dalam jiwa dan tercermin dalam perilaku, sikap, serta tutur kata yang mencakup hubungan dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia, dan alam semesta, berdasarkan nilai-nilai moral dan ajaran agama.
🔸 Al-birr (kebaikan) itu akhlaq yang baik (akhlaq mahmudah/karimah), sehingga setiap dosa (keburukan) itu termasuk akhlaq tercela (akhlaq madzmumah)
🔸 Akhlaq bukan sekadar perilaku baik dalam interaksi sosial, tetapi sebuah sistem nilai yang mencakup kepatuhan terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Akhlaq Nabi adalah Al-Qur'an.

Setiap perbuatan haram (syirik, bid'ah ataupun kabair al-itsm) dan dosa adalah pelanggaran terhadap perintah Allah. Pelanggaran terhadap perintah Ilahi adalah bentuk ketidaksopanan tertinggi atau akhlaq (perilaku) yang tidak bermoral dalam kerangka etika Islam, sehingga secara pasti termasuk dalam akhlaq yang buruk (akhlaq madzmumah).


Sabtu, 13 Desember 2025

Sabar Yang Baik ( الصَّبْرُ الْجَمِيلُ )




Sabar Yang Baik ( الصَّبْرُ الْجَمِيلُ )

﴿فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ﴾

".... Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan". (Yusuf: 18)

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الصَّبْرُ الْجَمِيلُ: الَّذِي لَا جَزَعَ فِيهِ.
وَرَوَى هُشَيْم، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَحْيَى، عَنْ حبَّان بْنِ أَبِي جَبَلة قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ قَوْلِهِ: ﴿فَصَبْرٌ جَمِيلٌ﴾ فَقَالَ: "صَبْرٌ لَا شَكْوَى(٣) فِيهِ" وَهَذَا مُرْسَلٌ(٤) .
وَقَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: قَالَ الثَّوْرِيُّ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ قَالَ: ثَلَاثٌ مِنَ الصَّبْرِ: أَلَّا تُحَدِّثَ بِوَجَعِكَ، وَلَا بِمُصِيبَتِكَ، وَلَا تُزَكِّيَ نَفْسَكَ(٥) .
وَذَكَرَ الْبُخَارِيُّ هَاهُنَا حَدِيثَ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فِي الْإِفْكِ حَتَّى ذَكَرَ قَوْلَهَا: وَاللَّهِ لَا أَجِدُ لِي وَلَكُمْ مَثَلًا إِلَّا أَبَا يُوسُفَ(٦) ، ﴿فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ﴾(٧) .
( تفسير ابن كثير — ابن كثير ٧٧٤ هـ)


Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan :

'Mujahid berkata: "Sabar yang baik adalah sabar yang tidak ada keluhan di dalamnya."

Hasyim meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yahya, dari Habban bin Abi Jablah, dia berkata: "Rasulullah ditanya tentang kalam Allah: { فَصَبْرٌ جَمِيلٌ } 'Maka bersabarlah dengan sabar yang baik' (Yusuf: 18), maka beliau bersabda: 'Sabar yang tidak ada keluhan di dalamnya.'"
Atsar ini adalah mursal.

Abdurrazzaq berkata: "Ats-Tsauri berkata dari sebagian sahabatnya, bahwa ada tiga hal yang termasuk sabar: tidak menceritakan sakitmu, tidak menceritakan musibahmu, dan tidak menyanjung dirimu sendiri."

Al-Bukhari menyebutkan hadits Aisyah radhiyaallahu 'anha tentang kisah Al-Ifk, sampai pada perkataannya: "Demi Allah, aku tidak menemukan contoh bagi kami kecuali seperti yang dikatakan ayah Yusuf:

﴿فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ﴾

'Maka bersabarlah dengan sabar yang baik, dan Allah-lah yang dimohon pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.'" (Yusuf: 18)

📚 lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Yusuf : 18

Kamis, 11 Desember 2025

Tawakkal dan Bersandar Kepada Baiknya Pilihan Allah





Tawakkal dan Bersandar Kepada Baiknya Pilihan Allah



كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٢١٦

".... dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216)

فَسَتَذْكُرُوْنَ مَآ اَقُوْلُ لَكُمْۗ وَاُفَوِّضُ اَمْرِيْٓ اِلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ بَصِيْرٌ ۢ بِالْعِبَادِ ۝٤٤

".... maka kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafir : 44)

وعن قيس بن جبير قال قال عبد الله حبذا المكروهان الموت والفقر وايم الله ان هو إلا الغنى والفقر وما أبالي بايهما بليت إن حق الله في كل واحد منهما واجب وان كان الغنى فيه للعطف وان كان للفقراء ان فيه للصبر.
وعن الحسن قال قال عبد الله بن مسعود ما أبالي إذا رجعت إلى أهلي على أي حال اراهم بخير أو بشر أم بضر وما أصبحت على حالة فتمنيت أني على سواها. (كتاب صفة الصفوة ج ١ ص ١٥٤ - ابن الجوزي)

Dari Qais bin Jubair, ia berkata, Abdullah bin Mas'ud berkata, "Alangkah baiknya dua hal yang tidak disukai: kematian dan kefakiran. Demi Allah, keduanya hanyalah kekayaan dan kefakiran. Aku tidak peduli dengan mana dari keduanya aku diuji, karena hak Allah dalam keduanya adalah wajib. Jika kekayaan, maka ada kewajiban untuk bersedekah, dan jika kefakiran, maka ada kewajiban untuk bersabar."

Dari Al-Hasan, ia berkata, Abdullah bin Mas'ud berkata, "Aku tidak peduli dengan keadaan apa pun aku kembali kepada keluargaku, apakah mereka dalam keadaan baik atau buruk, atau dalam kesulitan. Aku tidak pernah pagi hari dengan keadaan tertentu, lalu aku menginginkan agar aku berada dalam keadaan lain."

📚 Kitab Shifat Ash-Shofwah, jilid 1, halaman 154, Ibn Al-Jauzi

وقال أبو العباس محمد بن يزيد المبرد قيل للحسن بن علي: إن أبا ذر يقول: الفقر أحب إلي من الغنى، والسقم أحب إلي من الصحة، فقال: رحم الله أبا ذر أما أنا فأقول: من اتكل على حسن اختيار الله له لم يتمكن أن يكون في غير الحالة التي اختار الله له. وهذا أحد الوقوف على الرضا بما تعرف به القضاء. (كتاب البداية والنهاية - ط السعادة ج ٨ ص ٣٩ - ابن كثير)

Abu Al-Abbas Muhammad bin Yazid Al-Mubarrad berkata, "Dikatakan kepada Hasan bin Ali, 'Abu Dzar berkata, 'Kefakiran lebih aku sukai daripada kekayaan, dan sakit lebih aku sukai daripada sehat.' Hasan bin Ali menjawab, 'Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Adapun aku, aku katakan, 'Barangsiapa yang percaya pada pilihan Allah yang baik baginya, maka ia tidak akan menginginkan keadaan lain selain yang telah Allah pilih untuknya.' Ini adalah salah satu bentuk ridha dengan apa yang telah ditetapkan oleh taqdir."

📚 Kitab Al-Bidayah wa Al-Nihayah, jilid 8, halaman 39, Ibnu Katsir

Para Ash-Shodiq ( Orang yang Jujur ) Punya Tabi'at dan Kebiasaan Sedikit Tidur


 

Para Ash-Shodiq ( Orang yang Jujur ) Punya Tabi'at dan Kebiasaan Sedikit Tidur


۞ اِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ اَنَّكَ تَقُوْمُ اَدْنٰى مِنْ ثُلُثَيِ الَّيْلِ وَنِصْفَهٗ وَثُلُثَهٗ وَطَاۤىِٕفَةٌ مِّنَ الَّذِيْنَ مَعَكَۗ وَاللّٰهُ يُقَدِّرُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ عَلِمَ اَنْ لَّنْ تُحْصُوْهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْاٰنِۗ عَلِمَ اَنْ سَيَكُوْنُ مِنْكُمْ مَّرْضٰىۙ وَاٰخَرُوْنَ يَضْرِبُوْنَ فِى الْاَرْضِ يَبْتَغُوْنَ مِنْ فَضْلِ اللّٰهِۙ وَاٰخَرُوْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۖ فَاقْرَءُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُۙ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًاۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِۙ هُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٢٠

"Sesungguhnya Rabb-mu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an; Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah; dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Muzzammil : 20)

✍🏻  Berdasarkan ayat di atas maka dapat difahami :
⭐ Dua pertiga malam lamanya sekitar 7 jam, dari jam 21.00 malam hingga pukul 04:00 pagi.
⭐ Seperdua malam lamanya sekitar 5 jam, dari jam 23:00 malam hingga jam 04:00 pagi.
⭐ Sepertiga malam lamanya sekitar 3 jam, dari jam 01:00 dini hari hingga jam 04:00 pagi.
✍🏻  Para Ash-Shodiq (orang-orang yang jujur dan benar) punya tabi'at dan kebiasaan sedikit tidur atau hanya sekitar 3-5 jam/hari.
✍🏻  Misal malam hari hanya tidur sekitar 2 jam, maka bisa ditambah tidur siang 1 atau 2 jam.

لا حول ولا قوة إلا بالله


Selasa, 09 Desember 2025

Mauqif Seorang Muslim Terhadap Harta




Mauqif Seorang Muslim Terhadap Harta



"ثُمَّ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَأْخُذَ الْمَالَ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ لِيُبَارَكَ لَهُ فِيهِ وَلَا يَأْخُذُهُ بِإِشْرَافِ وَهَلَعٍ؛ بَلْ يَكُونُ الْمَالُ عِنْدَهُ بِمَنْزِلَةِ الْخَلَاءِ الَّذِي يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ لَهُ فِي الْقَلْبِ مَكَانَةٌ وَالسَّعْيُ فِيهِ إذَا سَعَى كَإِصْلَاحِ الْخَلَاءِ. وَفِي الْحَدِيثِ الْمَرْفُوعِ الَّذِي رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ: {مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ شَتَّتَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. وَمَنْ أَصْبَحَ وَالْآخِرَةُ أَكْبَرُ هَمِّهِ جَمَعَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ؟ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ} . وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: أَنْتَ مُحْتَاجٌ إلَى الدُّنْيَا وَأَنْتَ إلَى نَصِيبِك مِنْ الْآخِرَةِ أَحْوَجُ فَإِنْ بَدَأْت بِنَصِيبِك مِنْ الْآخِرَةِ مَرَّ عَلَى نَصِيبِك مِنْ الدُّنْيَا فَانْتَظَمَهُ انْتِظَامًا."
                                           
من كتاب: مجموع الفتاوى ج ١٠ ص ٦٦٣

"Kemudian, hendaknya ia (seorang muslim) mengambil harta dengan jiwa yang dermawan, agar diberkahi baginya di dalamnya, dan tidak mengambilnya dengan keserakahan dan ketamakan. Sebaliknya, harta itu harus berada di sisinya seperti tempat pembuangan (wc atau pembuangan sampah) yang dibutuhkan, tanpa memiliki tempat di dalam hatinya. Dan usahanya dalam mencari harta harus seperti memperbaiki tempat pembuangan.

Dalam hadits marfu' yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya, Nabi bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ شَتَّتَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. وَمَنْ أَصْبَحَ وَالْآخِرَةُ أَكْبَرُ هَمِّهِ جَمَعَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ؟ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

"Barangsiapa yang pagi harinya dengan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, memecah-belah kekayaannya, dan tidak akan datang kepadanya dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang pagi harinya dengan akhirat sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dengan sendirinya."

Sebagian As-Salaf berkata, "Engkau membutuhkan dunia, tetapi engkau lebih membutuhkan bagianmu di akhirat. Jika engkau memulai dengan bagianmu di akhirat, maka bagianmu di dunia akan mengikuti dan engkau akan mendapatkannya dengan mudah."

📚 Dari Kitab Majmu’ Al-Fatawa 10/663

Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat

  Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat Shalat merupakan tiang agama yang memiliki dimensi spiritual, mental, hingga fisik. Berikut adalah penj...