Kamis, 15 Januari 2026

Apa Terjemahan "Istawa/اِسْتَوَى" Yang Lebih Tepat Untuk Menghindari Kesalahpahaman ?


Apa Terjemahan "Istawa/اِسْتَوَى" Yang Lebih Tepat Untuk Menghindari Kesalahpahaman ?

1. Istilah "Bersemayam"

Istilah ini sering digunakan dalam terjemahan Al-Qur'an versi lama (seperti DEPAG). Namun, banyak ulama dan pakar bahasa mengkritik penggunaan kata ini karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersemayam memiliki arti duduk, tinggal, atau berkediaman. Makna ini dianggap terlalu sempit dan berisiko memberikan kesan bahwa Allah membutuhkan tempat atau duduk sebagaimana makhluk.

2. Istilah "Bertakhta"

Istilah "Bertakhta" dianggap sedikit lebih baik daripada bersemayam karena menunjukkan kekuasaan dan keagungan. Meskipun begitu, kata ini tetap memiliki keterbatasan bahasa karena masih bisa diasosiasikan dengan raja di dunia yang membutuhkan singgasana fisik.

3. Pandangan Para Ulama Ahlus-Sunnah

Syaikh Al-Albani dan para ulama Ahlus Sunnah menetapkan sifat Al-Uluw (Ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya) tanpa menetapkan makan (tempat yang melingkupi-Nya). Allah berada di atas Arsy dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa butuh pada Arsy tersebut. 
Banyak ulama menyarankan untuk membiarkan kata "Istawa" tetap sebagaimana adanya atau menerjemahkannya dengan "Betinggi di atas Arsy". Hal ini selaras dengan penjelasan Imam Bukhari dalam Shahih-nya yang menukil pendapat Mujahid dan Abu Al-Aliyah bahwa Istawa berarti Alaa (Meninggi) dan Irtafa’a (Naik/Tinggi).

Jika harus memilih terjemahan yang paling aman untuk menghindari kerancuan akidah:
🔸Lebih Utama: Menggunakan kata "Meninggi/Tinggi di atas Arsy" atau tetap menggunakan istilah "Istawa" dengan penjelasan bahwa Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya tanpa membutuhkan tempat.
🔸 Bertakhta: Lebih luas maknanya dibanding bersemayam, namun tetap harus dibarengi keyakinan bahwa Allah bertakhta tidak serupa dengan raja manapun.
🔸 Hindari "Bersemayam": Karena konotasinya yang sangat kuat dengan makna "tinggal/duduk" secara fisik.

Selasa, 13 Januari 2026

Penjelasan Kemuliaan Umur dan Anjuran untuk Memanfaatkannya dalam Kebaikan

 



Penjelasan Kemuliaan Umur dan Anjuran untuk Memanfaatkannya dalam Kebaikan



الْبَابُ الأَوَّلُ فِي بَيَانِ شَرَفِ الْعُمْرِ وَالْحَثِّ عَلَى اغْتِنَامِهِ فِي الْخَيْرِ

أَخْبَرَنَا أَبُو الْقَاسِمِ هِبَةُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُصَيْنِ، أنا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ التَّمِيمِيُّ، أنا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ يُخْبِرُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:)) إِنَّ الصِّحَّةَ وَالْفَرَاغَ، نِعْمَتَانِ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَغْبُونٌ فِيهِمَا كثيرٌ مِنَ النَّاسِ)) .

قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ، أنا عَبْدُ اللَّهِ –يَعْنِي: ابْنَ الْمُبَارَكِ-، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الأَمَانِيَّ)) .

أَخْبَرَنَا الْكَرُوخِيُّ، أنا أَبُو عَامِرٍ الأَزْدِيُّ، وَأَبُو بَكْرٍ الْغُورَجِيُّ قَالا: أنا ابْنُ الْجَرَّاحِ، ثنا ابْنُ مَحْبُوبٍ، ثنا التِّرْمِذِيُّ، ثنا أَبُو مُصْعَبٍ، عَنْ مُحْرِزِ بْنِ عَوْنٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَعْرَجِ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم قال: ((بادروا بالأعمال سبعاً: هل تنتظرون إِلا فَقْرًا مُنْسِيًا، أَوْ غِنًى مُطْغِيًا، أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا، أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا، أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا، أَوِ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غائبٍ يُنْتَظَرُ، أَوِ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ)) .

كتاب حفظ العمر لابن الجوزي ص ٣١-٣٢

Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Qasim Hibatullah bin Muhammad bin al-Hushain, (ia berkata): Mengabarkan kepada kami Abu Ali al-Hasan bin Ali al-Tamimi, (ia berkata): Mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ja'far, (ia berkata): Menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, (ia berkata): Menceritakan kepadaku ayahku (Imam Ahmad bin Hanbal), (ia berkata): Menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim, (ia berkata): Menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id bin Abi Hind, bahwasanya ia mendengar ayahnya mengabarkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat di antara nikmat-nikmat Allah 'Azza wa Jalla, yang mana banyak manusia merugi (tertipu) pada keduanya."

Diriwayatkan oleh Ahmad, dari Ali bin Ishaq, dari Abdullah (yakni Ibnul Mubarak), dari Abu Bakar bin Abi Maryam, dari Dhamrah bin Habib, dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang cerdas (al-kayyis) adalah orang yang menghisab (mengendalikan) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah (al-'ajiz) adalah orang yang membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsunya, namun ia mengharap berbagai angan-angan kepada Allah عز وجل."

Kami dikabarkan oleh al-Karukhi, dari Abu Amir al-Azdi dan Abu Bakar al-Ghuraji, keduanya berkata: Kami dikabarkan oleh Ibnul Jarrah, dari Ibnu Mahbub, dari at-Tirmidzi, dari Abu Mush'ab, dari Muhriz bin 'Aun, dari Abdurrahman al-A'raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Bersegeralah kalian beramal sebelum datangnya tujuh perkara. Tidaklah kalian menunggu melainkan: (1) Kemiskinan yang membuat lupa. (2) Kekayaan yang membuat melampaui batas. (3) Penyakit yang merusak tubuh. (4) Masa tua yang melemahkan akal. (5) Kematian yang datang dengan cepat. (6) Dajjal, seburuk-buruk sosok gaib yang dinanti. (7) Atau Hari Kiamat, dan Hari Kiamat itu jauh lebih dahsyat dan lebih pahit."

📚 Kitab Hifzhul 'Umr oleh Ibnu al-Jauzi, hal. 31-32

Senin, 12 Januari 2026

Tidakkah Cukup Al-Qur'an dan Uban Sebagai Peringatan?


 


Tidakkah Cukup Al-Qur'an dan Uban Sebagai Peringatan?


يا من لا يقلع عن ارتكاب الحرام لا في شهر حلال ولا في شهر حرام يا من هو في الطاعات إلى وراء وفي المعاصي إلى قدام يا من هو في كل يوم من عمره شرا مما كان في قبله من الأيام متى تستفيق من هذا المنام متى تتوب من هذا الإجرام يا من أنذره الشيب بالموت وهو مقيم على الآثام أما كفاك واعظ الشيب مع واعظ القرآن والإسلام الموت خير لك من الحياة على هذه الحال والسلام كتاب لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف ص ٢٥٩ - ط ابن حزم - ابن رجب الحنبلي

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
"Wahai orang yang tidak berhenti melakukan keharaman, baik di bulan yang halal (biasa) maupun di bulan yang haram (mulia). Wahai orang yang dalam ketaatan justru mundur ke belakang, namun dalam kemaksiatan malah maju ke depan. Wahai orang yang setiap hari dalam umurnya justru lebih buruk dari hari-hari sebelumnya. Kapan engkau akan terbangun dari tidur (kelalaian) ini? Kapan engkau akan bertaubat dari dosa-dosa ini? Wahai orang yang uban telah memperingatkannya akan kematian, namun ia tetap terus bergelimang dosa. Apakah tidak cukup bagimu peringatan dari uban bersama dengan peringatan Al-Qur'an dan Islam? Kematian bagimu lebih baik daripada hidup dalam keadaan seperti ini. Selesai."

📚 Kitab Latha'if al-Ma'arif fima li Mawashim al-'Am min al-Wazha'if, hal. 259 - Cetakan Dar Ibn Hazm - Ibnu Rajab al-Hanbali

Jumat, 09 Januari 2026

Larangan Bermajelis Dengan Ahlul-Bathil Ataupun Ahlul-Ahwa'





Larangan Bermajelis Dengan Ahlul-Bathil Ataupun Ahlul-Ahwa'


وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖٓۖ اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ جَامِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَنَّمَ جَمِيْعًاۙ ۝١٤٠

"Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam," (QS. An-Nisa' : 140)

Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya berkata :

وفي هذه الآية، الدلالة الواضحة على النهي عن مجالسة أهل الباطل من كل نوع، من المبتدعة والفسَقة، عند خوضهم في باطلهم.

"Ayat ini mengandung dalil (petunjuk) yang jelas tentang larangan duduk bersama (bermajelis) dengan para pelaku kebatilan dari segala jenis, baik ahli bid'ah maupun orang-orang fasiq, ketika mereka sedang tenggelam dalam kebatilan mereka."

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: «لَا تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الْأَهْوَاءِ , فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقُلُوبِ» (كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٥٢١ - ابن بطة)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata
"Janganlah kalian duduk bersama pengikut hawa nafsu, karena sesungguhnya duduk bersama mereka itu membuat hati menjadi sakit.". (lihat kitab Ibanah al-Kubra karya Ibnu Baththah)

عَنْ هِشَامٍ , قَالَ: كَانَ الْحَسَنُ وَمُحَمَّدٌ يَقُولَانِ: لَا تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الْأَهْوَاءِ , وَلَا تُجَادِلُوهُمْ , وَلَا تَسْمَعُوا مِنْهُمْ (كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٤٤٤ - ابن بطة)

"Dari Hisyam, ia berkata: Al-Hasan (Al-Bashri) dan Muhammad (bin Sirin) sering berkata: 'Janganlah kalian duduk (bermajelis) dengan pengikut hawa nafsu (ahli bid'ah), jangan mendebat mereka, dan jangan pula mendengarkan ucapan mereka'." (lihat kitab Al-Ibanah al-Kubra, Ibnu Baththah Al-Ukbari,  juz 2 halaman 444)

عَنْ أَبِي قِلَابَةَ , قَالَ: «لَا تُجَالِسُوا أَهْلَ الْأَهْوَاءِ , وَلَا تُجَادِلُوهُمْ , فَإِنِّي لَا آمَنُ مِنْ أَنْ يَغْمِسُوكُمْ فِي ضَلَالَتِهِمْ , أَوْ يُلَبِّسُوا عَلَيْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ» قَالَ: وَكَانَ وَاللَّهِ مِنَ الْفُقَهَاءِ ذَوِي الْأَلْبَابِ
(كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٥١٨ - ابن بطة)

"Dari Abu Qilabah, beliau berkata: 'Janganlah kalian duduk bersama pengikut hawa nafsu (ahli bid'ah) dan janganlah mendebat mereka. Karena sesungguhnya aku tidak merasa aman (khawatir) mereka akan menenggelamkan kalian ke dalam kesesatan mereka, أو mengaburkan (membuat rancu) kebenaran yang telah kalian ketahui.'
Perawi berkata: 'Demi Allah, beliau (Abu Qilabah) adalah termasuk ahli fikih yang memiliki akal cerdas (bijak).’"
(Kitab Al-Ibanah Al-Kubra, jilid 2, halaman 518, karya Ibnu Baththah)

٤٩٥ - حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ أَحْمَدَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو نَصْرٍ عِصْمَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا حَنْبَلُ بْنُ إِسْحَاقَ , قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ , يَقُولُ: «أَهْلُ الْبِدَعِ مَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُجَالِسَهُمْ , وَلَا يُخَالِطَهُمْ , وَلَا يَأْنَسَ بِهِمْ»
(كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٤٧٥ - ابن بطة)

"495 - Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh 'Umar bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Nashr 'Ishmah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hanbal bin Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad bin Hanbal) berkata:  'Ahli bid'ah itu tidak sepatutnya bagi siapa pun untuk duduk bersama mereka, tidak pula bercampur baur (bergaul) dengan mereka, dan tidak pula merasa nyaman (akrab) dengan mereka.'"
(Kitab Al-Ibanah Al-Kubra, jilid 2, halaman 475, karya Ibnu Baththah)

Catatan :
Kitab Al-Ibanah Al-Kubro yang beredar dicetak menjadi 2 jilid sampai 9 jilid

Rabu, 07 Januari 2026

Ingatlah Empat Kalimat Yang Paling Dicintai Allah dan Keutamaannya





Ingatlah Empat Kalimat Yang Paling Dicintai Allah dan Keutamaannya


Di antara dzikir yang bisa dirutinkan setiap saat, dibaca agar lisan terus basah dengan dzikrullah adalah empat kalimat mulia, yaitu (1) subhanallah, (2) alhamdulillah, (3) laa ilaha illallah, (4) Allahu akbar”.

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ» (صحيح - رواه مسلم - صحيح مسلم - 2137)

Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah  bersabda, “Ada empat ucapan yang paling disukai oleh Allah: (1) Subhanallah, (2) Alhamdulillah, (3) Laa ilaaha illallah, dan (4) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai” (HR. Muslim no. 2137).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ».(صحيح - رواه مسلم - صحيح مسلم - 2695)

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah telah bersabda: ‘Sesungguhnya membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)” adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari.” (HR. Muslim no. 2695). 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ إِلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ »

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah  bersabda, “Tidaklah seorang di muka bumi ini mengucapkan: Laa ilaha illallah, wallahu akbar, subhanallah, wal hamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad 2/158, sanadnya hasan)

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِى فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّى السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ »

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah  bersabda, “Aku pernah bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra`kan, kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa Surga debunya harum, airnya segar, dan surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat: Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi laa ilaaha illaahu wallaahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar).” (HR. Tirmidzi no. 3462. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Yang dimaksud bacaan tasbih (subhanallah = Maha Suci Allah) adalah menyucikan Allah dari segala kekurangan yang tidak layak bagi-Nya.
Yang dimaksud bacaan tahmid (alhamdulillah = segala puji bagi Allah) adalah menetapkan kesempurnaan pada Allah dalam nama, shifat dan perbuatan-Nya yang mulia.
Yang dimaksud bacaan tahlil (laa ilaha illallah = tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) adalah berbuat ikhlas dan mentauhidkan Allah serta berlepas diri dari kesyirikan.
Yang dimaksud bacaan takbir (Allahu akbar = Allah Maha Besar) adalah menetapkan keagungan atau kebesaran pada Allah Ta’ala dan tidak ada yang melebihi kebesarannya.

Minggu, 04 Januari 2026

Mendoakan Kebaikan Termasuk Salah Satu Bentuk Nyata dalam Menjaga Silaturrahim


 


Mendoakan Kebaikan Termasuk Salah Satu Bentuk Nyata dalam Menjaga Silaturrahim


Jika Mendoakan Keburukan Termasuk Pemutus Silaturrahim, Maka Mendoakan Kebaikan Termasuk Menjaga Silaturrahim

Mendoakan kerabat (terutama yang ada hubungan mahram) yang masih hidup maupun yang sudah meninggal sama-sama merupakan bagian dari upaya memelihara hubungan Silaturrahim. Di antara alasannya :
🔸 Mendoakan Kebaikan Termasuk Bagian dari Berbuat Ihsan yang Disyariatkan

۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ۝٣٦

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat..." (QS. An-Nisa: 36) 
🔸 Bentuk Kepedulian dan Menghubungkan Hati
Silaturahim tidak selalu harus bertemu fisik. Mendoakan kebaikan, kesehatan, dan keselamatan kerabat menunjukkan bahwa kita masih mengingat dan mempedulikan mereka.
🔸 Adab Islami
Dalam ajaran Islam, mendoakan sesama Muslim (terutama kerabat) adalah amalan mulia yang justru akan mendatangkan doa kebaikan yang sama bagi orang yang mendoakannya.
🔸 Solusi Saat Terhalang Jarak
Jika kita tidak bisa mengunjungi atau menghubungi kerabat, maka doa yang tulus menjadi cara terbaik untuk tetap "terhubung" dengan mereka di hadapan Allah, meskipun terhalang jarak ataupun alasan syar'i lainnya.
🔸 Mendoakan Sebagai Bentuk Silaturahim Yang Murni
Karena dilakukan secara ikhlas tanpa mengharapkan pujian dari orang yang didoakan, sehingga memperkuat ikatan batin di sisi Allah.


Sabtu, 03 Januari 2026

Berbuat Baik Hanya Berharap Wajah Allah, Tanpa Minta Balasan dari Makhluq




Berbuat Baik Hanya Berharap Wajah Allah, Tanpa Minta Balasan dari Makhluq


"وَالْمُحْسِنُ إلَيْهِمْ وَإِلَى غَيْرِهِمْ عَلَيْهِ أَنْ يَبْتَغِيَ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ وَلَا يَطْلُبَ مِنْ مَخْلُوقٍ لَا فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ. كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى} {الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى} {وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى} {إلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى} {وَلَسَوْفَ يَرْضَى} وَقَالَ: {وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا} {إنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ} الْآيَةَ. وَمَنْ طَلَبَ مِنْ الْفُقَرَاءِ الدُّعَاءَ أَوْ الثَّنَاءَ خَرَجَ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ؛"
من كتاب:t مجموع الفتاوى ١١\١١١

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

"Dan orang yang berbuat baik kepada mereka (kaum fuqoro') maupun kepada selain mereka, hendaknya ia mengharapkan Wajah (keridhaan) Allah semata dengan perbuatannya itu, serta tidak meminta balasan dari makhluk, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana kalam Allah Ta'ala:

{Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan dirinya, padahal tidak ada seorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalas, kecuali (ia memberikannya) semata-mata karena mencari Wajah Rabb-nya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan merasa puas (dengan imbalan-Nya)} [QS. Al-Lail: 17-21]. 

Dan Dia berkalam: {Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Sambil berkata), 'Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan Wajah (ridha) Allah...'} [QS. Al-Insan: 8-9]. 

Maka barangsiapa yang meminta doa atau pujian dari orang-orang faqir (setelah membantunya), maka ia telah keluar dari (keutamaan) ayat ini." 

📚 Dari kitab: Majmu' Al-Fatawa, jilid 11, halaman 111




Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...