Kamis, 19 Maret 2026

Kala Ramadhan Berpamitan : Untaian Muhasabah Ibnu Rajab di Lathaif al-Ma’arif




"Kala Ramadhan Berpamitan : Untaian Muhasabah Ibnu Rajab di Lathaif al-Ma’arif"



كيف لا تجرى للمؤمن على فراقه دموع وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رجوع.

تذكرت أياما مضت ولياليا ... خلت فجرت من ذكرهن دموع

ألا هل لها يوما من الدهر عودة ... وهل لي إلى يوم الوصال رجوع

وهل بعد إعاض الحبيب تواصل ... وهل لبدور قد أفلن طلوع

أين حرق المجتهدين في نهاره أين قلق المجتهدين في أسحاره.

اسمع أنين العاشقين ... إن استطعت له سماعا

راح الحبيب فشيعته ... مدامعي تهمي سراعا

لو كلف الجبل الأصم ... فراق إلف ما استطاعا

إذا كان هذا جزع من ربح فيه, فكيف حال من خسر في أيامه ولياليه ماذا ينفع المفرط فيه بكاؤه وقد عظمت فيه مصيبته وجل عزاؤه كم نصح المسكين فما قبل النصح كم دعي إلى المصالحة فما أجاب إلى الصلح كم شاهد الواصلين فيه وهو متباعد كم مرت به زمر السائرين وهو قاعد حتى إذا ضاق به الوقت وخاف المقت ندم على التفريط حين لا ينفع الندم وطلب الإستدراك في وقت العدم.

أتترك من تحب وأنت جار ... وتطلبهم وقد بعد المزار

وتبكي بعد نأيهم اشتياقا ... وتسأل في المنازل أين ساروا

تركت سؤالهم وهم حضور ... وترجو أن تخبرك الديار

فنفسك لم ولا تلم المطايا ... ومت كمدا فليس لك اعتذار

يا شهر رمضان ترفق دموع المحبين تدفق قلوبهم من ألم الفراق تشقق عسى وقفة للوداع تطفىء من نار الشوق ما أحرق عسى ساعة توبة وإقلاع ترفو من الصيام كلما تخرق عسى منقطع عن ركب المقبولين يلحق عسى أسير الأوزار يطلق عسى من استوجب النار يعتق.

عسى وعسى من قبل وقت التفرق ... إلى كل ما ترجو من الخير تلتقى

فيجبر مكسور ويقبل تائب ... ويعتق خطاء ويسعد من شقى

 كتاب لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف ص ٢١٧ - ط ابن حزم- ابن رجب الحنبلي
:

"Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak meneteskan air mata atas perpisahan (dengan Ramadan), padahal ia tidak tahu apakah sisa umurnya masih ada kesempatan untuk kembali menemuinya. 

Aku teringat hari-hari dan malam-malam yang telah berlalu, lalu air mata pun mengalir karena mengingatnya.
Adakah, apakah masih ada waktu dari masa untuk kembali, dan adakah bagiku kesempatan kembali hingga hari pertemuan?
Apakah masih ada pertemuan setelah kekasih pergi, dan apakah bulan yang telah terbenam bisa terbit kembali?

Manakah semangat orang-orang yang bersungguh-sungguh di siang harinya? Manakah kecemasan orang-orang yang bersungguh-sungguh di waktu sahur-nya?
Dengarkanlah rintihan para pencinta (Allah), jika engkau mampu mendengarnya.
Kekasih telah pergi, maka aku mengantarnya dengan air mataku yang mengalir deras.
Seandainya gunung yang tuli diperintahkan untuk menanggung perpisahan dengan kekasih, niscaya ia tidak akan mampu.

Jika seperti ini (sedihnya) orang yang beruntung di dalamnya (Ramadan), lalu bagaimana keadaan orang yang rugi di hari-hari dan malam-malamnya? Apa gunanya tangisan orang yang menyia-nyiakannya, padahal musibah baginya begitu besar dan kehilangannya tak terobati?
Berapa kali si miskin ini dinasihati namun tidak menerima nasihat? Berapa kali ia diajak untuk berdamai (taubat) namun tidak menjawab seruan untuk sholih? Berapa kali ia melihat orang-orang yang mencapai (keberkahan) di bulan itu sementara ia justru menjauh? Berapa kali rombongan orang-orang yang berjalan (menuju Allah) melewatinya sementara ia tetap duduk santai?
Hingga ketika waktunya sempit dan ia takut akan murka (Allah), ia menyesal atas kelalaiannya di saat penyesalan tidak lagi berguna, dan ia menuntut perbaikan di saat kesempatan telah tiada.

Apakah engkau meninggalkan orang yang engkau cintai padahal engkau tetangganya, lalu engkau mencari mereka saat tempatnya sudah jauh?
Engkau menangis setelah kepergian mereka karena rindu, dan engkau bertanya pada tempat-tempat tinggal (yang kosong) ke mana mereka pergi?
Engkau membiarkan bertanya saat mereka ada, dan engkau berharap tempat itu mengabarkan padamu?
Maka cela dirimu sendiri, jangan cela unta kendaraannya, dan matilah karena sedih (menyesal) karena engkau tidak punya alasan lagi.

Wahai bulan Ramadan, berlemah lembutlah! Air mata orang-orang yang mencinta telah tercurah, hati mereka hancur karena rasa sakit perpisahan.
Semoga berhentinya waktu untuk perpisahan ini memadamkan api kerinduan yang membakar.
Semoga ada waktu untuk bertaubat dan berhenti (dari dosa), yang menambal segala robekan puasa.
Semoga orang yang terputus (dari rahmat) dapat menyusul rombongan orang-orang yang diterima.
Semoga tawanan dosa dibebaskan.
Semoga orang yang berhak masuk neraka dimerdekakan.

Semoga dan semoga, sebelum waktu perpisahan tiba, engkau akan bertemu dengan segala kebaikan yang engkau harapkan.
Maka (Allah) menyembuhkan yang patah hati, menerima yang bertaubat, memerdekakan yang bersalah, dan membahagiakan yang celaka."

📚 Kitab Lathaif al-Ma'arif fi-ma li-Mawasim al-'Am min al-Wazha'if, hal. 217, cetakan Ibnu Hazm - Ibnu Rajab al-Hanbali

Simpuh Pasrah di Penghujung Ramadhan 1447 H



Simpuh Pasrah di Penghujung Ramadhan 1447 H


Di ufuk jingga yang kian merapuh,
Ramadhan pamit, langkah menjauh,
Terasa sekejap waktu berlabuh,
Meninggalkan rindu yang kian riuh.

Tetesan air mata jatuh membasuh,
Melihat bulan kian menjauh,
Jiwa terisak, kalbu pun luruh,
Meratapi diri yang penuh peluh.

Tangan menengadah berlumur noda,
Amal shalih sedikit tak seberapa,
Dosa menggunung di dalam dada,
Sesal menghujam tak kunjung reda.

Di hadap-Mu hamba bersimpuh pasrah,
Membasuh hidup yang penuh salah,
Ampuni hamba yang sering menyerah,
Tenggelam dalam nafsu yang serakah.

Duhai Ilahi, Rabb-ku Ar-Rahman,
Dekaplah hamba yang penuh beban,
Sebelum tertutup pintu ampunan,
Cucilah hati dari kehampaan.

Terimalah hamba yang penuh cacat,
Meski ibadah jauh dari taat,
Semoga puasa menjadi syafaat,
Penyelamat kami di hari akhirat.

Izinkan kaki kembali melangkah,
Menuju Ramadhan penuh berkah,
Semoga umur masih dijatah,
Bertemu lagi di jalan hidayah.
 

Selasa, 17 Maret 2026

Ramadhan Tinggal 3 Hari dan Akan Segera Meninggalkan Kita


 


Ramadhan Tinggal 3 Hari dan Akan Segera Meninggalkan Kita


Waktu berlalu begitu kencang,
Ramadhan mulia kini kan pulang.
Tiga hari tersisa di ambang,
Hati gelisah bimbang melayang.

Sedih menghimpit di dalam dada,
Perpisahan ini kian terasa.
Bulan ampunan segera tiada,
Diri masih berlumur dosa.

Amal ibadah masihlah sedikit,
Lalai mengejar syurga yang sulit.
Rasa sesal datang menghimpit,
Menangisi waktu yang kian sempit.

Ya Allah terimalah taubat hamba,
Sebelum Ramadhan menutup gerbangnya.
Meski diri penuh cela dan noda,
Jangan biarkan kami hampa tanpa pahala.


اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِي مَرْحُومًا وَلاَ تَجْعَلْنِي مَحْرُومًا

"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau menjadikannya yang terakhir, maka jadikanlah aku orang yang disayangi (dirahmati), dan janganlah Engkau jadikan aku orang yang malang (terhalang dari rahmat-Mu)."

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Ya Rabb kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Minggu, 15 Maret 2026

Lima Hari Lagi Bulan Ramadhon Akan Pergi Meninggalkan Kita





Lima Hari Lagi Bulan Ramadhon Akan Pergi Meninggalkan Kita


Lima hari lagi engkau 'kan berlalu,
Meninggalkan jiwa yang penuh pilu,
Ramadhan mulia tamu yang syahdu,
Sedih hati mengenang hari berlalu.

Tangan hampa tak banyak beramal,
Malam berlalu tanpa bersujud maksimal,
Kini diri merasa teramat dangkal,
Meninggalkan berkah yang sangat kekal.

Detik berlalu tiada kembali,
Peluang emas tersia berkali,
Tangan menadah, air mata jatuh di pipi,
Takut esok aku tak berjumpa lagi.

Wahai Sang Pemilik Bulan Mulia,
Ampuni hamba yang lalai dan fana,
Izinkan sisa waktu menjadi bermakna,
Sebelum Ramadan benar-benar sirna.

"Ya Allah, jangan biarkan matahari Ramadhan terbenam kecuali Engkau telah mengampuni dosa-dosaku, menerima amal yang sedikit ini, dan menetapkanku sebagai hamba yang Engkau bebaskan dari api neraka."

Jumat, 13 Maret 2026

Syair Bulan Ramadhan Tujuh Hari Akan Bersiap Hendak Pergi


 

Syair Bulan Ramadhan Tujuh Hari Akan Bersiap Hendak Pergi


Tujuh hari tersisa dari bulan yang suci,
Ramadhan perlahan bersiap hendak pergi.
Masjid-masjid syahdu dalam doa dan bakti,
Mengejar ampunan sebelum fajar berganti.

Langkah waktu kian cepat tak terbendung,
Meninggalkan rindu yang kini kian membumbung.
Akankah amal kita cukup untuk bernaung?
Di hari esok saat rahmat tak lagi mengepung.

Wahai hati, manfaatkan sisa waktu yang ada,
Sebelum Syawwal tiba menyapa di depan mata.
Semoga perpisahan ini tak membawa hampa,
Hingga di Ramadhan depan kita kembali berjumpa.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Lathaif al-Ma'arif menggambarkan kesedihan hati orang bertakwa tatkala akan berpisah dengan bulan Ramadhon :

كَيْفَ لَا تَجْرِى لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِهِ دُمُوْعٌ وَهُوَ لَا يَدْرِي هَلْ بَقِيَ لَهُ فِي عُمْرِهِ إِلَيْهِ رُجُوْعٌ؟

"Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak menetes saat berpisah dengan Ramadan, padahal ia tidak tahu apakah di sisa umurnya masih ada kesempatan untuk bertemu kembali?"


Jum'at, 24 Ramadhan 1447 H

Mengapa Konsep Ittihadul Matholi' Lebih Kuat daripada Ikhtilaful Matholi' ?


 


Mengapa Konsep Ittihadul Matholi' Lebih Kuat daripada Ikhtilaful Matholi' ?

Ittihadul Matholi' itu berasal dari kata Ittihad yang berarti "persatuan/kesatuan" dan Matholi' (bentuk jamak dari Mathla') yang berarti "tempat/waktu terbit". Jika di sebuah negeri terlihat hilal, maka itu berlaku untuk seluruh negeri.

1⃣ Dalilnya lebih kuat dan ini pendapat jumhur ulama' Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah (Hanafi, Maliki, dan Hambali). Keabsahan dalil berpegang pada keumuman perintah dalam hadits: «صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ». Kata صُومُوا "berpuasalah kalian" di sini dipahami sebagai umat Islam secara kolektif, bukan per wilayah.
2⃣ Mashlahat Ittihadul Matholi' lebih besar. Menjaga persatuan umat Islam dan menawarkan solusi administratif agar umat Islam memiliki satu kalender yang sinkron di seluruh dunia.
3⃣ Lailatul Qodar hanya terjadi satu malam dan bersifat universal. Jika Lailatul Qodar terjadi pada malam ganjil, maka semua tempat insya Allah juga pada malam ganjil.
4⃣ Ittihadul Matholi’ dianggap lebih logis karena fenomena alam tidak mengenal batas administrasi negara.
5⃣ Hilal walau tidak bisa dirukyat di semua wilayah, tapi secara astronomis waktu ijtimak (konjungsi) dan istiqbal itu terjadi secara serempak. Dan ijtimak secara astronomis indikasi akhir bulan berganti bulan baru. Demikian juga gerhana Matahari dan Bulan terjadi secara serempak di seluruh penjuru bumi.
6⃣ Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14 dan 15) insya Allah bisa disaksikan mayoritas penduduk bumi dan tak bisa dimanipulasi. Terutama tanggal 14 dan 15 bentuk bulan 🌕 Purnama dan umumnya bisa disaksikan di atas langit sejak awal malam hingga akhir malam. Adapun tanggal 16 ketika pertengahan Maghrib Bulan masih dibawah ufuq sehingga langit terlihat gelap.
7⃣ Keadilan Ibadah Puasa Arafah. Puasa Arafah merujuk pada peristiwa wukuf di Arafah. Ittihadul Matholi’ menyinkronkan waktu puasa di seluruh dunia dengan waktu wukuf yang sebenarnya, menghindari situasi di mana suatu wilayah berhari raya saat jamaah haji baru melakukan wukuf.

Dalam perkara khilaf tadhodh semisal ini, kebenaran itu hanya satu dan tidak mungkin sama-sama benar. Otoritas ilmu dan kebenaran itu lebih berhak didahulukan daripada otoritas umaro'/penguasa.

Selasa, 10 Maret 2026

Di Antara Doa Yang Dibaca Ketika Lailatul Qadar


 


Di Antara Doa Yang Dibaca Ketika Lailatul Qadar


سألَتْهُ صلى اللهُ عليهِ وسلَّمَ عائشةُ رضي الله عنها إنْ وافقتُها فبِمَ أدعو ؟ قال قولي اللهمَّ إنك عفوٌ تحبُّ العفوَ فاعفُ عني
الراوي : عائشة أم المؤمنين | المحدث : ابن القيم | المصدر : أعلام الموقعين | الصفحة أو الرقم: 4/249 | خلاصة حكم المحدث : صحيح | التخريج : أخرجه الترمذي (3513)، وابن ماجة (3850)، وأحمد (25384) باختلاف يسير.

"Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Nabi ﷺ, 'Jika aku mendapatinya (Lailatul Qadar), apa yang harus aku ucapkan?' Beliau ﷺ menjawab: 'Ucapkanlah: 

اللهمَّ إنك عفوٌ تحبُّ العفوَ فاعفُ عني

Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku)'". 

🔸 Perawi: Aisyah Ummul Mukminin.
🔸 Derajat: Hadits Sahih (menurut Ibnul Qayyim dalam A'lamul Muwaqqi'in 4/249, juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
🔸 Ini adalah salah satu doa terbaik yang diajarkan Nabi ﷺ untuk dibaca, khususnya pada malam Lailatul Qadar, memohon ampunan dan penghapusan dosa. 


Malam, 21 Ramadhon 1447 H 

Etika Publik dan Digital dalam Islam: Menakar Batas antara Sikap Mudarah dan Mudahanah yang Tercela

  Etika Publik dan Digital dalam Islam: Menakar Batas antara Sikap Mudarah dan Mudahanah yang Tercela https://teguhakhirblora.blogspot.com/2...