Kamis, 01 Januari 2026

Wahai Kaum Muslimin.. Ikutilah Manhaj Nabi Muhammad ﷺ dalam Menghadapi Ahli Kitab


 

Wahai Kaum Muslimin.. Ikutilah Manhaj Nabi Muhammad ﷺ dalam Menghadapi Ahli Kitab



1️⃣ Jidal dengan Cara yang Terbaik (Al-Mujadalah billati hiya Ahsan), Kecuali Dengan Orang-orang Zhalim

۞ وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ۝٤٦

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zhalim di antara mereka, dan katakanlah, ”Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Ilah (Tuhan) kami dan Ilah (Tuhan) kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” (QS. Al-Ankabut : 46)

2⃣ Pemberian Hujjah dan Tantangan (At-Tahaddi)
Terhadap mereka yang kibr (takabur), merasa benar dan mendustakan Al-Qur'an ataupun 'inad serta memusuhi Islam, Nabi memberikan tantangan sebagai pembuktian kebenaran.
🔸 Tantangan Intelektual: Menantang mereka untuk mendatangkan satu surat semisal Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 23).

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝٢٣

"Dan jika kamu meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar."
🔸 Mubahalah: Jika argumen logis ditolak karena keras kepala, Nabi menawarkan mubahalah (saling melaknat bagi yang berdusta), seperti yang terjadi pada delegasi Nasrani Najran (lihat QS. Ali 'Imran: 61).

3⃣ Tidak Berbuat Zholim dan Tidak Memaksa Orang Lain untuk Beriman.


Kaidah Utama dalam Memahami Asma wa Shifat Allah


 


Kaidah Utama dalam Memahami Asma wa Shifat Allah



Kaidah Ahlus-Sunnah wal Jama'ah dalam memahami Nama (Asma) dan Sifat Allah berlandaskan pada prinsip Itsbat (menetapkan apa yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya) tanpa melakukan penyimpangan. Berikut adalah 4 kaidah utama dalam memahami Asma wa Shifat:

1️⃣ Al-Itsbat (Menetapkan). Menetapkan semua nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits yang shahih sebagaimana adanya.

2⃣ Tanzih (Mensucikan). Meyakini bahwa tidak ada satu pun makhluk yang serupa dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya, sesuai kalam-Nya: ﴾لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ﴿ "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. ...." (QS. Asy-Syura: 11).

3⃣ Meninggalkan 4 Perkara Terlarang yaitu:
(1) Tahrif: Mengubah makna teks (distorsi), baik lafazh maupun maknanya. (2) Ta’thil: Menolak atau meniadakan sifat-sifat Allah. (3) Takyif: Mempertanyakan atau menentukan "bagaimana" (hakikat bentuk) sifat Allah. dan (4) Tamtsil: Menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk.

4⃣  Al-Iman bil Makna wa Tafwidul Kaifiyyah. Beriman kepada makna bahasanya yang jelas (misal: Istawa artinya tinggi/bertakhta), namun menyerahkan urusan "bagaimana" hakikat bentuknya (kaifiyyah) hanya kepada Allah. 

Prinsip ini dirangkum dalam perkataan Imam Malik tentang Istiwa:

الاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

"Istiwa itu maklum (diketahui maknanya), kaif (caranya) tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya (kaifiyyah-nya) adalah bid'ah." 

Menanggapi Poster "Sebagian Besar Salafi Dulunya Adalah Ahlul-Bid'ah"


 


Menanggapi Poster "Sebagian Besar Salafi Dulunya Adalah Ahlul-Bid'ah"




Maka ketahuilah :

🔸 Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah itu umumnya bukan berasal dari Ahlul-Bid'ah. Ada yang sejak lahir di atas fithrah Ahlus-Sunnah, ada yang dulunya ahlul-maksiat ataupun dulunya orang-orang terjatuh bid'ah lantaran belum iqomatul hujjah. Sehingga tidak bisa dihukumi sebagai ahlul-bid'ah.

🔸 Ahlul-Bid'ah itu umumnya terhalang dari taubat.
Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya” (HR. Ath-Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Shahih). Imam Ahmad ketika ditanya mengenai makna hadits di atas, beliau menjawab:لَا يُوَفَّقُ, وَلَا يُيَسَّرُ صَاحِبُ بِدْعَةٍ “maksudnya: ia tidak mendapatkan taufiq, pelaku bid’ah tidak dipermudah untuk bertaubat” (Ghadzaul Albab Syarh Manzhumatul Adab, hal. 582)

🔸Jika benar ada Ahlus-Sunnah yang berasal dari ahlul-bid'ah, maka itu sangat sedikit. Itupun umumnya sebagian faham/pemikiran bid'ahnya tidak bisa hilang sepenuhnya atau tak bisa sebersih orang-orang yang memang bukan berasal dari ahlul-bid'ah. Contoh : masih tafarruq dan mengadakan sholat Jum'at sendiri, padahal itu menyelisihi Ushul AS-Sunnah dan Aqidah Ahlus-Sunnah.

🔸 Bisa jadi mereka salah memvonis orang-orang yang terjatuh bid'ah sebagai ahlul-bid'ah padahal belum iqomatul hujjah. Atau sebenarnya keadaan mereka tetap Ahlul-Bid'ah, tapi mengklaim sebagai Ahlus-Sunnah.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين

Tasyabbuh Tetap Terlarang Meski Pelakunya Tidak Berniat Menyerupainya


 


Tasyabbuh Tetap Terlarang Meski Pelakunya Tidak Berniat Menyerupainya


Para ulama menjelaskan bahwa tasyabbuh (menyerupai kaum kafir atau kelompok yang dilarang) tetap dianggap terjadi dan terlarang meskipun pelakunya tidak berniat untuk menyerupai mereka. Berikut adalah poin-poin penting terkait kaidah tersebut:
🔸 Dilihat dari Segi Zhahir (Tampilan Luar)
Larangan tasyabbuh didasarkan pada kesamaan secara fisik atau perbuatan yang menjadi ciri khas (identitas) kaum tersebut. Jika seseorang melakukan perbuatan yang merupakan syiar agama lain atau ciri khusus mereka, maka ia telah terjatuh dalam tasyabbuh, baik ia bermaksud meniru maupun tidak.
🔸 Mencegah Sarana (Saddudz Dzari’ah)
Islam menutup segala celah yang dapat memudarkan identitas Muslim. Jika tasyabbuh hanya dilarang bagi yang berniat, maka batasan identitas akan hilang karena setiap orang bisa beralasan "saya tidak berniat meniru" padahal penampilannya identik dengan non-Muslim.
🔸 Tingkatan Tasyabbuh:
• Jika disertai niat untuk mengagungkan atau menyukai cara hidup mereka, maka dosanya lebih besar.
• Jika tanpa niat (hanya sekadar mengikuti tren atau ketidaktahuan), tetap dilarang (makruh atau haram tergantung jenis perbuatannya) karena secara lahiriah telah terjadi keserupaan.
🔸 Pengecualian
Tasyabbuh tidak berlaku pada hal-hal yang sifatnya universal (maslahat umum) seperti teknologi, ilmu pengetahuan, atau pakaian yang sudah menjadi kebiasaan umum masyarakat dunia dan bukan lagi menjadi ciri khas agama atau budaya tertentu. 
🔸 Prinsip ini berlandaskan pada hadits Nabi Muhammad ﷺ bersabda : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka" (HR. Abu Dawud). Hadits ini bersifat umum dan tidak memberikan syarat adanya niat.

Senin, 29 Desember 2025

Maksud dari Najd yang Disebutkan Hadits "بها يطلع قرن الشيطان"



Maksud dari Najd yang Disebutkan Hadits
"بها يطلع قرن الشيطان"

https://teguhakhirblora.blogspot.com/2025/12/maksud-dari-najd-yang-disebutkan-hadits.html

Hadits tentang "qarnusy syaithan" (tanduk syaithan) di Najd tidak merujuk kepada seluruh penduduk Najd sepanjang masa hingga kiamat. Makna utamanya adalah peringatan tentang sumber fitnah (kekacauan/kesesatan) yang muncul dari arah timur (Irak/Najd pada waktu itu) pada masa awal Islam. Berdasarkan penjelasan para ulama kredibel, berikut adalah poin-poin penting mengenai hadits tersebut:

🔸 Bukan Untuk Seluruh Penduduk dan Zaman

Para ulama menegaskan bahwa hadits ini tidak berlaku untuk setiap individu atau seluruh penduduk Najd secara mutlak dari zaman Nabi sampai kiamat. Sebagaimana wilayah lain, Najd telah melahirkan banyak ulama, penghafal Al-Qur'an, dan orang-orang saleh. Celaan dalam hadits tersebut bersifat geografis dan peristiwa, merujuk pada fitnah-fitnah besar yang muncul dari arah tersebut (tempat munculnya berbagai fitnah, bid'ah, dan perpecahan umat yang disukai syaithan), bukan vonis kekafiran atau kefasikan bagi setiap orang yang lahir di sana.

🔸 Letak Geografis "Najd" Diperselisihkan

Terdapat dua pendapat besar di kalangan ulama mengenai wilayah yang dimaksud: 
(1) Najd di Wilayah Irak: Banyak ulama klasik seperti Imam Al-Khathabi, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Imam Nawawi berpendapat bahwa yang dimaksud "Najd" dalam hadits ini adalah Irak. Secara bahasa, Najd berarti "tanah yang tinggi". Dari perspektif Madinah, wilayah Irak berada di arah timur (arah terbit matahari) dan merupakan tempat munculnya fitnah-fitnah besar di masa awal Islam (seperti peristiwa Karbala, fitnah Khawarij, dan munculnya kelompok ekstrem).
(2) Najd di Wilayah Arab Saudi: Sebagian ulama lain merujuk pada dataran tinggi di tengah Semenanjung Arabia (wilayah Riyadh dan sekitarnya saat ini).

🔸 Konteks Zaman Nabi

Rasulullah menyampaikan hal ini saat menghadap ke timur, merujuk pada wilayah yang saat itu mayoritas penduduknya masih kafir atau pusat munculnya perpecahan. 

🔸 Kaidah Umum dalam Islam

Penting untuk diingat kaidah dari Salman Al-Farisi yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththo’ adalah sebagai berikut:

إِنَّ الْأَرْضَ لَا تُقَدِّسُ أَحَدًا، وَإِنَّمَا يُقَدِّسُ الْإِنْسَانَ عَمَلُهُ

"Sesungguhnya bumi (tanah kelahiran) tidaklah mensucikan seseorang, namun yang mensucikan seseorang adalah amalnya" (HR. Malik dalam Al-Muwaththo'). 

Seseorang tidak dinilai buruk hanya karena tempat tinggalnya, sebagaimana penduduk Madinah atau Syam tidak otomatis dijamin masuk surga jika amal perbuatannya buruk.

Kesimpulan

Jadi, hadits tersebut adalah peringatan tentang fitnah (kekacauan/perpecahan) yang akan muncul dari arah timur Madinah, bukan penghinaan atau vonis buruk bagi seluruh penduduk wilayah tersebut secara turun-temurun. Hadits tersebut lebih menyoroti karakteristik wilayah sebagai pusat kemunculan fitnah, bukan pelabelan permanen bagi seluruh penduduknya. Bahkan seandainya benar Najd yang dimaksud adalah wilayah Saudi ataupun Irak, maka itu bukan vonis buruk secara permanen bagi seluruh penduduk Saudi ataupun penduduk Irak.

Bersambung...
Sambungan lebih rinci insya Allah bisa di lihat di blog

Minggu, 28 Desember 2025

Malaikat Roqibun-'Atid Mencatat Semua Perkataan dan Amal Perbuatan Manusia


 


Malaikat Roqibun-'Atid Mencatat Semua Perkataan dan Amal Perbuatan Manusia


وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ۝١٦ اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ ۝١٧ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ۝١٨

16. Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
17. (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.
18. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya roqibun-'atid (malaikat pengawas yang selalu siap mencatat). (QS. Qaf : 16-18)

Adapun pengetahuan malaikat tentang isi hati manusia bersifat terbatas dan sepenuhnya bergantung pada wahyu Allah atau tanda yang Allah berikan kepada malaikat.

Allah Bukan Hanya Melihat Hati, Tapi Melihat Hati dan Amalan Kalian

عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ »

Dari Yazid bin Al-Ashom, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rosulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat shuroh (bentuk; rupa) kalian dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat hati kalian dan amalan kalian”. (HR. Muslim, no. 2564; Ibnu Majah, no. 4143; Ahmad, no. 7827)

Harap Difahami dan Jangan Salah Kaprah


 


Harap Difahami dan Jangan Salah Kaprah


Rasulullah ﷺ bersabda :

« أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ »

“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli-Kitab berpecah belah menjadi 72 millah, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 millah, 72 millah di neraka, dan 1 millah di surga. Merekalah Al-Jama’ah.” (HR. Abu Daud 4597. Hadits hasan). Sedang dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda :مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي "Apa yang aku (nabi Muhammad ﷺ) berada di atasnya dan para Shahabatku.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Kita wajib mengikuti millah dan madzhab Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah.. wajib mengikuti manhaj Salafush-Sholih (As-Salaf).. wajib mengikuti "Al-Jama'ah" yaitu millah Nabi dan para Shahabat..

Sebaliknya kita tidak wajib mengikuti madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi'i, ataupun madzhab Ahmad.
Kita juga tidak wajib mengikuti madzhab Wahhabi, madzhab Salafi/Salafiyyah ataupun hizb Salafiyyun.
Karena memang tidak ma'shum.. ada kelebihan, ada kekurangan dan ada kritikan. Sekalipun madzhab-madzhab tersebut termasuk madzhab Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah.

Dan kita wajib meninggalkan 72 firqoh madzhab Ahlul-Bid'ah Wal-Furqoh/Wal-Jam'iyyah. Karena bukan "Al-Jama'ah".. semuanya sesat dan menyesatkan, sekalipun kadar kesesatannya tidak sama.

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...