Selasa, 20 Januari 2026

Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Jangan Jadikan Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Di Masjid


 


Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Jangan Jadikan Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Di Masjid

Sholat Berjamaah Hukum Asalnya Wajib, Sedang Sholat Berjamaah di Masjid Hukum Asalnya Fardhu Kifayah ( Wajib Bagi Tetangga Masjid )

Kaum muslimin disyariatkan mengerjakan sholat secara berjama'ah. Baik ketika muqim, safar ataupun dalam keadaan perang sekalipun. Di masjid, rumah, pasar, kebun ataupun di mana kita sedang berada ketika datang waktu sholat. Allah Ta'ala berkalam :

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ۝٤٣

"Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah : 43)

Adapun hukum asal sholat berjamaah di masjid adalah fardhu kifayah (wajib bagi tetangga masjid dan sunnah muakkadah bagi selain tetangga masjid). Sebagaimana kebanyakan pendapat madzhab Syafi'i.

Sebagian madzhab mewajibkan sholat berjama'ah di masjid dengan berhujjah sebuah hadits :

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «من سمِع النِّدَاء فلم يَأتِه؛ فلا صلاة له إلا من عُذْر».  (صحيح - رواه ابن ماجه)

Dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali karena uzur."  (Shahih- HR. Ibnu Mājah)

Maka ketahuilah hadits tersebut bukan dalil wajibnya sholat berjama'ah di masjid. Adzan disyariatkan di mana pun kita berada sekalipun di situ tidak ada bangunan masjid. Terlebih adzan itu justru disyariatkan di luar masjid dan bukan di dalam masjid. Kemudian faktanya Nabi ﷺ dan para Shahabat mengerjakan sholat berjama'ah bukan hanya di masjid.

Adzan di dalam masjid itu termasuk perkara bid'ah dan menyelisihi pengamalan Salafush-Sholih.

Sabtu, 17 Januari 2026

Apa Itu Bid'ah Dalam Islam ?






Apa Itu Bid'ah Dalam Islam ?
ما هي البدعة في الإسلام ؟

Bid'ah Secara Bahasa

Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam kalam Allah Ta’ala,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah [2] : 117, Al An’am [6] : 101), maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya. Juga kalam-Nya,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46] : 9) , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. (Lihat Lisanul ‘Arob, 8/6)

Bid'ah Secara Istilah

🔸 Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. mengatakan :

فَالْبِدْعَةُ إِذَنْ عِبَارَةٌ عَنْ: طَرِيقَةٍ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٍ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ.
وَهَذَا عَلَى رَأْيِ مَنْ لَا يُدْخِلُ الْعَادَاتِ فِي مَعْنَى الْبِدْعَةِ، وَإِنَّمَا يَخُصُّهَا بِالْعِبَادَاتِ، وَأَمَّا عَلَى رَأْيِ مَنْ أَدْخَلَ الْأَعْمَالَ الْعَادِيَّةَ فِي مَعْنَى الْبِدْعَةِ، فَيَقُولُ:
الْبِدْعَةُ: طَرِيقَةٌ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٌ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ، يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيقَةِ الشَّرْعِيَّةِ.
كتاب الاعتصام للشاطبي ت الهلالي ج ١ ص ٥٠-٥١

"Bid'ah secara istilah adalah: Suatu jalan/metode dalam agama yang diada-adakan (dibuat-buat tanpa dalil), yang menyerupai syariat, dengan tujuan melakukannya untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Definisi ini berlaku bagi mereka yang tidak memasukkan urusan adat (kebiasaan duniawi) ke dalam makna bid'ah, melainkan mengkhususkan bid'ah hanya pada urusan ibadah saja.
Adapun menurut pendapat mereka yang memasukkan perbuatan adat ke dalam makna bid'ah, maka mereka mendefinisikannya sebagai:
Bid'ah adalah suatu jalan dalam agama yang diada-adakan, yang menyerupai syariat, yang mana tujuan melakukannya adalah sama dengan tujuan dilakukannya jalan syariat (yaitu mendekatkan diri kepada Allah)."
(Kitab Al-I'tisham karya Imam Asy-Syathibi, Tahqiq Al-Hilali, Jilid 1, Hal. 50-51)

🔸 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

"وَالْبِدْعَةُ: مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ."
من كتاب: مجموع الفتاوى ١٨\٣٤٦

“Bid’ah adalah sesuatu yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) Salaful-Ummah.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346)

🔸 Ibnu Rajab al-Hanbali :

والمراد بالبدعة: ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشرع يدلُّ عليه، فليس ببدعةٍ شرعًا، وإن كان بدعةً لغةً (كتاب جامع العلوم والحكم ج ٢ ص ١٢٧ - ت الأرنؤوط - ابن رجب الحنبلي)

Yang dimaksud dengan bid’ah adalah: Sesuatu yang baru diada-adakan yang tidak memiliki dasar dalam syariat yang melandasinya. Adapun sesuatu yang memiliki dasar dari syariat yang melandasinya, maka itu bukanlah bid’ah secara syara’ (terminologi agama), meskipun secara bahasa (etimologi) disebut sebagai bid’ah."
(Kitab Jami'ul Ulum wal Hikam, Juz 2, Hal. 127 - Tahqiq Al-Arna'uth - Ibnu Rajab Al-Hanbali)


Hadits Nabi ﷺ dan Kalam Salafush-Sholih Tentang Amalan Bid'ah

Para Salafus-Shalih memberikan perhatian besar dalam menjaga kemurnian syariat dari bid’ah (perkara baru dalam agama).

1. Rasulullah Muhammad

 أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كان يقولُ في خطبتِه يومَ الجمعةِ : أما بعدُ، فإن خيرَ الحديثِ كتابُ اللهِ وخيرَ الهديِ هديُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وشرَّ الأمورِ محدثاتُها وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ

Bahwa Nabi ﷺ dalam khutbah Jumatnya biasa mengucapkan: "Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur'an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk urusan adalah umural muhdatsat  perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Muslim)

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري ومسلم) وَ فِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Dari Ummul-Mu’minin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah Radhiyallahu anha ia berkata: Rasulullah telah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-ngada (mensyari'atkankan) perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits riwayat Muslim: Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”.

2. Abdullah bin Mas’ud radhiyaallahu 'anhu

اتَّبِعُوا وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ

"Ikutilah (petunjuk Nabi) dan janganlah kalian berbuat bid'ah (perkara baru dalam agama), karena sungguh kalian telah dicukupi (dengan syariat yang ada)." 
(Riwayat Al-Waki' dalam Az-Zuhd, no. 315 dan Ad-Darimi dalam Sunannya, no. 211)

3. Abdullah bin Umar radhiyaallahu 'anhuma

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

"Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya sebagai suatu kebaikan."
(Diriwayatkan oleh Al-Lalaka’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, no. 126)

4. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah

"قِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، فَإِنَّهُمْ عَنْ عِلْمٍ وَقَفُوا، وَبِبَصَرٍ نَافِذٍ كَفُّوا"

"Berhentilah kamu di mana kaum itu (para shahabat) berhenti. Sebab mereka berhenti berdasarkan ilmu, dan dengan pandangan yang tajam mereka menahan diri." (Diriwayatkan dalam kitab As-Sunnah oleh Abu Dawud, dan juga dalam sumber-sumber lain seperti Tarikh Dimasyq oleh Ibnu Asakir).

5. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا

"Bid’ah lebih dicintai Iblis daripada maksiat. Pelaku maksiat (lebih mudah) bertaubat, sedangkan pelaku bid’ah (sulit) bertaubat (karena merasa benar)."
(Riwayat Al-Lalaka’i dalam Syarh Ushul I’tiqad, no. 238)

6. Imam Malik bin Anas rahimahullah

مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا

"Barangsiapa membuat bid’ah dalam Islam dan menganggapnya baik, maka ia telah menuduh Muhammad mengkhianati risalah. Karena Allah berfirman: 'Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu'. Maka apa yang pada hari itu bukan bagian dari agama, maka hari ini pun bukan bagian dari agama." (Dinukil oleh Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tishom)


Kalam Imam Asy-Syafi’i rahimahullah Bahwa Al-Muhdatsat Terbagi 2 Yaitu Bid'ah Dholalah dan Muhdatsah Ghoiru Madzmumah

وقد روى الحافظ أبو نعيم (في "الحلية" ٩/ ١) بإسناده عن إبراهيم بن الجنيد، [حدثنا حرملة بن يحيى] قال: سمعتُ الشافعي رحمة الله عليه يقول: البدعة بدعتان: بدعةٌ محمودةٌ، وبدعة مذمومةٌ، فما وافق السنة، فهو محمودٌ وما خالف السنة، فهو مذمومٌ. واحتجّ بقول عمر: نعمت البدعة هي.
ومراد الشافعي رحمه الله ما ذكرناه مِنْ قبلُ: أن البدعة المذمومة ما ليس لها أصل من الشريعة يُرجع إليه، وهي البدعةُ في إطلاق الشرع، وأما البدعة المحمودة فما وافق السنة، يعني: ما كان لها أصل مِنَ السنة يُرجع إليه، وإنما هي بدعةٌ لغةً لا شرعًا، لموافقتها السنة.
وقد روي عَنِ الشَّافعي كلام آخر يفسِّرُ هذا، وأنَّه قال: والمحدثات ضربان: ما أُحدِث مما يُخالف كتابًا، أو سنة، أو أثرًا، أو إجماعًا، فهذه البدعة الضلال، وما أُحدِث مِنَ الخير، لا خِلافَ فيه لواحدٍ مِنْ هذا، وهذه محدثة غيرُ مذمومة (صحيح، رواه البيهقي في "مناقب الشافعي" ١/ ٤٦٩.).
كتاب جامع العلوم والحكم ج ٢ ص ١٣١ - ت الأرنؤوط - ابن رجب الحنبلي

"Al-Hafiz Abu Nu’aim meriwayatkan (dalam kitab Al-Hilyah 9/1) dengan sanadnya dari Ibrahim bin al-Junid, [Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami], ia berkata: Saya mendengar Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: 'Bid’ah itu ada dua macam: bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Apa saja yang sesuai dengan sunnah, maka itu terpuji, dan apa saja yang menyalahi sunnah, maka itu tercela.' Beliau berhujjah dengan perkataan Umar (bin Khattab): 'Sebaik-baik bid’ah adalah ini (shalat tarawih berjamaah).'

Maksud perkataan Asy-Syafi'i rahimahullah adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya:
Bahwa bid’ah madzmumah (tercela) adalah apa yang tidak memiliki dasar dalam syariat untuk dijadikan rujukan, dan inilah yang disebut bid’ah secara terminologi syariat (itlaqus syar'i). Adapun bid’ah mahmudah (terpuji) adalah apa yang sesuai dengan sunnah, yakni yang memiliki landasan asal dari sunnah untuk dijadikan rujukan. Hal itu disebut bid’ah secara bahasa saja (lughatan), bukan secara syariat, karena kesesuaiannya dengan sunnah.

Telah diriwayatkan pula dari Asy-Syafi'i perkataan lain yang menafsirkan hal ini, beliau berkata:
'Al-Muhdatsat (perkara-perkara baru) itu ada dua jenis: (pertama) perkara baru yang menyelisihi Al-Qur'an, Sunnah, Atsar, atau Ijma' (kesepakatan ulama Ahlus-Sunnah), maka ini adalah bid’ah dhalalah (bid'ah yang sesat). (Kedua) Apa saja yang diada-adakan dari kebaikan yang tidak menyelisihi satu pun dari hal-hal tersebut, maka ini adalah muhdatsah ghoiru madzmumah (perkara baru yang tidak tercela)." (Shahih, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi'i 1/469)."

Kita Tidaklah Sesat Jika Tidak Mengerjakan Amalan yang Tidak Disyari'atkan Nabi ﷺ dan Para Shahabat


 

Kita Tidaklah Sesat Jika Tidak Mengerjakan Amalan yang Tidak Disyari'atkan Nabi ﷺ dan Para Shahabat


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣١

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-Imran : 31)

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري ومسلم) وَ فِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Dari Ummul-Mu’minin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah Radhiyallahu anha ia berkata: Rasulullah telah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-ngada (mensyari'atkankan) perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits riwayat Muslim: Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”.

Rasulullah ﷺ bersabda :

« أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ »

“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli-Kitab berpecah belah menjadi 72 millah, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 millah, 72 millah di neraka, dan 1 millah di surga. Merekalah Al-Jama’ah.” (HR. Abu Daud 4597. Hadits hasan). Sedang dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda :مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي "Apa yang aku (nabi Muhammad ﷺ) berada di atasnya dan para Shahabatku.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)


Jumat, 16 Januari 2026

Mengajak Mubahalah Sebagai Bagian Kesempurnaan Penegakan Hujjah


 


Mengajak Mubahalah Sebagai Bagian Kesempurnaan Penegakan Hujjah


أَنَّ السُّنَّةَ فِي مُجَادَلَةِ أَهْلِ الْبَاطِلِ إِذَا قَامَتْ عَلَيْهِمْ حُجَّةُ اللَّهِ، وَلَمْ يَرْجِعُوا، بَلْ أَصَرُّوا عَلَى الْعِنَادِ أَنْ يَدْعُوَهُمْ إِلَى الْمُبَاهَلَةِ، وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِذَلِكَ رَسُولَهُ، وَلَمْ يَقُلْ: إِنَّ ذَلِكَ لَيْسَ لِأُمَّتِكَ مِنْ بَعْدِكَ، وَدَعَا إِلَيْهِ ابْنُ عَمِّهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ لِمَنْ أَنْكَرَ عَلَيْهِ بَعْضَ مَسَائِلِ الْفُرُوعِ، وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ وَدَعَا إِلَيْهِ الْأَوْزَاعِيُّ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ فِي مَسْأَلَةِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ، وَلَمْ يُنْكَرْ عَلَيْهِ ذَلِكَ، وَهَذَا مِنْ تَمَامِ الْحُجَّةِ.
كتاب زاد المعاد في هدي خير العباد ج ٣ ص ٥٦١-٥٦٢  - ت الرسالة الثاني - ابن القيم

"Bahwasanya Sunnah dalam mujadalah (berdebat) melawan pembela kebatilan—apabila hujjah Allah telah tegak atas mereka namun mereka tidak mau kembali (kepada kebenaran), bahkan terus-menerus dalam keangkuhan—adalah dengan mengajak mereka untuk Mubahalah (saling melaknat). Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan hal tersebut kepada Rasul-Nya, dan Dia tidak mengatakan bahwa hal itu tidak berlaku bagi umatmu setelahmu.
Anak paman beliau (sepupu beliau), Abdullah bin Abbas, juga pernah mengajak (mubahalah) orang yang mengingkari sebagian masalah furu' (cabang fikih) terhadapnya, dan para shahabat tidak ada yang mengingkarinya. Demikian pula Al-Auza'i mengajak Sufyan Ats-Tsauri untuk bermubalah dalam masalah mengangkat tangan (saat shalat), dan hal itu pun tidak diingkari. Ini merupakan bagian dari sempurnanya penegakan hujah."

📚 Kitab Zadul-Ma'ad fi Hadyi Khair al-Ibad, jilid 3, halaman 561-562, karya Ibn Qayyim al-Jauziyyah.

Kamis, 15 Januari 2026

Makna "Istawa 'Ala"


Makna "Istawa 'Ala"
 ( معنى استوى على )

استوى على" تعني في اللغة العربية علا وصعد وارتفع فوق شيء، أو استقر وثبت عليه، أو استولى وملَك عليه، ويختلف المعنى الدقيق حسب السياق؛ ففي سياق مثل "استوى على العرش" تعني العلو والارتفاع والمُلك، بينما "استوى على ظهر الدابة" تعني الركوب والعلو عليها، وفي سياق الطعام تعني النضج، ومع شخصين تعني التساوي. 

Istawā 'alā" (استوى على) dalam bahasa Arab berarti tinggi, naik, dan meninggi di atas sesuatu, atau menetap dan kokoh di atasnya, atau menguasai dan memilikinya. Makna tepatnya berbeda-beda sesuai dengan konteksnya:
🔸 Dalam konteks seperti "Istawā 'alal 'Arsy" (استوى على العرش), maknanya adalah al-Uluw (ketinggian), al-irtifa'a (meninggi), dan kekuasaan.
🔸 Sedangkan "Istawā 'alā dhahriddābbah" (استوى على ظهر الدابة) berarti menunggangi dan berada di atas punggung hewan tersebut.
🔸 Dalam konteks makanan (Istawā at-ta'ām), artinya adalah kematangan (masak).
🔸 Jika berkaitan dengan dua orang (Istawā asy-syakhshān), maknanya adalah kesetaraan atau kesamaan.

في السياق العقدي (الاستواء على العرش):
وردت في القرآن الكريم في قوله تعالى: "الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى". واختلف المفسرون في تأويلها:
أهل السنة والجماعة (السلف): يثبتونها كما وردت بمعنى العلو والارتفاع بما يليق بجلال الله، من غير تكييف ولا تشبيه. موقع الإسلام سؤال وجواب

Dalam Konteks Aqidah (Istiwa di Atas Arsy):
Terdapat dalam Al-Qur'an pada firman Allah Ta'ala: "Ar-Rahmanu 'alal 'arsyi-stawa" (Allah Yang Maha Pengasih beristiwa di atas Arsy). Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan maknanya.
🔸Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Salaf): Mereka menetapkannya sebagaimana mestinya dengan makna Tinggi dan Berada di Atas yang sesuai dengan keagungan Allah, tanpa takyif (menggambarkan bentuk/cara) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk).



معاني "استوى على" المختلفة:

العلو والارتفاع: علا وصعد فوق الشيء، مثل قوله تعالى: {ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} أي علا عليه.

الاستقرار والثبات: استقر وثبت، مثل: "استوى على ظهر الدابة" أو "استوت السفينة على الجودي".

الاستيلاء والملك: استولى وتمكن، مثل: "استوى على سرير الملك" أي تولى الحكم.

الاعتدال والاستقامة: استقام واعتدل، مثل: {فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ} أي اعتدل وتكامل.

الجلوس: جلس منتصبًا، مثل: "استوى على الكرسي" أو "استوى على فرسه". 













 

Apa Terjemahan "Istawa/اِسْتَوَى" Yang Lebih Tepat Untuk Menghindari Kesalahpahaman ?


Apa Terjemahan "Istawa/اِسْتَوَى" Yang Lebih Tepat Untuk Menghindari Kesalahpahaman ?

1. Istilah "Bersemayam"

Istilah ini sering digunakan dalam terjemahan Al-Qur'an versi lama (seperti DEPAG). Namun, banyak ulama dan pakar bahasa mengkritik penggunaan kata ini karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersemayam memiliki arti duduk, tinggal, atau berkediaman. Makna ini dianggap terlalu sempit dan berisiko memberikan kesan bahwa Allah membutuhkan tempat atau duduk sebagaimana makhluk.

2. Istilah "Bertakhta"

Istilah "Bertakhta" dianggap sedikit lebih baik daripada bersemayam karena menunjukkan kekuasaan dan keagungan. Meskipun begitu, kata ini tetap memiliki keterbatasan bahasa karena masih bisa diasosiasikan dengan raja di dunia yang membutuhkan singgasana fisik.

3. Pandangan Para Ulama Ahlus-Sunnah

Syaikh Al-Albani dan para ulama Ahlus Sunnah menetapkan sifat Al-Uluw (Ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya) tanpa menetapkan makan (tempat yang melingkupi-Nya). Allah berada di atas Arsy dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa butuh pada Arsy tersebut. 
Banyak ulama menyarankan untuk membiarkan kata "Istawa" tetap sebagaimana adanya atau menerjemahkannya dengan "Betinggi di atas Arsy". Hal ini selaras dengan penjelasan Imam Bukhari dalam Shahih-nya yang menukil pendapat Mujahid dan Abu Al-Aliyah bahwa Istawa berarti Alaa (Meninggi) dan Irtafa’a (Naik/Tinggi).

Jika harus memilih terjemahan yang paling aman untuk menghindari kerancuan akidah:
🔸Lebih Utama: Menggunakan kata "Meninggi/Tinggi di atas Arsy" atau tetap menggunakan istilah "Istawa" dengan penjelasan bahwa Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya tanpa membutuhkan tempat.
🔸 Bertakhta: Lebih luas maknanya dibanding bersemayam, namun tetap harus dibarengi keyakinan bahwa Allah bertakhta tidak serupa dengan raja manapun.
🔸 Hindari "Bersemayam": Karena konotasinya yang sangat kuat dengan makna "tinggal/duduk" secara fisik.

Selasa, 13 Januari 2026

Penjelasan Kemuliaan Umur dan Anjuran untuk Memanfaatkannya dalam Kebaikan

 



Penjelasan Kemuliaan Umur dan Anjuran untuk Memanfaatkannya dalam Kebaikan



الْبَابُ الأَوَّلُ فِي بَيَانِ شَرَفِ الْعُمْرِ وَالْحَثِّ عَلَى اغْتِنَامِهِ فِي الْخَيْرِ

أَخْبَرَنَا أَبُو الْقَاسِمِ هِبَةُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُصَيْنِ، أنا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ التَّمِيمِيُّ، أنا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ يُخْبِرُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:)) إِنَّ الصِّحَّةَ وَالْفَرَاغَ، نِعْمَتَانِ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَغْبُونٌ فِيهِمَا كثيرٌ مِنَ النَّاسِ)) .

قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ، أنا عَبْدُ اللَّهِ –يَعْنِي: ابْنَ الْمُبَارَكِ-، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الأَمَانِيَّ)) .

أَخْبَرَنَا الْكَرُوخِيُّ، أنا أَبُو عَامِرٍ الأَزْدِيُّ، وَأَبُو بَكْرٍ الْغُورَجِيُّ قَالا: أنا ابْنُ الْجَرَّاحِ، ثنا ابْنُ مَحْبُوبٍ، ثنا التِّرْمِذِيُّ، ثنا أَبُو مُصْعَبٍ، عَنْ مُحْرِزِ بْنِ عَوْنٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَعْرَجِ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم قال: ((بادروا بالأعمال سبعاً: هل تنتظرون إِلا فَقْرًا مُنْسِيًا، أَوْ غِنًى مُطْغِيًا، أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا، أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا، أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا، أَوِ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غائبٍ يُنْتَظَرُ، أَوِ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ)) .

كتاب حفظ العمر لابن الجوزي ص ٣١-٣٢

Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Qasim Hibatullah bin Muhammad bin al-Hushain, (ia berkata): Mengabarkan kepada kami Abu Ali al-Hasan bin Ali al-Tamimi, (ia berkata): Mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ja'far, (ia berkata): Menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, (ia berkata): Menceritakan kepadaku ayahku (Imam Ahmad bin Hanbal), (ia berkata): Menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim, (ia berkata): Menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id bin Abi Hind, bahwasanya ia mendengar ayahnya mengabarkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat di antara nikmat-nikmat Allah 'Azza wa Jalla, yang mana banyak manusia merugi (tertipu) pada keduanya."

Diriwayatkan oleh Ahmad, dari Ali bin Ishaq, dari Abdullah (yakni Ibnul Mubarak), dari Abu Bakar bin Abi Maryam, dari Dhamrah bin Habib, dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang cerdas (al-kayyis) adalah orang yang menghisab (mengendalikan) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah (al-'ajiz) adalah orang yang membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsunya, namun ia mengharap berbagai angan-angan kepada Allah عز وجل."

Kami dikabarkan oleh al-Karukhi, dari Abu Amir al-Azdi dan Abu Bakar al-Ghuraji, keduanya berkata: Kami dikabarkan oleh Ibnul Jarrah, dari Ibnu Mahbub, dari at-Tirmidzi, dari Abu Mush'ab, dari Muhriz bin 'Aun, dari Abdurrahman al-A'raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Bersegeralah kalian beramal sebelum datangnya tujuh perkara. Tidaklah kalian menunggu melainkan: (1) Kemiskinan yang membuat lupa. (2) Kekayaan yang membuat melampaui batas. (3) Penyakit yang merusak tubuh. (4) Masa tua yang melemahkan akal. (5) Kematian yang datang dengan cepat. (6) Dajjal, seburuk-buruk sosok gaib yang dinanti. (7) Atau Hari Kiamat, dan Hari Kiamat itu jauh lebih dahsyat dan lebih pahit."

📚 Kitab Hifzhul 'Umr oleh Ibnu al-Jauzi, hal. 31-32

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...