Senin, 29 September 2025

Makna At-Tauhid ( معنى التوحيد ) Dan Makna Kalimat Tauhid "Laa Ilaha Illa Allah"


 


Makna At-Tauhid ( معنى التوحيد ) Dan Makna Kalimat Tauhid "Laa Ilaha Illa Allah"


التوحيد في اللغة: مصدر للفعل (وحَّد، يوحِّد) توحيدا فهو موحِّد إذا نسب إلى الله الوحدانية ووصفه بالانفراد عما يشاركه أو يشابهه في ذاته أو صفاته، والتشديد للمبالغة أي بالغت في وصفه بذلك.

🔸 Tauhid dalam bahasa : Mashdar yang berasal dari kata kerja (wahhada, yuwwahhidu) yang berarti mengesakan, sehingga seseorang disebut sebagai muwahhid (orang yang mengesakan) jika dia menghubungkan keesaan kepada Allah dan mensifati-Nya dengan keunikan dari apa yang menyerupai atau menyamai-Nya dalam dzat atau sifat-sifat-Nya. Dan tashdid (penekanan) dalam kata tersebut untuk menunjukkan mubalaghah, yaitu penekanan yang kuat dalam mensifati Allah dengan keunikan tersebut."

وأما تعريفه في الاصطلاح فهو: . إفراد الله تعالى بما يختص به من الألوهية والربوبية والأسماء والصفات وكل ما يختص به.

🔸 Dan definisi tauhid secara istilah : Mengesakan Allah Ta'ala dengan apa yang khusus bagi-Nya dari segi uluhiyah, rububiyah, asma wa shifat serta semua apa yang khusus bagi Allah.
Atau lebih ringkasnya : "إفراد الله تعالى بما يختص به"

و معنى كلمة التوحيد لا إله إلا الله : لا معبود حق إلا الله، هذا معناها كما قال تعالى: ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ [الحج:62] وهي نفي وإثبات (لا إله) نفي و(إلا الله) إثبات (لا إله) تنفي جميع المعبودات، وجميع الآلهة بغير حق، و(إلا الله) تثبت العبادة بالحق لله وحده فهي أصل الدين وأساس الملة.

"Makna kalimat Tauhid Laa Ilaha Illa Allah adalah: Tidak ada sesembahan yang haqq (benar) kecuali Allah. Ini adalah maknanya sebagaimana kalam Allah Ta'ala: "Demikianlah karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq (benar), dan apa saja yang mereka seru selain dari-Nya adalah batil (palsu)" (QS. Al-Hajj: 62). Kalimat ini merupakan penafian dan penetapan. (Laa ilaaha) adalah penafian, dan (illallah) adalah penetapan. (Laa ilaaha) menafikan semua sesembahan dan semua tuhan yang disembah tanpa hak, sedangkan (illallah) menetapkan ibadah yang benar hanya untuk Allah semata. Maka kalimat ini adalah pokok agama dan dasar millah (agama)."

Catatan : Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah tidak mensyariatkan (mewajibkan) pembagian tauhid menjadi 2, 3, ataupun 4 karena memang tiada al-ijma'. Yang penting bisa memahami makna tauhid dengan benar sesuai faham Salafush-Sholih.

Sabtu, 27 September 2025

Mauqifku Terkait Menghadiri Undangan Walimah Pernikahan dan Hadiah






Mauqifku Terkait Menghadiri Undangan Walimah Pernikahan dan Hadiah


✍🏼 Diriku meyakini bahwa hukum menghadiri undangan walimah pernikahan adalah fardhu kifayah dan bukan fardhu 'ain. Sebagaimana hukum sholat jenazah ataupun menjenguk orang sakit. Sehingga selama ada kemungkaran dan bukan undangan "khusus", maka tidak wajib memenuhi undangan tersebut. Demikian juga apabila ada udzur.

✍🏼 Siapapun boleh mengundangku untuk acara walimah pernikahan. Baik muslim ataupun non muslim, kerabat ataupun bukan kerabat, tetangga dekat ataupun tetangga jauh. Jika berharap diriku datang, maka hendaknya undangan "khusus" dan langsung menemuiku di manapun berada.

✍🏼 Sejak kecil diriku sudah tidak mau ikut tradisi "buwohan" yang termasuk perkara bid'ah karena memang bukan ajaran Nabi dan para Shahabat. Adapun terkait memberi hadiah.. jika tiada udzur insya Allah biasanya diriku memberi hadiah di antaranya bisa berupa :
🔸 mushaf Al-Qur'an ataupun mushaf Al-Qur'an beserta terjemahan. Untuk pedoman hidup. Jika sudah memiliki, maka kelak bisa diberikan kepada anaknya.
🔸 kitab/buku biasanya untuk orang yang gemar membaca.
🔸 madu lebah, al-habbatus-sauda', minyak zaitun untuk menjaga kesehatan tubuh.
🔸 minyak wangi
🔸 susu, perlengkapan masak ataupun semisal dll sesuai keridhaan hati.
Dengan tujuan memberi karena Allah dan tanpa mengharapkan balasan dari mereka.


Pemberitahuan Dan Boleh Disebarkan


Diriku meyakini hukum menghadiri undangan walimah itu bukan fardhu 'ain, melainkan fardhu kifayah. Sebagaimana hukum sholat jenazah ataupun menjenguk orang sakit.

Jika berharap diriku datang memenuhi undangan walimah pernikahan, maka syarat pertama yaitu dengan undangan "khusus". Sampaikan undangan dengan menemuiku secara langsung.

Apabila diriku tidak ditemui secara langsung oleh yang punya hajat dengan alasan rumah jauh.. tidak begitu kenal.. tidak pernah ke rumahku.. sibuk.. hajr (satron/berselisih).. ataupun dengan alasan lain... maka jangan salahkan jika diriku juga tidak ingin datang dengan alasan yang sama. Adil kan?

Jika syarat ini terpenuhi, maka insya Allah diriku jika tidak ada udzur akan memenuhi undangan sekalipun mungkin tidak pada hari H. Terutama jika ada kemungkaran..

Mencari ridha Allah wajib kita dahulukan daripada keridhoan manusia..

« مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »
(صحيح - أخرجه الترمذي)

Jumat, 26 September 2025

Hakikat Kalam Allah Itu Berbeda Dengan Kalam Makhluq


 

Hakikat Kalam Allah Itu Berbeda Dengan Kalam Makhluq


Beredar syubhat bahwa "Al-Qur'an Kalam Allah yang berbahasa Arab seperti perkataan makhluq". Maka sebagai bantahan kita katakan :
1️⃣ Walau sama-sama kalam dan memiliki sisi kesamaan, maka ketahuilah hakikat kalam Allah beda dengan kalam makhluq.

فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١١

".... Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Asy-Syura : 11)
2⃣ Kalam Allah termasuk sifat dari Allah yang qadim, abadi dan tidak diciptakan, sedangkan kalam makhluk adalah ciptaan Allah yang bersifat temporal (sementara) dan tidak kekal.
3⃣ Kalam Allah berasal dari Allah, sedangkan kalam makhluq berasal dari manusia yang memiliki keterbatasan dan kekurangan.
4⃣ Kalam Allah adalah sempurna, tidak ada kesalahan atau kekurangan, sedangkan kalam makhluq dapat memiliki kesalahan dan kekurangan.
5⃣ Kalam Allah memiliki kekuasaan untuk menciptakan dan mengubah sesuatu, sedangkan kalam makhluq tidak memiliki kekuasaan seperti itu.

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ۝٨٢

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “كُنْ!” Maka jadilah sesuatu itu." (QS. Yasin : 82)
6⃣ Andai Al-Qur'an kalam Allah diturunkan kepada sebuah gunung, maka gunung pun bisa hancur.

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ۝٢١

7⃣ Kalam Allah mengandung syifa', rohmat dan petunjuk. Beda dengan kalam makhluq

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا ۝٨٢



Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar


 

Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar



وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝١٠٤

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali-Imran : 104)

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۝١١٠

"Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq." (QS. Ali-Imran : 110)

وَالْعَصْرِۙ ۝١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ۝٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ۝٣

1. Demi masa,
2. sungguh, manusia berada dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al-'Ashr : 1-3)


Rabu, 24 September 2025

Nasihat Untuk Yang Gemar Menyebarkan Berita Kematian Melebihi Hajat


 

Nasihat Untuk Yang Gemar Menyebarkan Berita Kematian Melebihi Hajat



🔸 Untuk saudaraku kaum muslimin.. khususnya Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah, hendaknya tidak menyebarkan berita kematian melebihi hajat yang dibenarkan syariat.


🔸 Dalam Islam dianjurkan untuk menyampaikan berita kematian kepada keluarga dan kerabat untuk memberikan kesempatan ta'ziyah, mendoakan dan melaksanakan kewajiban. Namun, menyebarkan berita kematian secara berlebihan atau melebihi hajat, seperti melalui media sosial atau kepada orang-orang yang tidak perlu mengetahuinya, maka itu termasuk tindakan yang tidak dianjurkan. Hukumnya makruh atau bahkan bisa haram, tergantung pada konteks dan dampaknya. Terlebih jika sampai berdampak ada yang menghujat ataupun mendoakan keburukan atas yang meninggal dunia.

🔸 Di antara hadits yang melarang adalah hadits dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

إِذَا مِتُّ فَلَا تُؤْذِنُوا بِي، إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْيًا، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنِ النَّعْيِ

“Jika aku mati, janganlah kalian mengumumkan kematianku, karena aku takut hal itu termasuk dalam an-na’yu. Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ, melarang dari an-na’yu.” (HR. Tirmidzi no. 986 dan Ahmad no. 23455. At-Tirmidzi mengatakan, “Ini hadits hasan.” Dinilai hasan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (3: 117). Hadits di atas memiliki penguat dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالنَّعْيَ، فَإِنَّ النَّعْيَ مِنْ عَمَلِ الجَاهِلِيَّةِ

“Janganlah kalian mengumumkan kematian seseorang, karena hal itu termasuk perbuatan jahiliyah.” (HR. Tirmidzi (no. 984) secara marfu’)


Tolok Ukur Al-Haqq "Al-Qur'an & As-Sunnah Dengan Faham Salaful-Ummah Ash-Sholih"


 


Tolok Ukur Al-Haqq "Al-Qur'an & As-Sunnah Dengan Faham Salaful-Ummah Ash-Sholih"


📖 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ۝٥٩ (ٱلنِّسَاء ٥٩) 

📖 وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا ۝١١٥ (ٱلنِّسَاء : ١١٥) 

📖 عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله عنه قال : وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون , فقلنا يا رسول الله كأنها موعظة مودعٍ فأوصنا , قال – أوصيكم بتقوى الله عزوجل , والسمع والطاعة وإن تأمر عليك عبد , فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً . فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديّين عضوا عليها بالنواجذ , وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة – رواه أبوداود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح

قال ابن عباس رضي الله عنه للخوارج: جئتكم من عند أصحاب رسول الله وليس فيكم منهم أحدا وعليهم نزل القرآن وهم أعلم بتأويله (جامع بيان العلم (2/127)).

🔸 Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata kepada Khawarij: "Aku datang kepada kalian dari sisi para Shahabat Rasulullah, dan tidak ada di antara kalian seorang pun dari mereka. Al-Qur'an diturunkan kepada mereka (para Shahabat), dan mereka lebih mengetahui tentang tafsirnya." (Dikutip dari Jami' Bayan al-'Ilm, 2/127).

لماذا يجب ان نفهم القرآن والسنة على فهم الصحابة رضي الله عنهم؟
قال العلامة ابن القيم رحمه الله تعالى : "أفهام الصحابة فوق أفهام جميع الأمة، وعلمهم بمقاصد نبيهم ﷺ ، وقواعد دينه وشرعه، أتمّ من عِلم كل مَن جاء بعدهم."  (الطرق الحكمية ٣٢٤/١)

🔸 Mengapa Kita Wajib Memahami Al Qur'an Dan As Sunnah Dengan Pemahaman Para Shahabat ?
Al Allamah Ibnul Qayyim رحمَـہ الله تَعـَالَـى berkata : "Pemahaman Shahabat رضي اللّه عنهم diatas pemahaman seluruh umat. Dan ilmu mereka tentang maksud tujuan Nabi ﷺ dan kaidah-kaidah agamanya dan syari'atnya lebih sempurna daripada ilmu setiap orang yang hidup setelah mereka." (lihat At Turuqul Hikmiyyah : 1/324)
 

Selasa, 23 September 2025

Penggunaan Kullu (كل) Bisa Bermakna "Semua" dan Bisa Bermakna "Sebagian Besar"




Penggunaan Kullu (كل) Bisa Bermakna "Semua" dan Bisa Bermakna "Sebagian Besar"
 
Penggunaan Kull (كل) dalam Al Qur’an

🔸 Tentang segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah, sebagaimana QS. Al-Qashash : 88.

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ۝٨٨

🔸 Tentang setiap yang bernyawa akan mati, sebagaimana QS. Al-Ankabut : 57, QS. Ali-'Imran : 185, dan QS. Al-Anbiya : 35.

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ ۝٥٧

🔸 Tentang penciptaan segala sesuatu dari air, sebagaimana QS. Al-Anbiya’: 30

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ ۝٣٠

🔸 Tentang adzab penghancuran segala sesuatu melalui angin, QS. Al-Ahqof: 25

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍۢ بِاَمْرِ رَبِّهَا فَاَصْبَحُوْا لَا يُرٰىٓ اِلَّا مَسٰكِنُهُمْۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الْقَوْمَ الْمُجْرِمِيْنَ ۝٢٥

🔸 Tentang terbukanya segala pintu bagi orang yang lalai, sebagaimana QS. Al-An’am 44

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ ۝٤٤

🔸 Tentang Ratu Bilqis yang diberi Allah segala sesuatu ( مِنْ كُلِّ شَيْء) tapi realitanya tidak memiliki apa yang dimiliki nabi Sulaiman, sebagaimana QS. An-Naml : 23

اِنِّيْ وَجَدْتُّ امْرَاَةً تَمْلِكُهُمْ وَاُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَّلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ ۝٢٣


Penggunaan Kull (كل) dalam Al-Hadits

🔸 Hadits tentang semua mayit akan hancur dimakan bumi.

كلُّ ابنِ آدمَ يأْكلُهُ التُّرابُ إلاَّ عجبَ الذَّنبِ منْهُ خلقَ وفيهِ يرَكَّبُ

"Kullu ibni Adam akan dimakan oleh tanah kecuali tulang ekornya darinya ia diciptakan dan dengannya dia akan disusun (kembali dalam kehidupan selanjutnya). ( HR Muslim, an-Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah)
Dalam hadits di atas lafadz (كل) bermakna kebanyakan karena ada di antara keturunan Nabi Adam yang jasadnya tidak dimakan oleh tanah diantaranya jasad para nabi dan rasul sesuai dengan hadits :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺣَﺮَّﻡَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺃَﺟْﺴَﺎﺩَ ﺍﻟْﺄَﻧْﺒِﻴَﺎﺀِ

Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada bumi memakan jasad para nabi . (HR Abu Dawud)

🔸 Hadits tentang jintan hitam (الحبة السوداء) sebagai obat segala penyakit ;

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻧَّﻪُ ﺳَﻤِﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺒَّﺔِ ﺍﻟﺴَّﻮْﺩَﺍﺀِ : ( ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺩَﺍﺀٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﺴَّﺎﻡَ ) ﻗَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦُ ﺷِﻬَﺎﺏٍ : ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﻡُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ

Dari Abi Hurairah radhiyaallahu 'anhu bahwasanya beliau mendengar Rasulullah bersabda : "Pada al-habbatus-sauda' ada obat dari segala penyakit kecuali as-saam. Ibnu Syihab berkata: arti as-saam adalah kematian. (HR Bukhari dan Muslim)

🔸 Hadits tentang "Kullu bid'atin dholalah". Dalam riwayat An-Nasaai ada tambahan

وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

“Dan kullu muhdatsah adalah bid’ah dan kullu bid’ah adalah dholallah dan kullu dholallah di neraka” (HR An-Nasaai no 1578)

Kesimpulan

🔸 Makna "kull" (كل) dalam Al-Qur'an dan hadits tidak selalu berarti "semua" atau "setiap". Tapi bisa bermakna "sebagian besar" atau pada umumnya.
🔸 Makna "kull" (كل)  hukum asalnya "semua" atau setiap. Kecuali apabila ada dalil takhsis (yang mengkhususkan) maka maknanya menjadi "sebagian besar.

Minggu, 21 September 2025

Shifat Qoriib, Ma'iyyah Allah Ataupun Istiwa' Maknanya Ma'lum, Wal-Kaifu Ghoiru Ma'qul


 

Shifat Qoriib, Ma'iyyah Allah Ataupun Istiwa' Maknanya Ma'lum, Wal-Kaifu Ghoiru Ma'qul


وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ۝١٨٦

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. ...." (QS. Al-Baqarah ; 186)

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاۤءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَاۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ ۝٤

"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia ber-istiwa' di atas ‘Arsy. .... Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hadid : 4)

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «لما خلق اللهُ الخَلْقَ كتب في كتاب، فهو عنده فوق العرش: إن رحمتي تَغْلِبُ غضبي». وفي رواية: «غَلَبَتْ غضبي» وفي رواية: «سَبَقَتْ غضبي».  
(صحيح - متفق عليه)

.... سئل مالك بن أنس عن قوله: {الرحمن على العرش استوى} كيف استوى؟ قال: "الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة، وما أراك إلا ضالا" وأمر به أن يخرج من مجلسه. (عقيدة السلف وأصحاب الحديث لأبي عثمان الصابوني)

".... Malik bin Anas ditanya tentang kalam Allah, "Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) berada di atas 'Arsy." Bagaimana Allah ber-istawa di atas 'Arsy?
Malik bin Anas menjawab, "Istawa (berada di atas) itu maknanya tidaklah samar (diketahui), sedangkan kaifiyatnya (sifat-sifatnya) tidak dapat dicapai oleh akal. Beriman kepadanya adalah wajib, dan mempertanyakan tentang kaifiyatnya adalah bid'ah. Aku tidak melihatmu kecuali sebagai orang yang sesat." Lalu Malik bin Anas memerintahkan agar orang tersebut dikeluarkan dari majelisnya.

Tahdzir ( Peringatan ) Imam Malik bin Anas dari Bid'ah dan Ahlul-Bid'ah


 


Tahdzir ( Peringatan ) Imam Malik bin Anas dari Bid'ah dan Ahlul-Bid'ah


تحذير مالك بن أنس من أهل البدع

أخبرنا أبو عبد الرحمن محمد بن الحسين بن موسى السلمي: أخبرنا محمد بن محمود الفقيه المروزي بها: حدثنا محمد بن عمير الرازي حدثنا أبو زكريا يحيى بن أيوب العلاف التجيبي بمصر: حدثنا يونس بن عبد الأعلى: حدثنا أشهب بن عبد العزيز: سمعت مالك بن أنس يقول: إياكم والبدع، قيل: يا أبا عبد الله، وما البدع؟ قال: أهل البدع الذين يتكلمون في أسماء الله وصفاته وكلامه وعلمه وقدرته، لا يسكتون عما سكت عنه الصحابة والتابعون. (عقيدة السلف وأصحاب الحديث لأبي عثمان الصابوني)

.... Asyhab bin Abdul Aziz telah meriwayatkan kepada kami: Aku mendengar Malik bin Anas berkata: "Hati-hatilah kalian dari bid'ah!" Lalu dikatakan kepada beliau: "Wahai Abu Abdillah, apa itu bid'ah?" Beliau menjawab: "Ahli bid'ah adalah mereka yang berbicara tentang asma' (nama-nama) Allah, shifat-shifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya, dan qudroh/kekuasaan-Nya, tanpa diam dari hal-hal yang tidak dibicarakan oleh para Shahabat dan Tabi'in."

Ringkasan Hukum Menghadiri Walimah ( الوَلِيمَة ) Pernikahan


 

Ringkasan Hukum Menghadiri Walimah ( الوَلِيمَة ) Pernikahan


🔸 Hukum asal menghadiri walimah (الوَلِيمَة) nikah adalah diperintahkan (wajib).

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «إذا دُعِيَ أحدكم إلى الوَلِيمَة فَلْيَأْتِهَا». (صحيح- متفق عليه)

Dari Ibnu Umar radhiyallāhu 'anhumā, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian diundang ke acara walimah (resepsi pernikahan), maka hendaknya ia datang."  (Hadits shahih - Muttafaq 'alaih)

🔸 Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menghadiri undangan walimah. 1️⃣ Sebagian mengatakan wajib atau fardhu `ain, 2️⃣ sebagian lagi mengatakan fardhu kifayah (sebagaimana sebagian pendapat Asy-Syafi'iyah dan sebagian pendapt Al-Hanabilah) dan 3️⃣ sebagian lagi mengatakan sunnah.

🔸 Pendapat yang mengatakan wajib menghadiri walimah dengan syarat di antaranya : 1️⃣ tidak ada madhorot (semisal asap beracun dll), 2️⃣ undangan bersifat khusus dan bukan undangan umum, 3️⃣ tidak ada kemungkaran (seperti hidangan haram, ikhtilath (campur) laki-laki dan perempuan, "ash-shuwar" makhluk bernyawa ataupun musik selain dhuff), 4️⃣ yang mengundang muslim dan 5️⃣ pengundang bukan orang yang disyariatkan dijauhi semisal tokoh ahlul bid'ah.

✍🏼 Diriku pribadi meyakini bahwa menghadiri walimah hukumnya fardhu kifayah (sebagaimana hukum ta'ziyah & sholat jenazah ataupun hukum menjenguk orang sakit). Karena perkara yang fardhu 'ain itu tidak gugur dengan adanya maksiat. Sebagaimana haji tetap wajib hukumnya sekalipun ada :ash-shuwar" makhluq bernyawa ataupun ikhtilat ketika safar. Bahkan andai di Ka'bah ada patung itu tidak menggugurkan kewajiban haji.

Rabu, 17 September 2025

Wahai Ahlul-Ahwa'.. Fahami dan Bertaubatlah Sebelum Terlambat!





























Wahai Ahlul-Ahwa'.. Fahami dan Bertaubatlah Sebelum Terlambat!


SubhanaAllah..
Ketahuillah tidak ada ayat ataupun hadits shahih yang mengatakan penghuni Surga itu mayoritas. Jadi yang berdusta itu kalian, sehingga tak mampu mendatangkan hadits shahih beserta sanadnya.
























Silahkan tunjukkan burhan jika kalian orang yang benar..




Ini tolok ukur kebenaran di sisi kami Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah. Kami tidak menolak ayat Al-Qur'an dan hadits Shahih. Yang kami tolak pemahaman batil kalian yang tidak sesuai pemahaman Salafush-Sholih ataupun tafsir para ulama Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah.

Jadi beda dengan orang Syiah dan semisalnya dari ahlul ahwa'. Hanya bisa nyrocos mengikuti hawa nafsu serta comot ayat dengan pemahaman batil. Jika diminta menukil dalil, kalam salafush Sholih dan kitabnya maka plonga-plongo tak bisa mendatangkan burhan..

Hanya pandai dusta sebagaimana tabiat orang munafiq. Jika diajak berhakim kepada Allah, maka menolak dan tidak ridho menjadikan Allah sebagai Al-Hakim. Tapi masih juga tak punya rasa malu mengklaim di atas kebenaran sebagaimana para dajjal dan syaithan la'natullah. Na'udzubillah.




Berhakim kepada Allah itu untuk semua makhluq.. baik yang beriman ataupun kafir. Jika menolak di dunia maka di akhirat. Jangan Ooon.

أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَحْكَمِ ٱلْحَٰكِمِينَ

Jauhi 3 kesyirikaan yang tidak akan merubah hukum sekalipun dinamakan "Tri Tauhid". Sebuah penamaan semata tidak bisa merubah hakikat. Tiada kezholiman yang lebih besar melibihi kesyirikan..




Kerjakan perintah Allah dan bukan malah sebaliknya mengganti perintah dengan mengerjakan perkara bid'ah yang tidak Allah perintahkan..



Wahai ahlul ahwa'.. silahkan jika senantiasa menjulurkan lidah bagai anjing..

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ۝١٧٦



Silahkan bantah ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits kemudian kalam Salafush Sholih serta para imam Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah yang kusampaikan.

Diriku tak punya kuasa dan tidak bisa maksa keimanan kalian untuk mengimani seluruh ayat Al-Qur'an,,

Mungkin sebagian saja yang kalian imani,,yg sesuai dengan perut dan hawa nafsu kalian imani, sebaliknya yang tidak sesuai dengan perut dan hawa nafsu kalian maka kalian ingkari.

Kutantang mubahalah untuk membuktikan siapa yang benar dan yang dusta, kamu menolak. Penolakanmu tersebut insya Allah cukup sebagai hujjah bahwa kalian di atas kedustaan dan kebatilan.

حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ۝١٧٣

Laa haula wa laa quwwata illa billah..





======================================

SubhanaAllah..

Wahai Ahlul-Ahwa'.. Fahami dan Bertaubatlah Sebelum Terlambat !

https://teguhakhirblora.blogspot.com/2025/09/wahai-ahlul-ahwa-fahami-dan.html?m=1

حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ۝١٧٣

Laa haula wa laa quwwata illa billah..












3 Kesyirikan Yang Tidak Merubah Hakikat Walau Diberi Label "Tri Tauhid"


 

3 Kesyirikan Yang Tidak Merubah Hakikat Walau Diberi Label "Tri Tauhid"

اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَۚ وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوْٓا اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ۝٣١ (التوبة :٣١)

"Mereka menjadikan ahbaar (orang-orang alim), dan ruhbaan (rahib/ahli ibadah) sebagai ilah selain Allah, ...." (QS. At-Taubah : 31)

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ ۝٢٣

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-(tuhan)nya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? ...." (QS. Al-Jatsiah : 23)

عن عدي بن حاتم رضي الله عنه : "أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقرأ هذه الآية: "اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ" فقلت له: إنا لسنا نعبدهم، قال: أليس يُحَرِّمُونَ ما أحل الله فتُحَرِّمُونَهُ؟ ويُحِلُّونَ ما حَرَّمَ الله فتُحِلُّونَهُ؟ فقلت: بلى، قال: فتلك عبادتهم". (صحيح - رواه الترمذي)

1️⃣ Menyembah 'Alim. Taqlid buta dalam hal menghalalkan perkara haram ataupun mengharamkan perkara halal kemudian diikuti.

2️⃣ Menyembah ahli Ibadah dan orang sholih. Bersikap ghuluw dengan tabarruk, meyakini punya sifat keilahian, tawasul, mengadakan haul dan sebagainya.

3⃣ Menyembah Hawa Nafsu

"Tri Tauhid" yang hakikatnya 3 syirik akbar tersebut banyak diamalkan oleh Ahlul-Ahwa' yang mengklaim bertauhid. Na'udzubillah, laa haula wa laa quwwata illa billah..

Jumat, 12 September 2025

Darah Hukum Asalnya Haram Sekalipun Untuk Berobat Kecuali Darurat


 

Darah Hukum Asalnya Haram Sekalipun Untuk Berobat Kecuali Darurat



حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣

"Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasiq. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Maidah : 3)

✍🏼 Berdasarkan ayat tersebut maka darah hukum asalnya haram. Termasuk diperjualbelikan, dimasak/dimakan, diminum, dihisap dalam keadaan hidup, dishodaqohkan, ditransfusikan/donor ataupun untuk obat. Apalagi jika tiada nukilan Salafush-Sholih berobat menggunakan darah. Kecuali darurat/terpaksa dan bukan karena ingin berbuat dosa (tidak ada cara lain untuk menyelamatkan jiwa serta harapan untuk selamat lebih besar), maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين


Rabu, 10 September 2025

Jangan Mengganti Perintah Dengan Mengerjakan Yang Tidak Diperintahkan


 


Jangan Mengganti Perintah Dengan Mengerjakan Yang Tidak Diperintahkan


Orang-orang Yang Zholim Mengganti Perintah Allah Dengan Mengerjakan Sesuatu Yang Tidak Diperintahkan Allah, Sebagaimana Perbuatan Orang-orang Yang Zholim Dari Bani Israil..


فَبَدَّلَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِيْ قِيْلَ لَهُمْ فَاَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رِجْزًا مِّنَ السَّمَاۤءِ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ ۝٥٩

"Lalu orang-orang yang zhalim mengganti perintah dengan (perintah lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka Kami turunkan malapetaka dari langit kepada orang-orang yang zhalim itu, karena mereka (selalu) berbuat fasiq." (QS. Al-Baqarah : 59)




Orang-orang yang Zholim dari Ahlul-Ahwa' Gemar Menyelisihi Perintah dan Mengerjakan Sesuatu Yang Tidak Diperintahkan Syari'at..


1. Diperintahkan mentauhidkan Allah.. kemudian malah berbuat syirik dengan menyembah thoghut, menyembah 'alim  ataupun menyembah hawa nafsu.

2. Diperintahkan bersatu di atas Al-Jama'ah dan tidak berpecah belah..kemudian malah berpecah belah dan mendirikan jam'iyyah ataupun muassasah.

3. Diperintahkan mengerjakan sholat Jum'at dan sholat 'Id ma'al umaro' (para 'amir yang sah).. kemudian malah mengadakan sendiri-sendiri bersama hizb-nya.

4. Diperintahkan berpegang teguh dengan Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafa'ur Rosyidin.. kemudian malah mengerjakan beragam bid'ah.

5. Diperintahkan memelihara lihyah (jenggot).. kemudian malah mencukur jenggot.

6. Diperintahkan ikhlash dalam ibadah ataupun berupaya menyembunyikan amal sholih.. kemudian malah gemar berbuat riya' dan sum'ah lewat media sosial ataupun pengeras suara.

7. Diperintahkan menunaikan amanah dan menyerahkan anak kepada yang berhak menjadi hadhinah.. kemudian malah khianat dan menitipkan anak kecil kepada orang yang tidak berhak menjadi hadhinah yang sah.

8. Diperintahkan menghilangkan atau merusak "Ash-Shuwar".. kemudian malah membuat Ash-Shuwar makhluq bernyawa lengkap dengan kepala (semisal foto dan video).

9. Diperintahkan berpuasa Senin hari kelahiran Nabi.. kemudian malah mengadakan ihtifal maulid Nabi.

10. Diperintahkan menjaga 'iffah.. kemudian malah gemar melakukan tasawwul dengan minta-minta, mengajukan proposal dana, penggalangan dana untuk hizb dsb.

11. Diperintahkan membuatkan makanan untuk keluarga mayit.. kemudian malah melakukan niyahah dengan ma'tam.

12. Diperintahkan memperbanyak membaca dzikir dan tahlil.. kemudian malah mengerjakan ritual tahlilan kematian yang tidak diperintahkan..

13. Diperintahkan memperbanyak membaca shalawat Nabi.. kemudian malah mengarang dan menyanyikan sholawat yang tidak diajarkan Nabi dan para Shahabat.

14. Diperintahkan jujur dan bersama orang-orang yang benar.. kemudian malah gemar dusta dan bersama orang-orang yang di atas kebatilan.

15. Diperintahkan zuhud dalam perkara dunia.. kemudian malah condong kepada dunia dan berlomba-lomba mendapatkan dunia tanpa peduli menerjang perkara haram.

16. Diperintahkan puasa Sunnah 6 hari bulan Sya'ban.. kemudian malah mengadakan hari raya Al-Abror (hari raya ketupat).

17. Diperintahkan menghadirkan niat di dalam hati.. kemudian malah melafazhkan niat dengan lisan.

Dan seterusnya.. bersambung insya Allah.

Selengkapnya insya Allah bisa dibaca di :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02zz6cJTtVADPKJDe7CgFL9T3zKnEVkk7hZfy1Fqb4cUKvkzwu8oW3q9oHSP3NqZgFl&id=100083041335132&mibextid=Nif5oz

Selasa, 09 September 2025

Pengikut Al-Haq ( Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah ) Itu Sedikit Di Antara Manusia





Pengikut Al-Haq ( Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah ) Itu Sedikit Di Antara Manusia



لَقَدْ جِئْنٰكُمْ بِالْحَقِّ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كٰرِهُوْنَ ۝٧٨

"Sungguh, Kami telah datang membawa al-haqq (kebenaran) kepada kalian tetapi kebanyakan di antara kalian benci pada kebenaran itu." (QS. Az-Zukruf : 78)

وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ ۝١٣

"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba : 13)

عن عبدالله بن عمرو قال: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم  : طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, Beruntunglah al-ghuroba' (orang-orang yang terasing).” “Lalu siapa orang al-ghuroba' wahai Rasulullah”, tanya Shahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi.)

عن الحسن – رحمه الله - قال : ( يا أهل السنة ترفقوا رحمكم الله فإنكم من أقل الناس ) اللالكائي : 1/57/19 .

Dari Al-Hasan rahimahullah beliau berkata:
"Wahai Ahlus-Sunnah hendaklah kalian saling berkasih sayang semoga Allah merahmati kalian, karena sesungguhnya kalian adalah termasuk manusia yang paling sedikit."


Berpeganglah dengan Kebenaran Walau Engkau Seorang Diri

روى الإمام أحمد في مسنده وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة: (عن عبدالله بن عمرو قال: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم «طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ». فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ «نَاسٌ صَالِحُونَ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ»، وفي رواية: (طوبى للغرباءِ قيل: من الغرباءُ؟ قال: ناسٌ صالحون قليلٌ في ناسِ سوءٍ كثيرٍ من يعصيهم أكثرُ ممن يطيعُهم) 

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Rasulullah bersabda, "Berbahagialah bagi al-ghuroba' (orang-orang yang asing), berbahagialah bagi al-ghuroba' berbahagialah bagi al-ghuroba'." Maka dikatakan, "Siapa al-ghuroba', wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang-orang yang shalih yang berada di tengah-tengah banyak orang yang buruk, yang lebih banyak orang yang durhaka kepada Allah daripada yang taat kepada-Nya."
Dalam riwayat lain disebutkan: "Berbahagialah bagi al-ghuroba'". Dikatakan, 'Siapa al-ghuroba'.?' Beliau menjawab, 'Orang-orang shalih yang sedikit jumlahnya di tengah-tengah banyak orang yang buruk, yang lebih banyak orang yang durhaka kepada Allah daripada yang taat kepada-Nya.'"

قال ابن مسعود رضي الله عنه: "الجماعة ما وافق الحق؛ ولو كنت وحدك" (رواه اللالكائي في شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة:1/122- رقم160، وصحح سنده الشيخ الألباني كما في تعليقه على مشكاة المصابيح: 1/61، ورواه الترمذي في سننه:4/467).

Ibnu Mas'ud radhiyaallahu 'anhu berkata, "Al-Jamaah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran, meskipun kamu sendirian." (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Lalakai dalam kitab Syarh Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah (1/122, no. 160), dan sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam ta'liq-nyya terhadap kitab Mishkatul Mashabih (1/61). Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunannya 4/467)

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: " عَلَيْكَ بِطَرِيقِ الْحَقِّ، وَلَا تَسْتَوْحِشْ لِقِلَّةِ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطَرِيقَ الْبَاطِلِ، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ " (مدارج السالكين - ط الكتاب العربي ج ٢ ص ٢٢  - ابن القيم)

Sebagian salaf mengatakan, “Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa” (Madarijus Salikin, 1: 22).

Minggu, 07 September 2025

Ashhaabul-Yamiin Terdiri Dari Segolongan Jama'ah Generasi Awal dan Jama'ah Generasi Akhir





Ashhaabul-Yamiin Terdiri Dari Segolongan Jama'ah Generasi Awal dan Jama'ah Generasi Akhir

ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ ۝٣٩ وَثُلَّةٌ مِّنَ الْاٰخِرِيْنَۗ ۝٤٠ ( الْوَاقِعَةُ : ٣٩-٤٠ )

وَقَوْلُهُ: ﴿ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ﴾ أَيْ: جَمَاعَةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ وَجَمَاعَةٌ مِنَ الْآخَرِينَ.
وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا الْمُنْذِرُ بْنُ شَاذَانَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدِ بْنِ بَشير، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَين، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ -قَالَ: وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَأْخُذُ عَنْ بَعْضٍ-قَالَ: أَكْرَيْنَا ذَاتَ لَيْلَةٍ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ غَدَوْنَا عَلَيْهِ، فَقَالَ: "عُرضت عليَّ الْأَنْبِيَاءُ وَأَتْبَاعُهَا بِأُمَمِهَا، فَيَمُرُّ عَلَيَّ النَّبِيُّ، وَالنَّبِيُّ فِي الْعِصَابَةِ، وَالنَّبِيُّ فِي الثَّلَاثَةِ، وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ -وَتَلَا قَتَادَةُ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ﴾ [هُودٍ: ٧٨]-قَالَ: حَتَّى مرَّ عليَّ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ فِي كَبْكَبَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ". قَالَ: "قلتُ: رَبِّي مَنْ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا أَخُوكَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ وَمَنْ مَعَهُ(٧٣) مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ". قَالَ: "قُلْتُ: رَبِّ فَأَيْنَ أُمَّتِي؟ قَالَ: انْظُرْ عَنْ يَمِينِكَ فِي الظِّرَابِ(٧٤) . قَالَ: "فَإِذَا وُجُوهُ الرِّجَالِ". قَالَ: "قَالَ: أَرَضِيتَ؟ " قَالَ: قُلْتُ: "قَدْ رَضِيتُ، رَبِّ". قَالَ: انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ عَنْ يَسَارِكَ فَإِذَا وُجُوهُ الرِّجَالِ. قَالَ: أَرَضِيتَ؟ قُلْتُ: "رَضِيتُ، رَبِّ". قَالَ: فَإِنَّ مَعَ هَؤُلَاءِ سَبْعِينَ أَلْفًا، يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ". قَالَ: وَأَنْشَأَ عُكَّاشة بْنُ مُحْصَن مِنْ بَنِي أَسَدٍ -قَالَ سَعِيدٌ: وَكَانَ بَدْريًّا-قَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: فَقَالَ: "اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ". قَالَ: أَنْشَأَ(٧٥) رَجُلٌ آخَرُ، قال: يا نبي الله، ادع الله أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ: "سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ" قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ -فِدَاكُمْ أَبِي وَأُمِّي-أَنْ تَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّبْعِينَ فَافْعَلُوا وَإِلَّا فَكُونُوا(٧٦) مِنْ أَصْحَابِ الظِّرَابِ(٧٧) ، وَإِلَّا فَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ الْأُفُقِ، فَإِنِّي قَدْ رَأَيْتُ نَاسًا كَثِيرًا قَدْ تأشَّبوا حَوْلَهُ"(٧٨) . ثُمَّ قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". فَكَبَّرْنَا، ثُمَّ قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". قَالَ: فَكَبَّرْنَا، قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". قَالَ: فَكَبَّرْنَا. ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ﴾ قَالَ: فَقُلْنَا بَيْنَنَا: مَنْ هَؤُلَاءِ السَّبْعُونَ أَلْفًا؟ فَقُلْنَا: هُمُ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ، وَلَمْ يُشْرِكُوا. قَالَ: فَبَلَغَهُ ذَلِكَ فَقَالَ: "بَلْ هُمُ الَّذِينَ لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ".
وَكَذَا رَوَاهُ ابْنُ جَرِيرٍ مِنْ طَرِيقَيْنِ آخَرَيْنِ عَنْ قَتَادَةَ، بِهِ نَحْوَهُ(٧٩) . وَهَذَا الْحَدِيثُ لَهُ طُرُقٌ كَثِيرَةٌ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ فِي الصِّحَاحِ وَغَيْرِهَا.
وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا مِهْرَان، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبَانِ بْنِ أَبِي عَيَّاشٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْر، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: ﴿ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ﴾ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "هُمَا جَمِيعًا مِنْ أُمَّتِي"(٨٠) .

Kalam Allah : {ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ} "(yaitu) segolongan (jama'ah) dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan (jama'ah) pula dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 39-40). Yakni jama'ah dari generasi awal dan jama'ah dari generasi akhir.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا الْمُنْذِرُ بْنُ شَاذَانَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدِ بْنِ بَشير، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَين، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ -قَالَ: وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَأْخُذُ عَنْ بَعْضٍ-قَالَ: أَكْرَيْنَا ذَاتَ لَيْلَةٍ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ غَدَوْنَا عَلَيْهِ، فَقَالَ: "عُرضت عليَّ الْأَنْبِيَاءُ وَأَتْبَاعُهَا بِأُمَمِهَا، فَيَمُرُّ عَلَيَّ النَّبِيُّ، وَالنَّبِيُّ فِي الْعِصَابَةِ، وَالنَّبِيُّ فِي الثَّلَاثَةِ، وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ -وَتَلَا قَتَادَةُ هَذِهِ الْآيَةَ: {أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ} [هُودٍ: 78]-قَالَ: حَتَّى مرَّ عليَّ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ فِي كَبْكَبَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ". قَالَ: "قلتُ: رَبِّي مَنْ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا أَخُوكَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ". قَالَ: "قُلْتُ: رَبِّ فَأَيْنَ أُمَّتِي؟ قَالَ: انْظُرْ عَنْ يَمِينِكَ فِي الظِّرَابِ. قَالَ: "فَإِذَا وُجُوهُ الرِّجَالِ". قَالَ: "قَالَ: أَرَضِيتَ؟ " قَالَ: قُلْتُ: "قَدْ رَضِيتُ، رَبِّ". قَالَ: انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ عَنْ يَسَارِكَ فَإِذَا وُجُوهُ الرِّجَالِ. قَالَ: أَرَضِيتَ؟ قُلْتُ: "رَضِيتُ، رَبِّ". قَالَ: فَإِنَّ مَعَ هَؤُلَاءِ سَبْعِينَ أَلْفًا، يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ". قَالَ: وَأَنْشَأَ عُكَّاشة بْنُ مُحْصَن مِنْ بَنِي أَسَدٍ -قَالَ سَعِيدٌ: وَكَانَ بَدْريًّا-قَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: فَقَالَ: "اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ". قَالَ: أَنْشَأَ رَجُلٌ آخَرُ، قال: يا نبي الله، ادع الله أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ: "سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ" قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ -فِدَاكُمْ أَبِي وَأُمِّي-أَنْ تَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّبْعِينَ فَافْعَلُوا وَإِلَّا فَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ الظِّرَابِ ، وَإِلَّا فَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ الْأُفُقِ، فَإِنِّي قَدْ رَأَيْتُ نَاسًا كَثِيرًا قَدْ تأشَّبوا حَوْلَهُ". ثُمَّ قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". فَكَبَّرْنَا، ثُمَّ قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". قَالَ: فَكَبَّرْنَا، قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". قَالَ: فَكَبَّرْنَا. ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: {ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ} قَالَ: فَقُلْنَا بَيْنَنَا: مَنْ هَؤُلَاءِ السَّبْعُونَ أَلْفًا؟ فَقُلْنَا: هُمُ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ، وَلَمْ يُشْرِكُوا. قَالَ: فَبَلَغَهُ ذَلِكَ فَقَالَ: "بَلْ هُمُ الَّذِينَ لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ".

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Mundzir ibnu Syadzan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakkar, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Basyir, dari Qatadah. dari Al-Hasan, dari Imran ibnu Husain, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa dahulu sebagian dari mereka (shahabat) menerima hadits dari sebagian yang lainnya. Disebutkan bahwa pada suatu malam kami dijamu oleh Rasulullah ﷺ, kemudian pada pagi harinya kami kembali kepada beliau ﷺ lalu beliau ﷺ bersabda: bahwa tadi malam ditampilkan kepada beliau (dalam mimpinya) para nabi dan para pengikutnya berikut semua umatnya masing-masing. Maka lewatlah di hadapan beliau seorang nabi yang diikuti oleh segolongan manusia, dan nabi yang hanya diikuti oleh tiga orang serta nabi yang tidak diikuti oleh seorang jua pun. Qatadah membacakan ayat berikut, yaitu kalam-Nya: ﴿أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ﴾ Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal? (Hud: 78)  (menceritakan siapa dia yang tidak diikuti oleh seorang pun). Akhirnya lewatlah di hadapan beliau . Musa ibnu Imran bersama sejumlah besar kaum Bani Israil. Nabi bertanya, "Ya Rabb-ku, siapakah orang ini?" Allah menjawab, "Ini adalah saudaramu Musa ibnu Imran dan orang-orang yang mengikutinya dari kaum Bani Israil." Aku bertanya.”Lalu manakah umatku?" Allah berkalam, "Lihatlah ke arah kananmu gelombang manusia yang banyak itu," dan ternyata mereka itu adalah manusia yang jumlahnya sangat besar. Allah berkalam, "Puaskah kamu?" Aku menjawab, "Aku telah puas, ya Rabb-ku." Allah kembali berfirman, "Lihatlah ke cakrawala yang ada di sebelah kirimu," tiba-tiba terlihat gelombang manusia yang amat besar jumlahnya. Allah berfirman, "Puaskah kamu?" Aku menjawab, "Aku telah puas, ya Rabb-ku." Allah berkalam, "Sesungguhnya bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab." Saat itu juga Ukasyah ibnu Mihsan dari Bani Asad —yang menurut Sa'id adalah seorang yang ikut dalam Perang Badar— bangkit, lalu berkata, "Wahai Nabi Allah, doakanlah kepada Allah, semoga Dia menjadikan diriku termasuk di antara mereka yang tujuh puluh ribu itu." Maka Nabi berdoa: Ya Allah, jadikanlah dia seorang dari mereka. Kemudian bangkit pula lelaki lainnya dan berkata, "Wahai Nabi Allah, doakanlah kepada Allah, semoga Dia menjadikan diriku termasuk dari mereka." Nabi menjawab: Kamu telah kedahuluan oleh Ukasyah untuk mendapatkannya. Lalu Rasulullah bersabda, "Jika kalian mampu, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, untuk menjadi orang-orang yang termasuk ke dalam yang tujuh puluh itu, berbuatlah. Jika tidak dapat, jadilah kalian termasuk orang-orang yang ada di sebelah kananku itu. Dan jika tidak dapat, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang ada di ufuq sebelah kiriku. Karena sesungguhnya aku telah melihat banyak orang yang keadaan mereka digabungkan." Kemudian Rasulullah bersabda: Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah seperempat ahli surga. Lalu kami bertakbir, kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah sepertiga ahli surga. Maka kami bertakbir, dan beliau bersabda lagi: Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah separo ahli surga. Maka kami bertakbir lagi. Kemudian Rasulullah membaca ayat ini, yaitu kalam-Nya: ﴿ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ﴾ (yaitu) segolongan (jama'ah) dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan (jama'ah) dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi’ah: 39-40); Ibnu Mas'ud melanjutkan kisahnya, bahwa lalu kami saling bertanya di antara sesama kami (para shahabat) menanyakan tentang siapa sajakah mereka yang termasuk di dalam tujuh puluh ribu orang itu. Akhirnya kami sepakat untuk mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang dilahirkan di masa Islam dan tidak mengalami masa kemusyrikan. Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda: Tidak, mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan kay, tidak meminta ruqyah dan tidak tathayyur (percaya kepada takhayul), dan hanya kepada Rabb mereka saja mereka bertawakal.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui dua jalur lain dari Qatadah dengan sanad yang semisal dan lafahz yang serupa. Hadits ini mempunyai jalur periwayatan yang banyak selain dari jalur ini di dalam kitab-kitab sahih dan kitab-kitab hadits lainnya.

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا مِهْرَان، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبَانِ بْنِ أَبِي عَيَّاشٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْر، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ} قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هُمَا جَمِيعًا مِنْ أُمَّتِي"

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Aban ibnu Abu Iyasy, dari Sa'id ibnu Jubair. dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:  ﴿ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ﴾ (yaitu) segolongan (jama'ah) dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan (jama'ah) dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 39-40) Bahwa Rasulullah telah bersabda: Kedua-duanya dari kalangan umatku. 


Jumat, 05 September 2025

Ihtifal "Maulid Nabi Muhammad" atau "Natalis Prophetae Muhammadi"


 

Ihtifal "Maulid Nabi Muhammad" atau "Natalis Prophetae Muhammadi"


🔸 Ihtifal Maulid Nabi Muhammad (Ulang tahun Nabi) atau dalam bahasa Latin-nya "Natalis Prophetae Muhammadi". Dan sudah maklum bahwa hati Natal itu bukan hari raya umat Islam. Karena hari raya umat Islam hanya ada 2 yaitu 'Idul Fithri dan 'Idul Adha.

.... فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” (HR. Abu Daud, 1134, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/119, dishahihkan Al-Albani)

🔸 Dalam sejarah para Shahabat Nabi, Tabi'in dan Tabiut Tabi'in serta para imam 4 madzhab Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah tidak ada nukilan mengadakan ihtifal Maulid Nabi . Sebaliknya yang pertama kali mengadakan perayaan maulid Nabi (perayaan natal) itu sikte Syiah yaitu Dinasti Fathimiyah. Dinasti Fathimiyah berkuasa di Mesir pada tahun 297-567 H (909-1171 M).

🔸 Syari'at Islam telah sempurna sebelum Nabi wafat. Tiada satupun hadits Shahih yang memerintahkan Ihtifal Maulid Nabi. Sedang Nabi bersabda :

"مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ” رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: “مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهَ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ”

“Barangsiapa yang (memulai) mengada-adakan (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk bagian darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim disebutkan: ”Barangsiapa yang mengerjakan sebuah amalan yang tidak terdapat padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak."
Berdasarkan hadits ini, amalan Ihtifal Maulid Nabi dapat tertolak jika terbukti : 1️⃣ Tidak ada contoh atau perintah dari Nabi Muhammad. 2️⃣ Amalan tersebut termasuk bid'ah (perkara baru) yang tidak ada dalam ajaran Islam.



Jum'at, 12 Rabi'ul Awwal 1447 H (05-09-2025)

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...