Minggu, 05 Oktober 2025

Jangan Mengikuti Mayoritas.. Kebanyakan Jin Dan Manusia Itu Sesat & Masuk Neraka


 

Jangan Mengikuti Mayoritas.. Kebanyakan Jin Dan Manusia Itu Sesat & Masuk Neraka



وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ ۝١١٦

"Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan." (QS. Al-An'am : 116)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ ۝١٧٩

"Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah." (QS. Al-A'raf : 179)

🔸 Mayoritas manusia akan masuk ke Neraka. Setiap 1000 orang, hanya 1 yang masuk Surga. Selebihnya, 999 orang akan masuk Neraka. Setengah dari penduduk Surga berasal dari umat Nabi Muhammad . Dalam sebuah hadits shahih dinyatakan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- عَنِ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: "يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: يَا آدَمُ، فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالخَيْرُ فِي يَدَيْكَ، فَيَقُولُ: أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ، قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟، قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ، فَعِنْدَهُ يَشِيبُ الصَّغِيرُ، وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا، وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى، وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ" قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَأَيُّنَا ذَلِكَ الوَاحِدُ؟ قَالَ: "أَبْشِرُوا، فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلًا وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا. ثُمَّ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنِّي أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الجَنَّةِ" فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: "أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الجَنَّةِ" فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: "أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الجَنَّةِ" فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: "مَا أَنْتُمْ فِي النَّاسِ إِلَّا كَالشَّعَرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ ثَوْرٍ أَبْيَضَ، أَوْ كَشَعَرَةٍ بَيْضَاءَ فِي جِلْدِ ثَوْرٍ أَسْوَدَ".  (صحيح - متفق عليه)

Rabu, 01 Oktober 2025

Lebih Banyak Mana Antara Penghuni Surga Dengan Penghuni Neraka ?


 

Lebih Banyak Mana Antara Penghuni Surga Dengan Penghuni Neraka ?


🔸 Mayoritas manusia akan masuk ke Neraka. Setiap 1000 orang, hanya 1 yang masuk Surga. Selebihnya, 999 orang akan masuk Neraka. Setengah dari penduduk Surga berasal dari umat Nabi Muhammad . Dalam sebuah hadits shahih dinyatakan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- عَنِ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: "يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: يَا آدَمُ، فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالخَيْرُ فِي يَدَيْكَ، فَيَقُولُ: أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ، قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟، قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ، فَعِنْدَهُ يَشِيبُ الصَّغِيرُ، وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا، وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى، وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ" قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَأَيُّنَا ذَلِكَ الوَاحِدُ؟ قَالَ: "أَبْشِرُوا، فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلًا وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا. ثُمَّ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنِّي أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الجَنَّةِ" فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: "أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الجَنَّةِ" فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: "أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الجَنَّةِ" فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: "مَا أَنْتُمْ فِي النَّاسِ إِلَّا كَالشَّعَرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ ثَوْرٍ أَبْيَضَ، أَوْ كَشَعَرَةٍ بَيْضَاءَ فِي جِلْدِ ثَوْرٍ أَسْوَدَ".  (صحيح - متفق عليه)

🔸 Allah melarang kita mengikuti mayoritas manusia, karena hal itu akan menyebabkan kita tersesat dari jalan Allah

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ ۝١١٦

"Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan." (QS. Al-An'am : 116)

.... وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ ۝١٣

".... Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba : 13)

Senin, 29 September 2025

Makna At-Tauhid ( معنى التوحيد ) Dan Makna Kalimat Tauhid "Laa Ilaha Illa Allah"


 


Makna At-Tauhid ( معنى التوحيد ) Dan Makna Kalimat Tauhid "Laa Ilaha Illa Allah"


التوحيد في اللغة: مصدر للفعل (وحَّد، يوحِّد) توحيدا فهو موحِّد إذا نسب إلى الله الوحدانية ووصفه بالانفراد عما يشاركه أو يشابهه في ذاته أو صفاته، والتشديد للمبالغة أي بالغت في وصفه بذلك.

🔸 Tauhid dalam bahasa : Mashdar yang berasal dari kata kerja (wahhada, yuwwahhidu) yang berarti mengesakan, sehingga seseorang disebut sebagai muwahhid (orang yang mengesakan) jika dia menghubungkan keesaan kepada Allah dan mensifati-Nya dengan keunikan dari apa yang menyerupai atau menyamai-Nya dalam dzat atau sifat-sifat-Nya. Dan tashdid (penekanan) dalam kata tersebut untuk menunjukkan mubalaghah, yaitu penekanan yang kuat dalam mensifati Allah dengan keunikan tersebut."

وأما تعريفه في الاصطلاح فهو: . إفراد الله تعالى بما يختص به من الألوهية والربوبية والأسماء والصفات وكل ما يختص به.

🔸 Dan definisi tauhid secara istilah : Mengesakan Allah Ta'ala dengan apa yang khusus bagi-Nya dari segi uluhiyah, rububiyah, asma wa shifat serta semua apa yang khusus bagi Allah.
Atau lebih ringkasnya : "إفراد الله تعالى بما يختص به"

و معنى كلمة التوحيد لا إله إلا الله : لا معبود حق إلا الله، هذا معناها كما قال تعالى: ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ [الحج:62] وهي نفي وإثبات (لا إله) نفي و(إلا الله) إثبات (لا إله) تنفي جميع المعبودات، وجميع الآلهة بغير حق، و(إلا الله) تثبت العبادة بالحق لله وحده فهي أصل الدين وأساس الملة.

"Makna kalimat Tauhid Laa Ilaha Illa Allah adalah: Tidak ada sesembahan yang haqq (benar) kecuali Allah. Ini adalah maknanya sebagaimana kalam Allah Ta'ala: "Demikianlah karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq (benar), dan apa saja yang mereka seru selain dari-Nya adalah batil (palsu)" (QS. Al-Hajj: 62). Kalimat ini merupakan penafian dan penetapan. (Laa ilaaha) adalah penafian, dan (illallah) adalah penetapan. (Laa ilaaha) menafikan semua sesembahan dan semua tuhan yang disembah tanpa hak, sedangkan (illallah) menetapkan ibadah yang benar hanya untuk Allah semata. Maka kalimat ini adalah pokok agama dan dasar millah (agama)."

Catatan : Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah tidak mensyariatkan (mewajibkan) pembagian tauhid menjadi 2, 3, ataupun 4 karena memang tiada al-ijma'. Yang penting bisa memahami makna tauhid dengan benar sesuai faham Salafush-Sholih.

Sabtu, 27 September 2025

Mauqifku Terkait Menghadiri Undangan Walimah Pernikahan dan Hadiah






Mauqifku Terkait Menghadiri Undangan Walimah Pernikahan dan Hadiah


✍🏼 Diriku meyakini bahwa hukum menghadiri undangan walimah pernikahan adalah fardhu kifayah dan bukan fardhu 'ain. Sebagaimana hukum sholat jenazah ataupun menjenguk orang sakit. Sehingga selama ada kemungkaran dan bukan undangan "khusus", maka tidak wajib memenuhi undangan tersebut. Demikian juga apabila ada udzur.

✍🏼 Siapapun boleh mengundangku untuk acara walimah pernikahan. Baik muslim ataupun non muslim, kerabat ataupun bukan kerabat, tetangga dekat ataupun tetangga jauh. Jika berharap diriku datang, maka hendaknya undangan "khusus" dan langsung menemuiku di manapun berada.

✍🏼 Sejak kecil diriku sudah tidak mau ikut tradisi "buwohan" yang termasuk perkara bid'ah karena memang bukan ajaran Nabi dan para Shahabat. Adapun terkait memberi hadiah.. jika tiada udzur insya Allah biasanya diriku memberi hadiah di antaranya bisa berupa :
🔸 mushaf Al-Qur'an ataupun mushaf Al-Qur'an beserta terjemahan. Untuk pedoman hidup. Jika sudah memiliki, maka kelak bisa diberikan kepada anaknya.
🔸 kitab/buku biasanya untuk orang yang gemar membaca.
🔸 madu lebah, al-habbatus-sauda', minyak zaitun untuk menjaga kesehatan tubuh.
🔸 minyak wangi
🔸 susu, perlengkapan masak ataupun semisal dll sesuai keridhaan hati.
Dengan tujuan memberi karena Allah dan tanpa mengharapkan balasan dari mereka.


Pemberitahuan Dan Boleh Disebarkan


Diriku meyakini hukum menghadiri undangan walimah itu bukan fardhu 'ain, melainkan fardhu kifayah. Sebagaimana hukum sholat jenazah ataupun menjenguk orang sakit.

Jika berharap diriku datang memenuhi undangan walimah pernikahan, maka syarat pertama yaitu dengan undangan "khusus". Sampaikan undangan dengan menemuiku secara langsung.

Apabila diriku tidak ditemui secara langsung oleh yang punya hajat dengan alasan rumah jauh.. tidak begitu kenal.. tidak pernah ke rumahku.. sibuk.. hajr (satron/berselisih).. ataupun dengan alasan lain... maka jangan salahkan jika diriku juga tidak ingin datang dengan alasan yang sama. Adil kan?

Jika syarat ini terpenuhi, maka insya Allah diriku jika tidak ada udzur akan memenuhi undangan sekalipun mungkin tidak pada hari H. Terutama jika ada kemungkaran..

Mencari ridha Allah wajib kita dahulukan daripada keridhoan manusia..

« مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »
(صحيح - أخرجه الترمذي)

Jumat, 26 September 2025

Hakikat Kalam Allah Itu Berbeda Dengan Kalam Makhluq


 

Hakikat Kalam Allah Itu Berbeda Dengan Kalam Makhluq


Beredar syubhat bahwa "Al-Qur'an Kalam Allah yang berbahasa Arab seperti perkataan makhluq". Maka sebagai bantahan kita katakan :
1️⃣ Walau sama-sama kalam dan memiliki sisi kesamaan, maka ketahuilah hakikat kalam Allah beda dengan kalam makhluq.

فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١١

".... Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Asy-Syura : 11)
2⃣ Kalam Allah termasuk sifat dari Allah yang qadim, abadi dan tidak diciptakan, sedangkan kalam makhluk adalah ciptaan Allah yang bersifat temporal (sementara) dan tidak kekal.
3⃣ Kalam Allah berasal dari Allah, sedangkan kalam makhluq berasal dari manusia yang memiliki keterbatasan dan kekurangan.
4⃣ Kalam Allah adalah sempurna, tidak ada kesalahan atau kekurangan, sedangkan kalam makhluq dapat memiliki kesalahan dan kekurangan.
5⃣ Kalam Allah memiliki kekuasaan untuk menciptakan dan mengubah sesuatu, sedangkan kalam makhluq tidak memiliki kekuasaan seperti itu.

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ۝٨٢

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “كُنْ!” Maka jadilah sesuatu itu." (QS. Yasin : 82)
6⃣ Andai Al-Qur'an kalam Allah diturunkan kepada sebuah gunung, maka gunung pun bisa hancur.

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ۝٢١

7⃣ Kalam Allah mengandung syifa', rohmat dan petunjuk. Beda dengan kalam makhluq

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا ۝٨٢



Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar


 

Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar



وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝١٠٤

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali-Imran : 104)

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۝١١٠

"Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq." (QS. Ali-Imran : 110)

وَالْعَصْرِۙ ۝١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ۝٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ۝٣

1. Demi masa,
2. sungguh, manusia berada dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al-'Ashr : 1-3)


Rabu, 24 September 2025

Nasihat Untuk Yang Gemar Menyebarkan Berita Kematian Melebihi Hajat


 

Nasihat Untuk Yang Gemar Menyebarkan Berita Kematian Melebihi Hajat



🔸 Untuk saudaraku kaum muslimin.. khususnya Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah, hendaknya tidak menyebarkan berita kematian melebihi hajat yang dibenarkan syariat.


🔸 Dalam Islam dianjurkan untuk menyampaikan berita kematian kepada keluarga dan kerabat untuk memberikan kesempatan ta'ziyah, mendoakan dan melaksanakan kewajiban. Namun, menyebarkan berita kematian secara berlebihan atau melebihi hajat, seperti melalui media sosial atau kepada orang-orang yang tidak perlu mengetahuinya, maka itu termasuk tindakan yang tidak dianjurkan. Hukumnya makruh atau bahkan bisa haram, tergantung pada konteks dan dampaknya. Terlebih jika sampai berdampak ada yang menghujat ataupun mendoakan keburukan atas yang meninggal dunia.

🔸 Di antara hadits yang melarang adalah hadits dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

إِذَا مِتُّ فَلَا تُؤْذِنُوا بِي، إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْيًا، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنِ النَّعْيِ

“Jika aku mati, janganlah kalian mengumumkan kematianku, karena aku takut hal itu termasuk dalam an-na’yu. Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ, melarang dari an-na’yu.” (HR. Tirmidzi no. 986 dan Ahmad no. 23455. At-Tirmidzi mengatakan, “Ini hadits hasan.” Dinilai hasan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (3: 117). Hadits di atas memiliki penguat dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالنَّعْيَ، فَإِنَّ النَّعْيَ مِنْ عَمَلِ الجَاهِلِيَّةِ

“Janganlah kalian mengumumkan kematian seseorang, karena hal itu termasuk perbuatan jahiliyah.” (HR. Tirmidzi (no. 984) secara marfu’)


Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...