Rabu, 07 Januari 2026

Ingatlah Empat Kalimat Yang Paling Dicintai Allah dan Keutamaannya





Ingatlah Empat Kalimat Yang Paling Dicintai Allah dan Keutamaannya


Di antara dzikir yang bisa dirutinkan setiap saat, dibaca agar lisan terus basah dengan dzikrullah adalah empat kalimat mulia, yaitu (1) subhanallah, (2) alhamdulillah, (3) laa ilaha illallah, (4) Allahu akbar”.

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ» (صحيح - رواه مسلم - صحيح مسلم - 2137)

Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah  bersabda, “Ada empat ucapan yang paling disukai oleh Allah: (1) Subhanallah, (2) Alhamdulillah, (3) Laa ilaaha illallah, dan (4) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai” (HR. Muslim no. 2137).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ».(صحيح - رواه مسلم - صحيح مسلم - 2695)

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah telah bersabda: ‘Sesungguhnya membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)” adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari.” (HR. Muslim no. 2695). 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ إِلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ »

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah  bersabda, “Tidaklah seorang di muka bumi ini mengucapkan: Laa ilaha illallah, wallahu akbar, subhanallah, wal hamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad 2/158, sanadnya hasan)

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِى فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّى السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ »

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah  bersabda, “Aku pernah bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra`kan, kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa Surga debunya harum, airnya segar, dan surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat: Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi laa ilaaha illaahu wallaahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar).” (HR. Tirmidzi no. 3462. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Yang dimaksud bacaan tasbih (subhanallah = Maha Suci Allah) adalah menyucikan Allah dari segala kekurangan yang tidak layak bagi-Nya.
Yang dimaksud bacaan tahmid (alhamdulillah = segala puji bagi Allah) adalah menetapkan kesempurnaan pada Allah dalam nama, shifat dan perbuatan-Nya yang mulia.
Yang dimaksud bacaan tahlil (laa ilaha illallah = tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) adalah berbuat ikhlas dan mentauhidkan Allah serta berlepas diri dari kesyirikan.
Yang dimaksud bacaan takbir (Allahu akbar = Allah Maha Besar) adalah menetapkan keagungan atau kebesaran pada Allah Ta’ala dan tidak ada yang melebihi kebesarannya.

Minggu, 04 Januari 2026

Mendoakan Kebaikan Termasuk Salah Satu Bentuk Nyata dalam Menjaga Silaturrahim


 


Mendoakan Kebaikan Termasuk Salah Satu Bentuk Nyata dalam Menjaga Silaturrahim


Jika Mendoakan Keburukan Termasuk Pemutus Silaturrahim, Maka Mendoakan Kebaikan Termasuk Menjaga Silaturrahim

Mendoakan kerabat (terutama yang ada hubungan mahram) yang masih hidup maupun yang sudah meninggal sama-sama merupakan bagian dari upaya memelihara hubungan Silaturrahim. Di antara alasannya :
🔸 Mendoakan Kebaikan Termasuk Bagian dari Berbuat Ihsan yang Disyariatkan

۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ۝٣٦

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat..." (QS. An-Nisa: 36) 
🔸 Bentuk Kepedulian dan Menghubungkan Hati
Silaturahim tidak selalu harus bertemu fisik. Mendoakan kebaikan, kesehatan, dan keselamatan kerabat menunjukkan bahwa kita masih mengingat dan mempedulikan mereka.
🔸 Adab Islami
Dalam ajaran Islam, mendoakan sesama Muslim (terutama kerabat) adalah amalan mulia yang justru akan mendatangkan doa kebaikan yang sama bagi orang yang mendoakannya.
🔸 Solusi Saat Terhalang Jarak
Jika kita tidak bisa mengunjungi atau menghubungi kerabat, maka doa yang tulus menjadi cara terbaik untuk tetap "terhubung" dengan mereka di hadapan Allah, meskipun terhalang jarak ataupun alasan syar'i lainnya.
🔸 Mendoakan Sebagai Bentuk Silaturahim Yang Murni
Karena dilakukan secara ikhlas tanpa mengharapkan pujian dari orang yang didoakan, sehingga memperkuat ikatan batin di sisi Allah.


Sabtu, 03 Januari 2026

Berbuat Baik Hanya Berharap Wajah Allah, Tanpa Minta Balasan dari Makhluq




Berbuat Baik Hanya Berharap Wajah Allah, Tanpa Minta Balasan dari Makhluq


"وَالْمُحْسِنُ إلَيْهِمْ وَإِلَى غَيْرِهِمْ عَلَيْهِ أَنْ يَبْتَغِيَ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ وَلَا يَطْلُبَ مِنْ مَخْلُوقٍ لَا فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ. كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى} {الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى} {وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى} {إلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى} {وَلَسَوْفَ يَرْضَى} وَقَالَ: {وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا} {إنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ} الْآيَةَ. وَمَنْ طَلَبَ مِنْ الْفُقَرَاءِ الدُّعَاءَ أَوْ الثَّنَاءَ خَرَجَ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ؛"
من كتاب:t مجموع الفتاوى ١١\١١١

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

"Dan orang yang berbuat baik kepada mereka (kaum fuqoro') maupun kepada selain mereka, hendaknya ia mengharapkan Wajah (keridhaan) Allah semata dengan perbuatannya itu, serta tidak meminta balasan dari makhluk, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana kalam Allah Ta'ala:

{Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan dirinya, padahal tidak ada seorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalas, kecuali (ia memberikannya) semata-mata karena mencari Wajah Rabb-nya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan merasa puas (dengan imbalan-Nya)} [QS. Al-Lail: 17-21]. 

Dan Dia berkalam: {Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Sambil berkata), 'Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan Wajah (ridha) Allah...'} [QS. Al-Insan: 8-9]. 

Maka barangsiapa yang meminta doa atau pujian dari orang-orang faqir (setelah membantunya), maka ia telah keluar dari (keutamaan) ayat ini." 

📚 Dari kitab: Majmu' Al-Fatawa, jilid 11, halaman 111




Kamis, 01 Januari 2026

Wahai Kaum Muslimin.. Ikutilah Manhaj Nabi Muhammad ﷺ dalam Menghadapi Ahli Kitab


 

Wahai Kaum Muslimin.. Ikutilah Manhaj Nabi Muhammad ﷺ dalam Menghadapi Ahli Kitab



1️⃣ Jidal dengan Cara yang Terbaik (Al-Mujadalah billati hiya Ahsan), Kecuali Dengan Orang-orang Zhalim

۞ وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ۝٤٦

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zhalim di antara mereka, dan katakanlah, ”Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Ilah (Tuhan) kami dan Ilah (Tuhan) kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” (QS. Al-Ankabut : 46)

2⃣ Pemberian Hujjah dan Tantangan (At-Tahaddi)
Terhadap mereka yang kibr (takabur), merasa benar dan mendustakan Al-Qur'an ataupun 'inad serta memusuhi Islam, Nabi memberikan tantangan sebagai pembuktian kebenaran.
🔸 Tantangan Intelektual: Menantang mereka untuk mendatangkan satu surat semisal Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 23).

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝٢٣

"Dan jika kamu meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar."
🔸 Mubahalah: Jika argumen logis ditolak karena keras kepala, Nabi menawarkan mubahalah (saling melaknat bagi yang berdusta), seperti yang terjadi pada delegasi Nasrani Najran (lihat QS. Ali 'Imran: 61).

3⃣ Tidak Berbuat Zholim dan Tidak Memaksa Orang Lain untuk Beriman.


Kaidah Utama dalam Memahami Asma wa Shifat Allah


 


Kaidah Utama dalam Memahami Asma wa Shifat Allah



Kaidah Ahlus-Sunnah wal Jama'ah dalam memahami Nama (Asma) dan Sifat Allah berlandaskan pada prinsip Itsbat (menetapkan apa yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya) tanpa melakukan penyimpangan. Berikut adalah 4 kaidah utama dalam memahami Asma wa Shifat:

1️⃣ Al-Itsbat (Menetapkan). Menetapkan semua nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits yang shahih sebagaimana adanya.

2⃣ Tanzih (Mensucikan). Meyakini bahwa tidak ada satu pun makhluk yang serupa dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya, sesuai kalam-Nya: ﴾لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ﴿ "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. ...." (QS. Asy-Syura: 11).

3⃣ Meninggalkan 4 Perkara Terlarang yaitu:
(1) Tahrif: Mengubah makna teks (distorsi), baik lafazh maupun maknanya. (2) Ta’thil: Menolak atau meniadakan sifat-sifat Allah. (3) Takyif: Mempertanyakan atau menentukan "bagaimana" (hakikat bentuk) sifat Allah. dan (4) Tamtsil: Menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk.

4⃣  Al-Iman bil Makna wa Tafwidul Kaifiyyah. Beriman kepada makna bahasanya yang jelas (misal: Istawa artinya tinggi/bertakhta), namun menyerahkan urusan "bagaimana" hakikat bentuknya (kaifiyyah) hanya kepada Allah. 

Prinsip ini dirangkum dalam perkataan Imam Malik tentang Istiwa:

الاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

"Istiwa itu maklum (diketahui maknanya), kaif (caranya) tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya (kaifiyyah-nya) adalah bid'ah." 

Menanggapi Poster "Sebagian Besar Salafi Dulunya Adalah Ahlul-Bid'ah"


 


Menanggapi Poster "Sebagian Besar Salafi Dulunya Adalah Ahlul-Bid'ah"




Maka ketahuilah :

🔸 Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah itu umumnya bukan berasal dari Ahlul-Bid'ah. Ada yang sejak lahir di atas fithrah Ahlus-Sunnah, ada yang dulunya ahlul-maksiat ataupun dulunya orang-orang terjatuh bid'ah lantaran belum iqomatul hujjah. Sehingga tidak bisa dihukumi sebagai ahlul-bid'ah.

🔸 Ahlul-Bid'ah itu umumnya terhalang dari taubat.
Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya” (HR. Ath-Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Shahih). Imam Ahmad ketika ditanya mengenai makna hadits di atas, beliau menjawab:لَا يُوَفَّقُ, وَلَا يُيَسَّرُ صَاحِبُ بِدْعَةٍ “maksudnya: ia tidak mendapatkan taufiq, pelaku bid’ah tidak dipermudah untuk bertaubat” (Ghadzaul Albab Syarh Manzhumatul Adab, hal. 582)

🔸Jika benar ada Ahlus-Sunnah yang berasal dari ahlul-bid'ah, maka itu sangat sedikit. Itupun umumnya sebagian faham/pemikiran bid'ahnya tidak bisa hilang sepenuhnya atau tak bisa sebersih orang-orang yang memang bukan berasal dari ahlul-bid'ah. Contoh : masih tafarruq dan mengadakan sholat Jum'at sendiri, padahal itu menyelisihi Ushul AS-Sunnah dan Aqidah Ahlus-Sunnah.

🔸 Bisa jadi mereka salah memvonis orang-orang yang terjatuh bid'ah sebagai ahlul-bid'ah padahal belum iqomatul hujjah. Atau sebenarnya keadaan mereka tetap Ahlul-Bid'ah, tapi mengklaim sebagai Ahlus-Sunnah.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين

Tasyabbuh Tetap Terlarang Meski Pelakunya Tidak Berniat Menyerupainya


 


Tasyabbuh Tetap Terlarang Meski Pelakunya Tidak Berniat Menyerupainya


Para ulama menjelaskan bahwa tasyabbuh (menyerupai kaum kafir atau kelompok yang dilarang) tetap dianggap terjadi dan terlarang meskipun pelakunya tidak berniat untuk menyerupai mereka. Berikut adalah poin-poin penting terkait kaidah tersebut:
🔸 Dilihat dari Segi Zhahir (Tampilan Luar)
Larangan tasyabbuh didasarkan pada kesamaan secara fisik atau perbuatan yang menjadi ciri khas (identitas) kaum tersebut. Jika seseorang melakukan perbuatan yang merupakan syiar agama lain atau ciri khusus mereka, maka ia telah terjatuh dalam tasyabbuh, baik ia bermaksud meniru maupun tidak.
🔸 Mencegah Sarana (Saddudz Dzari’ah)
Islam menutup segala celah yang dapat memudarkan identitas Muslim. Jika tasyabbuh hanya dilarang bagi yang berniat, maka batasan identitas akan hilang karena setiap orang bisa beralasan "saya tidak berniat meniru" padahal penampilannya identik dengan non-Muslim.
🔸 Tingkatan Tasyabbuh:
• Jika disertai niat untuk mengagungkan atau menyukai cara hidup mereka, maka dosanya lebih besar.
• Jika tanpa niat (hanya sekadar mengikuti tren atau ketidaktahuan), tetap dilarang (makruh atau haram tergantung jenis perbuatannya) karena secara lahiriah telah terjadi keserupaan.
🔸 Pengecualian
Tasyabbuh tidak berlaku pada hal-hal yang sifatnya universal (maslahat umum) seperti teknologi, ilmu pengetahuan, atau pakaian yang sudah menjadi kebiasaan umum masyarakat dunia dan bukan lagi menjadi ciri khas agama atau budaya tertentu. 
🔸 Prinsip ini berlandaskan pada hadits Nabi Muhammad ﷺ bersabda : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka" (HR. Abu Dawud). Hadits ini bersifat umum dan tidak memberikan syarat adanya niat.

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...