Minggu, 30 November 2025

Orang Kafir dan Ahlul-Ahwa' Telah Sesat Sehingga Perbuatan Buruk Dianggap Baik


 

Orang Kafir dan Ahlul-Ahwa' Telah Sesat Sehingga Perbuatan Buruk Dianggap Baik



اَفَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ فَرَاٰهُ حَسَنًاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرٰتٍۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ ۝٨

"Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. Al-Fathir : 8)

وعن جعفر بن محمد قال سئل محمد بن ابي الورد عن قوله افمن زين له سوء عمله فراه حسنا سورة فاطر آية ٨ قال من ظن في اساءته انه محسن.
كتاب صفة الصفوة  ج ١ ص ٥٠٧ - ابن الجوزي

Dari Ja'far bin Muhammad, dia berkata: Muhammad bin Abi al-Ward ditanya tentang firman Allah, "Maka apakah orang yang dijadikan amal buruknya indah (terlihat baik) lalu dia melihatnya baik...?" (QS. Fatir: 8). Dia menjawab: "(Maksudnya) orang yang beranggapan bahwa keburukannya adalah kebaikan."


Sabtu, 29 November 2025

Manzilah ( Maqam/Kedudukan ) Kejujuran






Manzilah ( Maqam/Kedudukan ) Kejujuran
فَصْلٌ مَنْزِلَةُ الصِّدْقِ

وَمِنْ مَنَازِلِ {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: ٥] مَنْزِلَةُ الصِّدْقِ وَهِيَ مَنْزِلَةُ الْقَوْمِ الْأَعْظَمِ. الَّذِي مِنْهُ تَنْشَأُ جَمِيعُ مَنَازِلِ السَّالِكِينَ، وَالطَّرِيقُ الْأَقْوَمُ الَّذِي مَنْ لَمْ يَسِرْ عَلَيْهِ فَهُوَ مِنَ الْمُنْقَطِعِينَ الْهَالِكِينَ. وَبِهِ تَمَيَّزَ أَهْلُ النِّفَاقِ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ، وَسُكَّانُ الْجِنَانِ مِنْ أَهْلِ النِّيرَانِ. وَهُوَ سَيْفُ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ الَّذِي مَا وُضِعَ عَلَى شَيْءٍ إِلَّا قَطَعَهُ. وَلَا وَاجَهَ بَاطِلًا إِلَّا أَرْدَاهُ وَصَرَعَهُ. مَنْ صَالَ بِهِ لَمْ تُرَدَّ صَوْلَتُهُ. وَمَنْ نَطَقَ بِهِ عَلَتْ عَلَى الْخُصُومِ كَلِمَتُهُ. فَهُوَ رُوحُ الْأَعْمَالِ، وَمَحَكُّ الْأَحْوَالِ، وَالْحَامِلُ عَلَى اقْتِحَامِ الْأَهْوَالِ، وَالْبَابُ الَّذِي دَخَلَ مِنْهُ الْوَاصِلُونَ إِلَى حَضْرَةِ ذِي الْجَلَالِ. وَهُوَ أَسَاسُ بِنَاءِ الدِّينِ، وَعَمُودُ فُسْطَاطِ الْيَقِينِ. وَدَرَجَتُهُ تَالِيَةٌ لِدَرَجَةِ النُّبُوَّةِ الَّتِي هِيَ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْعَالِمِينَ. وَمِنْ مَسَاكِنِهِمْ فِي الْجَنَّاتِ تُجْرَى الْعُيُونُ وَالْأَنْهَارُ إِلَى مَسَاكِنِ الصِّدِّيقِينَ. كَمَا كَانَ مِنْ قُلُوبِهِمْ إِلَى قُلُوبِهِمْ فِي هَذِهِ الدَّارِ مَدَدٌ مُتَّصِلٌ وَمَعِينٌ.

وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَهْلَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ. وَخَصَّ الْمُنْعَمَ عَلَيْهِمْ بِالنَّبِيَّيْنِ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ. فَقَالَ تَعَالَى {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} [التوبة: ١١٩] وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ} [النساء: ٦٩] فَهُمُ الرَّفِيقُ الْأَعْلَى {وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} [النساء: ٦٩] وَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَمُدُّهُمْ بِأَنْعُمِهِ وَأَلْطَافِهِ وَمَزِيدِهِ إِحْسَانًا مِنْهُ وَتَوْفِيقًا. وَلَهُمْ مَرْتَبَةُ الْمَعِيَّةِ مَعَ اللَّهِ. فَإِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّادِقِينَ، وَلَهُمْ مَنْزِلَةُ الْقُرْبِ مِنْهُ. إِذْ دَرَجَتُهُمْ مِنْهُ ثَانِي دَرَجَةِ النَّبِيِّينَ.

وَأَخْبَرَ تَعَالَى أَنَّ مَنْ صَدَقَهُ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ. فَقَالَ {فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ} [محمد: ٢١] .

مدارج السالكين بين منازل إياك نعبد وإياك نستعين ج ٢ ص ٢٥٨ - ابن القيم - أبو عبد الله محمد بن أبي بكر ابن قيم الجوزية


Dari maqam {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: ٥]  (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan) adalah maqam kejujuran, yang merupakan maqam terbesar bagi para salik (orang yang berjalan menuju Allah). Dari sini, semua maqam para salik bermula, dan ini adalah jalan lurus yang jika tidak diikuti, maka orang itu termasuk orang yang terputus dan binasa.
Dengan kejujuran ini, orang-orang munafik dibedakan dari orang-orang mukmin, dan penduduk surga dibedakan dari penduduk neraka. Kejujuran adalah pedang Allah di bumi, yang jika diletakkan pada sesuatu, maka akan memotongnya, dan jika dihadapi dengan kebatilan, maka akan mengalahkannya.
Orang yang menggunakan kejujuran, maka kekuatannya tidak akan dikalahkan, dan orang yang mengucapkan kejujuran, maka kalimatnya akan mengungguli lawan-lawannya. Kejujuran adalah ruh amal, penguji keadaan, dan pendorong untuk menghadapi kesulitan. Ini adalah pintu yang dilalui oleh orang-orang yang sampai kepada Hadirat Allah.
Kejujuran adalah dasar bangunan agama, tiang kemah keyakinan, dan derajatnya setelah kenabian, yang merupakan derajat tertinggi di dunia. Dari kediaman mereka di surga, mengalir mata air dan sungai-sungai ke kediaman orang-orang yang jujur, sebagaimana dari hati mereka ke hati mereka di dunia, ada hubungan yang terus-menerus dan pertolongan yang tak putus-putus.

Allah telah memerintahkan orang-orang mukmin untuk bersama orang-orang yang jujur, dan mengkhususkan orang-orang yang diberi nikmat dengan para nabi, orang-orang yang jujur, syuhada, dan orang-orang shalih. Allah berkalam :

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} [التوبة: ١١٩] 

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orang-orang yang jujur." (QS. At-Taubah: 119). Dan Allah bekalam :

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ} [النساء: ٦٩] 

"Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang yang jujur, syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisa: 69)
Mereka adalah ar-rofiq al-a'laa (teman yang paling tinggi), dan  {وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} [النساء: ٦٩] sebaik-baik teman. Allah terus-menerus memberikan mereka nikmat, kelembutan, dan tambahan kebaikan dari-Nya, serta taufik. Mereka memiliki kedudukan maqom ma'iyyah (bersama Allah), karena Allah bersama orang-orang yang jujur. Mereka juga memiliki kedudukan kedekatan dengan Allah, karena derajat mereka adalah kedua setelah para nabi.

Allah telah memberitahu bahwa orang yang jujur kepada-Nya, maka itu lebih baik baginya. Allah berkalam :

 {فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ} [محمد: ٢١] .

"Maka jika telah tetap keputusan (untuk perang), maka (alangkah baiknya) jika mereka jujur kepada Allah." (QS. Muhammad: 21)



Rabu, 26 November 2025

Mengikuti Hawa Nafsu Termasuk Syirik Yang Bisa Menyesatkan Dari Jalan Allah



Mengikuti Hawa Nafsu Termasuk Syirik Yang Bisa Menyesatkan Dari Jalan Allah


قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله : "لَيْسَ الشِّرْكُ عِبَادَةَ الْأَصْنَامِ فَحَسْبُ؛ بَلْ هُوَ أَيْضًا مُتَابَعَتُك لِهَوَاك وَأَنْ تَخْتَارَ مَعَ رَبِّك شَيْئًا سِوَاهُ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَالْآخِرَةِ وَمَا فِيهَا فَمَا سِوَاهُ - تَبَارَكَ وَتَعَالَى - غَيْرُهُ فَإِذَا رَكَنْت إلَى غَيْرِهِ فَقَدْ أَشْرَكْت بِهِ غَيْرَهُ فَاحْذَرْ وَلَا تَرْكَنْ وَخَفْ وَلَا تَأْمَنْ وَفَتِّشْ وَلَا تَغْفُلْ فَتَطْمَئِنَّ وَلَا تُضِفْ إلَى نَفْسِك حَالًا وَلَا مَقَامًا وَلَا تَدَعْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ ". وَقَالَ (الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ أَيْضًا:" إنَّمَا هُوَ اللَّهُ وَنَفْسُك وَأَنْتَ الْمُخَاطَبُ وَالنَّفْسُ ضِدُّ اللَّهِ وَعَدُوَّتُهُ؛ وَالْأَشْيَاءُ كُلُّهَا تَابِعَةٌ لِلَّهِ فَإِذَا وَافَقْت الْحَقَّ فِي مُخَالَفَةِ النَّفْسِ وَعَدَاوَتِهَا كُنْت خَصْمًا لَهُ عَلَى نَفْسِك - إلَى أَنْ قَالَ: "فَالْعِبَادَةُ" فِي مُخَالَفَتِك نَفْسَك وَهَوَاك قَالَ تَعَالَى: {وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ}" (من كتاب: مجموع الفتاوى ج ١٠ ص ٥١٨)

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Syirik tidak hanya terbatas pada penyembahan berhala saja, tetapi juga termasuk mengikuti hawa nafsu dan memilih sesuatu selain rabb-mu (Allah) sebagai tandingan bagi-Nya, baik itu dari dunia dan apa yang ada di dalamnya, maupun akhirat dan apa yang ada di dalamnya. Apa pun yang selain Allah, maka itu adalah selain-Nya, dan jika kamu condong kepada selain-Nya, maka kamu telah menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. Maka, waspadalah dan jangan condong, takutlah dan jangan merasa aman, periksalah dan jangan lengah, sehingga kamu merasa tenang. Jangan menambahkan kepada dirimu suatu keadaan atau kedudukan, dan jangan meninggalkan sesuatu darinya."

Syaikh Abdul-Qadir juga berkata, "Sesungguhnya yang ada hanyalah Allah dan dirimu, dan kamu adalah yang dituntut, sedangkan nafsu adalah lawan dan musuh Allah. Semua hal adalah tunduk kepada Allah, maka jika kamu setuju dengan kebenaran dalam menentang nafsu dan memusuhinya, maka kamu adalah lawan bagi nafsu itu sendiri."

Beliau juga berkata, "Ibadah itu adalah menentang nafsu dan hawa nafsu kamu." Allah berfirman, "Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah." (QS. Al-Jatsiyah: 18)

📚 lihat Majmu' Al-Fatawa 10/518

Selasa, 25 November 2025

Jika Engkau Mencintai Allah Rabbul 'Alamin, Maka Ikutilah Nabi Muhammad ﷺ








 Jika Engkau Mencintai Allah Rabbul 'Alamin, Maka Ikutilah Nabi Muhammad ﷺ



قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣١ ( آل عمران : ٣١ )

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ حَاكِمَةٌ عَلَى كُلِّ مَنِ ادَّعَى مَحَبَّةَ اللَّهِ، وَلَيْسَ هُوَ عَلَى الطَّرِيقَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ فَإِنَّهُ كَاذِبٌ فِي دَعْوَاهُ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، حَتَّى يَتَّبِعَ الشَّرْعَ الْمُحَمَّدِيَّ وَالدِّينَ النَّبَوِيَّ فِي جَمِيعِ أَقْوَالِهِ وَأَحْوَالِهِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: "مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ" وَلِهَذَا قَالَ: ﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾ أَيْ: يَحْصُلُ لَكُمْ فَوْقَ مَا طَلَبْتُمْ مِنْ مَحَبَّتِكُمْ إِيَّاهُ، وَهُوَ مَحَبَّتُهُ إِيَّاكُمْ، وَهُوَ أَعْظَمُ مِنَ الْأَوَّلِ، كَمَا قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ الْعُلَمَاءِ: لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تُحِبّ، إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُحَبّ وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَغَيْرُهُ مِنَ السَّلَفِ: زَعَمَ قَوْمٌ أَنَّهُمْ يُحِبُّونَ اللَّهَ فَابْتَلَاهُمُ اللَّهُ بِهَذِهِ الْآيَةِ، فَقَالَ: ﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾ .


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣١

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali-Imran : 31)

Ayat yang mulia ini menjadi hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, namun tidak berada di atas jalan Muhammad , maka sesungguhnya dia berdusta dalam pengakuannya, sampai dia mengikuti syariat Muhammad dan agama Nabi dalam semua ucapan dan perbuatannya. Sebagaimana yang telah sah dalam hadits shahih dari Rasulullah , bahwa beliau bersabda, "مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ" ("Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak."). Oleh karena itu, Allah berkalam, {قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ} "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu'." (QS. Ali Imran: 31) Maksudnya, kamu akan mendapatkan lebih dari apa yang kamu minta, yaitu cinta Allah kepada kamu, dan itu lebih besar daripada cinta kamu kepada-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama hikmah, "Bukanlah yang penting kamu mencintai, tapi yang penting kamu dicintai." Al-Hasan Al-Bashri dan selainnya dari kalangan salaf berkata, "Suatu kaum mengaku bahwa mereka mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini, yaitu, {قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ}'Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu'."

📚 Lihat Tafsir Ibnu Katsir QS. Ali-Imran : 31

Kamis, 20 November 2025

Jadikan Rasa Letih, Sakit, Kesedihan dan Musibah Sebagai Penghapus Dosa


 


Jadikan Rasa Letih, Sakit, Kesedihan dan Musibah Sebagai Penghapus Dosa


عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ».  
(صحيح - متفق عليه - صحيح البخاري: 5641)

Abu Sa'īd Al-Khudriy dan Abu Hurairah radhiiyallāhu 'anhumā meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda,
"Tidaklah seorang muslim ditimpa kepayahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, dan kesusahan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya (dosa) dengan sebab itu."  (Shahih  - Muttafaq 'alaihi - Shhih Al-Bukhari - 5641)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٥٥ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ۝١٥٦ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ۝١٥٧

"(155) Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).(157) Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah : 155 - 157)

Rabu, 19 November 2025

Hanya Sekedar Pemberitahuan


 

Hanya Sekedar Pemberitahuan


Barangsiapa yang menjalin hubungan dengannya, insya Allah jika kelak mereka mati lebih dulu daripada aku, maka diriku tidak ingin mensholati ataupun masuk rumah mereka.
Sebagaimana Malik bin Dinar rahimahullah menyampaikan perumpamaan

النَّاسُ أَجْنَاسٌ كَأَجْنَاسِ الطَّيْرِ الْحَمَامُ مَعَ الْحَمَامِ وَالْغُرَابُ مَعَ الْغُرَابِ وَالْبَطُّ مَعَ الْبَطِّ وَالصَّعْوُ مَعَ الصَّعْوِ وَكُلُّ إِنْسَانٍ مَعَ شِكْلِهِ

“Manusia berjenis-jenis sebagaimana berjenis-jenisnya burung. Burung merpati dengan burung merpati, burung gagak dengan burung gagak, bebek dengan bebek, burung Regulus dengan burung Regulus. Begitu juga setiap orang akan bersama yang setipe dengannya.” (Al-Ibanah al-Kubra 512)

" الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ "

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ ەۗ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَبْصَارُۙ ۝٤٢

"Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak," (QS. Ibrahim : 42)

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ لِيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَسَاۤءُوْا بِمَا عَمِلُوْا وَيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا بِالْحُسْنٰىۚ ۝٣١

"Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (QS. An-Najm : 31)


Kejujuran Adalah Mahkota Akhlaq Mulia


 

Kejujuran Adalah Mahkota Akhlaq Mulia


Dalam bahasa Arab, kejujuran disebut shidq (الصدق), yang berarti benar, tulus, dan sesuai antara ucapan dengan kenyataan. Kejujuran adalah mahkota akhlaq mulia karena dasar dari segala sifat dan akhlaq terpuji lainnya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ ۝١١٩

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan Ash-Shodiqin (orang-orang yang jujur dan benar)." (QS. At-Taubah : 119)

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «عليكم بالصدق، فإن الصدق يهدي إلى البِرِّ، وإن البر يهدي إلى الجنة، وما يزال الرجل يصدق ويَتَحَرَّى الصدق حتى يكتب عند الله صِدِّيقًا، وإياكم والكذب، فإن الكذب يهدي إلى الفجور، وإن الفجور يهدي إلى النار، وما يزال الرجل يكذب ويَتَحَرَّى الكذب حتى يكتب عند الله كَذَّابا» ( صحيح - متفق عليه )

'Abdullah bin Mas'ūd radhiyallāhu 'anhu meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Hendaknya kalian senantiasa jujur karena kejujuran itu menuntun kepada al-birr (kebaikan) dan sesungguhnya kebaikan itu mengantarkan ke Al-Jannah (Surga). Seseorang yang selalu jujur dan berusaha untuk jujur sehinga dicatat di sisi Allah sebagai shiddiq (orang jujur). Sebaliknya, jauhilah dusta karena dusta itu menjerumuskan kepada al-fujur (kedurhakaan/keburukan) dan sesungguhnya kedurhakaan itu menjerumuskan ke neraka. Seseorang akan selalu berdusta dan berupaya untuk berdusta sampai dicatat di sisi Allah sebagai kadzdzab (pendusta)." (Shahih - Muttafaq 'alaihi)

Selasa, 18 November 2025

Imam Asy-Syafi'i Mengungkap Kesesatan Shohibul-Bid'ah ( Ahlul-Bid'ah )


 


Imam Asy-Syafi'i Mengungkap Kesesatan Shohibul-Bid'ah ( Ahlul-Bid'ah )


وروي عن الشافعي: (قال: ما ناظرت أحدا أحببت أن يخطئ إلا صاحب بدعة، فإني أحب أن ينكشف أمره للناس) .
(قال البيهقي إنما أراد الشافعي بهذا الكلام حفصا الفرد وأمثاله من أهل البدع، وهكذا مراده بكل ما حكي عنه من ذم الكلام [وذم أهله]، غير أن بعض الرواة أطلقه، وبعضهم قيده) . [ ص: 250 ]
(وروى البيهقي عن أبي الوليد بن الجارود قال: دخل حفص الفرد على الشافعي، فقال لنا: لأن يلقى الله العبد بذنوب مثل جبال تهامة، خير له من أن يلقاه باعتقاد حرف مما عليه هذا الرجل وأصحابه، وكان يقول بخلق القرآن).
📚 درء تعارض العقل والنقل - ابن تيمية - أحمد بن عبد الحليم بن تيمية الحراني

Diriwayatkan dari Asy'Syafi'i, ia berkata: "Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang yang aku ingin dia salah, kecuali dengan shohibul bid'ah (orang yang memiliki bid'ah). Aku senang keburukannya terungkap (tersingkap kedoknya) untuk manusia."
Al-Bayhaqi berkata: "Maksud Asy-Syafi'i dengan perkataan ini adalah Hafsh al-Fard dan orang-orang seperti dia dari kalangan ahli bid'ah. Demikian pula maksudnya dengan semua yang diriwayatkan darinya tentang celaan terhadap al-kalam dan penganutnya, hanya saja sebagian perawi meriwayatkannya secara mutlak, dan sebagian lainnya meriwayatkannya secara terbatas." (hal. 250)
Al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Abu al-Walid bin al-Jarud, ia berkata: "Hafsh al-Fard masuk menemui Asy-Syafi'i, maka Asy-Syafi'i berkata kepada kami: 'Seandainya seseorang menemui Allah dengan dosa sebesar gunung Tihamah, itu lebih baik baginya daripada menemui Allah dengan keyakinan yang sedikit pun dari keyakinan orang ini dan penganutnya.' Asy-Syafi'i juga berkata: 'Hafsh al-Fard dan penganutnya berkeyakinan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk.'"
📚 lihat Dar-ut Ta’arudh Al-Aqli Wa An-Naql

Senin, 17 November 2025

Menepis Tuduhan dan Asumsi Dusta "Allah Memiliki Fisik dan Semisal Makhluq"


 


Menepis Tuduhan dan Asumsi Dusta "Allah Memiliki Fisik dan Semisal Makhluq"


Ketahuilah Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah meyakini Allah Al-Bashir/Maha Melihat (QS. Asy-Syura : 11), memiliki 'Ain/Mata (QS. Hud : 37 dan QS. Thaha: 39), Wajah (QS. Al-Baqarah : 272, QS. Ar-Rahman: 27) dan Yadd/Tangan (QS. Al-Ma’idah: 64, QS. Shad : 75) serta shifat Al-Uluw yaitu Istawa 'ala Al-'Arsy (QS. Al-A’raaf: 54 dan QS. Thaha :5) Sesuai yang ditetapkan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits ataupun Al-Ijma'. Ahlus-Sunnah tidak mengatakan Allah memiliki fisik dan tidak menyerupakan Allah dengan makhluq. Allah berkalam :

.... لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١١ ( الشورى : ١١ )

🔸 Dalil penetapan sifat Al-Bashir (Maha Melihat), 'Ain, Wajah, dan Yadd bagi Allah sesuai keagungan dan kesempurnaan-Nya, bukan sebagai anggota tubuh fisik. Demikian juga sifat Al-Uluw yaitu istawa 'ala Al-'Arsy.
🔸 SIfat melihat, 'ain, wajah, tangan itu semua bukan tolok ukur makhluq ataupun serupa dengan makhluq karena makhluq pun banyak yang tidak punya mata, tidak punya wajah dan tidak punya tangan. Wajah manusia, wajah jin, wajah kera, wajah domba, wajah anjing, wajah ikan dsb walau sama-sama wajah tapi hakikatnya tidak serupa. Padahal sama-sama wajah makhluq. Terlebih lagi dengan Wajah Al-Kholiq tentu tidak mungkin sama dengan wajah makhluq.
🔸 Jika ruh bisa melihat (punya mata), punya wajah dan tangan maka bukan berarti ruh berfisik. Karena ruh bisa pisah dengan jasad dan memiliki shurah (bentuk). Baik di alam mimpi ketika tidur ataupun ruh di alam Barzakh.
🔸 Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah tidak mengatakan Allah berfisik dan membutuhkan tempat (مكان).
🔸 Ahlus-Sunnah meyakini Allah memiliki shifat Al-Uluw yaitu istawa 'ala Al-'Arsy. Makna Istiwa' secara haqiqi yaitu bertakhta ataupun al-uluw. Allah juga memiliki sifat Ma'iyyah dan Qorib, karena istiwa' Allah itu beda dengan istiwa' makhluq.

Minggu, 16 November 2025

Nasihat Imam Al-Auza'i Agar Mengikuti Atsar Salaf Yaitu Para Shahabat Nabi


 

Nasihat Imam Al-Auza'i Agar Mengikuti Atsar Salaf Yaitu Para Shahabat Nabi


العباس بن الوليد : حدثنا أبي : سمعت الأوزاعي يقول : عليك بآثار من سلف ، وإن رفضك الناس ، وإياك وآراء الرجال ، وإن زخرفوه لك بالقول ، فإن الأمر ينجلي وأنت على طريق مستقيم .
قال بقية بن الوليد : قال لي الأوزاعي : يا بقية ، لا تذكر أحدا من أصحاب نبيك إلا بخير . يا بقية ، العلم ما جاء عن أصحاب محمد - صلى الله عليه وسلم - وما لم يجئ عنهم ، فليس بعلم .
(سير أعلام النبلاء ج ٧ ص ١٢١ - شمس الدين محمد بن أحمد بن عثمان الذهبي)

Dari Al-Auza'i, ia berkata: "Berpeganglah pada atsar (jejak) para salaf (pendahulu), meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah pendapat-pendapat manusia, meskipun mereka menghiasinya dengan kata-kata yang indah. Karena perkara (kebenaran) akan jelas (selama mengikuti atsar Salaf), dan kamu berada di jalan yang lurus."

Baqiya bin al-Walid berbkata: Al-Auza'i berkata kepadaku: "Wahai Baqiya, janganlah kamu menyebut-nyebut seorang pun dari shahabat Nabi Muhammad kecuali dengan kebaikan. Wahai Baqiya, ilmu itu adalah apa yang datang dari shahabat Muhammad , dan apa yang tidak datang dari mereka, maka itu bukanlah ilmu."
(lihat Siyar A'lamin Nubala, 7/121)


Sabtu, 15 November 2025

Kedua Orang Tua Nabi ﷺ Di Surga Ataukah Di Neraka ?


 

Kedua Orang Tua Nabi ﷺ Di Surga Ataukah Di Neraka ?



Para ulama berbeda pendapat menyikapi pertentangan dalil. Ada 3 pendapat :
🔸 Pertama, pendapat yang mengatakan orang tua Nabi termasuk penghuni neraka (HR. Muslim). Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Muslim menjelaskan :

قوله ( أن رجلا قال يا رسول الله أين أبي قال في النار فلما قفى دعاه فقال إن أبي وأباك في النار ) فيه أن من مات على الكفر فهو في النار ولا تنفعه قرابة المقربين وفيه أن من مات في الفترة على ما كانت عليه العرب من عبادة الأوثان فهو من أهل النار وليس هذا مؤاخذة قبل بلوغ الدعوة فان هؤلاء كانت قد بلغتهم دعوة ابراهيم وغيره من الأنبياء صلوات الله تعالى وسلامه عليهم وقوله صلى الله عليه و سلم أن أبي وأباك في النار هو من حسن العشرة للتسلية بالاشتراك في المصيبة ومعنى قوله صلى الله عليه و سلم قفي ولى قفاه منصرفا

Imam Al-Suhaili mengomentari bahwa Imam Al-Nawawi tidak berpendapat secara khusus bahwa orang tua Nabi meninggal dalam keadaan kafir.
🔸 Kedua, pendapat yang mengatakan orang tua Nabi termasuk penghuni surga. Sebagaimana pendapat imam Suyuthi dalam beberapa kitabnya,
🔸 Ketiga, pendapat yang mengatakan orang tua Nabi termasuk ahlul-fatrah. Jika lulus ujian, maka akan masuk surga. Jika gagal, maka akan masuk neraka. Pendapat ini disebutkan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wa Al-Nihayah memilih menyatakan mungkin saja orang tua Nabi termasuk golongan yang gagal ujian dari Allah.

Catatan :
🔸 Adanya klaim ijma' terkait orang tua Nabi di Neraka, keabsahannya diperselisihkan.
🔸 Dalam tradisi bahasa Arab dan budaya Islam, paman (terutama paman dari pihak ayah) bisa dipanggil atau disamakan kedudukannya dengan "bapak" atau "ayah" (أَبٌ - abun). Hal ini didukung dalil dari Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah 133) dan Hadits, serta praktik sosial di masa Nabi Muhammad.
🔸 Orang yang mati dalam keadaan kafir, maka masuk Neraka. Sedang ahlu-fatrah akan diuji Allah di Akhirat.
🔸Jika tiada mashlahat, maka lebih baik tidak usah membahas dan memperdebatkannya.


Dalil Ini Banyak Dibenci Ahlul-Ahwa' Yang Gemar Membuat Syariat Baru


 

Dalil Ini Banyak Dibenci Ahlul-Ahwa' Yang Gemar Membuat Syariat Baru



فَبَدَّلَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِيْ قِيْلَ لَهُمْ فَاَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رِجْزًا مِّنَ السَّمَاۤءِ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ ۝٥٩

"Lalu orang-orang yang zhalim mengganti perintah dengan (perintah lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka Kami turunkan malapetaka dari langit kepada orang-orang yang zhalim itu, karena mereka (selalu) berbuat fasiq." (QS. Al-Baqarah : 59)

عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata: Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintahnya dari kami, maka amal itu tertolak.” (HR Muslim)

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قاَلَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

.... Rosulullah bersabda : ”Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa) meskipun kalian diperintah oleh seorang budak Habasyi. Dan sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah Sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena kullu bid`ah adalah sesat.” ( HR. Tirmidzi dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا ۝١١٥ ( النسآء : ١١٥ ) 

"Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisa' : 115)


Kamis, 13 November 2025

Waspada dan Jauhi Debat Dengan Ahlul-Bid'ah Yang Mengatakan Al-Qur'an Makhluq


 


Waspada dan Jauhi Debat Dengan Ahlul-Bid'ah Yang Mengatakan Al-Qur'an Makhluq


🔸 Setelah munculnya penyimpangan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, muncul lagi bid’ah yang baru, yaitu bid’ah "Lafdziyyah" dan bid’ah "Al-Waaqifah".

🔸 Bid’ah lafdziyyah adalah perkataan yang dipopulerkan oleh pengikut Jahmiyyah,

لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ

Lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluq.
Sedangkan bid’ah al-waaqifah adalah perkataan mereka,

لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق

Aku tidak mengetahui (tawaqquf atau abstain), apakah Al-Qur’an itu makhluq atau bukan makhluq.

🔸 Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam Al-Ushuul As-Sunnah,

وَإِيَّاك ومناظرة من أحدث فِيهِ وَمن قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيره وَمن وقف فِيهِ فَقَالَ لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله فَهَذَا صَاحب بِدعَة مثل من قَالَ هُوَ مَخْلُوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله لَيْسَ بمخلوق. (كتاب أصول السنة لأحمد بن حنبل)

Waspada (jauhilah) berdebat dengan orang yang mengada-ada dalam masalah ini (yaitu, yang berkata kalau Al-Qur’an itu makhluq, pen.) dan dengan orang-orang lafdziyyah atau yang lainnya, atau dengan orang yang tawaquf dalam masalah ini, yaitu yang berkata, “Aku tidak mengetahui apakah Al-Qur’an itu makhluq atau bukan makhluq, akan tetapi yang jelas Al-Qur’an itu kalamullah.” Orang seperti ini adalah ahlul bid’ah, semisal dengan orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluq. (Keyakinan ahlus sunnah adalah) Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluq.

Rabu, 12 November 2025

Apa Boleh Kita Berdoa Selain Yang Datang Dari Al-Qur'an dan Al-Hadits ?





Apa Boleh Kita Berdoa Selain Yang Datang Dari Al-Qur'an dan Al-Hadits ?



🔸 Seorang Muslim boleh (bebas) berdoa untuk segala kebaikan dunia dan akhirat, karena Allah Maha Penerima doa. Allah berkalam :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ۝٦٠

Dan Robb-mu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir : 60)
Namun, kebebasan tersebut dibatasi oleh syariat Islam, di mana berdoa untuk hal-hal yang diharamkan (seperti meminta dosa, keburukan bagi orang lain tanpa alasan syar'i, atau memutuskan silaturahmi) adalah dilarang dan dapat menghalangi terkabulnya doa. 

🔸 Boleh bagi seseorang berdoa di dalam shalatnya dengan doa selain yang datang dari Al-Quran dan hadits, hal ini berdasarkan Hadits Abdullah bin Mas’ud.

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

“Kemudian ia memilih berdoa dengan apa yang ia hendaki.” (HR. Muslim no. 402). Dan juga dalam riwayat lain:

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ، فَيَدْعُو

“Kemudian ia memilih dari doa yang ia sukai, kemudian ia berdoa dengannya.” (HR. Bukhori no. 835)
Al-Qostholani rahimahullah berkata :

ثم ليتخير من الدعاء أعجبه، شامل لكل دعاء مأثور وغيره

“(Sabda Nabi) “Kemudian hendaknya ia memilih dari doa yang ia sukai” mencakup seluruh doa yang ma’tsur dan selainnya.” (Irsyaadus Saary li Syarhi Shohih A-Bukhory 2/133)

🔸 Tidak semua doa harus berbahasa Arab, tetapi disyariatkan menggunakan bahasa Arab untuk doa di dalam shalat. Untuk doa di luar shalat, boleh menggunakan bahasa apa pun, namun lebih utama menggunakan bahasa Arab karena doa-doa tersebut telah diajarkan oleh Rasulullah. 

قال شيخ الإسلام ابن تيمية : "وَالدُّعَاءُ يَجُوزُ بِالْعَرَبِيَّةِ وَبِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ يَعْلَمُ قَصْدَ الدَّاعِي وَمُرَادَهُ وَإِنْ لَمْ يُقَوِّمْ لِسَانَهُ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ ضَجِيجَ الْأَصْوَاتِ بِاخْتِلَافِ اللُّغَاتِ عَلَى تَنَوُّعِ الْحَاجَاتِ." (من كتاب: مجموع الفتاوى ٢٢\٤٨٩)

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata: "Doa boleh dilakukan dengan bahasa Arab dan bahasa lainnya. Allah Subhanahu mengetahui maksud dan keinginan seorang yang berdoa walaupun lidahnya tergelincir maka sesungguhnya Ia Maha mengetahui bermacam suara dengan bahasa-bahasa yang berbeda dan dengan beragam kebutuhan.” (Majmu' Al-Fatawa 22/489)

🔸 Doa tidak ma'tsur itu boleh selama kita tidak menjadikannya sebagai syariat baru. Jika dijadikan syariat baru maka doa yang hukum asalnya mubah bisa berubah menjadi bid'ah. Sehingga lebih baik kita berdoa dengan doa yang ma'tsur.

قال شيخ الإسلام ابن تيمية - رحمه الله - : "وَيَنْبَغِي لِلْخَلْقِ أَنْ يَدْعُوا بِالْأَدْعِيَةِ الشَّرْعِيَّةِ الَّتِي جَاءَ بِهَا الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ فَإِنَّ ذَلِكَ لَا رَيْبَ فِي فَضْلِهِ وَحُسْنِهِ وَأَنَّهُ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ صِرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا." ( من كتاب: مجموع الفتاوى ١\٣٤٦)

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah -rahimahullah- berkata: "Hendaknya manusia berdoa dengan doa-doa syar'i yang datang dari Al-Qur'an dan Sunnah; karena hal itu tidak diragukan lagi keutamaannya dan kebaikannya, dan bahwa itu adalah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman." (Majmu' Al-Fatawa, 1/346)
Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata,

وَقَدْ ذَكَرَ عُلَمَاءُ الْإِسْلَامِ وَأَئِمَّةُ الدِّينِ الْأَدْعِيَةَ الشَّرْعِيَّةَ وَأَعْرَضُوا عَنْ الْأَدْعِيَةِ الْبِدْعِيَّةِ فَيَنْبَغِي اتِّبَاعُ ذَلِكَ. ( من كتاب: مجموع الفتاوى ١\٣٥٠)

"Para ulama Islam dan imam-imam agama telah menyebutkan doa-doa syar'i dan berpaling dari doa-doa bid'ah, maka sebaiknya kita mengikuti hal itu."(Majmu' Al-Fatawa, 1/350)


Senin, 10 November 2025

Hukum Asal Seorang Muslim Adalah As-Salamah.. di atas Millah Ahlus-Sunnah


 

Hukum Asal Seorang Muslim Adalah As-Salamah.. di atas Millah Ahlus-Sunnah

الأصل في المسلم السلامة ما لم تظهر له ريبة

"Hukum asal seorang muslim adalah selamat, selama tidak ada tanda-tanda keraguan atau penyimpangan yang jelas"

🔸 Hukum asal seorang muslim adalah salamah (selamat). Artinya selamat dalam masalah din (agama) dan aqidahnya. Ini berarti bahwa seorang muslim dihukumi berada di atas kebenaran dan Islam, kecuali jika ada bukti nyata penyimpangan dan telah iqomatul hujjah.

🔸 Dan harus diperhatikan, ketika kita mengatakan hukum asal seorang muslim adalah salamah atau Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah, ini bukan berarti tidak ada kebid’ahan pada diri seorang muslim. Banyak kaum Muslimin yang terjangkiti perbuatan bid’ah, namun kita sedang membicarakan tentang kondisi orang yang belum diketahui. Jadi, hukum asal seorang muslim adalah berada di atas As-Sunnah dan Islam. Maka, selama tidak terlihat adanya qorinah/indikasi penyelewengan dan perbuatan bid’ah, kita tidak boleh meragukan keislaman seseorang, karena hukum asalnya, mereka berada di atas din (agama) Islam, dan Islam berlepas diri dari semua perbuatan bid’ah.

فالأصل في المسلم السلامة في عقيدته وفي أعماله ما دام مظهراً لشعائر الإسلام، فلا يفتش عما وراء ذلك ولا يمتحن لا في قوله ولا في اعتقاده، ولا تتبع أعماله وأفعاله التتبع الذي نهى الله عنه ما لم يكن لذلك موجب عند أهل العلم المعتبرين.

"Hukum asal seorang muslim adalah selamat dalam aqidah dan amalannya, selama dia menampakkan syiar Islam. Tidak boleh mencari-cari kesalahan yang tidak tampak, tidak menguji ucapannya atau keyakinannya, dan tidak mengikuti amalannya dengan cara yang dilarang Allah, kecuali ada sebab yang jelas menurut ahlu ilmi (para ulama) yang terpercaya."

Manusia Asalnya Dihukumi Sebagaimana Ahlul-Fatrah Sebelum Iqomatul Hujjah


 

Manusia Asalnya Dihukumi Sebagaimana Ahlul-Fatrah Sebelum Iqomatul Hujjah


🔸 Manusia pada asalnya dihukumi sebagaimana Ahlul-Fatrah (orang-orang yang hidup pada masa terputusnya risalah atau belum sampai dakwah kepada mereka). Artinya mereka tidak akan diadzab kecuali setelah ditegakkan hujjah dengan diutusnya seorang rasul. Allah berkalam :

مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا ۝١٥

".... Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS. Al-Isrâ’ : 15)

🔸 Ayat tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa adzab (siksa) Allah tidak akan ditimpakan kepada suatu kaum atau individu sampai risalah (pesan ilahi) disampaikan kepada mereka melalui utusan-Nya (rasul). Ini menunjukkan bahwa ketiadaan akses terhadap dakwah yang benar menjadi alasan bagi seseorang untuk diperlakukan sebagai ahlul-fatrah, yang mana status hukum mereka akan diputuskan di akhirat melalui ujian khusus dari Allah, dan mereka tidak langsung dihukumi masuk neraka begitu saja. 
Konsep ini berlaku untuk:
• Orang-orang yang hidup di masa jeda antara dua nabi (seperti masa antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad).
• Orang-orang yang tinggal di lokasi terpencil atau terisolasi secara geografis sehingga dakwah Islam tidak pernah sampai kepada mereka.
• Orang-orang yang secara mental tidak mampu memahami syariat (seperti orang gila atau anak kecil yang belum baligh). 

🔸 Setelah iqomatul hujjah maka manusia baru bisa dihukumi apakah seorang muslim (mukmin), munafiq ataukah kafir.

Rabu, 05 November 2025

Mauqif Menghadapi Syaithoniyyun ( Ahlul-Ahwa' ) Yang 'Inad, Berkata Tanpa Burhan dan Hujjah


 

Mauqif Menghadapi Syaithoniyyun ( Ahlul-Ahwa' ) Yang 'Inad, Berkata Tanpa Burhan dan Hujjah

🔸 Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

قالوا سكت وقد خوصمت قلت لهم ... إن الجواب لباب الشر مفتاح
والصمت عن جاهل أو أحمق شرف ... وفيه أيضا لصون العرض إصلاح
أما ترى الأسد تخشى وهي صامتة ... والكلب يخشى - لعمري - وهو نباح 

Mereka berkata: "Kamu diam saja padahal sedang dimusuhi (khushumah)?" Aku menjawab kepada mereka:
"Sesungguhnya jawaban (meladeni) itu adalah kunci bagi pintu keburukan."
"Dan diam dari orang yang bodoh atau dungu adalah suatu kemuliaan، Dan di dalamnya juga terdapat kebaikan untuk menjaga kehormatan diri." 
"Tidakkah kamu melihat singa disegani (ditakuti) padahal ia diam? Sedangkan anjing dihinakan – demi umurku – padahal ia menggonggong (banyak bicara)." 

🔸 Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

فلا تجعل للكلب عندك قدرا أن ترد عليه كلما نبح عليك ودعه يفرح بنابحه وأفرح أنت بما فضلت به عليه من العلم والإيمان والهدى واجعل الإعراض عنه من بعض شكر نعمة الله التي ساقها إليك وأنعم بها عليك.

“Maka jangan sampai engkau menjadikan anjing itu bernilai untuk dijawab. Tiap kali dia menggonggong kepada engkau, maka acuhkan dia niscaya engkau akan merasa gembira dengan gonggongannya. Bergembiralah atas keutamaan yang engkau miliki berupa ilmu, iman dan petunjuk. Dan jadikanlah berpaling darinya sebagai bagian dari rasa syukur atas nikmat Allâh yang Allah karuniakan dan anugerahkan kepadamu.” (lihat Shawaiqul Mursalah 3/1158)


Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...