Selasa, 23 Desember 2025

Bolehnya Berbuat Baik dan Berlaku Adil Kepada Orang Kafir/non-Muslim


 


Bolehnya Berbuat Baik dan Berlaku Adil Kepada Orang Kafir/non-Muslim


Ayat Al-Qur'an yang menjelaskan kebolehan berbuat baik dan berlaku adil kepada orang kafir yang tidak memusuhi Islam adalah Surah Al-Mumtahanah ayat 8. Allah berkalam:

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ۝٨

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." 

Poin utama dari ayat ini:

🔸 Berbuat Baik (Tabarruhum): Umat Islam diperbolehkan menjalin hubungan sosial yang baik, memberikan bantuan, dan bersikap santun.

🔸 Berlaku Adil (Tuqsitu): Memberikan hak-hak mereka secara objektif tanpa diskriminasi serta tidak berlaku zholim.

🔸 Syarat: Ketentuan ini berlaku bagi non-Muslim yang tidak memerangi umat Islam karena agama dan tidak mengusir umat Islam dari tanah airnya. 

Insya Allah ini juga berlaku untuk ahlul bid'ah ataupun ahlu maksiat yang tidak memusuhi/berlaku zholim terhadap ahlus-Sunnah.

Meskipun demikian kita disyariatkan melakukan hajr tark (tidak duduk-duduk/bermajelis) dengan mereka agar tidak ketularan. Adapun untuk hajr uqubah maka ada syarat yang harus terpenuhi serta pertimbangkan mashlahat dan mafsadat.

Sabtu, 20 Desember 2025

Dunia Itu Bagaikan Racun Atau Ular


Dunia Itu Bagaikan Racun Atau Ular


جعفر بن سليمان عن مالك بن دينار قال: إن الله جعل الدنيا دار مفر والآخرة دار مقر فخذوا لمقركم وأخرجوا الدنيا من قلوبكم قبل أن تخرج منها أبدانكم، ولا تهتكوا أستاركم عند من يعلم أسراركم، ففي الدنيا حييتم ولغيرها خلقتم؛ إنما مثل الدنيا كالسم أكله من لا يعرفه واجتنبه من عرفه ومثل الدنيا مثل الحية مسها لين وفي جوفها السم القاتل يحذرها ذوو العقول ويهوي إليها الصبيان بأيديهم.

كتاب صفة الصفوة ج ٢ ص ١٦٨ - ابن الجوزي

Ja'far bin Sulaiman meriwayatkan dari Malik bin Dinar, ia berkata:

"Sesungguhnya Allah menjadikan dunia sebagai negeri tempat berlalu (persinggahan) dan akhirat sebagai negeri tempat menetap (keabadian). Maka ambillah (bekal) dari tempat persinggahanmu untuk tempat menetapmu. Keluarkanlah dunia dari hatimu sebelum badanmu keluar darinya (mati). Janganlah kalian merobek tirai (aib) kalian di hadapan Dzat yang mengetahui rahasia-rahasia kalian.

Di dunialah kalian hidup, namun untuk selain duniilah (akhirat) kalian diciptakan. Perumpamaan dunia itu hanyalah seperti racun; dimakan oleh orang yang tidak mengenalnya dan dijauhi oleh orang yang mengetahuinya. Perumpamaan dunia juga seperti ular; sentuhannya terasa halus namun di dalamnya terdapat racun yang mematikan. Orang-orang yang berakal akan waspada terhadapnya, sedangkan anak-anak kecil justru mengulurkan tangan kepadanya."

📚 Kitab Shifatu ash-Shafwah karya Ibnu al-Jauzi Juz 2, hal. 168

Jumat, 19 Desember 2025

Di Antara Mauqif Kami Yang Membedakan Dengan Hizb Salafiyyah/Salafiyyun


 


Di Antara Mauqif Kami Yang Membedakan Dengan Hizb Salafiyyah/Salafiyyun

1⃣ Millah dan madzhab kami adalah "Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah" sebagaimana para Salafush-Sholih. Kami tidak menamakan diri "Salafiyyah/Salafiyyun" ataupun Wahhabi.
2⃣ Kami berkeyakinan barangsiapa yang menolak atau sengaja menyelisihi Ushul As-Sunnah ataupun Aqidah Ahlus-Sunnah setelah iqomatul hujjah, maka bukan termasuk Ahlus-Sunnah.
3⃣ Kami meyakini semua perkara muhdats dalam perkara agama (yang tiada dalil dan Salafnya) termasuk bid'ah dholalah, kecuali perkara muhdats yang terdapat al-ijma'. Karena Al-Ijma' termasuk hujjah. Sehingga kami meyakini (1) iftiraq mengadakan sholat Jum'at sendiri-sendiri, (2) dakwah dengan jam'iyyah/ormas/muassasah, (3) dakwah dengan ash-shuwar (termasuk foto/video) makhluq bernyawa, (4) Panti Asuhan/tempat penitipan anak/Darul Hadhonah (دَارُ الْحَضَانَةِ) atau yang masyhur disebut TN dan pondhok anak kecil, (5) Sekolah Terpadu Maksiat dan kefajiran, (6) tasawwul (minta-minta/penggalangan dana) untuk hizb, (7) tanzhim jam'iyyah/hizbiyyah yang menuntut ketaatan serta semua perkara semisal itu semua termasuk bid'ah dholalah.
4⃣ Kami secara umum lebih mendahulukan kalam ulama' Salaf atau ulama' mutaqodimin daripada ulama mutaakhirin. Kecuali untuk perkara yang tiada kalam ulama mutaqodimin, maka kami mengambil fatwa ulama mutaakhirin dengan melihat hujjahnya.
5⃣ Pelaku syirik, pelaku bid'ah, pendusta, orang kibr dan pelaku kabairol-itsmi yang enggan taubat tidak layak diambil ilmunya. Itu semua termasuk akhlaq tercela sehingga tidak boleh dijadikan guru. Kecuali jika darurat.
6⃣ Madzhab itu jumlahnya tiada batasan. Wahabiyyah dan Salafiyyah itu termasuk madzhab sebagaimana Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi'iyyah, Hanbali ataupun Zhohiri yang mana madzhab-madzhab tersebut bukan sengaja didirikan.
7⃣ Hajr 'uqubah ('iqob atau boikot) itu ada syarat-syarat yang harus terpenuhi serta wajib pertimbangkan mashlahat dan mafsadat. Adapun untuk hajr tark maka bisa diamalkan siapa saja dan kapan saja setiap ada kemungkaran.

Rabu, 17 Desember 2025

Pemberian Ma'af Kepada Orang Yang Zholim




Pemberian Ma'af Kepada Orang Yang Zholim


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

"لَا يَكُونُ الْعَفْوُ عَنْ الظَّالِمِ وَلَا قَلِيلُهُ مُسْقِطًا لِأَجْرِ الْمَظْلُومِ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا مُنْقِصًا لَهُ؛ بَلْ الْعَفْوُ عَنْ الظَّالِمِ يُصَيِّرُ أَجْرَهُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى؛ فَإِنَّهُ إذَا لَمْ يَعْفُ كَانَ حَقُّهُ عَلَى الظَّالِمِ فَلَهُ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ وَإِذَا عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ. وَأَجْرُهُ الَّذِي هُوَ عَلَى اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى. قَالَ تَعَالَى: {وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ} . فَقَدْ أَخْبَرَ أَنَّ جَزَاءَ السَّيِّئَةِ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا بِلَا عُدْوَانٍ وَهَذَا هُوَ الْقِصَاصُ فِي الدِّمَاءِ وَالْأَمْوَالِ وَالْأَعْرَاضِ وَنَحْوِ ذَلِكَ. ثُمَّ قَالَ: {فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ}"
من كتاب: مجموع الفتاوى ج ٣٠ ص

"Memaafkan orang yang zhalim dan tidak membalas kejahatannya tidak akan menghilangkan hak orang yang dizhalimi di sisi Allah, dan tidak akan mengurangi pahala orang yang dizalimi. Sebaliknya, memaafkan orang yang zhalim akan menjadikan pahalanya menjadi tanggungan Allah. Jika orang yang dizalimi tidak memaafkan, maka haknya tetap ada pada orang yang zhalim, dan dia dapat membalasnya sesuai dengan kezhalimannya. Namun, jika dia memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Dan pahala yang menjadi tanggungan Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.

Allah berfirman: 'Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.' (QS. Asy-Syura: 40)

Ayat ini menunjukkan bahwa balasan kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tanpa melebihi batas. Ini adalah prinsip qisas dalam darah, harta, dan kehormatan, dan lain-lain. Kemudian Allah berfirman: 'Barangsiapa memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah.'"

📚 Majmu' Al-Fatawa 30/361-362

Selasa, 16 Desember 2025

Nabi ﷺ dan Para Salafush-Sholih Biasa Memakai Cincin Yang Berukir Tulisan





Nabi ﷺ dan Para Salafush-Sholih Biasa Memakai Cincin Yang Berukir Tulisan


🔸 Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من ورق وكان فصه حبشيا

Cincin Nabi  terbuat dari perak, dan mata cincinnya berasal dari Habasyah (ethiopia). (HR. Muslim 2094, Turmudzi 1739, dan yang lainnya).

🔸 Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من فضة فصه منه

”Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perak, dan mata cincin juga dari bahan perak.” (HR. Bukhari 5870, Nasai 5198, dan yang lainnya).

🔸 Juga dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, katanya:

كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةَ أَسْطُرٍ مُحَمَّدٌ سَطْرٌ وَرَسُولُ سَطْرٌ وَاللَّهِ سَطْرٌ

“Adalah cincin Rasulullah memiliki tiga garis tulisan:
Ukiran pada cincin Nabi terdiri dari tiga baris: "Muhammad" pada baris pertama, "Rasul" pada baris kedua, dan "Allah" pada baris ketiga.." (H.R. Bukhari No. 2939, 5540. At Tirmidzi No. 1748, Ibnu Majah No. 3639–3640)

🔸 Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Majmu menyebutkan;

"وَيَجُوزُ نَقْشُهُ وَإِنْ كَانَ فِيهِ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى فَفِي الصَّحِيحَيْنِ " كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَلَا كَرَاهَةَ فِيهِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ وَمَالِكٌ وَالْجُمْهُورُ وَكَرِهَهُ ابْنُ سِيرِينَ وَبَعْضُهُمْ لِخَوْفِ امْتِهَانِهِ وَهَذَا بَاطِلٌ مُنَابِذٌ لِلْحَدِيثِ وَلِفِعْلِ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ قَالَ الْعُلَمَاءُ مِنْ إصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ وَلَهُ أَنْ يَنْقُشَ فِيهِ اسْمَ نَفْسِهِ أَوْ كَلِمَةَ حِكْمَةٍ وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ لِلرَّجُلِ جَعْلُ خَاتَمِهِ فِي خِنْصَرِهِ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ ...." (كتاب المجموع شرح المهذب ج ٤ ص ٤٦٣  - ط المنيرية - النووي)

"Dan diperbolehkan mengukir cincin (dengan tulisan), meskipun di dalamnya terdapat zikir kepada Allah Ta'ala. Sebab, dalam kitab Ash-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) disebutkan bahwa: 'Ukiran cincin Rasulullah adalah: Muhammad Rasulullah.'

Menurut madzhab kami (Syafi'iyah), hal tersebut tidaklah makruh. Pendapat ini juga dipegang oleh Sa’id bin al-Musayyib, Imam Malik, dan mayoritas ulama (Jumhur). Sementara itu, Ibnu Sirin dan sebagian ulama lainnya memakruhkannya karena khawatir akan terjadi penghinaan (terhadap asma Allah). Namun, pendapat (yang memakruhkan) ini adalah batil karena bertentangan dengan hadits serta perbuatan para ulama salaf maupun khalaf.

Para ulama dari kalangan sahabat kami (Syafi'iyah) dan ulama lainnya berkata: Seseorang diperbolehkan mengukir namanya sendiri atau kalimat hikmah pada cincinnya.

Dan kaum muslimin telah bersepakat (ijma') bahwa sunnah bagi laki-laki adalah memakai cincin di jari kelingkingnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim..."

🔸 Ibnu Rajab rahimahullah kitab Ahkam al-Khawatim menyebutkan,

وأما خواتيم غيرهم من الصحابة والتابعين والأئمة فقد روي أن الزبير كان نقش خاتمه: "ثقتي بالرحمن"، ونقش خاتم حذيفة: "الحمد لله" ونقش أويس القرني: "كن من الله عَلَى حذر"، وعلى خاتم الحسن البصري: "لا إله إلا الله الملك الحق المبين" وقد تقدم.

وعلى خاتم النخعي: "نحن بالله وله". وعلى خاتم الشعبي: "الله ولي الخلق"، وعلى خاتم طاوس: "أعبد الله مخلصًا"، وعلى خاتم الزهري: "محمد يسأل الله العافية". رواه أبو نعيم في الحلية.

وعلى خاتم هشام بن عروة: "رب زدني علمًا"، وعلى خاتم مالك ابن أنس: "حسبنا الله ونعم الوكيل"، وكان نقش فص خاتم النعمان أبو حنيفة: "قل الخير وإلا فلتسكت (١)، وأبي يوسف: "من عمل برأيه ندم"، ومحمد ابن ( ... ) (٢)، وعلى خاتم الشافعي: "الله ثقة محمد بن إدريس"، وعلى خاتم الربيع بن سليمان: "الله ثقة الربيع بن سليمان".

وكان نقش خاتم أبي مسهر: "أبرمت فقم"، فَإِذَا استثقل أحدًا ختم به علي طينة ثم رماها إِلَيْهِ فيقرأها.

وروى أبو نعيم في "الحلية" من طريق ابن عائشة عن أبيه قال: بلغ عمر ابن عبد العزيز رضي الله عنه أن ابنًا له اشترى فصًا بألف درهم فكتب إِلَيْهِ عمر: عزيمة مني عليك لما بعت الفص الَّذِي اشتريت بألف درهم وتصدقت بثمنه، واشتريت فصًا بدرهم ونقشت عليه "رحم الله امرأً عرف قدره".

وعن الأوزاعي قال: نقش رجل عَلَى خاتم عمر بن عبد العزيز، فحسبه خمس عشرة ليلة، ثم خلى سبيله. ونقش بعض العارفين عَلَى خاتمه: "ولعل طرفك لا يدور وأنت تجمع {للدهور} " (٣)، ونقش بعضهم عَلَى خاتمه "وإن امرأً دنياه أكبر همه لمستمسك منها بحبل غرور".

(كتاب أحكام الخواتيم ص ٦٨٢-٦٨٣ - ابن رجب الحنبلي)

"Adapun cincin para sahabat lainnya, para tabi'in, dan para imam, maka telah diriwayatkan bahwa ukiran cincin Az-Zubair adalah: 'Thiqati bir-Rahman' (Kepercayaanku kepada Sang Maha Pengasih). Ukiran cincin Hudzaifah'Alhamdulillah' (Segala puji bagi Allah). Ukiran cincin Uwais al-Qarni'Kun minallahi 'ala hadzar' (Waspadalah/berhati-hatilah terhadap Allah). Dan pada cincin Al-Hasan al-Bashri'La ilaha illallah al-Malikul Haqqul Mubin' (Tiada Ilahi selain Allah, Penguasa yang Maha Benar lagi Maha Nyata), dan ini telah disebutkan sebelumnya.

Pada cincin An-Nakha'i'Nahnu billahi wa lahu' (Kita milik Allah dan bersama Allah). Pada cincin Asy-Sya'bi'Allahu waliyyul khalq' (Allah adalah pelindung makhluk). Pada cincin Thawus'A'budullaha mukhlishan' (Aku menyembah Allah dengan ikhlas). Pada cincin Az-Zuhri'Muhammadun yas'alullaha al-'afiyah' (Muhammad memohon keselamatan kepada Allah). Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah.

Pada cincin Hisyam bin Urwah'Rabbi zidni 'ilman' (Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku). Pada cincin Malik bin Anas'Hasbunallahu wa ni'mal wakil' (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung). Ukiran mata cincin An-Nu'man Abu Hanifah adalah: 'Qul al-khaira wa illa faltaskut' (Katakanlah yang baik atau diamlah). Ukiran cincin Abu Yusuf'Man 'amila bira'yihi nadima' (Siapa yang bertindak hanya berdasarkan pendapatnya sendiri, ia akan menyesal). Ukiran Muhammad bin (Asy-Syaibani)... Pada cincin Asy-Syafi'i'Allahu thiqatu Muhammad bin Idris' (Allah adalah kepercayaan Muhammad bin Idris). Pada cincin Ar-Rabi' bin Sulaiman'Allahu thiqatu Ar-Rabi' bin Sulaiman'.

Adapun ukiran cincin Abu Mushir adalah: 'Abramta faqum' (Engkau sudah membosankan/mengganggu, maka berdirilah/pergilah). Jika ia merasa berat (terganggu) dengan kehadiran seseorang, ia akan mengecapkan cincin itu pada segumpal tanah liat lalu melemparkannya kepada orang tersebut, sehingga orang itu membacanya (dan segera pergi).

Abu Nu'aim meriwayatkan dalam al-Hilyah melalui jalur Ibnu Aisyah dari ayahnya, ia berkata: Sampai kabar kepada Umar bin Abdul Aziz r.a. bahwa salah seorang putranya membeli mata cincin seharga seribu dirham. Maka Umar menulis surat kepadanya: 'Aku perintahkan dengan tegas kepadamu agar engkau menjual mata cincin seharga seribu dirham itu dan menyedekahkan uangnya, lalu belilah mata cincin seharga satu dirham dan ukirlah di atasnya: 'Rahimallahu amra'an 'arafa qadrah' (Semoga Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar/kemampuan dirinya).'

Dari Al-Auza'i, ia berkata: Seseorang mengukir (sesuatu yang tidak pantas) pada cincin Umar bin Abdul Aziz, maka Umar menahannya selama lima belas malam, kemudian melepaskannya. Sebagian orang arif (ahli makrifat) mengukir pada cincinnya: 'Mungkin saja matamu tak lagi berkedip, sementara engkau sibuk mengumpulkan harta untuk masa depan (zaman)'. Dan sebagian lagi mengukir pada cincinnya: 'Sungguh, seseorang yang dunianya menjadi obsesi terbesarnya, berarti ia sedang berpegang pada tali tipu daya'."

 

Sabarlah Atas Cercaan Dan Maafkanlah


 


Sabarlah Atas Cercaan Dan Maafkanlah


١٢٠ - حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ إِسْحَاقَ، عَنِ الْمُبَارَكِ بْنِ فَضَالَةَ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: " سَبَّ رَجُلٌ رَجُلًا مِنَ الصَّدْرِ الْأَوَّلِ، فَقَامَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَمْسَحُ الْعَرَقَ عَنْ وَجْهِهِ، وَهُوَ يَتْلُو: {وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ} [الشورى: ٤٣] ".
١٢١ - قَالَ الْحَسَنُ: «عَقَلَهَا وَاللَّهِ وَفَهَمَهَا إِذْ ضَيَّعَهَا الْجَاهِلُونَ»
كتاب الصبر والثواب عليه لابن أبي الدنيا ص ٨٧ - ابن أبي الدنيا

120 - Telah menceritakan kepadaku Ali bin Al-Hasan, dari Yahya bin Ishaq, dari Al-Mubarak bin Fadhalah, dari Al-Hasan, ia berkata: "Seorang laki-laki mencaci maki seorang laki-laki dari kalangan generasi al-awwal (generasi pertama umat ini), maka laki-laki itu berdiri sambil mengusap keringat dari wajahnya, dan ia membaca:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ۝٤٣

'Dan barangsiapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan (perbuatan) yang mulia.' (QS. Al-Syura: 43)."

121 - Al-Hasan berkata: "Ia telah memahami dan mengamalkan (ayat) itu, demi Allah, ketika orang-orang yang bodoh telah mengabaikannya (menyia-nyiakannya)."

📚 Kitab Al-Sabr wa Al-Tsawab 'Alaiah, Ibn Abi Al-Dunia, hal. 87

Kita boleh membela diri ketika dizholimi ataupun membalas kezhaliman dengan semisal (qishash), tetapi bersabar dan memaafkan itu termasuk perbuatan mulia yang lebih utama..

Senin, 15 Desember 2025

Setiap Dosa dan Perbuatan Yang Haram Hakekatnya Termasuk Akhlaq Tercela


 

Setiap Dosa dan Perbuatan Yang Haram Hakekatnya Termasuk Akhlaq Tercela


قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٣٣ ( سورة الأعراف : ٣٣ )
عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ، فَقَالَ: «الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ». (صحيح - رواه مسلم)
«فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ القُرآنَ ...الخ» رواه مسلم

🔸 Nabi Muhammad ﷺ diutus Allah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlaq dengan mengajarkan syari'at Islam. Syariat Islam diturunkan untuk menjaga lima hal pokok (Maqashid Syariah) yaitu : Hifdz Ad-Din
(menjaga agama), An-Nafs (jiwa), Al-Aql (akal), Al-Mal (harta) dan An-Nasl (keturunan). Perbuatan haram dan dosa selalu merusak salah satu/lebih dari maqashid syariah, sehingga dipandang buruk (akhlaq tercela).
🔸 Akhlaq adalah sifat atau tabiat yang tertanam dalam jiwa dan tercermin dalam perilaku, sikap, serta tutur kata yang mencakup hubungan dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia, dan alam semesta, berdasarkan nilai-nilai moral dan ajaran agama.
🔸 Al-birr (kebaikan) itu akhlaq yang baik (akhlaq mahmudah/karimah), sehingga setiap dosa (keburukan) itu termasuk akhlaq tercela (akhlaq madzmumah)
🔸 Akhlaq bukan sekadar perilaku baik dalam interaksi sosial, tetapi sebuah sistem nilai yang mencakup kepatuhan terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Akhlaq Nabi adalah Al-Qur'an.

Setiap perbuatan haram (syirik, bid'ah ataupun kabair al-itsm) dan dosa adalah pelanggaran terhadap perintah Allah. Pelanggaran terhadap perintah Ilahi adalah bentuk ketidaksopanan tertinggi atau akhlaq (perilaku) yang tidak bermoral dalam kerangka etika Islam, sehingga secara pasti termasuk dalam akhlaq yang buruk (akhlaq madzmumah).


Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat

  Tujuan, Hikmah dan Manfaat Sholat Shalat merupakan tiang agama yang memiliki dimensi spiritual, mental, hingga fisik. Berikut adalah penj...