Selasa, 23 Desember 2025

Di Antara Dalil Haramnya Ucapan At-Tahniah Pada Syiar-Syiar Kekufuran







Di Antara Dalil Haramnya Ucapan At-Tahniah Pada Syiar-Syiar Kekufuran

https://teguhakhirblora.blogspot.com/2025/12/di-antara-dalil-haramnya-ucapan-at.html?m=1


وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ۝٢

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertaqwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat 'iqob (siksaan)-Nya." (QS. Al-Maidah : 2)

عن ابنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قال: قال رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلم:
«مَن تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ». (حسن - رواه أبو داود وأحمد - سنن أبي داود - 4031)

Ibnu Umar radhiyallāhu 'anhumā meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kalangan mereka."  
(Hasan -  HR. Abu Daud dan Ahmad - (Sunan Abu Daud - 4031)

ثم ساق من طريق ابن أبي حاتم : حدثنا الأشج ، ثنا عبد الله بن أبي بكر ، عن العلاء بن المسيب ، عن عمرو بن مرة : ( والذين لا يشهدون الزور ) قال : لا يمالئون أهل الشرك على شركهم ولا يخالطونهم ، ونحوه عن الضحاك . (أحكام أهل الذمة ج ٣ ص ١٢٤٥ - أبو عبد الله محمد بن أبي بكر ابن قيم الجوزية)

Kemudian ia (Ibnu Jarir) meriwayatkan dari jalan Ibnu Abi Hatim: Dari Ashaj, dari Abdullah bin Abi Bakr, dari Al-Alaa bin Musayyib, dari Amr bin Murrah, tentang kalam Allah "والذين لا يشهدون الزور"  (Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu) (QS. Al-Furqan: 72), ia berkata: "Mereka tidak membantu orang-orang musyrik dalam kesyirikan mereka dan tidak pula bergaul dengan mereka." Demikian pula pendapat Al-Dhahhak.

وقال البخاري في غير " الصحيح " : قال لي ابن أبي مريم : حدثنا نافع بن يزيد سمع [ سليمان ] بن أبي زينب [ وعمرو ] بن الحارث سمع سعيد بن سلمة ، سمع أباه ، سمع عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : " اجتنبوا أعداء الله في عيدهم " ذكره البيهقي .

Imam Al-Bukhari menyebutkan dalam kitab selain "Shahih"nya: Ibnu Abi Maryam berkata kepadaku, "Nafi' bin Yazid menceritakan kepada kami, ia mendengar Sulaiman bin Abu Zainab dan Amr bin Al-Harith, mereka mendengar Sa'id bin Salama, ia mendengar ayahnya, ia mendengar Umar bin Al-Khattab Radhiyaallahu 'anhu berkata: "Hindarilah musuh-musuh Allah pada hari raya mereka." Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi.

Ijma' Tentang Haramnya Ucapan At-Tahniah Pada Syiar-Syiar Kekufuran

Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Ahkam Ahli Dzimmah menyebutkan,

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به  فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم ، فيقول : عيد مبارك عليك ، أو تهنأ بهذا العيد ، ونحوه ، فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات ، وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب ، بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه .
وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه ،

"Adapun at-tahniah (mengucapkan selamat) atas syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi mereka (orang kafir), maka itu adalah haram dengan kesepakatan ulama (al-ijma'), seperti mengucapkan selamat atas hari raya dan puasa mereka, misalnya dengan mengatakan "Selamat hari raya, semoga hari raya ini diberkahi bagi kamu", atau ucapan selamat atas hari raya tersebut, dan semisalnya. Jika orang yang mengucapkan selamat tersebut selamat dari kufur, maka itu termasuk perbuatan yang diharamkan, dan itu sama seperti mengucapkan selamat atas sujudnya seseorang kepada salib. Bahkan, itu lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai daripada mengucapkan selamat atas minum khamr, membunuh jiwa, berzina, dan semisalnya.
Dan banyak dari kalangan orang-orang yang tidak memiliki penghargaan (kepedulian) terhadap agama di dalam hatinya terjatuh ke dalam hal tersebut, sedangkan ia tidak menyadari betapa buruknya perbuatan yang ia lakukan. Maka, barangsiapa yang memberi ucapan selamat kepada seorang hamba atas suatu kemaksiatan, bid'ah, atau kekafiran, maka sungguh ia telah memaparkan dirinya pada kemurkaan Allah dan amarah-Nya."

وقد [ ص: 442 ] كان أهل الورع من أهل العلم يتجنبون تهنئة الظلمة بالولايات ، وتهنئة الجهال بمنصب القضاء والتدريس والإفتاء تجنبا لمقت الله وسقوطهم من عينه ، وإن بلي الرجل بذلك فتعاطاه دفعا لشر يتوقعه منهم فمشى إليهم ولم يقل إلا خيرا ، ودعا لهم بالتوفيق والتسديد فلا بأس بذلك ، وبالله التوفيق . (أحكام أهل الذمة  ج ١ ص ٤٤١ - ابن القيم الجوزية)

"Dan sungguh [Hal. 442] orang-orang yang wara' dari kalangan ahli ilmu senantiasa menghindari memberi ucapan selamat kepada para pendzalim atas jabatan (kekuasaan) mereka, serta menghindari memberi ucapan selamat kepada orang-orang bodoh atas jabatan peradilan, pengajaran, maupun fatwa. Hal ini dilakukan demi menghindari kemurkaan Allah dan agar mereka tidak jatuh (hina) di mata-Nya.
Namun, jika seseorang diuji dengan keadaan tersebut (terpaksa melakukannya) demi menolak keburukan yang dikhawatirkan dari mereka, lalu ia mendatangi mereka dan tidak mengucapkan kecuali perkataan yang baik, serta mendoakan mereka agar mendapatkan taufiq (petunjuk) dan tasdid (ketepatan dalam bersikap), maka hal itu tidaklah mengapa. Dan hanya kepada Allah-lah memohon taufiq."
(Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al -‘Utsaimin rahimahullah mengatakan pula,

تهنئة الكفار بعيد الكريسمس أو غيره من أعيادهم الدينية حرامٌ بالاتفاق

“Ucapan selamat hari natal atau ucapan selamat lainnya yang berkaitan dengan perayaan agama orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3: 45).


Catatan :

Toleransi yang benar yaitu dengan tidak berbuat zholim, saling bantu atau berbuat baik dalam perkara dunia, mendoakan mereka mendapat hidayah ataupun mendiakan kebaikan dalam perkara dunia (semisal sehat), serta hidup berdampingan dengan ahlu-dzimmah.

Kemudian tidak menggangggu mereka beribadah (termasuk gangguan pengeras suara).

Bolehnya Berbuat Baik dan Berlaku Adil Kepada Orang Kafir/non-Muslim


 


Bolehnya Berbuat Baik dan Berlaku Adil Kepada Orang Kafir/non-Muslim


Ayat Al-Qur'an yang menjelaskan kebolehan berbuat baik dan berlaku adil kepada orang kafir yang tidak memusuhi Islam adalah Surah Al-Mumtahanah ayat 8. Allah berkalam:

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ۝٨

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." 

Poin utama dari ayat ini:

🔸 Berbuat Baik (Tabarruhum): Umat Islam diperbolehkan menjalin hubungan sosial yang baik, memberikan bantuan, dan bersikap santun.

🔸 Berlaku Adil (Tuqsitu): Memberikan hak-hak mereka secara objektif tanpa diskriminasi serta tidak berlaku zholim.

🔸 Syarat: Ketentuan ini berlaku bagi non-Muslim yang tidak memerangi umat Islam karena agama dan tidak mengusir umat Islam dari tanah airnya. 

Insya Allah ini juga berlaku untuk ahlul bid'ah ataupun ahlu maksiat yang tidak memusuhi/berlaku zholim terhadap ahlus-Sunnah.

Meskipun demikian kita disyariatkan melakukan hajr tark (tidak duduk-duduk/bermajelis) dengan mereka agar tidak ketularan. Adapun untuk hajr uqubah maka ada syarat yang harus terpenuhi serta pertimbangkan mashlahat dan mafsadat.

Sabtu, 20 Desember 2025

Dunia Itu Bagaikan Racun Atau Ular


Dunia Itu Bagaikan Racun Atau Ular


جعفر بن سليمان عن مالك بن دينار قال: إن الله جعل الدنيا دار مفر والآخرة دار مقر فخذوا لمقركم وأخرجوا الدنيا من قلوبكم قبل أن تخرج منها أبدانكم، ولا تهتكوا أستاركم عند من يعلم أسراركم، ففي الدنيا حييتم ولغيرها خلقتم؛ إنما مثل الدنيا كالسم أكله من لا يعرفه واجتنبه من عرفه ومثل الدنيا مثل الحية مسها لين وفي جوفها السم القاتل يحذرها ذوو العقول ويهوي إليها الصبيان بأيديهم.

كتاب صفة الصفوة ج ٢ ص ١٦٨ - ابن الجوزي

Ja'far bin Sulaiman meriwayatkan dari Malik bin Dinar, ia berkata:

"Sesungguhnya Allah menjadikan dunia sebagai negeri tempat berlalu (persinggahan) dan akhirat sebagai negeri tempat menetap (keabadian). Maka ambillah (bekal) dari tempat persinggahanmu untuk tempat menetapmu. Keluarkanlah dunia dari hatimu sebelum badanmu keluar darinya (mati). Janganlah kalian merobek tirai (aib) kalian di hadapan Dzat yang mengetahui rahasia-rahasia kalian.

Di dunialah kalian hidup, namun untuk selain duniilah (akhirat) kalian diciptakan. Perumpamaan dunia itu hanyalah seperti racun; dimakan oleh orang yang tidak mengenalnya dan dijauhi oleh orang yang mengetahuinya. Perumpamaan dunia juga seperti ular; sentuhannya terasa halus namun di dalamnya terdapat racun yang mematikan. Orang-orang yang berakal akan waspada terhadapnya, sedangkan anak-anak kecil justru mengulurkan tangan kepadanya."

📚 Kitab Shifatu ash-Shafwah karya Ibnu al-Jauzi Juz 2, hal. 168

Jumat, 19 Desember 2025

Di Antara Mauqif Kami Yang Membedakan Dengan Hizb Salafiyyah/Salafiyyun


 


Di Antara Mauqif Kami Yang Membedakan Dengan Hizb Salafiyyah/Salafiyyun

1⃣ Millah dan madzhab kami adalah "Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah" sebagaimana para Salafush-Sholih. Kami tidak menamakan diri "Salafiyyah/Salafiyyun" ataupun Wahhabi.
2⃣ Kami berkeyakinan barangsiapa yang menolak atau sengaja menyelisihi Ushul As-Sunnah ataupun Aqidah Ahlus-Sunnah setelah iqomatul hujjah, maka bukan termasuk Ahlus-Sunnah.
3⃣ Kami meyakini semua perkara muhdats dalam perkara agama (yang tiada dalil dan Salafnya) termasuk bid'ah dholalah, kecuali perkara muhdats yang terdapat al-ijma'. Karena Al-Ijma' termasuk hujjah. Sehingga kami meyakini (1) iftiraq mengadakan sholat Jum'at sendiri-sendiri, (2) dakwah dengan jam'iyyah/ormas/muassasah, (3) dakwah dengan ash-shuwar (termasuk foto/video) makhluq bernyawa, (4) Panti Asuhan/tempat penitipan anak/Darul Hadhonah (دَارُ الْحَضَانَةِ) atau yang masyhur disebut TN dan pondhok anak kecil, (5) Sekolah Terpadu Maksiat dan kefajiran, (6) tasawwul (minta-minta/penggalangan dana) untuk hizb, (7) tanzhim jam'iyyah/hizbiyyah yang menuntut ketaatan serta semua perkara semisal itu semua termasuk bid'ah dholalah.
4⃣ Kami secara umum lebih mendahulukan kalam ulama' Salaf atau ulama' mutaqodimin daripada ulama mutaakhirin. Kecuali untuk perkara yang tiada kalam ulama mutaqodimin, maka kami mengambil fatwa ulama mutaakhirin dengan melihat hujjahnya.
5⃣ Pelaku syirik, pelaku bid'ah, pendusta, orang kibr dan pelaku kabairol-itsmi yang enggan taubat tidak layak diambil ilmunya. Itu semua termasuk akhlaq tercela sehingga tidak boleh dijadikan guru. Kecuali jika darurat.
6⃣ Madzhab itu jumlahnya tiada batasan. Wahabiyyah dan Salafiyyah itu termasuk madzhab sebagaimana Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi'iyyah, Hanbali ataupun Zhohiri yang mana madzhab-madzhab tersebut bukan sengaja didirikan.
7⃣ Hajr 'uqubah ('iqob atau boikot) itu ada syarat-syarat yang harus terpenuhi serta wajib pertimbangkan mashlahat dan mafsadat. Adapun untuk hajr tark maka bisa diamalkan siapa saja dan kapan saja setiap ada kemungkaran.

Rabu, 17 Desember 2025

Pemberian Ma'af Kepada Orang Yang Zholim




Pemberian Ma'af Kepada Orang Yang Zholim


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

"لَا يَكُونُ الْعَفْوُ عَنْ الظَّالِمِ وَلَا قَلِيلُهُ مُسْقِطًا لِأَجْرِ الْمَظْلُومِ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا مُنْقِصًا لَهُ؛ بَلْ الْعَفْوُ عَنْ الظَّالِمِ يُصَيِّرُ أَجْرَهُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى؛ فَإِنَّهُ إذَا لَمْ يَعْفُ كَانَ حَقُّهُ عَلَى الظَّالِمِ فَلَهُ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ وَإِذَا عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ. وَأَجْرُهُ الَّذِي هُوَ عَلَى اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى. قَالَ تَعَالَى: {وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ} . فَقَدْ أَخْبَرَ أَنَّ جَزَاءَ السَّيِّئَةِ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا بِلَا عُدْوَانٍ وَهَذَا هُوَ الْقِصَاصُ فِي الدِّمَاءِ وَالْأَمْوَالِ وَالْأَعْرَاضِ وَنَحْوِ ذَلِكَ. ثُمَّ قَالَ: {فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ}"
من كتاب: مجموع الفتاوى ج ٣٠ ص

"Memaafkan orang yang zhalim dan tidak membalas kejahatannya tidak akan menghilangkan hak orang yang dizhalimi di sisi Allah, dan tidak akan mengurangi pahala orang yang dizalimi. Sebaliknya, memaafkan orang yang zhalim akan menjadikan pahalanya menjadi tanggungan Allah. Jika orang yang dizalimi tidak memaafkan, maka haknya tetap ada pada orang yang zhalim, dan dia dapat membalasnya sesuai dengan kezhalimannya. Namun, jika dia memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Dan pahala yang menjadi tanggungan Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.

Allah berfirman: 'Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.' (QS. Asy-Syura: 40)

Ayat ini menunjukkan bahwa balasan kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tanpa melebihi batas. Ini adalah prinsip qisas dalam darah, harta, dan kehormatan, dan lain-lain. Kemudian Allah berfirman: 'Barangsiapa memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah.'"

📚 Majmu' Al-Fatawa 30/361-362

Selasa, 16 Desember 2025

Nabi ﷺ dan Para Salafush-Sholih Biasa Memakai Cincin Yang Berukir Tulisan





Nabi ﷺ dan Para Salafush-Sholih Biasa Memakai Cincin Yang Berukir Tulisan


🔸 Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من ورق وكان فصه حبشيا

Cincin Nabi  terbuat dari perak, dan mata cincinnya berasal dari Habasyah (ethiopia). (HR. Muslim 2094, Turmudzi 1739, dan yang lainnya).

🔸 Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من فضة فصه منه

”Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perak, dan mata cincin juga dari bahan perak.” (HR. Bukhari 5870, Nasai 5198, dan yang lainnya).

🔸 Juga dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, katanya:

كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةَ أَسْطُرٍ مُحَمَّدٌ سَطْرٌ وَرَسُولُ سَطْرٌ وَاللَّهِ سَطْرٌ

“Adalah cincin Rasulullah memiliki tiga garis tulisan:
Ukiran pada cincin Nabi terdiri dari tiga baris: "Muhammad" pada baris pertama, "Rasul" pada baris kedua, dan "Allah" pada baris ketiga.." (H.R. Bukhari No. 2939, 5540. At Tirmidzi No. 1748, Ibnu Majah No. 3639–3640)

🔸 Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Majmu menyebutkan;

"وَيَجُوزُ نَقْشُهُ وَإِنْ كَانَ فِيهِ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى فَفِي الصَّحِيحَيْنِ " كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَلَا كَرَاهَةَ فِيهِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ وَمَالِكٌ وَالْجُمْهُورُ وَكَرِهَهُ ابْنُ سِيرِينَ وَبَعْضُهُمْ لِخَوْفِ امْتِهَانِهِ وَهَذَا بَاطِلٌ مُنَابِذٌ لِلْحَدِيثِ وَلِفِعْلِ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ قَالَ الْعُلَمَاءُ مِنْ إصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ وَلَهُ أَنْ يَنْقُشَ فِيهِ اسْمَ نَفْسِهِ أَوْ كَلِمَةَ حِكْمَةٍ وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ لِلرَّجُلِ جَعْلُ خَاتَمِهِ فِي خِنْصَرِهِ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ ...." (كتاب المجموع شرح المهذب ج ٤ ص ٤٦٣  - ط المنيرية - النووي)

"Dan diperbolehkan mengukir cincin (dengan tulisan), meskipun di dalamnya terdapat zikir kepada Allah Ta'ala. Sebab, dalam kitab Ash-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) disebutkan bahwa: 'Ukiran cincin Rasulullah adalah: Muhammad Rasulullah.'

Menurut madzhab kami (Syafi'iyah), hal tersebut tidaklah makruh. Pendapat ini juga dipegang oleh Sa’id bin al-Musayyib, Imam Malik, dan mayoritas ulama (Jumhur). Sementara itu, Ibnu Sirin dan sebagian ulama lainnya memakruhkannya karena khawatir akan terjadi penghinaan (terhadap asma Allah). Namun, pendapat (yang memakruhkan) ini adalah batil karena bertentangan dengan hadits serta perbuatan para ulama salaf maupun khalaf.

Para ulama dari kalangan sahabat kami (Syafi'iyah) dan ulama lainnya berkata: Seseorang diperbolehkan mengukir namanya sendiri atau kalimat hikmah pada cincinnya.

Dan kaum muslimin telah bersepakat (ijma') bahwa sunnah bagi laki-laki adalah memakai cincin di jari kelingkingnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim..."

🔸 Ibnu Rajab rahimahullah kitab Ahkam al-Khawatim menyebutkan,

وأما خواتيم غيرهم من الصحابة والتابعين والأئمة فقد روي أن الزبير كان نقش خاتمه: "ثقتي بالرحمن"، ونقش خاتم حذيفة: "الحمد لله" ونقش أويس القرني: "كن من الله عَلَى حذر"، وعلى خاتم الحسن البصري: "لا إله إلا الله الملك الحق المبين" وقد تقدم.

وعلى خاتم النخعي: "نحن بالله وله". وعلى خاتم الشعبي: "الله ولي الخلق"، وعلى خاتم طاوس: "أعبد الله مخلصًا"، وعلى خاتم الزهري: "محمد يسأل الله العافية". رواه أبو نعيم في الحلية.

وعلى خاتم هشام بن عروة: "رب زدني علمًا"، وعلى خاتم مالك ابن أنس: "حسبنا الله ونعم الوكيل"، وكان نقش فص خاتم النعمان أبو حنيفة: "قل الخير وإلا فلتسكت (١)، وأبي يوسف: "من عمل برأيه ندم"، ومحمد ابن ( ... ) (٢)، وعلى خاتم الشافعي: "الله ثقة محمد بن إدريس"، وعلى خاتم الربيع بن سليمان: "الله ثقة الربيع بن سليمان".

وكان نقش خاتم أبي مسهر: "أبرمت فقم"، فَإِذَا استثقل أحدًا ختم به علي طينة ثم رماها إِلَيْهِ فيقرأها.

وروى أبو نعيم في "الحلية" من طريق ابن عائشة عن أبيه قال: بلغ عمر ابن عبد العزيز رضي الله عنه أن ابنًا له اشترى فصًا بألف درهم فكتب إِلَيْهِ عمر: عزيمة مني عليك لما بعت الفص الَّذِي اشتريت بألف درهم وتصدقت بثمنه، واشتريت فصًا بدرهم ونقشت عليه "رحم الله امرأً عرف قدره".

وعن الأوزاعي قال: نقش رجل عَلَى خاتم عمر بن عبد العزيز، فحسبه خمس عشرة ليلة، ثم خلى سبيله. ونقش بعض العارفين عَلَى خاتمه: "ولعل طرفك لا يدور وأنت تجمع {للدهور} " (٣)، ونقش بعضهم عَلَى خاتمه "وإن امرأً دنياه أكبر همه لمستمسك منها بحبل غرور".

(كتاب أحكام الخواتيم ص ٦٨٢-٦٨٣ - ابن رجب الحنبلي)

"Adapun cincin para sahabat lainnya, para tabi'in, dan para imam, maka telah diriwayatkan bahwa ukiran cincin Az-Zubair adalah: 'Thiqati bir-Rahman' (Kepercayaanku kepada Sang Maha Pengasih). Ukiran cincin Hudzaifah'Alhamdulillah' (Segala puji bagi Allah). Ukiran cincin Uwais al-Qarni'Kun minallahi 'ala hadzar' (Waspadalah/berhati-hatilah terhadap Allah). Dan pada cincin Al-Hasan al-Bashri'La ilaha illallah al-Malikul Haqqul Mubin' (Tiada Ilahi selain Allah, Penguasa yang Maha Benar lagi Maha Nyata), dan ini telah disebutkan sebelumnya.

Pada cincin An-Nakha'i'Nahnu billahi wa lahu' (Kita milik Allah dan bersama Allah). Pada cincin Asy-Sya'bi'Allahu waliyyul khalq' (Allah adalah pelindung makhluk). Pada cincin Thawus'A'budullaha mukhlishan' (Aku menyembah Allah dengan ikhlas). Pada cincin Az-Zuhri'Muhammadun yas'alullaha al-'afiyah' (Muhammad memohon keselamatan kepada Allah). Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah.

Pada cincin Hisyam bin Urwah'Rabbi zidni 'ilman' (Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku). Pada cincin Malik bin Anas'Hasbunallahu wa ni'mal wakil' (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung). Ukiran mata cincin An-Nu'man Abu Hanifah adalah: 'Qul al-khaira wa illa faltaskut' (Katakanlah yang baik atau diamlah). Ukiran cincin Abu Yusuf'Man 'amila bira'yihi nadima' (Siapa yang bertindak hanya berdasarkan pendapatnya sendiri, ia akan menyesal). Ukiran Muhammad bin (Asy-Syaibani)... Pada cincin Asy-Syafi'i'Allahu thiqatu Muhammad bin Idris' (Allah adalah kepercayaan Muhammad bin Idris). Pada cincin Ar-Rabi' bin Sulaiman'Allahu thiqatu Ar-Rabi' bin Sulaiman'.

Adapun ukiran cincin Abu Mushir adalah: 'Abramta faqum' (Engkau sudah membosankan/mengganggu, maka berdirilah/pergilah). Jika ia merasa berat (terganggu) dengan kehadiran seseorang, ia akan mengecapkan cincin itu pada segumpal tanah liat lalu melemparkannya kepada orang tersebut, sehingga orang itu membacanya (dan segera pergi).

Abu Nu'aim meriwayatkan dalam al-Hilyah melalui jalur Ibnu Aisyah dari ayahnya, ia berkata: Sampai kabar kepada Umar bin Abdul Aziz r.a. bahwa salah seorang putranya membeli mata cincin seharga seribu dirham. Maka Umar menulis surat kepadanya: 'Aku perintahkan dengan tegas kepadamu agar engkau menjual mata cincin seharga seribu dirham itu dan menyedekahkan uangnya, lalu belilah mata cincin seharga satu dirham dan ukirlah di atasnya: 'Rahimallahu amra'an 'arafa qadrah' (Semoga Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar/kemampuan dirinya).'

Dari Al-Auza'i, ia berkata: Seseorang mengukir (sesuatu yang tidak pantas) pada cincin Umar bin Abdul Aziz, maka Umar menahannya selama lima belas malam, kemudian melepaskannya. Sebagian orang arif (ahli makrifat) mengukir pada cincinnya: 'Mungkin saja matamu tak lagi berkedip, sementara engkau sibuk mengumpulkan harta untuk masa depan (zaman)'. Dan sebagian lagi mengukir pada cincinnya: 'Sungguh, seseorang yang dunianya menjadi obsesi terbesarnya, berarti ia sedang berpegang pada tali tipu daya'."

 

Sabarlah Atas Cercaan Dan Maafkanlah


 


Sabarlah Atas Cercaan Dan Maafkanlah


١٢٠ - حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ إِسْحَاقَ، عَنِ الْمُبَارَكِ بْنِ فَضَالَةَ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: " سَبَّ رَجُلٌ رَجُلًا مِنَ الصَّدْرِ الْأَوَّلِ، فَقَامَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَمْسَحُ الْعَرَقَ عَنْ وَجْهِهِ، وَهُوَ يَتْلُو: {وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ} [الشورى: ٤٣] ".
١٢١ - قَالَ الْحَسَنُ: «عَقَلَهَا وَاللَّهِ وَفَهَمَهَا إِذْ ضَيَّعَهَا الْجَاهِلُونَ»
كتاب الصبر والثواب عليه لابن أبي الدنيا ص ٨٧ - ابن أبي الدنيا

120 - Telah menceritakan kepadaku Ali bin Al-Hasan, dari Yahya bin Ishaq, dari Al-Mubarak bin Fadhalah, dari Al-Hasan, ia berkata: "Seorang laki-laki mencaci maki seorang laki-laki dari kalangan generasi al-awwal (generasi pertama umat ini), maka laki-laki itu berdiri sambil mengusap keringat dari wajahnya, dan ia membaca:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ۝٤٣

'Dan barangsiapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan (perbuatan) yang mulia.' (QS. Al-Syura: 43)."

121 - Al-Hasan berkata: "Ia telah memahami dan mengamalkan (ayat) itu, demi Allah, ketika orang-orang yang bodoh telah mengabaikannya (menyia-nyiakannya)."

📚 Kitab Al-Sabr wa Al-Tsawab 'Alaiah, Ibn Abi Al-Dunia, hal. 87

Kita boleh membela diri ketika dizholimi ataupun membalas kezhaliman dengan semisal (qishash), tetapi bersabar dan memaafkan itu termasuk perbuatan mulia yang lebih utama..

Bersyukur Atas Kematian Ahlul Ahwa' Yang Zhalim Tanpa Harus Mendoakan Kuburukan

Bersyukur Atas Kematian Ahlul Ahwa' Yang Zhalim Tanpa Harus Mendoakan Kuburukan Bersyukur atas kematiaan tokoh ahlul ahwa' (pengik...