Kamis, 29 Januari 2026

Allah Ta'ala Ingin Mendengar Pengaduan, Rintihan dan Doa Hamba-Nya



Allah Ta'ala Ingin Mendengar Pengaduan, Rintihan dan Doa Hamba-Nya


قال ابن القيم رحمه الله : والله تعالى يبتلى عبده ليسمع شكواه وتضرعه ودعاءه وقد ذم سبحانه من لم يتضرع اليه ولم يستكن له وقت البلاء كما قال تعالى: {ولقد أخذناهم بالعذاب فما استكانوا لربهم وما يتضرعون} والعبد أضعف من أن يتجلد على ربه والرب تعالى لم يرد من عبده أن يتجلد عليه بل أراد منه أن يستكين له ويتضرع اليه وهو تعالى يمقت من يشكوه إلى خلقه ويحب من يشكو ما به اليه وقيل لبعضهم كيف تشتكى اليه ما ليس يخفي عليه فقال ربى يرضى ذل العبد اليه.
كتاب عدة الصابرين وذخيرة الشاكرين  ص ٣٦ - ط دار ابن كثير - ابن القيم


Di dalam kitab ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin (عُدَّةُ الصَّابِرِينَ وَذَخِيرَةُ الشَّاكِرِينَ) hal. 36, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata :

"Allah Ta'ala menguji hamba-Nya semata-mata agar Dia mendengar rintihan (pengaduan), kerendahan hati, dan doa hamba tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mencela orang yang tidak mau merendahkan diri dan tidak tunduk kepada-Nya di saat tertimpa bala (ujian), sebagaimana firman-Nya: 'Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon dengan merendahkan diri' (QS. Al-Mu'minun: 76).

Seorang hamba terlalu lemah untuk bersikap angker (berlagak kuat/menahan diri) di hadapan Rabb-nya, dan Allah Ta'ala pun tidak menginginkan hamba-Nya berlagak kuat di hadapan-Nya. Sebaliknya, Allah ingin agar hamba tersebut tunduk dan bersimpuh memohon kepada-Nya.

Allah Ta'ala membenci orang yang mengadukan-Nya kepada makhluk-Nya, namun Dia mencintai orang yang mengadukan kesedihannya hanya kepada-Nya. Pernah dikatakan kepada sebagian ulama: 'Bagaimana mungkin engkau mengadukan kepada-Nya sesuatu yang sebenarnya tidak tersembunyi bagi-Nya?' Maka ia menjawab: 'Rabb-ku ridha melihat kehinaan (ketundukan) hamba di hadapan-Nya.'"

Selasa, 27 Januari 2026

Hendaknya Kita Selektif Dalam Pertemuan ( Pergaulan ) dengan Manusia


 


Hendaknya Kita Selektif Dalam Pertemuan ( Pergaulan ) dengan Manusia


وَمِنْ نَظمِ الحُمَيْدِيّ:

لِقَاءُ النَّاسِ لَيْسَ يُفِيْدُ شَيْئاً ... سِوَى الهَذَيَانِ مِنْ قِيْلٍ وَقَالِ

فَأَقْلِلْ مِنْ لِقَاءِ النَّاسِ إِلاَّ ... لأَخْذِ العِلْمِ أَوْ إِصْلاَحِ حَالِ

كتاب سير أعلام النبلاء  ج ١٩ ص ١٢٧  - ط الرسالة -  شمس الدين الذهبي

Dan di antara syair-syair Al-Humaidi :

"Bertemu dengan manusia (terlalu sering) tidaklah memberi manfaat apa pun,
selain racauan (omong kosong) dari desas-desus (katanya dan katanya).
Maka sedikitkanlah bertemu manusia, kecuali...
untuk mengambil ilmu atau memperbaiki keadaan (urusan dunia/akhirat)."

📚 Siyar A'lam An-Nubala', jilid 19, halaman 127, karya Syamsuddin Adz-Dzahabi

Penjelasan Singkat : Al-Humaidi rahimahullah menasihati agar kita selektif dalam bergaul. Jika pertemuan tidak mengandung unsur pendidikan (ilmu) atau perbaikan diri (ishlah), maka menyendiri lebih baik agar terhindar dari ghibah dan perkataan sia-sia.

Jumat, 23 Januari 2026

QS. Al-Fatihah - Surat Makkiyah 7 Ayat "A'zhom Suroh" ( Surat Paling Agung )



QS. Al-Fatihah - Surat Makkiyah 7 Ayat
"A'zhom Suroh" ( Surat Paling Agung )


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۝١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ۝٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ۝٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ۝٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ۝٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ۝٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ۝٧

Terjemahan Makna Ayat  1-7 :
1. Dengan nama Allah Ar-Rohman (Yang Maha Pengasih), Ar-Rohim (Maha Penyayang).
2. Segala puji bagi Allah, Rabbul-'Alamin (Tuhan seluruh alam),
3. Ar-Rohman (Yang Maha Pengasih), Ar-Rohim (Maha Penyayang),
4. Pemilik hari pembalasan.
5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

✍🏼 Siapakah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah? Di dalam ayat yang lain disebutkan bahwa mereka ini adalah para nabi, orang-orang yang shiddiq (jujur keimanannya dan benar), para syuhada' (yang mati syahid) dan orang-orang sholih.
Sedangkan orang-orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya. 
 

Selasa, 20 Januari 2026

Melatih Diri Ibadah Di Bulan Sya'ban Untuk Persiapan Menyambut Bulan Romadhon




Melatih Diri Ibadah Di Bulan Sya'ban Untuk Persiapan Menyambut Bulan Romadhon


Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah di kitab Latha'iful Ma'arif mengatakan,

ولما كان شعبان كالمقدمة لرمضان شرع فيه ما يشرع في رمضان من الصيام وقراءة القرآن ليحصل التأهب لتلقي رمضان وترتاض النفوس بذلك على طاعة الرحمن روينا بإسناد ضعيف عن أنس قال: كان المسلمون إذا دخل شعبان انكبوا على المصاحف فقرؤها وأخرجوا زكاة أموالهم تقوية للضعيف والمسكين على صيام رمضان وقال سلمة بن كهيل: كان يقال شهر شعبان شهر القراء وكان حبيب بن أبي ثابت إذا دخل شعبان قال: هذا شهر القراء وكان عمرو بن قيس الملائي إذا دخل شعبان أغلق حانوته وتفرغ لقراءة القرآن قال الحسن بن سهل: قال شعبان: يا رب جعلتني بين شهرين عظيمين فما لي؟ قال: جعلت فيك قراءة القرآن يا من فرط في الأوقات الشريفة وضيعها وأودعها الأعمال السيئة وبئس ما استودعها
كتاب لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف ص ١٣٥  - ط ابن حزم - ابن رجب الحنبلي


"Tatkala (bulan) Sya'ban ibarat muqadimah (pembukaan) bagi (bulan) Ramadhan, maka di bulan tersebut disyariatkan apa yang disyariatkan di bulan Ramadhan, seperti puasa dan membaca Al-Qur'an. Hal ini bertujuan agar seseorang memiliki kesiapan untuk menyambut Ramadhan dan jiwa pun terlatih untuk melakukan ketaatan kepada Ar-Rahman (Allah).

Diriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Anas, ia berkata: "Kaum muslimin saat memasuki bulan Sya'ban, mereka menyibukkan diri dengan mushaf-mushaf (Al-Qur'an) lalu membacanya, dan mereka mengeluarkan zakat harta mereka untuk memperkuat kaum yang lemah dan miskin dalam melaksanakan puasa Ramadhan."

Salamah bin Kuhail berkata: "Dulu dikatakan bahwa bulan Sya'ban adalah bulannya para pembaca Al-Qur'an". Habib bin Abi Tsabit juga berkata ketika memasuki bulan Sya'ban: "Inilah bulannya para pembaca Al-Qur'an'. Demikian pula Amr bin Qais Al-Mula'i, jika memasuki bulan Sya'ban, ia akan menutup tokonya dan memfokuskan diri untuk membaca Al-Qur'an."

Al-Hasan bin Sahl berkata: "Sya'ban mengadu (kepada Allah): Wahai Tuhanku, Engkau menjadikanku di antara dua bulan yang agung (Rajab dan Ramadhan), lalu apa bagianku? Allah berfirman: Aku menjadikan membaca Al-Qur'an ada di dalammu'."

"Wahai orang yang telah menyia-nyiakan waktu-waktu yang mulia, menghilangkannya, dan justru mengisinya dengan amal-amal buruk, sungguh buruk apa yang telah engkau titipkan (di waktu tersebut)."

📚  Latha'iful Ma'arif, hal. 135 karya Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah



Selasa, 01 Sya'ban 1447 H ( 20-01-2026 )

Siapakah Yang Dimaksud Tetangga Masjid ?


 


Siapakah Yang Dimaksud Tetangga Masjid ?


Tetangga masjid adalah istilah dalam fiqih Islam untuk menyebut orang-orang yang tinggal di sekitar bangunan masjid. Istilah ini sering dibahas dalam kaitannya dengan keutamaan dan kewajiban melaksanakan salat berjamaah di masjid. 

Berdasarkan pendapat para ulama, seseorang dapat dikategorikan sebagai tetangga masjid jika memenuhi salah satu kriteria berikut: 

🔸 Jarak Pendengaran Adzan: Berdasarkan pendapat sebagian ahli tafsir, mereka yang tinggal di area yang masih dapat mendengar suara adzan (tanpa pengeras suara dalam kondisi normal) dianggap sebagai tetangga masjid. Mereka inilah yang punya kewajiban sholat berjamaah di masjid.

🔸 Radius Rumah: Sebagian ulama menetapkan batasan tetangga adalah hingga 40 rumah dari segala arah (kanan, kiri, depan, belakang) dari lokasi masjid. Sebagaimana istilah tetangga rumah, Ibnu Rojab rahimahullah di kitab Jami'ul 'Ulum Wal-Hikam menyebutkan :

وقال طائفة من السلف: حَدُّ الجوارِ أربعون دارًا، وقيل: مستدار أربعين دارًا من كلِّ جانب.
وفي مراسيل الزهري: أن رجلًا أتى النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - يشكو جارًا له، فأمر النبيُّ - صلى الله عليه وسلم - بعضَ أصحابه أن ينادي: "ألا إنَّ أربعين دارًا جار". (كتاب جامع العلوم والحكم ج ١ ص ٣٤٧ - ت الأرنؤوط - ابن رجب الحنبلي)

"Sekelompok ulama Salaf berkata: Batasan tetangga adalah empat puluh rumah. Ada pula yang berpendapat: (ukurannya adalah) sekeliling empat puluh rumah dari setiap sisi.
Dan dalam riwayat Mursal Az-Zuhri disebutkan: Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ mengadukan tetangganya, maka Nabi ﷺ memerintahkan sebagian shahabatnya untuk menyerukan: 'Ketahuilah, sesungguhnya empat puluh rumah itu adalah tetangga'."

🔸 Kedekatan Fisik: Orang yang rumahnya berada tepat di samping atau sangat dekat dengan bangunan masjid. 

Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Jangan Jadikan Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Di Masjid


 


Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Jangan Jadikan Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Di Masjid

Sholat Berjamaah Hukum Asalnya Wajib, Sedang Sholat Berjamaah di Masjid Hukum Asalnya Fardhu Kifayah ( Wajib Bagi Tetangga Masjid )

Kaum muslimin disyariatkan mengerjakan sholat secara berjama'ah. Baik ketika muqim, safar ataupun dalam keadaan perang sekalipun. Di masjid, rumah, pasar, kebun ataupun di mana kita sedang berada ketika datang waktu sholat. Allah Ta'ala berkalam :

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ۝٤٣

"Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah : 43)

Adapun hukum asal sholat berjamaah di masjid adalah fardhu kifayah (wajib bagi tetangga masjid dan sunnah muakkadah bagi selain tetangga masjid). Sebagaimana kebanyakan pendapat madzhab Syafi'i.

Sebagian madzhab mewajibkan sholat berjama'ah di masjid dengan berhujjah sebuah hadits :

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «من سمِع النِّدَاء فلم يَأتِه؛ فلا صلاة له إلا من عُذْر».  (صحيح - رواه ابن ماجه)

Dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali karena uzur."  (Shahih- HR. Ibnu Mājah)

Maka ketahuilah hadits tersebut bukan dalil wajibnya sholat berjama'ah di masjid. Adzan disyariatkan di mana pun kita berada sekalipun di situ tidak ada bangunan masjid. Terlebih adzan itu justru disyariatkan di luar masjid dan bukan di dalam masjid. Kemudian faktanya Nabi ﷺ dan para Shahabat mengerjakan sholat berjama'ah bukan hanya di masjid.

Adzan di dalam masjid itu termasuk perkara bid'ah dan menyelisihi pengamalan Salafush-Sholih.

Sabtu, 17 Januari 2026

Apa Itu Bid'ah Dalam Islam ?






Apa Itu Bid'ah Dalam Islam ?
ما هي البدعة في الإسلام ؟

Bid'ah Secara Bahasa

Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam kalam Allah Ta’ala,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah [2] : 117, Al An’am [6] : 101), maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya. Juga kalam-Nya,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46] : 9) , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. (Lihat Lisanul ‘Arob, 8/6)

Bid'ah Secara Istilah

🔸 Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. mengatakan :

فَالْبِدْعَةُ إِذَنْ عِبَارَةٌ عَنْ: طَرِيقَةٍ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٍ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ.
وَهَذَا عَلَى رَأْيِ مَنْ لَا يُدْخِلُ الْعَادَاتِ فِي مَعْنَى الْبِدْعَةِ، وَإِنَّمَا يَخُصُّهَا بِالْعِبَادَاتِ، وَأَمَّا عَلَى رَأْيِ مَنْ أَدْخَلَ الْأَعْمَالَ الْعَادِيَّةَ فِي مَعْنَى الْبِدْعَةِ، فَيَقُولُ:
الْبِدْعَةُ: طَرِيقَةٌ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٌ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ، يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيقَةِ الشَّرْعِيَّةِ.
كتاب الاعتصام للشاطبي ت الهلالي ج ١ ص ٥٠-٥١

"Bid'ah secara istilah adalah: Suatu jalan/metode dalam agama yang diada-adakan (dibuat-buat tanpa dalil), yang menyerupai syariat, dengan tujuan melakukannya untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Definisi ini berlaku bagi mereka yang tidak memasukkan urusan adat (kebiasaan duniawi) ke dalam makna bid'ah, melainkan mengkhususkan bid'ah hanya pada urusan ibadah saja.
Adapun menurut pendapat mereka yang memasukkan perbuatan adat ke dalam makna bid'ah, maka mereka mendefinisikannya sebagai:
Bid'ah adalah suatu jalan dalam agama yang diada-adakan, yang menyerupai syariat, yang mana tujuan melakukannya adalah sama dengan tujuan dilakukannya jalan syariat (yaitu mendekatkan diri kepada Allah)."
(Kitab Al-I'tisham karya Imam Asy-Syathibi, Tahqiq Al-Hilali, Jilid 1, Hal. 50-51)

🔸 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

"وَالْبِدْعَةُ: مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ."
من كتاب: مجموع الفتاوى ١٨\٣٤٦

“Bid’ah adalah sesuatu yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) Salaful-Ummah.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346)

🔸 Ibnu Rajab al-Hanbali :

والمراد بالبدعة: ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشرع يدلُّ عليه، فليس ببدعةٍ شرعًا، وإن كان بدعةً لغةً (كتاب جامع العلوم والحكم ج ٢ ص ١٢٧ - ت الأرنؤوط - ابن رجب الحنبلي)

Yang dimaksud dengan bid’ah adalah: Sesuatu yang baru diada-adakan yang tidak memiliki dasar dalam syariat yang melandasinya. Adapun sesuatu yang memiliki dasar dari syariat yang melandasinya, maka itu bukanlah bid’ah secara syara’ (terminologi agama), meskipun secara bahasa (etimologi) disebut sebagai bid’ah."
(Kitab Jami'ul Ulum wal Hikam, Juz 2, Hal. 127 - Tahqiq Al-Arna'uth - Ibnu Rajab Al-Hanbali)


Hadits Nabi ﷺ dan Kalam Salafush-Sholih Tentang Amalan Bid'ah

Para Salafus-Shalih memberikan perhatian besar dalam menjaga kemurnian syariat dari bid’ah (perkara baru dalam agama).

1. Rasulullah Muhammad

 أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كان يقولُ في خطبتِه يومَ الجمعةِ : أما بعدُ، فإن خيرَ الحديثِ كتابُ اللهِ وخيرَ الهديِ هديُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وشرَّ الأمورِ محدثاتُها وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ

Bahwa Nabi ﷺ dalam khutbah Jumatnya biasa mengucapkan: "Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur'an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk urusan adalah umural muhdatsat  perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Muslim)

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري ومسلم) وَ فِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Dari Ummul-Mu’minin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah Radhiyallahu anha ia berkata: Rasulullah telah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-ngada (mensyari'atkankan) perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits riwayat Muslim: Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”.

2. Abdullah bin Mas’ud radhiyaallahu 'anhu

اتَّبِعُوا وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ

"Ikutilah (petunjuk Nabi) dan janganlah kalian berbuat bid'ah (perkara baru dalam agama), karena sungguh kalian telah dicukupi (dengan syariat yang ada)." 
(Riwayat Al-Waki' dalam Az-Zuhd, no. 315 dan Ad-Darimi dalam Sunannya, no. 211)

3. Abdullah bin Umar radhiyaallahu 'anhuma

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

"Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya sebagai suatu kebaikan."
(Diriwayatkan oleh Al-Lalaka’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, no. 126)

4. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah

"قِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، فَإِنَّهُمْ عَنْ عِلْمٍ وَقَفُوا، وَبِبَصَرٍ نَافِذٍ كَفُّوا"

"Berhentilah kamu di mana kaum itu (para shahabat) berhenti. Sebab mereka berhenti berdasarkan ilmu, dan dengan pandangan yang tajam mereka menahan diri." (Diriwayatkan dalam kitab As-Sunnah oleh Abu Dawud, dan juga dalam sumber-sumber lain seperti Tarikh Dimasyq oleh Ibnu Asakir).

5. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا

"Bid’ah lebih dicintai Iblis daripada maksiat. Pelaku maksiat (lebih mudah) bertaubat, sedangkan pelaku bid’ah (sulit) bertaubat (karena merasa benar)."
(Riwayat Al-Lalaka’i dalam Syarh Ushul I’tiqad, no. 238)

6. Imam Malik bin Anas rahimahullah

مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا

"Barangsiapa membuat bid’ah dalam Islam dan menganggapnya baik, maka ia telah menuduh Muhammad mengkhianati risalah. Karena Allah berfirman: 'Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu'. Maka apa yang pada hari itu bukan bagian dari agama, maka hari ini pun bukan bagian dari agama." (Dinukil oleh Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tishom)


Kalam Imam Asy-Syafi’i rahimahullah Bahwa Al-Muhdatsat Terbagi 2 Yaitu Bid'ah Dholalah dan Muhdatsah Ghoiru Madzmumah

وقد روى الحافظ أبو نعيم (في "الحلية" ٩/ ١) بإسناده عن إبراهيم بن الجنيد، [حدثنا حرملة بن يحيى] قال: سمعتُ الشافعي رحمة الله عليه يقول: البدعة بدعتان: بدعةٌ محمودةٌ، وبدعة مذمومةٌ، فما وافق السنة، فهو محمودٌ وما خالف السنة، فهو مذمومٌ. واحتجّ بقول عمر: نعمت البدعة هي.
ومراد الشافعي رحمه الله ما ذكرناه مِنْ قبلُ: أن البدعة المذمومة ما ليس لها أصل من الشريعة يُرجع إليه، وهي البدعةُ في إطلاق الشرع، وأما البدعة المحمودة فما وافق السنة، يعني: ما كان لها أصل مِنَ السنة يُرجع إليه، وإنما هي بدعةٌ لغةً لا شرعًا، لموافقتها السنة.
وقد روي عَنِ الشَّافعي كلام آخر يفسِّرُ هذا، وأنَّه قال: والمحدثات ضربان: ما أُحدِث مما يُخالف كتابًا، أو سنة، أو أثرًا، أو إجماعًا، فهذه البدعة الضلال، وما أُحدِث مِنَ الخير، لا خِلافَ فيه لواحدٍ مِنْ هذا، وهذه محدثة غيرُ مذمومة (صحيح، رواه البيهقي في "مناقب الشافعي" ١/ ٤٦٩.).
كتاب جامع العلوم والحكم ج ٢ ص ١٣١ - ت الأرنؤوط - ابن رجب الحنبلي

"Al-Hafiz Abu Nu’aim meriwayatkan (dalam kitab Al-Hilyah 9/1) dengan sanadnya dari Ibrahim bin al-Junid, [Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami], ia berkata: Saya mendengar Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: 'Bid’ah itu ada dua macam: bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Apa saja yang sesuai dengan sunnah, maka itu terpuji, dan apa saja yang menyalahi sunnah, maka itu tercela.' Beliau berhujjah dengan perkataan Umar (bin Khattab): 'Sebaik-baik bid’ah adalah ini (shalat tarawih berjamaah).'

Maksud perkataan Asy-Syafi'i rahimahullah adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya:
Bahwa bid’ah madzmumah (tercela) adalah apa yang tidak memiliki dasar dalam syariat untuk dijadikan rujukan, dan inilah yang disebut bid’ah secara terminologi syariat (itlaqus syar'i). Adapun bid’ah mahmudah (terpuji) adalah apa yang sesuai dengan sunnah, yakni yang memiliki landasan asal dari sunnah untuk dijadikan rujukan. Hal itu disebut bid’ah secara bahasa saja (lughatan), bukan secara syariat, karena kesesuaiannya dengan sunnah.

Telah diriwayatkan pula dari Asy-Syafi'i perkataan lain yang menafsirkan hal ini, beliau berkata:
'Al-Muhdatsat (perkara-perkara baru) itu ada dua jenis: (pertama) perkara baru yang menyelisihi Al-Qur'an, Sunnah, Atsar, atau Ijma' (kesepakatan ulama Ahlus-Sunnah), maka ini adalah bid’ah dhalalah (bid'ah yang sesat). (Kedua) Apa saja yang diada-adakan dari kebaikan yang tidak menyelisihi satu pun dari hal-hal tersebut, maka ini adalah muhdatsah ghoiru madzmumah (perkara baru yang tidak tercela)." (Shahih, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi'i 1/469)."

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...