Jumat, 30 Januari 2026

Tahaddi Bagi Siapa Saja Yang Meragukan Keilahian الله dan Kebenaran Al-Qur'an


 

Tahaddi Bagi Siapa Saja Yang Meragukan Keilahian الله dan Kebenaran Al-Qur'an


1⃣ Al-Qur'an kalam Allah termasuk salah satu bukti adanya Allah. Al-Qur'an kandungan isinya sangat agung, berisi petunjuk al-haqq, bisa untuk ruqyah mengobati penyakit hati dan badan, lebih indah daripada syair serta mudah dihafal. Al-Qur'an sendiri menyatakan bahwa ia adalah wahyu dari Allah, dan menantang manusia untuk membuatnya.

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝٢٣

"Dan jika kalian meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar." (QS. Al-Baqarah : 23).
Silahkan buat 1 surat yang bisa mengalahkan surat Al-Fatihah!

2⃣ Mubahalah bentuk tahaddi untuk konfirmasi kebenaran, yaitu tantangan untuk saling mendoakan keburukan bagi pihak yang salah. Sebagaimana pada surah Ali 'Imran : 61.

3⃣ Ka'bah memiliki Rabb yang senantiasa akan menjaganya dari apapun yang akan musuh perbuat terhadapnya. Allah Ta’ala berkalam :

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَۗ ۝٣٥

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala." (QS. Ibrahim : 35)
✍🏻 Dan sudah tercatat sejarah bahwa kota suci Yahudi dan Nashrani pernah dikuasai kaum muslimin. Dan di akhir zaman kelak Baitul Maqdis insya Allah akan kembali dikuasai lagi kaum muslimin. Sebagaimana dikabarkan Nabi. Silahkan buktikan rebut kota suci Makkah yang disitu terdapat Ka'bah sebagai qiblat. Apa kalian mampu???

Tantangan-tantangan ini merupakan bukti bahwa Islam berdiri di atas landasan burhan (bukti nyata), bukan sekadar klaim kosong.

تِلْكَ اَمَانِيُّهُمْۗ قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝١١١ ( البقرة : ١١١ )


Kamis, 29 Januari 2026

Allah Ta'ala Ingin Mendengar Pengaduan, Rintihan dan Doa Hamba-Nya



Allah Ta'ala Ingin Mendengar Pengaduan, Rintihan dan Doa Hamba-Nya


قال ابن القيم رحمه الله : والله تعالى يبتلى عبده ليسمع شكواه وتضرعه ودعاءه وقد ذم سبحانه من لم يتضرع اليه ولم يستكن له وقت البلاء كما قال تعالى: {ولقد أخذناهم بالعذاب فما استكانوا لربهم وما يتضرعون} والعبد أضعف من أن يتجلد على ربه والرب تعالى لم يرد من عبده أن يتجلد عليه بل أراد منه أن يستكين له ويتضرع اليه وهو تعالى يمقت من يشكوه إلى خلقه ويحب من يشكو ما به اليه وقيل لبعضهم كيف تشتكى اليه ما ليس يخفي عليه فقال ربى يرضى ذل العبد اليه.
كتاب عدة الصابرين وذخيرة الشاكرين  ص ٣٦ - ط دار ابن كثير - ابن القيم


Di dalam kitab ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin (عُدَّةُ الصَّابِرِينَ وَذَخِيرَةُ الشَّاكِرِينَ) hal. 36, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata :

"Allah Ta'ala menguji hamba-Nya semata-mata agar Dia mendengar rintihan (pengaduan), kerendahan hati, dan doa hamba tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mencela orang yang tidak mau merendahkan diri dan tidak tunduk kepada-Nya di saat tertimpa bala (ujian), sebagaimana firman-Nya: 'Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon dengan merendahkan diri' (QS. Al-Mu'minun: 76).

Seorang hamba terlalu lemah untuk bersikap angker (berlagak kuat/menahan diri) di hadapan Rabb-nya, dan Allah Ta'ala pun tidak menginginkan hamba-Nya berlagak kuat di hadapan-Nya. Sebaliknya, Allah ingin agar hamba tersebut tunduk dan bersimpuh memohon kepada-Nya.

Allah Ta'ala membenci orang yang mengadukan-Nya kepada makhluk-Nya, namun Dia mencintai orang yang mengadukan kesedihannya hanya kepada-Nya. Pernah dikatakan kepada sebagian ulama: 'Bagaimana mungkin engkau mengadukan kepada-Nya sesuatu yang sebenarnya tidak tersembunyi bagi-Nya?' Maka ia menjawab: 'Rabb-ku ridha melihat kehinaan (ketundukan) hamba di hadapan-Nya.'"

Selasa, 27 Januari 2026

Hendaknya Kita Selektif Dalam Pertemuan ( Pergaulan ) dengan Manusia


 


Hendaknya Kita Selektif Dalam Pertemuan ( Pergaulan ) dengan Manusia


وَمِنْ نَظمِ الحُمَيْدِيّ:

لِقَاءُ النَّاسِ لَيْسَ يُفِيْدُ شَيْئاً ... سِوَى الهَذَيَانِ مِنْ قِيْلٍ وَقَالِ

فَأَقْلِلْ مِنْ لِقَاءِ النَّاسِ إِلاَّ ... لأَخْذِ العِلْمِ أَوْ إِصْلاَحِ حَالِ

كتاب سير أعلام النبلاء  ج ١٩ ص ١٢٧  - ط الرسالة -  شمس الدين الذهبي

Dan di antara syair-syair Al-Humaidi :

"Bertemu dengan manusia (terlalu sering) tidaklah memberi manfaat apa pun,
selain racauan (omong kosong) dari desas-desus (katanya dan katanya).
Maka sedikitkanlah bertemu manusia, kecuali...
untuk mengambil ilmu atau memperbaiki keadaan (urusan dunia/akhirat)."

📚 Siyar A'lam An-Nubala', jilid 19, halaman 127, karya Syamsuddin Adz-Dzahabi

Penjelasan Singkat : Al-Humaidi rahimahullah menasihati agar kita selektif dalam bergaul. Jika pertemuan tidak mengandung unsur pendidikan (ilmu) atau perbaikan diri (ishlah), maka menyendiri lebih baik agar terhindar dari ghibah dan perkataan sia-sia.

Jumat, 23 Januari 2026

QS. Al-Fatihah - Surat Makkiyah 7 Ayat "A'zhom Suroh" ( Surat Paling Agung )



QS. Al-Fatihah - Surat Makkiyah 7 Ayat
"A'zhom Suroh" ( Surat Paling Agung )


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۝١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ۝٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ۝٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ۝٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ۝٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ۝٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ۝٧

Terjemahan Makna Ayat  1-7 :
1. Dengan nama Allah Ar-Rohman (Yang Maha Pengasih), Ar-Rohim (Maha Penyayang).
2. Segala puji bagi Allah, Rabbul-'Alamin (Tuhan seluruh alam),
3. Ar-Rohman (Yang Maha Pengasih), Ar-Rohim (Maha Penyayang),
4. Pemilik hari pembalasan.
5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

✍🏼 Siapakah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah? Di dalam ayat yang lain disebutkan bahwa mereka ini adalah para nabi, orang-orang yang shiddiq (jujur keimanannya dan benar), para syuhada' (yang mati syahid) dan orang-orang sholih.
Sedangkan orang-orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya. 
 

Selasa, 20 Januari 2026

Melatih Diri Ibadah Di Bulan Sya'ban Untuk Persiapan Menyambut Bulan Romadhon




Melatih Diri Ibadah Di Bulan Sya'ban Untuk Persiapan Menyambut Bulan Romadhon


Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah di kitab Latha'iful Ma'arif mengatakan,

ولما كان شعبان كالمقدمة لرمضان شرع فيه ما يشرع في رمضان من الصيام وقراءة القرآن ليحصل التأهب لتلقي رمضان وترتاض النفوس بذلك على طاعة الرحمن روينا بإسناد ضعيف عن أنس قال: كان المسلمون إذا دخل شعبان انكبوا على المصاحف فقرؤها وأخرجوا زكاة أموالهم تقوية للضعيف والمسكين على صيام رمضان وقال سلمة بن كهيل: كان يقال شهر شعبان شهر القراء وكان حبيب بن أبي ثابت إذا دخل شعبان قال: هذا شهر القراء وكان عمرو بن قيس الملائي إذا دخل شعبان أغلق حانوته وتفرغ لقراءة القرآن قال الحسن بن سهل: قال شعبان: يا رب جعلتني بين شهرين عظيمين فما لي؟ قال: جعلت فيك قراءة القرآن يا من فرط في الأوقات الشريفة وضيعها وأودعها الأعمال السيئة وبئس ما استودعها
كتاب لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف ص ١٣٥  - ط ابن حزم - ابن رجب الحنبلي


"Tatkala (bulan) Sya'ban ibarat muqadimah (pembukaan) bagi (bulan) Ramadhan, maka di bulan tersebut disyariatkan apa yang disyariatkan di bulan Ramadhan, seperti puasa dan membaca Al-Qur'an. Hal ini bertujuan agar seseorang memiliki kesiapan untuk menyambut Ramadhan dan jiwa pun terlatih untuk melakukan ketaatan kepada Ar-Rahman (Allah).

Diriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Anas, ia berkata: "Kaum muslimin saat memasuki bulan Sya'ban, mereka menyibukkan diri dengan mushaf-mushaf (Al-Qur'an) lalu membacanya, dan mereka mengeluarkan zakat harta mereka untuk memperkuat kaum yang lemah dan miskin dalam melaksanakan puasa Ramadhan."

Salamah bin Kuhail berkata: "Dulu dikatakan bahwa bulan Sya'ban adalah bulannya para pembaca Al-Qur'an". Habib bin Abi Tsabit juga berkata ketika memasuki bulan Sya'ban: "Inilah bulannya para pembaca Al-Qur'an'. Demikian pula Amr bin Qais Al-Mula'i, jika memasuki bulan Sya'ban, ia akan menutup tokonya dan memfokuskan diri untuk membaca Al-Qur'an."

Al-Hasan bin Sahl berkata: "Sya'ban mengadu (kepada Allah): Wahai Tuhanku, Engkau menjadikanku di antara dua bulan yang agung (Rajab dan Ramadhan), lalu apa bagianku? Allah berfirman: Aku menjadikan membaca Al-Qur'an ada di dalammu'."

"Wahai orang yang telah menyia-nyiakan waktu-waktu yang mulia, menghilangkannya, dan justru mengisinya dengan amal-amal buruk, sungguh buruk apa yang telah engkau titipkan (di waktu tersebut)."

📚  Latha'iful Ma'arif, hal. 135 karya Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah



Selasa, 01 Sya'ban 1447 H ( 20-01-2026 )

Siapakah Yang Dimaksud Tetangga Masjid ?


 


Siapakah Yang Dimaksud Tetangga Masjid ?


Tetangga masjid adalah istilah dalam fiqih Islam untuk menyebut orang-orang yang tinggal di sekitar bangunan masjid. Istilah ini sering dibahas dalam kaitannya dengan keutamaan dan kewajiban melaksanakan salat berjamaah di masjid. 

Berdasarkan pendapat para ulama, seseorang dapat dikategorikan sebagai tetangga masjid jika memenuhi salah satu kriteria berikut: 

🔸 Jarak Pendengaran Adzan: Berdasarkan pendapat sebagian ahli tafsir, mereka yang tinggal di area yang masih dapat mendengar suara adzan (tanpa pengeras suara dalam kondisi normal) dianggap sebagai tetangga masjid. Mereka inilah yang punya kewajiban sholat berjamaah di masjid.

🔸 Radius Rumah: Sebagian ulama menetapkan batasan tetangga adalah hingga 40 rumah dari segala arah (kanan, kiri, depan, belakang) dari lokasi masjid. Sebagaimana istilah tetangga rumah, Ibnu Rojab rahimahullah di kitab Jami'ul 'Ulum Wal-Hikam menyebutkan :

وقال طائفة من السلف: حَدُّ الجوارِ أربعون دارًا، وقيل: مستدار أربعين دارًا من كلِّ جانب.
وفي مراسيل الزهري: أن رجلًا أتى النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - يشكو جارًا له، فأمر النبيُّ - صلى الله عليه وسلم - بعضَ أصحابه أن ينادي: "ألا إنَّ أربعين دارًا جار". (كتاب جامع العلوم والحكم ج ١ ص ٣٤٧ - ت الأرنؤوط - ابن رجب الحنبلي)

"Sekelompok ulama Salaf berkata: Batasan tetangga adalah empat puluh rumah. Ada pula yang berpendapat: (ukurannya adalah) sekeliling empat puluh rumah dari setiap sisi.
Dan dalam riwayat Mursal Az-Zuhri disebutkan: Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ mengadukan tetangganya, maka Nabi ﷺ memerintahkan sebagian shahabatnya untuk menyerukan: 'Ketahuilah, sesungguhnya empat puluh rumah itu adalah tetangga'."

🔸 Kedekatan Fisik: Orang yang rumahnya berada tepat di samping atau sangat dekat dengan bangunan masjid. 

Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Jangan Jadikan Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Di Masjid


 


Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Jangan Jadikan Dalil Wajibnya Sholat Berjama'ah Di Masjid

Sholat Berjamaah Hukum Asalnya Wajib, Sedang Sholat Berjamaah di Masjid Hukum Asalnya Fardhu Kifayah ( Wajib Bagi Tetangga Masjid )

Kaum muslimin disyariatkan mengerjakan sholat secara berjama'ah. Baik ketika muqim, safar ataupun dalam keadaan perang sekalipun. Di masjid, rumah, pasar, kebun ataupun di mana kita sedang berada ketika datang waktu sholat. Allah Ta'ala berkalam :

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ۝٤٣

"Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah : 43)

Adapun hukum asal sholat berjamaah di masjid adalah fardhu kifayah (wajib bagi tetangga masjid dan sunnah muakkadah bagi selain tetangga masjid). Sebagaimana kebanyakan pendapat madzhab Syafi'i.

Sebagian madzhab mewajibkan sholat berjama'ah di masjid dengan berhujjah sebuah hadits :

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «من سمِع النِّدَاء فلم يَأتِه؛ فلا صلاة له إلا من عُذْر».  (صحيح - رواه ابن ماجه)

Dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali karena uzur."  (Shahih- HR. Ibnu Mājah)

Maka ketahuilah hadits tersebut bukan dalil wajibnya sholat berjama'ah di masjid. Adzan disyariatkan di mana pun kita berada sekalipun di situ tidak ada bangunan masjid. Terlebih adzan itu justru disyariatkan di luar masjid dan bukan di dalam masjid. Kemudian faktanya Nabi ﷺ dan para Shahabat mengerjakan sholat berjama'ah bukan hanya di masjid.

Adzan di dalam masjid itu termasuk perkara bid'ah dan menyelisihi pengamalan Salafush-Sholih.

Sabtu, 17 Januari 2026

Apa Itu Bid'ah Dalam Islam ?






Apa Itu Bid'ah Dalam Islam ?
ما هي البدعة في الإسلام ؟

Bid'ah Secara Bahasa

Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam kalam Allah Ta’ala,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah [2] : 117, Al An’am [6] : 101), maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya. Juga kalam-Nya,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46] : 9) , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. (Lihat Lisanul ‘Arob, 8/6)

Bid'ah Secara Istilah

🔸 Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. mengatakan :

فَالْبِدْعَةُ إِذَنْ عِبَارَةٌ عَنْ: طَرِيقَةٍ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٍ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ.
وَهَذَا عَلَى رَأْيِ مَنْ لَا يُدْخِلُ الْعَادَاتِ فِي مَعْنَى الْبِدْعَةِ، وَإِنَّمَا يَخُصُّهَا بِالْعِبَادَاتِ، وَأَمَّا عَلَى رَأْيِ مَنْ أَدْخَلَ الْأَعْمَالَ الْعَادِيَّةَ فِي مَعْنَى الْبِدْعَةِ، فَيَقُولُ:
الْبِدْعَةُ: طَرِيقَةٌ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٌ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ، يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيقَةِ الشَّرْعِيَّةِ.
كتاب الاعتصام للشاطبي ت الهلالي ج ١ ص ٥٠-٥١

"Bid'ah secara istilah adalah: Suatu jalan/metode dalam agama yang diada-adakan (dibuat-buat tanpa dalil), yang menyerupai syariat, dengan tujuan melakukannya untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Definisi ini berlaku bagi mereka yang tidak memasukkan urusan adat (kebiasaan duniawi) ke dalam makna bid'ah, melainkan mengkhususkan bid'ah hanya pada urusan ibadah saja.
Adapun menurut pendapat mereka yang memasukkan perbuatan adat ke dalam makna bid'ah, maka mereka mendefinisikannya sebagai:
Bid'ah adalah suatu jalan dalam agama yang diada-adakan, yang menyerupai syariat, yang mana tujuan melakukannya adalah sama dengan tujuan dilakukannya jalan syariat (yaitu mendekatkan diri kepada Allah)."
(Kitab Al-I'tisham karya Imam Asy-Syathibi, Tahqiq Al-Hilali, Jilid 1, Hal. 50-51)

🔸 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

"وَالْبِدْعَةُ: مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ."
من كتاب: مجموع الفتاوى ١٨\٣٤٦

“Bid’ah adalah sesuatu yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) Salaful-Ummah.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346)

🔸 Ibnu Rajab al-Hanbali :

والمراد بالبدعة: ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشرع يدلُّ عليه، فليس ببدعةٍ شرعًا، وإن كان بدعةً لغةً (كتاب جامع العلوم والحكم ج ٢ ص ١٢٧ - ت الأرنؤوط - ابن رجب الحنبلي)

Yang dimaksud dengan bid’ah adalah: Sesuatu yang baru diada-adakan yang tidak memiliki dasar dalam syariat yang melandasinya. Adapun sesuatu yang memiliki dasar dari syariat yang melandasinya, maka itu bukanlah bid’ah secara syara’ (terminologi agama), meskipun secara bahasa (etimologi) disebut sebagai bid’ah."
(Kitab Jami'ul Ulum wal Hikam, Juz 2, Hal. 127 - Tahqiq Al-Arna'uth - Ibnu Rajab Al-Hanbali)


Hadits Nabi ﷺ dan Kalam Salafush-Sholih Tentang Amalan Bid'ah

Para Salafus-Shalih memberikan perhatian besar dalam menjaga kemurnian syariat dari bid’ah (perkara baru dalam agama).

1. Rasulullah Muhammad

 أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كان يقولُ في خطبتِه يومَ الجمعةِ : أما بعدُ، فإن خيرَ الحديثِ كتابُ اللهِ وخيرَ الهديِ هديُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وشرَّ الأمورِ محدثاتُها وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ

Bahwa Nabi ﷺ dalam khutbah Jumatnya biasa mengucapkan: "Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur'an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk urusan adalah umural muhdatsat  perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Muslim)

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري ومسلم) وَ فِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Dari Ummul-Mu’minin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah Radhiyallahu anha ia berkata: Rasulullah telah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-ngada (mensyari'atkankan) perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits riwayat Muslim: Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”.

2. Abdullah bin Mas’ud radhiyaallahu 'anhu

اتَّبِعُوا وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ

"Ikutilah (petunjuk Nabi) dan janganlah kalian berbuat bid'ah (perkara baru dalam agama), karena sungguh kalian telah dicukupi (dengan syariat yang ada)." 
(Riwayat Al-Waki' dalam Az-Zuhd, no. 315 dan Ad-Darimi dalam Sunannya, no. 211)

3. Abdullah bin Umar radhiyaallahu 'anhuma

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

"Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya sebagai suatu kebaikan."
(Diriwayatkan oleh Al-Lalaka’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, no. 126)

4. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah

"قِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، فَإِنَّهُمْ عَنْ عِلْمٍ وَقَفُوا، وَبِبَصَرٍ نَافِذٍ كَفُّوا"

"Berhentilah kamu di mana kaum itu (para shahabat) berhenti. Sebab mereka berhenti berdasarkan ilmu, dan dengan pandangan yang tajam mereka menahan diri." (Diriwayatkan dalam kitab As-Sunnah oleh Abu Dawud, dan juga dalam sumber-sumber lain seperti Tarikh Dimasyq oleh Ibnu Asakir).

5. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا

"Bid’ah lebih dicintai Iblis daripada maksiat. Pelaku maksiat (lebih mudah) bertaubat, sedangkan pelaku bid’ah (sulit) bertaubat (karena merasa benar)."
(Riwayat Al-Lalaka’i dalam Syarh Ushul I’tiqad, no. 238)

6. Imam Malik bin Anas rahimahullah

مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا

"Barangsiapa membuat bid’ah dalam Islam dan menganggapnya baik, maka ia telah menuduh Muhammad mengkhianati risalah. Karena Allah berfirman: 'Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu'. Maka apa yang pada hari itu bukan bagian dari agama, maka hari ini pun bukan bagian dari agama." (Dinukil oleh Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tishom)


Kalam Imam Asy-Syafi’i rahimahullah Bahwa Al-Muhdatsat Terbagi 2 Yaitu Bid'ah Dholalah dan Muhdatsah Ghoiru Madzmumah

وقد روى الحافظ أبو نعيم (في "الحلية" ٩/ ١) بإسناده عن إبراهيم بن الجنيد، [حدثنا حرملة بن يحيى] قال: سمعتُ الشافعي رحمة الله عليه يقول: البدعة بدعتان: بدعةٌ محمودةٌ، وبدعة مذمومةٌ، فما وافق السنة، فهو محمودٌ وما خالف السنة، فهو مذمومٌ. واحتجّ بقول عمر: نعمت البدعة هي.
ومراد الشافعي رحمه الله ما ذكرناه مِنْ قبلُ: أن البدعة المذمومة ما ليس لها أصل من الشريعة يُرجع إليه، وهي البدعةُ في إطلاق الشرع، وأما البدعة المحمودة فما وافق السنة، يعني: ما كان لها أصل مِنَ السنة يُرجع إليه، وإنما هي بدعةٌ لغةً لا شرعًا، لموافقتها السنة.
وقد روي عَنِ الشَّافعي كلام آخر يفسِّرُ هذا، وأنَّه قال: والمحدثات ضربان: ما أُحدِث مما يُخالف كتابًا، أو سنة، أو أثرًا، أو إجماعًا، فهذه البدعة الضلال، وما أُحدِث مِنَ الخير، لا خِلافَ فيه لواحدٍ مِنْ هذا، وهذه محدثة غيرُ مذمومة (صحيح، رواه البيهقي في "مناقب الشافعي" ١/ ٤٦٩.).
كتاب جامع العلوم والحكم ج ٢ ص ١٣١ - ت الأرنؤوط - ابن رجب الحنبلي

"Al-Hafiz Abu Nu’aim meriwayatkan (dalam kitab Al-Hilyah 9/1) dengan sanadnya dari Ibrahim bin al-Junid, [Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami], ia berkata: Saya mendengar Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: 'Bid’ah itu ada dua macam: bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Apa saja yang sesuai dengan sunnah, maka itu terpuji, dan apa saja yang menyalahi sunnah, maka itu tercela.' Beliau berhujjah dengan perkataan Umar (bin Khattab): 'Sebaik-baik bid’ah adalah ini (shalat tarawih berjamaah).'

Maksud perkataan Asy-Syafi'i rahimahullah adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya:
Bahwa bid’ah madzmumah (tercela) adalah apa yang tidak memiliki dasar dalam syariat untuk dijadikan rujukan, dan inilah yang disebut bid’ah secara terminologi syariat (itlaqus syar'i). Adapun bid’ah mahmudah (terpuji) adalah apa yang sesuai dengan sunnah, yakni yang memiliki landasan asal dari sunnah untuk dijadikan rujukan. Hal itu disebut bid’ah secara bahasa saja (lughatan), bukan secara syariat, karena kesesuaiannya dengan sunnah.

Telah diriwayatkan pula dari Asy-Syafi'i perkataan lain yang menafsirkan hal ini, beliau berkata:
'Al-Muhdatsat (perkara-perkara baru) itu ada dua jenis: (pertama) perkara baru yang menyelisihi Al-Qur'an, Sunnah, Atsar, atau Ijma' (kesepakatan ulama Ahlus-Sunnah), maka ini adalah bid’ah dhalalah (bid'ah yang sesat). (Kedua) Apa saja yang diada-adakan dari kebaikan yang tidak menyelisihi satu pun dari hal-hal tersebut, maka ini adalah muhdatsah ghoiru madzmumah (perkara baru yang tidak tercela)." (Shahih, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi'i 1/469)."

Kita Tidaklah Sesat Jika Tidak Mengerjakan Amalan yang Tidak Disyari'atkan Nabi ﷺ dan Para Shahabat


 

Kita Tidaklah Sesat Jika Tidak Mengerjakan Amalan yang Tidak Disyari'atkan Nabi ﷺ dan Para Shahabat


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣١

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-Imran : 31)

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري ومسلم) وَ فِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Dari Ummul-Mu’minin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah Radhiyallahu anha ia berkata: Rasulullah telah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-ngada (mensyari'atkankan) perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits riwayat Muslim: Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”.

Rasulullah ﷺ bersabda :

« أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ »

“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli-Kitab berpecah belah menjadi 72 millah, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 millah, 72 millah di neraka, dan 1 millah di surga. Merekalah Al-Jama’ah.” (HR. Abu Daud 4597. Hadits hasan). Sedang dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda :مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي "Apa yang aku (nabi Muhammad ﷺ) berada di atasnya dan para Shahabatku.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)


Jumat, 16 Januari 2026

Mengajak Mubahalah Sebagai Bagian Kesempurnaan Penegakan Hujjah


 


Mengajak Mubahalah Sebagai Bagian Kesempurnaan Penegakan Hujjah


أَنَّ السُّنَّةَ فِي مُجَادَلَةِ أَهْلِ الْبَاطِلِ إِذَا قَامَتْ عَلَيْهِمْ حُجَّةُ اللَّهِ، وَلَمْ يَرْجِعُوا، بَلْ أَصَرُّوا عَلَى الْعِنَادِ أَنْ يَدْعُوَهُمْ إِلَى الْمُبَاهَلَةِ، وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِذَلِكَ رَسُولَهُ، وَلَمْ يَقُلْ: إِنَّ ذَلِكَ لَيْسَ لِأُمَّتِكَ مِنْ بَعْدِكَ، وَدَعَا إِلَيْهِ ابْنُ عَمِّهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ لِمَنْ أَنْكَرَ عَلَيْهِ بَعْضَ مَسَائِلِ الْفُرُوعِ، وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ وَدَعَا إِلَيْهِ الْأَوْزَاعِيُّ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ فِي مَسْأَلَةِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ، وَلَمْ يُنْكَرْ عَلَيْهِ ذَلِكَ، وَهَذَا مِنْ تَمَامِ الْحُجَّةِ.
كتاب زاد المعاد في هدي خير العباد ج ٣ ص ٥٦١-٥٦٢  - ت الرسالة الثاني - ابن القيم

"Bahwasanya Sunnah dalam mujadalah (berdebat) melawan pembela kebatilan—apabila hujjah Allah telah tegak atas mereka namun mereka tidak mau kembali (kepada kebenaran), bahkan terus-menerus dalam keangkuhan—adalah dengan mengajak mereka untuk Mubahalah (saling melaknat). Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan hal tersebut kepada Rasul-Nya, dan Dia tidak mengatakan bahwa hal itu tidak berlaku bagi umatmu setelahmu.
Anak paman beliau (sepupu beliau), Abdullah bin Abbas, juga pernah mengajak (mubahalah) orang yang mengingkari sebagian masalah furu' (cabang fikih) terhadapnya, dan para shahabat tidak ada yang mengingkarinya. Demikian pula Al-Auza'i mengajak Sufyan Ats-Tsauri untuk bermubalah dalam masalah mengangkat tangan (saat shalat), dan hal itu pun tidak diingkari. Ini merupakan bagian dari sempurnanya penegakan hujah."

📚 Kitab Zadul-Ma'ad fi Hadyi Khair al-Ibad, jilid 3, halaman 561-562, karya Ibn Qayyim al-Jauziyyah.

Kamis, 15 Januari 2026

Makna "Istawa 'Ala"


Makna "Istawa 'Ala"
 ( معنى استوى على )

استوى على" تعني في اللغة العربية علا وصعد وارتفع فوق شيء، أو استقر وثبت عليه، أو استولى وملَك عليه، ويختلف المعنى الدقيق حسب السياق؛ ففي سياق مثل "استوى على العرش" تعني العلو والارتفاع والمُلك، بينما "استوى على ظهر الدابة" تعني الركوب والعلو عليها، وفي سياق الطعام تعني النضج، ومع شخصين تعني التساوي. 

Istawā 'alā" (استوى على) dalam bahasa Arab berarti tinggi, naik, dan meninggi di atas sesuatu, atau menetap dan kokoh di atasnya, atau menguasai dan memilikinya. Makna tepatnya berbeda-beda sesuai dengan konteksnya:
🔸 Dalam konteks seperti "Istawā 'alal 'Arsy" (استوى على العرش), maknanya adalah al-Uluw (ketinggian), al-irtifa'a (meninggi), dan kekuasaan.
🔸 Sedangkan "Istawā 'alā dhahriddābbah" (استوى على ظهر الدابة) berarti menunggangi dan berada di atas punggung hewan tersebut.
🔸 Dalam konteks makanan (Istawā at-ta'ām), artinya adalah kematangan (masak).
🔸 Jika berkaitan dengan dua orang (Istawā asy-syakhshān), maknanya adalah kesetaraan atau kesamaan.

في السياق العقدي (الاستواء على العرش):
وردت في القرآن الكريم في قوله تعالى: "الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى". واختلف المفسرون في تأويلها:
أهل السنة والجماعة (السلف): يثبتونها كما وردت بمعنى العلو والارتفاع بما يليق بجلال الله، من غير تكييف ولا تشبيه. موقع الإسلام سؤال وجواب

Dalam Konteks Aqidah (Istiwa di Atas Arsy):
Terdapat dalam Al-Qur'an pada firman Allah Ta'ala: "Ar-Rahmanu 'alal 'arsyi-stawa" (Allah Yang Maha Pengasih beristiwa di atas Arsy). Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan maknanya.
🔸Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Salaf): Mereka menetapkannya sebagaimana mestinya dengan makna Tinggi dan Berada di Atas yang sesuai dengan keagungan Allah, tanpa takyif (menggambarkan bentuk/cara) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk).



معاني "استوى على" المختلفة:

العلو والارتفاع: علا وصعد فوق الشيء، مثل قوله تعالى: {ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} أي علا عليه.

الاستقرار والثبات: استقر وثبت، مثل: "استوى على ظهر الدابة" أو "استوت السفينة على الجودي".

الاستيلاء والملك: استولى وتمكن، مثل: "استوى على سرير الملك" أي تولى الحكم.

الاعتدال والاستقامة: استقام واعتدل، مثل: {فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ} أي اعتدل وتكامل.

الجلوس: جلس منتصبًا، مثل: "استوى على الكرسي" أو "استوى على فرسه". 













 

Apa Terjemahan "Istawa/اِسْتَوَى" Yang Lebih Tepat Untuk Menghindari Kesalahpahaman ?


Apa Terjemahan "Istawa/اِسْتَوَى" Yang Lebih Tepat Untuk Menghindari Kesalahpahaman ?

1. Istilah "Bersemayam"

Istilah ini sering digunakan dalam terjemahan Al-Qur'an versi lama (seperti DEPAG). Namun, banyak ulama dan pakar bahasa mengkritik penggunaan kata ini karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersemayam memiliki arti duduk, tinggal, atau berkediaman. Makna ini dianggap terlalu sempit dan berisiko memberikan kesan bahwa Allah membutuhkan tempat atau duduk sebagaimana makhluk.

2. Istilah "Bertakhta"

Istilah "Bertakhta" dianggap sedikit lebih baik daripada bersemayam karena menunjukkan kekuasaan dan keagungan. Meskipun begitu, kata ini tetap memiliki keterbatasan bahasa karena masih bisa diasosiasikan dengan raja di dunia yang membutuhkan singgasana fisik.

3. Pandangan Para Ulama Ahlus-Sunnah

Syaikh Al-Albani dan para ulama Ahlus Sunnah menetapkan sifat Al-Uluw (Ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya) tanpa menetapkan makan (tempat yang melingkupi-Nya). Allah berada di atas Arsy dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa butuh pada Arsy tersebut. 
Banyak ulama menyarankan untuk membiarkan kata "Istawa" tetap sebagaimana adanya atau menerjemahkannya dengan "Betinggi di atas Arsy". Hal ini selaras dengan penjelasan Imam Bukhari dalam Shahih-nya yang menukil pendapat Mujahid dan Abu Al-Aliyah bahwa Istawa berarti Alaa (Meninggi) dan Irtafa’a (Naik/Tinggi).

Jika harus memilih terjemahan yang paling aman untuk menghindari kerancuan akidah:
🔸Lebih Utama: Menggunakan kata "Meninggi/Tinggi di atas Arsy" atau tetap menggunakan istilah "Istawa" dengan penjelasan bahwa Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya tanpa membutuhkan tempat.
🔸 Bertakhta: Lebih luas maknanya dibanding bersemayam, namun tetap harus dibarengi keyakinan bahwa Allah bertakhta tidak serupa dengan raja manapun.
🔸 Hindari "Bersemayam": Karena konotasinya yang sangat kuat dengan makna "tinggal/duduk" secara fisik.

Selasa, 13 Januari 2026

Penjelasan Kemuliaan Umur dan Anjuran untuk Memanfaatkannya dalam Kebaikan

 



Penjelasan Kemuliaan Umur dan Anjuran untuk Memanfaatkannya dalam Kebaikan



الْبَابُ الأَوَّلُ فِي بَيَانِ شَرَفِ الْعُمْرِ وَالْحَثِّ عَلَى اغْتِنَامِهِ فِي الْخَيْرِ

أَخْبَرَنَا أَبُو الْقَاسِمِ هِبَةُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُصَيْنِ، أنا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ التَّمِيمِيُّ، أنا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ يُخْبِرُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:)) إِنَّ الصِّحَّةَ وَالْفَرَاغَ، نِعْمَتَانِ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَغْبُونٌ فِيهِمَا كثيرٌ مِنَ النَّاسِ)) .

قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ، أنا عَبْدُ اللَّهِ –يَعْنِي: ابْنَ الْمُبَارَكِ-، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الأَمَانِيَّ)) .

أَخْبَرَنَا الْكَرُوخِيُّ، أنا أَبُو عَامِرٍ الأَزْدِيُّ، وَأَبُو بَكْرٍ الْغُورَجِيُّ قَالا: أنا ابْنُ الْجَرَّاحِ، ثنا ابْنُ مَحْبُوبٍ، ثنا التِّرْمِذِيُّ، ثنا أَبُو مُصْعَبٍ، عَنْ مُحْرِزِ بْنِ عَوْنٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَعْرَجِ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم قال: ((بادروا بالأعمال سبعاً: هل تنتظرون إِلا فَقْرًا مُنْسِيًا، أَوْ غِنًى مُطْغِيًا، أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا، أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا، أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا، أَوِ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غائبٍ يُنْتَظَرُ، أَوِ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ)) .

كتاب حفظ العمر لابن الجوزي ص ٣١-٣٢

Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Qasim Hibatullah bin Muhammad bin al-Hushain, (ia berkata): Mengabarkan kepada kami Abu Ali al-Hasan bin Ali al-Tamimi, (ia berkata): Mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ja'far, (ia berkata): Menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, (ia berkata): Menceritakan kepadaku ayahku (Imam Ahmad bin Hanbal), (ia berkata): Menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim, (ia berkata): Menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id bin Abi Hind, bahwasanya ia mendengar ayahnya mengabarkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat di antara nikmat-nikmat Allah 'Azza wa Jalla, yang mana banyak manusia merugi (tertipu) pada keduanya."

Diriwayatkan oleh Ahmad, dari Ali bin Ishaq, dari Abdullah (yakni Ibnul Mubarak), dari Abu Bakar bin Abi Maryam, dari Dhamrah bin Habib, dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang cerdas (al-kayyis) adalah orang yang menghisab (mengendalikan) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah (al-'ajiz) adalah orang yang membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsunya, namun ia mengharap berbagai angan-angan kepada Allah عز وجل."

Kami dikabarkan oleh al-Karukhi, dari Abu Amir al-Azdi dan Abu Bakar al-Ghuraji, keduanya berkata: Kami dikabarkan oleh Ibnul Jarrah, dari Ibnu Mahbub, dari at-Tirmidzi, dari Abu Mush'ab, dari Muhriz bin 'Aun, dari Abdurrahman al-A'raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Bersegeralah kalian beramal sebelum datangnya tujuh perkara. Tidaklah kalian menunggu melainkan: (1) Kemiskinan yang membuat lupa. (2) Kekayaan yang membuat melampaui batas. (3) Penyakit yang merusak tubuh. (4) Masa tua yang melemahkan akal. (5) Kematian yang datang dengan cepat. (6) Dajjal, seburuk-buruk sosok gaib yang dinanti. (7) Atau Hari Kiamat, dan Hari Kiamat itu jauh lebih dahsyat dan lebih pahit."

📚 Kitab Hifzhul 'Umr oleh Ibnu al-Jauzi, hal. 31-32

Senin, 12 Januari 2026

Tidakkah Cukup Al-Qur'an dan Uban Sebagai Peringatan?


 


Tidakkah Cukup Al-Qur'an dan Uban Sebagai Peringatan?


يا من لا يقلع عن ارتكاب الحرام لا في شهر حلال ولا في شهر حرام يا من هو في الطاعات إلى وراء وفي المعاصي إلى قدام يا من هو في كل يوم من عمره شرا مما كان في قبله من الأيام متى تستفيق من هذا المنام متى تتوب من هذا الإجرام يا من أنذره الشيب بالموت وهو مقيم على الآثام أما كفاك واعظ الشيب مع واعظ القرآن والإسلام الموت خير لك من الحياة على هذه الحال والسلام كتاب لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف ص ٢٥٩ - ط ابن حزم - ابن رجب الحنبلي

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
"Wahai orang yang tidak berhenti melakukan keharaman, baik di bulan yang halal (biasa) maupun di bulan yang haram (mulia). Wahai orang yang dalam ketaatan justru mundur ke belakang, namun dalam kemaksiatan malah maju ke depan. Wahai orang yang setiap hari dalam umurnya justru lebih buruk dari hari-hari sebelumnya. Kapan engkau akan terbangun dari tidur (kelalaian) ini? Kapan engkau akan bertaubat dari dosa-dosa ini? Wahai orang yang uban telah memperingatkannya akan kematian, namun ia tetap terus bergelimang dosa. Apakah tidak cukup bagimu peringatan dari uban bersama dengan peringatan Al-Qur'an dan Islam? Kematian bagimu lebih baik daripada hidup dalam keadaan seperti ini. Selesai."

📚 Kitab Latha'if al-Ma'arif fima li Mawashim al-'Am min al-Wazha'if, hal. 259 - Cetakan Dar Ibn Hazm - Ibnu Rajab al-Hanbali

Jumat, 09 Januari 2026

Larangan Bermajelis Dengan Ahlul-Bathil Ataupun Ahlul-Ahwa'





Larangan Bermajelis Dengan Ahlul-Bathil Ataupun Ahlul-Ahwa'


وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖٓۖ اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ جَامِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَنَّمَ جَمِيْعًاۙ ۝١٤٠

"Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam," (QS. An-Nisa' : 140)

Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya berkata :

وفي هذه الآية، الدلالة الواضحة على النهي عن مجالسة أهل الباطل من كل نوع، من المبتدعة والفسَقة، عند خوضهم في باطلهم.

"Ayat ini mengandung dalil (petunjuk) yang jelas tentang larangan duduk bersama (bermajelis) dengan para pelaku kebatilan dari segala jenis, baik ahli bid'ah maupun orang-orang fasiq, ketika mereka sedang tenggelam dalam kebatilan mereka."

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: «لَا تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الْأَهْوَاءِ , فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقُلُوبِ» (كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٥٢١ - ابن بطة)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata
"Janganlah kalian duduk bersama pengikut hawa nafsu, karena sesungguhnya duduk bersama mereka itu membuat hati menjadi sakit.". (lihat kitab Ibanah al-Kubra karya Ibnu Baththah)

عَنْ هِشَامٍ , قَالَ: كَانَ الْحَسَنُ وَمُحَمَّدٌ يَقُولَانِ: لَا تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الْأَهْوَاءِ , وَلَا تُجَادِلُوهُمْ , وَلَا تَسْمَعُوا مِنْهُمْ (كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٤٤٤ - ابن بطة)

"Dari Hisyam, ia berkata: Al-Hasan (Al-Bashri) dan Muhammad (bin Sirin) sering berkata: 'Janganlah kalian duduk (bermajelis) dengan pengikut hawa nafsu (ahli bid'ah), jangan mendebat mereka, dan jangan pula mendengarkan ucapan mereka'." (lihat kitab Al-Ibanah al-Kubra, Ibnu Baththah Al-Ukbari,  juz 2 halaman 444)

عَنْ أَبِي قِلَابَةَ , قَالَ: «لَا تُجَالِسُوا أَهْلَ الْأَهْوَاءِ , وَلَا تُجَادِلُوهُمْ , فَإِنِّي لَا آمَنُ مِنْ أَنْ يَغْمِسُوكُمْ فِي ضَلَالَتِهِمْ , أَوْ يُلَبِّسُوا عَلَيْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ» قَالَ: وَكَانَ وَاللَّهِ مِنَ الْفُقَهَاءِ ذَوِي الْأَلْبَابِ
(كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٥١٨ - ابن بطة)

"Dari Abu Qilabah, beliau berkata: 'Janganlah kalian duduk bersama pengikut hawa nafsu (ahli bid'ah) dan janganlah mendebat mereka. Karena sesungguhnya aku tidak merasa aman (khawatir) mereka akan menenggelamkan kalian ke dalam kesesatan mereka, أو mengaburkan (membuat rancu) kebenaran yang telah kalian ketahui.'
Perawi berkata: 'Demi Allah, beliau (Abu Qilabah) adalah termasuk ahli fikih yang memiliki akal cerdas (bijak).’"
(Kitab Al-Ibanah Al-Kubra, jilid 2, halaman 518, karya Ibnu Baththah)

٤٩٥ - حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ أَحْمَدَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو نَصْرٍ عِصْمَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا حَنْبَلُ بْنُ إِسْحَاقَ , قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ , يَقُولُ: «أَهْلُ الْبِدَعِ مَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُجَالِسَهُمْ , وَلَا يُخَالِطَهُمْ , وَلَا يَأْنَسَ بِهِمْ»
(كتاب الإبانة الكبرى ج ٢ ص ٤٧٥ - ابن بطة)

"495 - Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh 'Umar bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Nashr 'Ishmah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hanbal bin Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad bin Hanbal) berkata:  'Ahli bid'ah itu tidak sepatutnya bagi siapa pun untuk duduk bersama mereka, tidak pula bercampur baur (bergaul) dengan mereka, dan tidak pula merasa nyaman (akrab) dengan mereka.'"
(Kitab Al-Ibanah Al-Kubra, jilid 2, halaman 475, karya Ibnu Baththah)

Catatan :
Kitab Al-Ibanah Al-Kubro yang beredar dicetak menjadi 2 jilid sampai 9 jilid

Rabu, 07 Januari 2026

Ingatlah Empat Kalimat Yang Paling Dicintai Allah dan Keutamaannya





Ingatlah Empat Kalimat Yang Paling Dicintai Allah dan Keutamaannya


Di antara dzikir yang bisa dirutinkan setiap saat, dibaca agar lisan terus basah dengan dzikrullah adalah empat kalimat mulia, yaitu (1) subhanallah, (2) alhamdulillah, (3) laa ilaha illallah, (4) Allahu akbar”.

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ» (صحيح - رواه مسلم - صحيح مسلم - 2137)

Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah  bersabda, “Ada empat ucapan yang paling disukai oleh Allah: (1) Subhanallah, (2) Alhamdulillah, (3) Laa ilaaha illallah, dan (4) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai” (HR. Muslim no. 2137).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ».(صحيح - رواه مسلم - صحيح مسلم - 2695)

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah telah bersabda: ‘Sesungguhnya membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)” adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari.” (HR. Muslim no. 2695). 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ إِلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ »

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah  bersabda, “Tidaklah seorang di muka bumi ini mengucapkan: Laa ilaha illallah, wallahu akbar, subhanallah, wal hamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad 2/158, sanadnya hasan)

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِى فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّى السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ »

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah  bersabda, “Aku pernah bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra`kan, kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa Surga debunya harum, airnya segar, dan surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat: Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi laa ilaaha illaahu wallaahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar).” (HR. Tirmidzi no. 3462. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Yang dimaksud bacaan tasbih (subhanallah = Maha Suci Allah) adalah menyucikan Allah dari segala kekurangan yang tidak layak bagi-Nya.
Yang dimaksud bacaan tahmid (alhamdulillah = segala puji bagi Allah) adalah menetapkan kesempurnaan pada Allah dalam nama, shifat dan perbuatan-Nya yang mulia.
Yang dimaksud bacaan tahlil (laa ilaha illallah = tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) adalah berbuat ikhlas dan mentauhidkan Allah serta berlepas diri dari kesyirikan.
Yang dimaksud bacaan takbir (Allahu akbar = Allah Maha Besar) adalah menetapkan keagungan atau kebesaran pada Allah Ta’ala dan tidak ada yang melebihi kebesarannya.

Minggu, 04 Januari 2026

Mendoakan Kebaikan Termasuk Salah Satu Bentuk Nyata dalam Menjaga Silaturrahim


 


Mendoakan Kebaikan Termasuk Salah Satu Bentuk Nyata dalam Menjaga Silaturrahim


Jika Mendoakan Keburukan Termasuk Pemutus Silaturrahim, Maka Mendoakan Kebaikan Termasuk Menjaga Silaturrahim

Mendoakan kerabat (terutama yang ada hubungan mahram) yang masih hidup maupun yang sudah meninggal sama-sama merupakan bagian dari upaya memelihara hubungan Silaturrahim. Di antara alasannya :
🔸 Mendoakan Kebaikan Termasuk Bagian dari Berbuat Ihsan yang Disyariatkan

۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ۝٣٦

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat..." (QS. An-Nisa: 36) 
🔸 Bentuk Kepedulian dan Menghubungkan Hati
Silaturahim tidak selalu harus bertemu fisik. Mendoakan kebaikan, kesehatan, dan keselamatan kerabat menunjukkan bahwa kita masih mengingat dan mempedulikan mereka.
🔸 Adab Islami
Dalam ajaran Islam, mendoakan sesama Muslim (terutama kerabat) adalah amalan mulia yang justru akan mendatangkan doa kebaikan yang sama bagi orang yang mendoakannya.
🔸 Solusi Saat Terhalang Jarak
Jika kita tidak bisa mengunjungi atau menghubungi kerabat, maka doa yang tulus menjadi cara terbaik untuk tetap "terhubung" dengan mereka di hadapan Allah, meskipun terhalang jarak ataupun alasan syar'i lainnya.
🔸 Mendoakan Sebagai Bentuk Silaturahim Yang Murni
Karena dilakukan secara ikhlas tanpa mengharapkan pujian dari orang yang didoakan, sehingga memperkuat ikatan batin di sisi Allah.


Sabtu, 03 Januari 2026

Berbuat Baik Hanya Berharap Wajah Allah, Tanpa Minta Balasan dari Makhluq




Berbuat Baik Hanya Berharap Wajah Allah, Tanpa Minta Balasan dari Makhluq


"وَالْمُحْسِنُ إلَيْهِمْ وَإِلَى غَيْرِهِمْ عَلَيْهِ أَنْ يَبْتَغِيَ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ وَلَا يَطْلُبَ مِنْ مَخْلُوقٍ لَا فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ. كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى} {الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى} {وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى} {إلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى} {وَلَسَوْفَ يَرْضَى} وَقَالَ: {وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا} {إنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ} الْآيَةَ. وَمَنْ طَلَبَ مِنْ الْفُقَرَاءِ الدُّعَاءَ أَوْ الثَّنَاءَ خَرَجَ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ؛"
من كتاب:t مجموع الفتاوى ١١\١١١

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

"Dan orang yang berbuat baik kepada mereka (kaum fuqoro') maupun kepada selain mereka, hendaknya ia mengharapkan Wajah (keridhaan) Allah semata dengan perbuatannya itu, serta tidak meminta balasan dari makhluk, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana kalam Allah Ta'ala:

{Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan dirinya, padahal tidak ada seorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalas, kecuali (ia memberikannya) semata-mata karena mencari Wajah Rabb-nya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan merasa puas (dengan imbalan-Nya)} [QS. Al-Lail: 17-21]. 

Dan Dia berkalam: {Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Sambil berkata), 'Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan Wajah (ridha) Allah...'} [QS. Al-Insan: 8-9]. 

Maka barangsiapa yang meminta doa atau pujian dari orang-orang faqir (setelah membantunya), maka ia telah keluar dari (keutamaan) ayat ini." 

📚 Dari kitab: Majmu' Al-Fatawa, jilid 11, halaman 111




Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Berhati-hatilah Terhadap Hadits Palsu dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي فَضَائِلِ الْعِبَادَاتِ، وَف...